
Jo langsung menghampiri Adriana yang sedang membawa kotak makan di genggaman nya.
"Bu..." ia sedikit maju mencoba melihat wajah Adriana.
Pintu kerja Pratama tertutup memang, ia juga tak tahu kenapa Adriana berdiam kaku disini. Tetapi ada celah kecil yang memungkin kan orang bisa lihat apa yang mereka lakukan di dalam.
Adriana tak menanggapi Jo, ia langsung lekas pergi dari sini. Jo terdiam kaku, ia menatap istri atasan nya pergi begitu saja setelah berdiam diri di depan pintu.
"Bu~" ia ingin memanggil Adriana sekali lagi tapi pintu lift yang Adriana kenakan sudah ditutup.
"Pak, apa yang anda lakukan di dalam..."lirih Jo langsung berpegang kuat pada knop pintu.
Jo langsung membuka pintu dengan sangat kencang, "PAK!!!" tubuh nya mematung, ia melihat Eve berada di atas tubuh Pratama. Apalagi tangan Eve meraih dasi Pratama yang dengan nakal nya akan membuka nya, tdan angan lainnya akan melepaskan sabuk Pratama. Eve tak terkejut tapi lain lagi dengan Pratama yang langsung sigap mendorong keras wanita itu jatuh ke bawah.
"Aduh" Eve meringis, ia sangat kesakitan karena punggung nya terbentur di lantai. "Jo. Saya bisa jelaskan" ia berdiri menghampiri asisten nya yang sekarang , Jo menatap atasan nya dengan kepalan erat di tangan nya.
Bughh- dengan berani ia menjatuhkan bogeman mentah ke arah pipi atasan nya itu. Pratama mundur beberapa langkah, menunduk kan kepala nya.
"Tak saya duga, anda seperti itu" dengan sengaja Jo melemparkan sekantung obat dan kantung putih berisi bubur ayam ke arah Eve.
"Jo, aku bisa jelasin ke kamu. Kamu salah paham, ini bukan-"
Mulut Pratama langsung dibungkam oleh perkataan nya.
"Salah paham? Jelas jelas hal yang tak boleh dilakukan ada di depan mata. Istri anda, bu Adriana ada di depan pintu." Jo mengarahkan mata nya ke arah pintu. Pratama berlari, keluar ruangan tapi tak ada satu pun seseorang yang ada di luar.
"Itu sudah tadi, bu Adriana sudah tak ada di luar. Ia pergi, memendam kesedihan nya gara gara anda pak!!!" Jo melangkah kan kaki nya keluar dari ruangan. Pratama mematung, otak nya tak bisa berjalan dengan lancar sekarang.
Ia terduduk lemas, kepala nya ia pegang dengan kedua tangan nya. "Apa yang sudah ku lakukan." menatap lantai dengan tubuh terkulai lemas.
"Itu bukan salah ku." Pratama langsung membesitkan pikiran nya dari awal ini semua terjadi.
FLASHBACK ON
Setelah 30 menit Jo berlalu dari ruangan ini.
Eve langsung tak mengeluh kesakitan lagi saat Jo sudah benar benar pergi dari ruangan. Pratama duduk di sofa sebelah langsung dihampiri Eve, yang sial nya Pratama tak mengetahui keberadaan nya, karena ia sengaja tidur. Ia cukup lelah karena sudah bergadang semalaman kemarin malam.
Tapi setelah Eve sengaja menduduk kan tubuh nya di kedua paha Pratama, baru lah Pratama sadar. Ia langsung mendorong nya hingga wanita itu terjatuh ke bawah. Kepala nya terbentur meja, pantat nya kesakitan karena kena lantai.
"Aduh... Sakit..." dirinya mengeluh kesakitan, ia mengode Pratama agar menolong nya berdiri. Tapi Pratama masih punya otak, ia tak mau membantu nya berdiri karena tadi sudah semena mena dengan nya.
__ADS_1
Bukannya menolong, Pratama langsung membentak nya. "APA-APAAN KAMU! TAK SENONOH DENGAN KU! KAU TAK TAHU KALAU AKU SUDAH PUNYA ISTRI! SUDAH BERAPA KALI AKU BILANG INI SEMUA KEPADA MU!" hardik Pratama akan memberikan tamparan ke wanita yang ada di bawah nya itu.
Tapi niat nya ia urungkan karena ada panggilan telepon. "Awas saja kau" was was nya tanpa mengalihkan pandangan muka ke arah Eve. Langsung ia angkat telepon nya.
"Iya halo"
"Oh iya"
"Meeting nya diundur?"
"Ya tidak apa apa pak, tentu"
"Boleh boleh"
"Nanti lagi ya pak akan saya kabari"
"Ya... Ya pak terimakasih" ia taruh lagi telepon nya. Helaan napas keluar dari mulut nya. Tatapan tajam di arahkan ke wanita itu. Wanita itu masih belum bergerming, ia masih terduduk diam.
