
Seorang wanita yang asik tengkurap mendapatkan pesan dari seseorang, ia berusaha untuk tak peduli dan mengganggap kalau ini pesan salah kirim. Beberapa jam di lalui, ia mendapatkan pesan lagi dari nomor itu padahal dirinya baru mandi malah mendapat kabar mengejutkan.
Ia jawab pesan nya seperti ini.
(Aku tak takut dengan mu, aku terima permintaan mu. Kita lihat siapa yang pantas disanding Mas Pratama)
Akan ia duga kalau istrinya Pratama marah dengan nya sekarang. Siap siap ia memakai dress ketat nan memukau lalu berkaca diri.
Ia melihat cerminan dirinya di kaca, wajah nya memang cantik tapi tidak dengan hati buruk nya. Makeup nya ia pulas begitu tebal, kedua mata nya lentik, tubuh nya bak artis bintang VIIP, kini siapa yang tidak tergoda dengan nya saat dijalan. Wanita licik ini tak akan tinggal diam, ia segera berdiri setelah menyelesaikan dandanan nya dan pergi dari kamar nya.
Rumah nya memang besar, Eve juga wanita kaya entah alasan apa ia ingin sekali menggaet suami orang selain kata tampan dan kaya.
(EVE POV)
Namaku Eve Pexy No'y, aku bukan dari Thailand atau semacamnya. Aku asli Indonesia hanya Dad And Mom ku yang dari luar Negara dan kita membangun kehidupan di Indonesia. Tak banyak sih yang harus ku ceritakan.
Aku anak kaya, orang tua ku mapan, semua yang kubutuhkan, dibelikan sejak kecil. Bahkan apa itu Kdrt? Perselingkuhan? Di keluarga ku tak ada seperti itu. Tapi itu sebelum Mom ku meninggal, Dad menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang punya 2 anak satu perempuan satu laki laki. Yang perempuan masih SMP di bawahku sedangkan yang laki laki sudah kuliah S2 di atas ku yang pada saat itu aku masih SMA.
Pokok nya begitu lah aku tak ingin cerita banyak, aku sedikit malas menceritakan kehidupan ku yang biasa biasa saja.
Kali ini aku menerima ajakan dari seseorang. Tentu aku tahu itu, aku tahu siapa seseorang yang mengajak ku. Tentu saja saingan ku. Aku masih cinta sama pria itu. Karena hal buruk terjadi di masa lalu, aku jadi dipindahkan oleh Dad.
Itu semua gara gara wanita ****** itu, andai dia tak memberitahu ke Dad pasti aku tak dikuliahkan di UK. Andai rencana ku berhasil untuk mendapatkan Mas Pratama aku pasti sudah berpindah posisi menjadi istri nya, pokok nya semua itu salah wanita itu!.
Aku bangga ternyata setelah 20 tahun lebih Mas Pratama belum mendapatkan anak sama sekali, dan itu menjadi kesempatan ku yang baru datang 1 bulan kemarin.
Aku tak percaya tentang rumor Mas Pratama sudah punya anak, katanya juga sudah besar. Itu bohong palingan netizen pintar ber drama, aku yakin itu.
Pokok nya aku tak boleh kalah disini, aku harus menyaingi Adriana agar aku menjadi nomor 1 di hati Mas Pratama. Tapi sudah beberapa kali aku menggoda nya dia tak luluh luluh sama sekali kepadaku, aku harus maju selangkah demi selangkah lagi.
Sesuatu ku rasakan, rasa semangat menjalar menggelora ku tak sabar akan bertemu wanita ****** itu. Wanita tak tahu di untung yang berani berani nya merebut cinta ku.
Lihat saja aku lah yang masih ada di hati Mas Pratama dan dia hanya pengganti hidup nya karena aku selama ini tak ada di Indonesia.
