
(KARIN POV 📍)
Aku terbangun dari tidur ku, ku lihat sekeliling hanya ada aku disini. Tapi seketika wajah ku menjadi terbeku dikarenakan ada asisten ku, Alan yang tidur di bawah. Kukira tak ada siapa pun, ternyata ada seseorang disini.
Ku tahan tangan ku agar tak mengelus rambut Alan. Aku kembali tidur, bisa di bilang aku pura pura tidur agar Alan tak curiga dengan ku. Setelah ku coba beberapa kali, bagaimana pun juga aku tak bisa tidur nyenyak.
Kejadian tadi pagi masih terbayang bayang di otak ku, teriakan teriakan para manusia itu masih belum hilang dalam pikiran ku. Bagaimana ya?, rasanya aku ingin pergi ke dapur. Meminum air dingin, melegakan tenggorokan ku.
Tapi mana mungkin Alan aku biarkan sendirian disini. "Alan... Alan..." ku tepuk tepuk lengan Alan agar dia bangun dari tidur nya. Alan tak kunjung bangun, selimut ku juga ada di bawah kepala nya, aku tak rela kalau membangun kan orang yang sedang tertidur nyenyak.
Diambil nya handphone ku di atas laci, kulihat jam menunjukan pukul 08.45 . Aku terkaget, lama sekali aku tertidur, aku juga belum sempat olahraga karena kejadian tadi. Sekarang yang harus ku lakukan adalah belajar dan berolahraga. Aku sempat melupakan 2 tujuan ku.
Bagai keinginan yang terkabulkan akhirnya Alan terbangun dari tidur nya. Ini yang kutunggu tunggu dari tadi, untung tak butuh beberapa jam. Alan yang baru bangun langsung mendongak ke arah ku, kacamata nya belum dipakai sama sekali jadi dia mengedipkan mata nya beberapa kali ke arah ku.
Langsung tersadar dan berdiri, "Ma... Maafkan saya nona. Saya sungguh tak tahu, saya mengantuk... Saya..."
Aku hanya tersenyum, dilihat lihat Alan selain orang nya dingin, asisten nya ini sangat lucu sekali. Aku langsung menepuk nepuk paha ku, dan sedikit menjahili nya. "Tak usah malu, tidur lah saja di paha ku sini. Lanjutkan tidur mu, tapi nanti saja soalnya aku ada urusan di luar~" kata ku dengan senyuman kecil.
Alan yang terbata bata, tak tahu harus berkata apa malah kembali ke mode aslinya, kulkas 2 pintu. Wajah bahkan mimik postur nya dibetulkan dari awal. Aku langsung kecewa dengan perubahan pesat dari asisten ku.
"Seharusnya ku foto wajah Alan saat tidur tadi..." gerutu ku kesal, kembali melihat wajah dingin nya.
Aku langsung berdiri tak mau memikirkan hal lain, yang bisa kuingat terakhir sebelum aku tidur karena kelelahan adalah.... Aku di gendong paman masuk ke kamar, terus karena aku capek aku jadinya tidur. Tapi kok aku kayak melupakan sesuatu ya?.
"Muach. Selamat tidur"
Mama?! Masa Mama sih? Ya biasanya Mama nge cium kening ku untuk tanda tidur malam, tapi itu saat masa kecil. Akan kuingat lagi.... Siapa ya? Tak mungkin kan aku mimpi di cium kening ku sama seseorang? Apa Alan tau ya? Coba saja kutanyakan.
"Alan, kamu tahu gak siapa yang ngecium kening ku tadi? Kamu kalau gak tahu gak usah jawab kok gak papa. Apa sih yang kupikirin, itu kan cuma mimpi- hehehe"
Alan hanya menampilkan wajah datar, "Tuan Jordan."
Aku langsung terdiam tanpa kata, coba kutanya lagi dan jawaban nya sama. Paman ku? Tak mungkin lah ya paman ku semena mena mencium kening ku. Tapi tak apa sih kita kan keluarga, tapi tunggu dimana paman Jordan?.
__ADS_1
Langsung ku berlari keluar kamar menuju ke ruang PK(Pelatihan nya Karin). Disana ku lihat paman sedang memainkan bumbble di kedua tangan nya, mengusap setetes keringat nya yang jatuh ke bawah menggunakan handuk mini.
Dengan kondisi emosi yang bisa kutahan, aku langsung berjalan menuju ke paman ku. Aku menyapa nya dan di sapa balik. Langsung ku duduk di sebelah paman ku, aku lihat otot otot bisep paman ku benar benar tak main main, lalu ku lihat otot lengan ku. "Ini mah masih kalah sama juara nya" kata ku sambil mencubit cubit lengan ku.
"Karin"
Aku menoleh, paman Jordan nafas nya tak ber aturan seperti hari hari biasanya, aneh. Aku langsung khawatir dengan keadaan paman ku, ku tahan bumbble milik nya dan kutaruh di bawah. Tapi paman menyuruh ku untuk gantian menganggkat bumbble nya, langsung kuturuti.
Paman Jordan berdiri, jalan nya seperti orang sakit. Lunglai-lunglai. Aku sangat khawatir sebenarnya, tapi aku harus menyelsaikan tugas ku dulu.
"Satu... Dua... Tiga... Emp-" belum hitungan kelima, aku langsung dikagetkan dengan sesuatu.
BRUKK-
Terperanjat aku menoleh kebelakang melihat paman Jordan tiba tiba pingsan. Aku berteriak dan memapah kepala paman, ku teriak nama nya berkali kali tapi tak ada respon.
