KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#25/Salam XENA kita masa dilupain.


__ADS_3

Karin seolah masih tak percaya dengan kedatangan seorang sahabat masa kecil, siapa yang menyangka. Lelaki yang menyebut dirinya sebagai Alby, tak mengira kalau Alby masih hidup.


"Alby, kamu masih hidup? bukannya kamu dikabarkan ya. Kalau kamu mati tenggelam." tanya Karin kepada Alby yang sekarang duduk di depan nya. Alby yang habis meminum teh yang disajikan Alan langsung mengangguk .


"Aku setibanya selamat Ana, tapi aku terdampar di sebuah pulau. Apalagi ingatan ku tiba tiba hilang, untung saja ada seorang nenek kakek yang menyelamatkan ku di pulau itu. Baru 6 Tahun setelahnya aku ingat kalau Namaku Alby Dirgantara"


Karin tentu mendengar kan nya dengan seksama. Kalau ingatan Alby menghilang kenapa nenek-kakek nya malah merawat nya? bukannya seharusnya dia diserahkan ke kepolisian?. Lalu kenapa saat ingatan nya kembali, dia tak berusaha menelpon dirinya atau meminta tolong ke sekitar untuk kembali lagi kesini? apa mungkin disana tak ada polisi sama sekali.


Bisa saja, Alby terdapampar di sebuah pulau terpencil yang dimana orang orang terpencil itu pasti tak tau tentang dunia luar, anggap saja seperti itu.


Ia mengingat ingat lagi dengan 1 teman laki laki yang pernah berjanji untuk selama lama nya disisi nya, dan tak akan pernah meninggalkan nya. Tapi insiden kecelakaan itu membuat semua nya berubah. Karena insiden itu Karin tak bisa lagi bermain dengan keempat teman nya lagi.


"Terus kamu sudah berapa tahun disini?" tanya Karin, dan Alby menjawab "Baru saja aku datang kesini. Terus aku nyamperin kamu. Soalnya aku mau kamu yang pertama kali aku kabarin dulu kalau aku masih hidup" jelas Alby.


Tentu Karin percaya dengan perkataan sahabat nya. Alby, laki laki yang tak pernah berbohong. Ia tahu itu, Alby sudah bersahabat dengan dirinya sejak kecil. Alby adalah anak yang begitu baik saking baik nya banyak orang diluar yang menginginkan Alby sebagai anak nya yang pada saat itu karena Alby adalah anak konglemart, anak pintar, anak yang bertanggung jawab dan baik hati. Idaman semua ornag tua.


14 Tahun lalu, Kecelakaan kapal pesiar pribadi milik keluarga DIRGANTARA tenggelam di tengah laut besar, badai angin menggelora sekitar kapal. Banyak nya sisi sisi kapal dengan lubang besar-besar, membuat air menerobos masuk ke dalam kapal.


Terdampar di Pantai Kota, di dalam hanya terdapat 4 awak kapal bersama 5 orang lainnya. Keluarga Dirgantara mengalami pendarahan yang cukup tinggi, semua nya langsung di rawat di Rumah Sakit yang berada di tengah Kota.


Awal nya semua baik baik saja setelah sadar anak bungsu mereka, Anak ke-2 mereka yang bernama ALBY DIRGANTARA hilang saat insiden yang mereka alami kemarin malam. Semua keluarga menangisi kehilangan anak mereka, anak tercinta mereka.


Pada saat itulah Karin tak mendapat kan kabar lagi dari keluarga maupun Alby lagi. Semua juga sedih kehilangan teman receh satu satu nya mereka, Alby.


Tak ada lagi yang namanya teman masa kecil, semua sudah hilang dalam sekejap mata. Karin ditinggalkan sendiri, merawat tanaman mereka sendiri, bermain ayunan sambil ditemani boneka sendiri. Yang paling berbahaya nya dia hampir berbicara sendiri. Untung saja pada saat itu Karin yang masih anak anak mengerti, kalau berbicara sendiri itu selalu dilakukan orang Gila.