Aku langsung mengerem mobil, keluar dengan penuh elegan, semua pandang mata tertuju padaku dan aku bangga dengan diriku yang cantik dan semok ini. Aku masuk ke Cafe Cahaya yang disebutkan di chat, melihat sekitar mencoba mencari cari seseorang yang aku cari dan--- menemukan nya, Adriana dengan seorang wanita berambut pendek coklat membelakangi ku.
Aku tak peduli siapa yang diajak bicara nya tapi aku segera cepat cepat menuju ke arah mereka berdua, yang dimana posisi mereka ada di meja pojok belakang. Dengan sengaja aku gebrak meja milik mereka.
BRAKK- Tepat perkiraan ku mereka berdua terkejut tak main melihat ku dengan wajah sedikit keterkejutan apalagi wajah Adriana yang menurutku menyebalkan.
"Bisa bisa nya anda main gebrak gebrak aja! Anda siapa!" bentak wanita berambut pendek itu menatap tajam ke arah ku. Tapi aku tak takut, aku langsung mengece nya.
Ku tatap Adriana yang hanya diam, menatap lurus ke depan. "Kenapa? Cemburu kamu gara gara aku dekat sama Mas Pratama?" ejek ku mendorong kasar wanita berambut pendek itu dan duduk di tempat nya. Tenang saja wanita berambut pendek itu tak benar benar jatuh hanya mundur beberapa langkah.
"Kau-"
Sepertinya wanita berambut pendek itu mau berbicara sesuatu tapi tak jadi karena Adriana seperti memperingati sesuatu. Yasudah aku mulai saja dulu, memang dasar tak punya nyali.
"Kenapa diam saja!? Bilang sekarang!"
Mereka berdua terlihat terdiam hingga makan disajikan mereka makan terlebih dahulu. Aku di traktir sama mereka tapi hatiku tetap sama, musuh tetap musuh aku tak kan pernah berbaik hati kepada mereka berdua.
Seusai makan, aku langsung kicep menyelesaikan semua ini dengan ku gebrak lagi meja ini dengan sedikit keras.
"Kamu mau bilang apa sih??? Cepetan makeup ku luntur nanti!" ujar ku agak sombong sambil mengeluarkan kaca dari tas ku.
Mereka hanya diam, tapi tidak dengan wanita berambut pendek di sebelah Adriana yang terus berdiri. Aku menanggapi wanita di sebelah Adriana, "Memang tak capek apa? Mau aja menjadi pembantu nya si ******." kata ku terus melihat wanita itu.
Wanita itu menjulurkan tangan nya, ia mulai membuka suara. "Perkenalkan namaku Karin Ariana, aku menemani nya agar dia tak kenapa-napa" kata nya yang bikin aku bingung, emang nya aku mau ngapain? Nyakitin Adriana? Kalau iya aku tak akan melakukan nya disini, akan ku lakukan di tengah tengah sepi tak ada orang sama sekalipun.
Aku menerima uluran tangan nya dengan wajah tak suka, "Eve Pex'y Noy" jawab ku dia mengangguk lalu memosisikan tubuh nya semula, apa apaan sih gak jelas emang. Gak majikan gak asisten nya memang aneh semua.
Aku memutar bola mata malas, kapan wanita di depan ku ini bicara??? Dia terus saja menatap wajah ku dan aku menjadi jijik melihat nya.
"Kamu sudah besar ya"
Ucap Adriana yang kini tak ku tanggapi, dia memuji atau mengejek? Ya tak apalah dia mau bicara sekarang.
"Semua berubah ya"
Kata nya lagi yang bikin aku bosen dan mengalihkan wajah ku mencoba gak peduli.
"Sifat mu juga berubah ya, dulu kamu baik lo"
Kata nya terkesan mengejek membuat ku marah. "APA APAAN KAMU! KAMU NGEJEK! SEMUA ORANG ITU BISA BERUBAH! JANGAN HINA SAYA YA!" bentak ku tak suka sambil menatap Adriana kesal. Aku yang dibuat emosi segera ingin pergi dari sini tapi nanti dulu aku tak ingin menyerah begitu saja.