"PAMAN JORDAN!!! PAMAN JORDAN!!! PAMAN JORDAN BANGUN!!! JANGAN BUAT AKU DEGDEGAN GINI DONG...."
Dengan kasar nya kucoba tampar paman ku, masih belum ada tanda tanda pergerakan. Aku dengan histeris langsung memeluk nya dan berteriak memanggil nama Alan beberapa kali.
Akhirnya Alan datang, membantu ku membawa ke kamar Paman Jordan. Sekaligus memanggil dokter untuk datang ke rumah ku.
Di kamar milik Paman Jordan.
Aku sudah menyuruh para pembantu golongan Salsa, nina, dan dina untuk membuatkan teh hangat dan minuman untuk Paman. Baru saja diperiksa dokter. Sang dokter berkata kalau Paman Jordan sangat kecapekan, belum ada nutrisi yang masuk ke dalam perut Paman hari ini. Aku langsung kaget, apa Papa ku membohongi ku. Katanya Paman sudah sarapan dari tadi pagi, kenapa bisa tak ada nutrisi?.
Mangkannya tadi saat membantu mencegah sekelompok wartawan, Paman agak tak bersemangat gara gara lemas. Tapi kenapa harus mengorbankan dirinya? Sedangkan aku kuat, tak perlu digendong segala kalau yang menggendong masih terkapar pingsan.
Aku marah, kalau paman bangun ku pukul kepala nya agar otak nya tak konslet dan berjalan dengan baik. Kalau begini siapa yang susah? Aku dan lainnya. Kenapa Paman tak mau sarapan tadi pagi? Nafsu paman itu kan tinggi, bahkan sehari bisa makan enam kali.
Tak mungkin kan Papa tak membolehkan Paman ku untuk makan, dasar kalau begini aku yang harus tanya ke Papa sendiri.
Aku membuka HP ku langsung menatap tajam ke arah nomor yang ku anggap sebagai nomor hp Papa ku.
__ADS_1
Karin: PAPA!!!
Aku kesan nya membentak, ya biarin siapa suruh gak kasih makan Paman Jordan.
Karin: PAPA!!! DI BACA GAK????
Belum dibaca masih centang satu juga, tapi beberapa menit berlalu masih belum ada jawaban. Aku gugup, sedangkan Paman juga belum sadar dari pingsan nya. Aku berharap semoga tak terjadi hal sesuatu lagi.
Hingga nomor ku ditelepon sama Papa, HP ku berdering dan aku tak mau mengangkat nya sama sekali. Mood ku buruk, aku anggap ini kejadian telat.
Papa Pratama: Nak, maaf ya tapi Papa Meeting tadi.
Aku langsung termenung mendengar kata (Meeting). Aku mengerti itu, dan bodoh nya aku melupakan kerja an Papa ku yang juga tak kalah penting. Tapi karena Papa sudah merespon ku ini waktunya aku tanya.
Karin: Kenapa Papa gak kasih makan Paman??? Paman kasihan tuh kelaparan, sampai pingsan. Aku sampai telepon dokter ke rumah. Kenapa Papa jahat? Kenapa Papa bohong sama aku? Kalau aku tahu ini, semua bakal gak terjadi!
Dibaca sama Papa, ada tanda mengetik dari papa.
Papa Pratama: Maafin Papa ya nak, Papa cerita ya.... Ini salah Papa memang, membiarkan Paman Jordan tak makan karena itu memang kemauan nya. Dia tak mau makan karena hal sesuatu, dan Papa memaklumkan hal itu. Papa juga tak bisa memaksa, memang tak biasa, tapi Papa juga khawatir sama Jordan. Jadi tolong jangan berpikir aneh aneh. Papa gak sejahat yang kamu pikirkan, coba tanya Paman Jordan sendiri sana.
Aku langsung melihat ke arah paman Jordan yang masih terlelap dalam pingsan nya. Kutipiskan kedua mata ku, hati ku sedikit sakit. Aku berpikir, mungkin saja ada suatu alasan hingga paman ku tak mau sarapan tadi pagi.
Tapi apa... Ingin membalas ucapan papa ku, kulihat paman Jordan bangun dari pingsan nya yang diawali dengan batuk batuk. Langsung ku sodorkan teh hangat untuk paman dan mengelus pelan punggung paman Jordan.
"Paman...." lirih ku tak kuasa melihat paman Jordan terkulai lemas. "Paman makan dulu ya... Aku suapin nih" ku tawar sendok berisi nasi dengan lauk, paman menggeleng tak mau. Dilihat nya diriku, aku hanya tersenyum kecut mencoba menanggapi paman Jordan yang berkata, "Kamu mirip dengan nya".
Aku terdiam mendengar nya, paman mengelus kedua pipi ku mengurai pelukan hangat nya. " Kamu hampir sama dengan nya..." ucap paman kecil, ku dengar pun aku langsung menampilkan wajah keheranan.
Mencoba tak peduli aku hanya mengiyakan ucapan paman ku, menyuapi paman ku beberapa kali kepadanya, untung nya paman mau makan sedikit.
"Aku mimpi dirinya semalam" usai nya sebelum ia tertidur kembali, ku cek nafas Paman masih dalam kondisi baik baik saja. Aku menghela nafas lega, "Siapa pun itu aku akan tetap di samping paman" kata ku, mencium pelan kening Paman Jordan.
Walau aku tak tau siapa yang dimaksud Paman, tapi aku tahu pasti orang itu mempunyai kenangan entah baik maupun buruk dengan Paman, semoga saja adalah sebuah keberuntungan. Aku berharap, semua keluarga ku damai tanpa ada masalah lagi, termasuk aku.
__ADS_1
(KARIN POV END 📍)