Pada saat itulah ia menemukan teman saat SMA saja. Ya siapa lagi kalau bukan Cayna. Hanya dia teman - sahabat satu satu nya. Sahabat yang mau berada di sisi nya. Sahabat yang menemani nya setiap hari kemana pun.


Tapi itu dulu, Cayna bukan seperti dulu lagi. Setelah mendengar perkataan kasar nya, ia sekarang mengerti. Tak ada lagi orang yang harus ia percaya, semua yang ada di sisi nya selalu menghianati nya.


Haikal, Cayna, Zern.


Bagaimanapun juga Alby masih sahabat sejati nya. Ia masih plin-plan mau percaya dengan Alby atau tidak. Karena dipikiran nya, Alby pasti akan memanfaatkan nya lagi sama seperti yang lainnya. Ia takut kalau Alby adalah pria yang datang tiba tiba, menghianati nya di akhir. Karin takut kalau Alby adalah manusia penusuk ke empat.


"Kita udah janji kan dulu" Alby mengacungkan kelingking nya. Melihat itu, susah payah ia telan saliva nya. Dengan tatapan gugup, wajah nya ia alihkan ke samping. Alby makin mendekat, melihat wajah sahabat kecil nya.

__ADS_1


"Ana, hanya kamu satu satu nya sahabat yang pasti akan mempercayai ku. Kamu masih ingat kan kalau kita dulu adalah bestfriend forever. Kamu masih sayang kan sama aku"


Mendengar itu ia tutup mulut nya rapat rapat, segera ia peluk Alby dengan erat. Karin mengangguk paham, ia mengangguk mengiyakan beberapa kali.


"Aku percaya kok, aku percaya sama Alby. Aku juga sayang sama Alby" ucap nya pelan, mengepuk epuk pundak Alby dengan pelan. Meneteskan air mata kehangatan.


"Karena hanya satu Alby di dunia ini. Dan aku tahu siapa Alby itu" Karin mengusap pelupuh mata nya. Alby tersentuh dengan perkataan Karin, ia juga ikut senang.


"Aku senang banget! Soalnya aku bisa sama Ana lagi."Alby membantu nya mengusap pelupuk kanan mata nya. Karin tersenyum, menempelkan tangan kanan Alby ke sebelah pipi nya. " Aku masih ingin merasakan kehangatan seperti dulu lagi. Aku gak mau kalau semua ini mimpi"


Alby tertawa kecil "Ana.... Siapa orang yang selalu manggil kamu dengan nama Ana. Alby kan! Siapa lagi yang memanggil mu Ana selain aku. Kamu masih gak percaya sama kehadiran ku?"


Langsung menggeleng kan kepala dengan cepat "Enggak.... Enggak.... Ini tuh mendadak banget. Aku jadi gak tau harus bersikap apa sama kamu, Alby."


Alby terdengar menghela napas berat, mengulurkan tangan kanan nya ke arah Karin. "Salam XENA kita gimana?" Alby menaikkan sebelah alis.


"Salam xena?" guman Karin tak mengerti apa yang dikatakan Alby. Alby hanya menggeleng-geleng pelan saat melihat Karin yang ternyata sudah tak ingat lagi dengan salam Legend cipataan mereka berdua dulu saat masa kecil.


"Three! Two! One! Selamat pagi... Selamat siang... Ayo ikuti!" perintah Alby menepuk nepuk kedua tangan wanita itu yang terlihat kebingungan sendiri.


"Selamat siang... Selamat malam... Semua bahagia... Ehm... Gimana ya Alby kayaknya aku gak bisa deh, aku lupa. Bisa mulai dari awal gak?" tutur Karin tersenyum tanpa rasa bersalah.