"Saya tidak mengejek, saya mengatakan yang sebenarnya. Muka anda seperti tomat gara gara makeup anda penuh dengan merah, itu baru ejekan. Kalau bisa, anda kembali ke sekolah dasar agar lebih pintar lagi, otak anda. sepertinya anda masih belum di didik dengan benar di luar negri sana"
Ujar nya yang malah bikin aku kesal, aku mengepalkan tangan emosi. "Bukan urusan mu bedebah!" sewot ku tak terima bersempuh dada.
Dia langsung menutup mulut nya, ya pura pura lah tak tau atas ucapan mu.
"Aduh maaf ya saya keceplosan, saya menyesal telah mengatakan hal kejam, tapi lebih kejam mana sih dari seorang pelakor yang berani merebut suami seorang" sinis Adriana tak kalah tajam dari yang tadi.
Aku sudah muak dan ingin menampar nya, "DASAR KAU!!!!" tapi tak bisa tangan ku di tampik oleh seorang wanita di sebelah nya yang menyebut dirinya bernama Karin. Dengan cepat segera ku lepaskan tangan ku, tangan ku langsung kesakitan, begitu kuat nya Karin meremas tangan kanan ku hingga memerah. Kekuatan nya tak main main aku tak boleh asal asalan membuat keributan disini.
Aku langsung tersenyum picik "Maaf saya terpancing dengan perkataan anda. Tapi menurut saya anda lebih jahat dari kekejaman yang saya buat karena anda lah yang telah merusak hubungan keluarga saya" balas ku tak ingin kalah tapi dia hanya tersenyum.
"Siapa yang mau diam saja kalau melihat pacar nya digoda adik tiri nya sendiri, bahkan akan melakukan hal nekat. Tentu saja saya sebagai wanita yang baik hati tak terima itu, untuk itu saya membutuhkan orang tua anda untuk membantu menyelsaikan masalah yang anda buat ini"
__ADS_1
Aku langsung terdiam, pikiran ku tak bisa kemana mana yang kupikirkan hanya balas dendam dengan perkataan yang baru saja ia ucapkan. Aku tak kehabisan ide masih ada kata kata yang masih bisa ku gunakan.
"Ya ampun, tolong ya jangan semena mena kepada saya. Walau anda selebgram yang, yah... Tak cukup terkenal tapi aku lebih kaya dari mu. Andai saja kau tak menikah dengan Mas Pratama pasti kau sudah lunglai menjadi gila miskin" ejek ku yang makin parah dan memuaskan sahaja tak tersadar Karin menampar ku dengan cukup kasar dan itu membuat aku sedikit meringis karena tamparan wanita itu tak main main, sampai sampai aku ingin terjatuh ke samping tapi aku tahan menggunakan kedua tangan ku.
Ku lihat tatapan nya bikin aku ketakutan, kedua mata nya memerah memadam. Sepertinya ia tak suka kalau majikan nya di ejek.
Karin langsung berteriak hebat,tak Terima dengan ucapan ku tadi. "JANGAN HINA MAM KU! MAMA KU WANITA BAIK BAIK DARIPADA KAMU! DASAR PELAKOR TAK MAU MENGAKUI KESALAHAN! TAK MAU MUNDUR BAHKAN SAAT MAM SUDAH MENIKAH KAU TAK MAU KALAH!!!! ANDAI KAU LAKI LAKI SUDAH KU BERIKAN BOGEMAN MENTAH UNTUK MU" teriak Karin membuat orang sekitar melihat ke arah meja ku.
Itu membuat ku malu tapi aku langsung duduk kembali, duduk dengan rapi lalu ku tatap Adriana yang hanya diam melihat tak membantu ku sama sekali, memang semua orang sama saja.