Pratama awal nya tak merasa berbahaya tapi tidak setelah air yang Eve minum tadi di tumpahkan ke sepatu hitam nya begitu saja.
Langsung ia marah "HEI APA YANG KAU-"
Segera Eve berdiri dan mendorong nya jatuh ke sofa panjang. Pratama ingin melawan, tapi sepatu nya licin gara gara air yang di tumpahkan Eve tadi. Tubuh nya jadi tak seimbang. Sesaat beberapa ketukan kecil terdengar, dan pintu sedikit terbuka. Pada saat itu, dirinya tak menyadari ketukan pintu itu karena, wanita ini duduk di atas tubuh nya.
"~hmm~" dengan godaan licik, ia tarik dasi Pratama yang mudah di lepas. Pratama tak bisa bergerak, tubuh wanita ini bahkan lebih berat daripada istri nya sendiri. Ia juga merasa lelah hari ini, apalagi ia belum sarapan sama sekali. Kekuatan nya belum optimal.
Ia mencoba sadar, menghentikan tangan Eve yang nakal akan membuka sabuk celana nya.
"Sialan kau Eve!"
Mereka berdua langsung dikejutkan oleh gobrakan pintu, dan penyebab nya adalah Jo.
"PAK!!!" teriak Jo.
Pratama langsung membeku melihat asisten nya berada di sini. Langsung saja ia mendorong dengan sekuat tenaga tubuh wanita itu, dengan sangat sangat keras.
Tubuh nya kini berderas keringat, ia tak bisa jalan begitu saja. Lantai juga licin, dirinya akan terpleset nanti. Untuk itu dia hati hati.
Langsung dirinya menghampiri, bukannya kepercayaan yang ia dapatkan tetapi bogeman mentah yang dibawakan asisten nya. Dirinya berjalan mundur melihat Eve yang dilempari sekantung hitam-putih oleh Jo.
"Jo saya bisa jelasin" dirinya berjalan maju mencoba untuk untuk memberikan alasan yang sebenarnya.
__ADS_1
Tetapi setelah mendengar, "Bu Adriana sudah tak ada di luar. Ia pergi, memendam kesedihan nya gara gara anda pak" ucap Jo. Langsung dirinya berlari panik menuju ke arah pintu agar istri nya tak salah paham. Tapi ia salah, istri nya sudah pergi entah kemana.
Jo langsung pergi meninggalkan nya, dirinya sekarang menyesal sudah tak mendengarkan apa kata asisten nya hanya karena tak ingin ada masalah di kantor nya sendiri.
FLASHBACK OFF
Pratama berdiri, menatap Eve dengan perasaan kesal.
"SEMUA INI GARA GARA DIRIMU! DASAR WANITA TAK TAHU DIRI! ENYAHLAH KAU DARI SINI!" Pratama membentak nya.
Eve tak ingin disalahkan berlari menghampiri Pratama "Gak mau, ini bukan salah ku. Ini salah istri mu!"
Langsung Pratama mendobrak pintu dengan sangat keras.
BRAKK.
"PERGI!!!" Pratama menunjuk ke arah luar. Eve menelan saliva nya pelan, ia hanya mengangguk.
Eve akhirnya pergi dari ruangan ini. Sekarang tak ada penganggu lagi. Dengan perasaan kesal ia memukul keras tembok nya hingga terdapat sedikit retak di tembok itu.
"Adriana"panggil Pratama menatap sekeliling, langsung ia berdiri dan keluar dari ruangan menuju ke arah lift. Ia menekan lantai 1 ,lift tertutup. Dirinya merutuki semua yang sudah ia lakukan. Malahan sekarang ia seperti pria gila, ia menyuruh lift ini untuk cepat cepat menuju ke tujuan padahal ada waktunya sendiri. Dan lantai 1 itu sangat jauh.
"Ya tuhan maafkan aku..." ia satukan kedua tangan nya kedepan.
😢
Rumah Mansion.
Karin yang sedang diajari paman nya melihat mama Adriana berlari masuk ke dalam ruang Pk. Tanpa aba aba, Adriana memeluk erat anak nya dari belakang. Paman Jordan juga tak menyadari tapi setelah mendengar Karin berbicara "Mama". Jordan menoleh melihat kakak nya menangis.
"MAMA! ADA APA!" panik Karin melihat mama nya mengurai tangisan dalam pelukan nya.
"Kenapa ma? Kenapa??? Apa ada yang terjadi???" Karin juga ikut memeluk mama nya. Dirinya langsung melepaskan pelukan nya dan menyuruh mama nya duduk.
Ia menyuruh paman Jordan untuk mengambilkan air di pojok ruangan sana. Jordan mengangguk dan segera mengambilkan minuman untuk kakak nya.
"Ma~kenapa mama nangis? " tanya nya dengan lembut, mengusap air mata Adriana yang terus berjatuhan.
"Mas...Mas Pratama...."
"Papa kenapa?" tanya Karin dengan wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1
🧐