Langsung Alby menunjuk kan gerakan nya dengan kedua tangan milik nya. "Lalu gini... Terus gini, nah jadi nya gini!" arahan Alby awalnya tak begitu ia mengerti tapi setelah ia teliti dengan seksama baru ia ingat dengan salam "XENA" itu.


Karin sontak berdiri "Aku ingat!". Alby langsung tersenyum senang, mendengar Karin sudah mengingat salam ke-12 milik mereka.


" Ayo kita lakuin Alby! Sekarang aku udah ingat!" Karin mengulurkan tangan kanan nya.


Alby tersenyum puas, mengulurkan tangan kiri nya. "Aku mulai ya" Alby mulai mengkomando.


"Three! Two! One!" sorak mereka berdua bersama.


Yang diawali dari Alby terlebih dahulu "Selamat pagi... Selamat siang... Selamat malam"


Karin langsung menimpali "Semua bahagia".

__ADS_1


Alby melanjutkan " Selamat pagi... Selamat siang.... Selamat malam"


Karin menjawab "Semua tertawa!!! Hahahahaha".


Alby langsung menggerakkan jurus andalan nya "Kalau kena ada hukuman!" Alby cepat cepat menyentuh jari kelingking Karin. Tetapi Karin yang masih ingat dengan gerakan setelah nyanyian yang baru saja dinyanyikan langsung meliuk liuk kan tangan kanan nya kesana kesini.


Tapi Alby begitu tangkas dan cepat. Baru saja Karin menghindar langsung ditangkap jari kelingking nya.


Karin cemberut, hukuman apa yang harus ia dapatkan. "Jadi hukuman nya ap-"


Muach-


Cepat cepat pipi kanan nya ia tutupi rapat rapat. "ALBY!!!KAMU NGAPAIN SIH" teriak Karin tak terima sekaligus malu.


"Kamu kenapa sih Ana? Kan udah biasa. Yang menang harus cium pipi nya yang kalah. Kamu gak inget?"


Karin yang mendengar nya menutup wajah nya rapat rapat dengan kedua telapak tangan nya. Sekarang posisi nya ia malu. Ia ingat dengan apa yang dilakukan setelah akhir game yang mereka mainkan yaitu kalau kalah harus kena ciuman si menang.


Sedangkan karin tadi posisi nya belum siap sama sekali, dulu waktu kecil sudah menjadi hal biasa. Tapi saat sudah dewasa hal seperti ini akan dikecam hal yang tidak senonoh.


"Ya mau gimana lagi! Aku juga udah besar. Seharusnya Alby tau dong, kalau otak ku akan konslet sama yang kayak gitu gituan. Lagian kita udah dewasa... Gak seharusnya kita berbuat hal itu lagi..."


Senyum Alby langsung pudar, ya bagaimana lagi mereka sudah dewasa. Diatas 20 tahun adalah hal yang tidak wajar, apalagi laki laki dengan perempuan yang status nya bukan lah keluarga.


"Ma... Maafin Alby. Alby gak bermaksud..." dengan menyesal Alby menunduk dengan perasaan bersalah.


"Seharusnya aku!" Karin menatap kedua mata biru Alby dengan lekat lekat.


Ia peluk lagi sahabat nya. "Seharusnya aku berusaha cari kamu. Aku terlalu bodoh, nyerah gitu aja mengira kalau kamu udah gak ada. Seharusnya aku yang salah, maafkan aku.Peluk gini gak papa kok"


Alby bahagia, membalas pelukan nya yang begitu erat. "Aku sayang sama kamu, Ana. Hanya kamu yang tau perasaan ku" Alby segera berdiri dari duduk nya, menatap Karin yang masih duduk di tempat.


Karin tak tahu Alby mau kemana, apa dia mau pulang?.


"Aku mau ke taman saat masa kecil kita dulu. Aku mau lihat tanaman kita dulu!"

__ADS_1


Karin sontak berdiri, memasang wajah terkejut "Eh-" kaget nya tak main main mendengar ucapan Alby.


🍀


__ADS_2