Bisik bisik sekitar pun terjadi antara aku dan Karin dengan penuh kekecewaan pasti nya. Aku masih belum kalah, walau sakit nya seberapa tapi demi hati ku aku akan berjuang merebut Mas Pratama.
"Kenapa? Tak mau kalah!" kata ku memajukan wajah ku ke arah Karin yang menahan amarah nya.
"Karena Adriana itu gak punya rahim! Mangkannya aku absen menjadi istri kedua nya Mas Pratama. Untung kan aku bisa meneruskan keturunan suami nya daripada DIA! Gak bisa punya anak, gak tahu di untung lagi. Mana ada orang yang mau membantu Mas Pratama selain aku?" jelas ku dengan keyakinan tinggi dengan menunjuk nunjuk Adriana.
Adriana melihat ku dengan tatapan tipis, "Seharusnya anda sadar bahwa perbuatan mu salah. Dan seharus nya kamu sadar kalau wanita disampingku tadi memanggil ku (Mama)"
Aku hanya terdiam kulihat wajah Karin lalu wajah Adriana, kuulangi lagi dan lagi. Kenapa aku tak sadar kalau wajah mereka berdua hampir sama, dan kenapa aku tidak sadar kalau alis,hidung, dan tekuk leher apalagi sifat Karin hampir sama dengan Mas Pratama. Apa ini nyata? Atau aku yang salah melihat?.
Aku tak percaya, kukira itu asisten nya Adriana lalu kalau bukan, dia siapa? Aku langsung berkeringat basah.
"Dia anak ku, kita bersengkongkol tadi untuk tak mengakui kalau aku Mama nya selama pembicaraan ini. Tapi karena sudah terlanjur, tak apa lah." enteng nya tak memikirkan bagaimana hati ku sekarang berjalan.
Karin menatap ku dengan penuh kekesalan, ku menelan ludah kasar. 2 kali sudah aku tak percaya bahkan aku beberapa kali tak percaya. Tapi tak ada bukti untuk penjelasan Adriana itu. aku tak boleh terkena jebakan Adriana.
"Aku tak percaya, mungkin saja kamu berbohong agar kau mengaku kalau punya anak kan!? Padahal kamu tak punya sama sekali" kata ku yang yakin dengan ucapan ku.
Karin yang berdiri sedari tadi langsung ancang ancang menamparku tapi aku dipermainkan karena dia berhenti pas di depan wajah ku yang dimana aku menutupi wajah ku dengan kedua tangan ku karena ketakutan.
Tapi ini tak kuduga dia mengelus pipi ku yang baru saja ia tampar, "Maafkan saya, saya sangat kasar, apakah pipi anda baik baik saja? Ayo ku antar anda ke rumah sakit. Untuk balasan atas kejahatan saya, saya akan terus mendampingi anda selagi anda sakit nanti. Boleh kan?"
Aku sedikit terpana melihat kedua mata tajam nya yang hampir mirip sama Mas Pratama, sial ini gak harus diragukan lagi. Anak bahkan papa nya saja sama, sifat, wajah dan kelakuan.
Aku tak boleh terbujuk.
Dengan rasa malu aku langsung berdiri dan berniat meninggalkan Cafe ini. Tapi aku masih belum memasang bendera putih disini,aku masih belum menyerah.
Ku lihat mereka berdua lalu mengucapkan ancaman. "Aku tak kan menyerah! Mas Pratama masih menjadi milik ku dan walau kau sudah mempunyai anak, aku masih belum menyerah. Lihat saja, aku akan pergi sekarang tapi tidak untuk nanti, aku akan lebih berbahaya nanti" kata ku terkesan berani meninggalkan mereka, dengan sengaja kedua sepatu Heels merah ku, ku suara suara kan.
Aku masih belum menyerah, selama hati ku berkobar. Ku ganti prinsip ku untuk menjadi terkuat, akan ku rebut Mas Pratama dan pasti pria itu akan datang sendiri kepada ku karena hasrat terpendam nya oleh ku.
