
Ting, bunyi notifikasi masuk.
1.5000.000.000 telah masuk ke Rekening anda.
Karin masih tak sadar dengan notifikasi yang muncul, karena baru saja ia memasuk kan HP nya ke dalam ransel.
Bugh.... Bugh... Bugh... suara Jordan nya yang sedang meninju ninju samsak.
Karin melihat paman meninju samsak dengan sangat keras sekaligus cukup bar bar. Karin hanya melihat sekilas,menaiki treadmill dan mengatur ke level 1 dahulu.
Mulai ia naikan level dari alat yang ia tumpangi itu perlahan, makin lama, makin cepat- makin lama, makin menantang. Ia berlari dengan sekuat tenaga, menyamakan dengan jalan nya treadmill, beberapa menit bisa dilewatkan , lumayan daripada kemarin kemarin, skor nya cukup tinggi 45 menit,itu sudah menjadi waktu lama di atas treadmill hari ini.
Karin merasa kecapekan, duduk beristirahat dengan meminum air dingin. Karin melihat paman nya fokus dengan pull up bar, itu adalah alat untuk membentuk otot otot. Buktinya otot paman selain besar, ber urat juga keras di dalam nya, Karin bisa membayangkan bagaimana dia dipukul pakai kepalan tangan milik paman, ditampar di pundak saja sudah sakit sekali... tak bisa Karin bayangkan.
Karin melihat ke arah dumbell yang ada di sebelah pojok kiri sana, berjalan mengambil dumbell yang ukuran nya kecil, ada 5 ukuran. Karin memilih yang ke 1 dulu, dicoba coba dulu kali ya.
"PAMAN!!! AKU PINJAM DUMBELL NYA!!!" ijin Karin menengok ke belakang, paman Jordan yang fokus akan kegiatan nya menengok ke arah Karin. "IYA KARIN!!! TAPI HATI HATI ITU BERAT SEMUA LO"ujar paman yang diacungi jempol sama Karin.
Segera ia angkat DUMBELL yang bisa ia katakan level 1 dengan ukuran kecil sekecil tangan nya, masih mudah mudah saja. Oke, sekarang ke level berikutnya level 2 ukuran nya sedikit lebar dari DUMBELL level 1 , saat diangkat.... awalnya ia tak bisa rasanya berat, tapi saat diangkat bisa, ya agak susah sih walau ukuran nya hampir sama dengan level 1 , Perbedaan nya hanya sedikit lebih besar daripada level 1.
Ia merasa tak yakin melanjutkan level 3 apalagi DUMBELL nya 2 kali lebih besar daripada level 2, ia lihat level 4 dan level 5 . Tak kan yakin lagi karena level 3,ia angkat saja susah sekali rasanya mau kewalahan gara gara ngangkat DUMBELL ini. jadi mentok di level 2,tak apa lah. Karin belajar dulu yang level 2.
Diambil nya DUMBELL yang menurutnya level 2 itu, lalu ia angkat-turun-angkat-turun berkali kali. Masih belum terbiasa memang, Karin hanya mampu mengangkat 8 kali, setelah itu karin berhenti sebentar karena pergelangan tangan nya sakit.
"Aduh pergelangan tangan ku..." ia memijit mijit pergelangan tangan nya yang terasa ngilu, sudahi saja dulu mungkin Karin memang belum benar benar siap, ia akan belajar pelan pelan dulu . Mulai dari level 1 saja dulu.
Karin gunakan tangan kiri sementara karena tangan kanan nya masih agak nyeri.
__ADS_1
Melihat Karin yang seserius itu, pamanJjordan tiba tiba memanggil Karin menuju ke paman Jordan. Mungkin akan membicarakan sesuatu. "Sini Karin" Karin langsung melihat paman nya, menghentikan aktivitasnya.
"Ya paman? ada apa?"tanya Karin. paman tiba tiba mencopot sarung tangan petinju nya lalu diserahkan ke Karin. "Coba kamu tinju samsak ini"pinta paman, Karin langsung bingung, kenapa dirinya? dirinya tak bisa melakukan ini.
Apa secepat ini diajarkan nya?
" Tapi paman... aku" lemas Karin merasa tak kan bisa melakukan nya.
"Tidak ada tapi tapian, hanya mencoba saja, biar paman lihat. sampai mana kekuatan mu" ucap paman melihat ke arah Karin terus yang di tatap menunduk dengan hati sudah gugup, ia takut kalau ia tak bisa melakukan nya. karena ini baru pertama kali nya ia melakukan ini.