Besok atau nanti tunggu saja.
**Seorang wanita yang asik tengkurap mendapatkan pesan dari seseorang, ia berusaha untuk tak peduli dan mengganggap kalau ini pesan salah kirim. Beberapa jam di lalui, ia mendapatkan pesan lagi dari nomor itu padahal dirinya baru mandi malah mendapat kabar mengejutkan.
(Aku tak takut dengan mu, aku terima permintaan mu. Kita lihat siapa yang pantas disanding Mas Pratama)
Akan ia duga kalau istrinya Pratama marah dengan nya sekarang. Siap siap ia memakai dress ketat nan memukau lalu berkaca diri.
Ia melihat cerminan dirinya di kaca, wajah nya memang cantik tapi tidak dengan hati buruk nya. Makeup nya ia pulas begitu tebal, kedua mata nya lentik, tubuh nya bak artis bintang VIIP, kini siapa yang tidak tergoda dengan nya saat dijalan. Wanita licik ini tak akan tinggal diam, ia segera berdiri setelah menyelsaikan dandanan nya dan pergi dari kamar nya.
Rumah nya memang besar, Eve juga wanita kaya entah alasan apa ia ingin sekali menggaet suami orang selain kata tampan nan kaya.
(EVE POV)
Namaku Eve Pexy No'y, aku bukan dari Thailand atau semacamnya. Aku asli Indonesia hanya Dad ku dan Mom ku yang dari luar Negara dan kita membangun kehidupan di Indonesia. Tak banyak sih yang harus kuceritakan.
Aku anak kaya, orang tua ku mapan, semua yang kubutuhkan dibelikan sejak kecil. Bahkan apa itu Kdrt? Perselingkuhan? Di keluarga ku tak ada seperti itu. Tapi itu sebelum Mom ku meninggal, Dad menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang punya 2 anak satu perempuan satu laki laki. Yang perempuan masih SMP di bawahku sedangkan yang laki laki sudah kuliah S2 diatas ku yang pada saat itu aku masih SMA.
Pokok nya begitu lah aku tak ingin cerita banyak, aku sedikit malas menceritakan kehidupan ku yang biasa biasa saja.
Kali ini aku menerima ajakan dari seseorang. Tentu aku tahu itu, aku tahu siapa seseorang yang mengajak ku. Tentu saja saingan ku. Aku masih cinta sama pria itu. Karena hal buruk terjadi di masa lalu, aku jadi dipindahkan oleh Dad.
Itu semua gara gara wanita ****** itu andai dia tak memberitahu ke Dad pasti aku tak dikuliahkan di UK. Andai rencana ku berhasil untuk mendapatkan Mas Pratama aku pasti sudah berpindah posisi menjadi istri nya, pokok nya semua itu salah wanita itu!.
Aku bangga ternyata setelah 20 tahun lebih Mas Pratama belum mendapatkan anak sama sekali, dan itu menjadi kesempatan ku yang baru datang 1 bulan kemarin.
Aku tak percaya tentang rumor Mas Pratama sudah punya anak, katanya juga sudah besar. Itu bohong palingan netizen pintar ber drama, aku yakin itu.
Pokok nya aku tak boleh kalah disini, aku harus menyaingi Adriana agar aku menjadi nomor 1 di hati Mas Pratama. Tapi sudah beberapa kali aku menggoda nya dia tak luluh luluh sama sekali kepadaku, aku harus maju selangkah demi selangkah lagi.
Sesuatu ku rasakan, rasa semangat menjalar menggelora ku tak sabar akan bertemu wanita ****** itu. Wanita tak tahu di untung yang berani berani nya merebut cinta ku.
Lihat saja aku lah yang masih ada di hati Mas Pratama dan dia hanya pengganti hidup nya karena aku tak ada di Indonesia.
Aku langsung mengerem mobil, keluar dengan penuh elegan, semua pandang mata tertuju padaku dan aku bangga dengan diriku yang cantik dan semok ini. Aku masuk ke Cafe Cahaya yang disebutkan di chat, melihat sekitar mencoba mencari cari seseorang yang aku cari dan--- menemukan nya, Adriana dengan seorang wanita berambut pendek coklat membelakangi ku.
Aku tak peduli siapa yang diajak bicara nya tapi aku segera cepat cepat menuju ke arah mereka berdua, yang dimana posisi mereka ada di meja pojok belakang. Dengan sengaja aku gebrak meja milik mereka.
BRAKK- Tepat perkiraan ku mereka berdua terkejut tak main melihat ku dengan wajah sedikit ketakutan apalagi wajah Adriana yang menurutku menyebalkan.
"Bisa bisa nya anda main gebrak gebrak aja! Anda siapa!" bentak wanita berambut pendek itu menatap tajam ke arah ku. Tapi aku tak takut aku langsung mengece nya.
Ku tatap Adriana yang hanya diam, menatap lurus ke depan. "Kenapa? Cemburu kamu gara gara aku dekat sama Mas Pratama?" ejek ku mendorong kasar wanita berambut pendek itu dan duduk di tempat nya. Tenang saja wanita berambut pendek itu tak benar benar jatuh hanya mundur beberapa langkah.
"Kau-"
Sepertinya wanita berambut pendek itu mau berbicara sesuatu tapi tak jadi karena Adriana seperti memperingati sesuatu. Yasudah aku mulai saja dulu, memang dasar tak punya nyali.
__ADS_1
"Kenapa diam saja!? Bilang sekarang!"
Mereka berdua terlihat terdiam hingga makan disajikan mereka makan terlebih dahulu. Aku di traktir sama mereka tapi hatiku tetap sama, musuh tetap musuh aku tak kan pernah berbaik hati kepada mereka berdua.
Seusai makan, aku langsung kicep menyelsaikan semua ini dengan ku gebrak lagi meja ini dengan sedikit keras.
"Kamu mau bilang apa sih??? Cepetan makeup ku luntur nanti!" ujar ku agak sombong sambil mengeluarkan kaca dari tas ku.
Mereka hanya diam, tapi tidak dengan wanita berambut pendek di sebelah Adriana yang terus berdiri. Aku menanggapi wanita di sebelah Adriana, "Memang tak capek apa? Mau aja menjadi pembantu nya si ******." kata ku terus melihat wanita itu.
Wanita itu menjulurkan tangan nya, ia mulai membuka suara. "Perkenalkan namaku Karin Ariana, aku menemani nya agar dia tak kenapa-napa" kata nya yang bikin aku bingung, emang nya aku mau ngapain? Nyakitin Adriana? Kalau iya aku tak akan melakukan nya disini, akan ku lakukan di tengah sepi tak ada orang.
Aku menerima uluran tangan nya dengan wajah tak suka, "Eve Pex'y Noy" jawab ku dia mengangguk lalu memosisikan tubuh nya semula, apa apaan sih gak jelas emang. Gak majikan gak asisten nya memang aneh semua.
Aku memutar bola mata malas, kapan wanita di depan ku ini bicara??? Dia terus saja menatap wajah ku dan aku menjadi jijik melihat nya.
"Kamu sudah besar ya"
Ucap Adriana yang kini tak kutanggapi, dia memuji atau mengejek? Ya tak apalah dia mau bicara sekarang.
"Semua berubah ya"
Kata nya lagi yang bikin aku bosen dan mengalihkan wajah ku mencoba gak peduli.
"Sifat mu juga berubah ya, dulu kamu baik lo"
Kata nya terkesan mengejek membuat ku marah. "APA APAAN KAMU! KAMU NGEJEK! SEMUA ORANG ITU BISA BERUBAH! JANGAN HINA SAYA YA!" bentak ku tak suka sambil menatap Adriana kesal. Aku yang dibuat emosi segera ingin pergi dari sini tapi nanti dulu aku tak ingin menyerah begitu saja.