Segera ia pasang sarung tinju milik paman Jordan dan mengkaitkan pengaman erat erat, tapi ukuran nya terlalu besar, sedangkan tangan Karin sangat kecil di dalam. rasanya ada hawa hawa aneh, menggelitik tapi tak apa , segera Karin selesaikan semua ini.
"Ayo Karin! jangan gugup! disini ada aku, tenang saja kalau kamu terjadi apa apa" kata paman yang sudah jaga jaga di belakang nya, kalau saja terkena Samsak dan terjatuh. Walau ini matras tak kan biarkan seorang paman melihat keponakan nya terjatuh untuk pertama kali nya.
"A.. aku sudah siap..." Karin mengerat kan sarung tinju nya erat erat. Bernapas dengan cepat, ia tak bisa mengontrol dirinya yang jantung nya sudah berdegup kencang.
"AYO KARIN!!!" paman berteriak menyemangati.
Buk... suara pukulan hanya terdengar pelan, dan benda yang berbentuk guling itu hanya mengeluarkan suara kecil dari pukulan kecil nya.
"AKU GAK BISA PAMAN!!!" rengek Karin terkulai lemas.
"Coba sekali lagi Karin!" paksa paman yang ingin pendirian Karin lebih tegas nan kuat.
"Coba lagi! coba lagi! buat pukulan sekeras mungkin!buat dirimu kuat! kamu ingin kuat kan!!! kamu ingin kuat untuk siapa???"paman meneriaki Karin agar semangat nya kembali menyala.
"UNTUK PAPA MAMA DAN SEMUA KELUARGA!!!" jawab nya yang juga ikut teriak.
__ADS_1
"UNTUK SIAPA???" tanya Jordan sekali lagi.
"UNTUK SEMUA ORANG YANG BAIK HATI!" jawab Karin yang makin mengeraskan suara nya.
"APAKAH ADA KATA MENYERAH DALAM HATI KARIN???"tegas Jordan menunjuk nunjuk ke arah jantung nya sendiri.
"TAK ADA!!!" Karin makin semangat.
Buk- pukulan masih saja sama, semangat mulai menurun lagi, karin lebih baik mengembalikan sarung tinju ke paman Jordan, karin tak sanggup. Ia memang bukan wanita spesial, jadi jangan dipungkiri itu.
"Tunggu karin" cegat paman, memegang tangan Karin dengan erat. "Pikir kan orang yang kau benci saja!"
"Apa?" heran Karin terkejut masih tak mengerti.
"Dulu paman bisa seperti ini karena ada yang paman tak suka, paman jadi lancar karena membayangkan wajah orang yang tak kita sukai. Kamu begitu saja Karin, coba bayangkan orang yang tidak kamu sukai. Anggap saja samsak itu adalah orang yang kau bayangkan, tapi kalau ada orang yang kamu benci ya. Paman tak memaksa mu"saran Jordan yang langsung membuat Karin terdiam.
Orang yang dibenci? Haikal?
Karin menundukkan kepala memikirkan segala hal gara gara perkataan paman nya, ia kembali memasang sarung tinju kembali. Berdiri di depan samsak pas, memasang ancang ancang sambil menatap ke arah guling tebal yang ada tergantung di depan nya.
"Haikal!!!" geram Karin memukul kan sekeras keras nya dengan sekuat tenaga.Ttak mengira pukulan Karin...
BUKKHH... BUKKHH... BUKKHH...
Kedua mata nya terfokus kan ke samsak, mata tajam, kedua bola mata menunjukan keridak sukaan, dengan penuh ke dendaman.
Paman Jordan yang melihat itu begitu terkaget karena pukulan bertubi tubi yang Karin lontarkan begitu keras, menimbulkan suara yang sama seperti yang Jordan lakukan. Siapa Haikal? paman Jordan tak tahu menahu. mungkin saja nama itu lah yang membuat wanita ini menaruh dendam kepada nya hingga memukul samsak bertubi tubi.
__ADS_1
Paman Jordan tersenyum, "Dia bukan wanita biasa"pikir Jordan terus membiarkan karin akan kepuasan nya terlebih dahulu. Dengan lincah tanpa diajari Karin bisa menghindari samsak yang akan mengenai nya, bukan itu yang sebenarnya Karin fokuskan tapi ia sudah dikendalikan pikiran nya.