"Saya tidak mengejek, saya mengatakan yang sebenarnya. Muka anda seperti tomat gara gara makeup anda penuh dengan merah, itu baru ejekan. Kalau bisa, anda kembali ke sekolah dasar agar lebih pintar lagi otak anda, sepertinya anda masih belum di didik dengan benar di luar negri sana"
Ujar nya yang malah bikin aku kesal, aku mengepalkan tangan emosi. "Bukan urusan mu bedebah!" sewot ku tak terima bersempuh dada. Dia langsung menutup mulut, ya pura pura lah tak tau atas ucapan mu.
"Aduh maaf ya saya keceplosan, saya menyesal telah mengatakan hal kejam, tapi lebih kejam mana sih dari seorang pelakor yang berani merebut suami seorang" sinis Adriana tak kalah tajam dari yang tadi.
Aku sudah muak dan ingin menampar nya, "DASAR KAU!!!!" tapi tak bisa tangan ku di tampik oleh seorang wanita di sebelah nya yang menyebut dirinya bernama Karin. Dengan cepat segera ku lepaskan tangan ku, tangan ku langsung kesakitan, begitu kuat nya Karin meremas tangan kanan ku hingga memerah. Kekuatan nya tak main main aku tak boleh asal asalan membuat keributan disini.
"Maaf saya terpancing dengan perkataan anda. Tapi menurut saya anda lebih jahat dari kekejaman yang saya buat karena anda lah yang telah merusak hubungan keluarga saya" balas ku tak ingin kalah tapi dia hanya tersenyum.
"Siapa yang mau diam saja kalau melihat pacar nya digoda adik tiri nya sendiri, bahkan akan melakukan hal nekat. Tentu saja saya sebagai wanita yang baik hati tak terima itu, untuk itu saya membutuhkan orang tua anda untuk membantu menyelsaikan masalah ini"
Aku langsung terdiam, pikiran ku tak bisa kemana mana yang kupikirkan hanya balas dendam dengan perkataan yang baru saja ia ucapkan. Aku tak kehabisan ide masih ada kata kata yang masih bisa ku gunakan.
"Ya ampun, tolong ya jangan semena mena kepada saya. Walau anda selebgram yang, yah... Tak cukup terkenal tapi aku lebih kaya dari mu. Andai saja kau tak menikah dengan Mas Pratama pasti kau sudah lunglai menjadi gila miskin" ejek ku yang makin parah dan memuaskan sahaja tak tersadar Karin menampar ku dengan cukup kasar dan itu membuat aku sedikit meringis karena tamparan wanita itu tak main main sampai sampai aku ingin terjatuh ke samping tapi aku tahan menggunakan kedua tangan ku.
Ku lihat dia tatapan nya bikin aku ketakutan, kedua mata nya memerah memadam. Sepertinya ia tak suka kalau majikan nya di ejek.
"JANGAN HINA MAM KU! MAMA KU WANITA BAIK BAIK DARIPADA KAMU! DASAR PELAKOR TAK MAU MENGAKUI KESALAHAN! TAK MAU MUNDUR BAHKAN SAAT MAM SUDAH MENIKAH KAU TAK MAU KALAH!!!! ANDAI KAU LAKI LAKI SUDAH KU BERIKAN BOGEMAN MENTAH UNTUK MU" teriak Karin membuat orang sekitar melihat ke arah meja ku.
Itu membuat ku malu tapi aku langsung duduk kembali, duduk dengan rapi lalu ku tatap Adriana yang hanya diam melihat tak membantu ku sama sekali, memang semua orang sama saja.
Bisik bisik sekitar pun terjadi antara aku dan Karin dengan penuh kekecewaan pasti nya. Aku masih belum kalah, walau sakit nya seberapa tapi demi hati ku aku akan berjuang merebut Mas Pratama.
"Kenapa? Tak mau kalah!" kata ku memajukan wajah ku ke arah Karin yang menahan amarah nya.
"Karena Adriana itu gak punya rahim! Mangkannya aku absen menjadi istri kedua nya Mas Pratama. Untung kan aku bisa meneruskan keturunan suami nya daripada DIA! Gak bisa punya anak, gak tahu di untung lagi. Mana ada orang yang mau membantu Mas Pratama selain aku?" jelas ku dengan keyakinan tinggi dengan menunjuk nunjuk Adriana.
Adriana melihat ku dengan tatapan tipis, "Seharusnya anda sadar bahwa perbuatan mu salah. Dan seharus nya kamu sadar kalau wanita disampingku tadi memanggil ku (Mama)"
Aku hanya terdiam kulihat wajah Karin lalu wajah Adriana, kuulangi lagi dan lagi. Kenapa aku tak sadar kalau wajah mereka berdua hampir sama, dan kenapa aku tidak sadar kalau alis,hidung, dan tekuk leher apalagi sifat Karin hampir sama dengan Mas Pratama. Apa ini nyata? Atau aku yang salah melihat?.
Aku tak percaya, kukira itu asisten nya Adriana lalu kalau bukan, dia siapa? Aku langsung berkeringat basah.
"Dia anak ku, kita bersengkongkol tadi untuk tak mengakui kalau aku Mama nya selama pembicaraan ini. Tapi karena sudah terlanjur, tak apa lah." enteng nya tak memikirkan bagaimana hati ku sekarang berjalan.
Karin menatap ku dengan penuh kekesalan, ku menelan ludah kasar. 2 kali sudah aku tak percaya bahkan aku beberapa kali tak percaya tapi tak ada bukti untuk penjelasan Adriana itu. aku tak boleh terkena jebakan Adriana.
"Aku tak percaya, mungkin saja kamu berbohong agar kau mengaku kalau punya anak kan!? Padahal kamu tak punya sama sekali" kata ku yang yakin dengan ucapan ku.
Karin yang berdiri sedari tadi langsung ancang ancang menamparku tapi aku dipermainkan karena dia berhenti pas di depan wajah ku yang dimana aku menutupi wajah ku dengan kedua tangan karena ketakutan.
Tapi ini tak kuduga dia mengelus pipi ku yang baru saja ia tampar, "Maafkan saya, saya sangat kasar, apakah pipi anda baik baik saja? Akan kuantar kan ke rumah sakit. Untuk balasan atas kejahatan saya, saya akan terus mendampingi anda selagi anda sakit nanti. Boleh kan?"
Aku sedikit terpana melihat kedua mata tajam nya yang hampir mirip sama Mas Pratama, sial ini gak harus diragukan lagi. Anak bahkan papa nya saja sama, sifat, wajah dan kelakuan.
Aku tak boleh terbujuk.
Dengan rasa malu aku langsung berdiri dan berniat meninggalkan Cafe ini. Tapi aku masih belum memasang bendera putih disini,aku masih belum menyerah.
Ku lihat mereka berdua lalu mengucapkan ancaman. "Aku tak kan menyerah! Mas Pratama masih menjadi milik ku dan walau kau sudah mempunyai anak, aku masih belum menyerah. Lihat saja, aku akan pergi sekarang tapi tidak untuk nanti, aku akan lebih berbahaya nanti" kata ku terkesan berani meninggalkan mereka, dengan sengaja kedua sepatu heels merah ku, ku suara suara kan.
Aku masih belum menyerah, selama hati ku berkobar. Kuganti prinsip ku untuk menjadi terkuat, akan kurebut Mas Pratama dan datang sendiri kepada ku karena hasrat terpendam nya oleh ku.
Besok atau nanti tunggu saja.
(EVE POV END)
❣️**
❣️
__ADS_1