
Wanita dengan wajah memucat terduduk lemas, dia hanya bisa memohon ampun kepada sang Papa. Dengan rasa yang tak bisa diungakap kan. Sang wanita hanya bisa menunduk merutuki kesalahan, walau ini setengah kesalahan nya.
Karin, dengan posisi dan harga diri nya sudah tak bernilai. Membuat nya tertohok saat Papa nya malah tak mempercayai keadaan nya kini. Dibilang pun tak bisa, memohon pun tak bisa, yang bisa Karin lakukan hanya lah menunggu takdir nya atas keputusan nya sendiri.
"Berdiri"
Karin menghentikan aksi nya, berdiri menghadap Papa Pratama dengan wajah pasi. Kedua mata nya mengalih ke arah lain, ia takut berbicara dengan Papa Pratama gara gara kejadian tadi.
Dikeluarkan nya tisu entah datang darimana tapi Papa Pratama ternyata masih mempunyai hati. Ia tak ingin menyakiti anak perempuan satu satu nya. Awalnya Karin yang terhenti dengan tangis nya mulai menangis tersedu sedu, dengan paksa Karin memeluk Papa nya erat erat.
"Ka-"
"Maaf kan aku papa. Aku bakal tanggung jawab, semua ini salah ku..."
Papa menyingkirkan tubuh putri nya, mengusap air mata yang terjatuh dari kedua kening mata nya. Pratama hanya diam seribu bahasa, memegang erat tangan putrinya.
"Ayo pulang"
"Eh?" Karin terisak semakin shock dengan sifat blak blak an Papa nya dengan seenak nya menyuruh dirinya berpulang bersama, sedangkan dirinya masih banyak urusan di penjara ini.
Papa mengalih wajah nya ke samping, "Mama sudah menunggu mu. Tak bagus kalau disini terus, biar Papa yang urus semua ini. Tenang saja" kata Papa tanpa ada rasa takut walau ini di wilayah kantor polisi.
Pak Mor tak terima dengan ucapan Pratama karena menyelesaikan masalah ini begitu saja, tanpa mendapat kan jawaban yang memuaskan dari Karin. Dari samping Pak Mor menggenggam telapak tangan Karin saat itu Karin sedang memegang pipi nya karena tamparan barusan, Pak Mor menyuruh wanita itu tetap disini.
Pratama merasa aneh melihat anak nya masih belum
bergerak, berbalik badan Pratama geger dengan Pak Mor yang tak mau membiarkan anak nya pergi.
"Anda mau nya ap-"
"Saya masih tak terima. kasus ini masih belum ada cukup bukti. Dan anda seenak nya membawa pulang putri anda? Anda tahu kan kalau putri anda sedang di introgasi?" tatap tajam Pak Mor, dibalas dengan gencatan tajam juga.
__ADS_1
Karin menunduk, ia tak bisa bebas kemana mana. Merasakan kedua tangan nya dipegang oleh Papa dan detektif Mor. Azre langsung memundurkan tubuh sahabat nya, niat membisik kan sesuatu sampai detektif Mor terdiam kaku.
"Anda, tak usah bermain main dengan nya. Dia adalah bos besar dengan kekuasaan berlimpah. Semua bisa diaratakan oleh Pak Pratama. Anda tak tahu? Kalau Pak Pratama bisa menghancurkan anda" bisik Pak Azre dengan menepuk bahu pria itu dua kali, agar detektif Mor sadar siapa orang yang dihadapi nya.
Pratama menatap tajam kepada 2 detektif di belakang nya dengan siluet tajam. "Saya akan mengurusi hal ini sendiri, kalau saja anak ku salah akan ku penjarakan dia" ucap Pratama, Karin langsung dibuat menelan ludah dengan susah payah gara gara Papa nya.
"Kalian ingin uang? Berapa pun aku beri. Berikan waktu ku dengan putri ku, hanya semalam saja. Besok ku bawa dia kemari lagi. Dan membuktikan kalau anak ku tak bersalah sama sekali"
Pratama berjalan dengan langkah cepat sambil menggandeng anak perempuan nya. Karin sampai kewalahan mengikuti orangtua nya hingga sampai ke depan parkiran mobil.
Dari tadi Karin hanya diam, menyentuh halus pipi kanan nya yang kena tamparan tadi dan meremas erat celana panjang milik nya. Dia hanya bisa menutup mata sampai tiba di rumah.
"Aku takut" ia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Tak ada pembicaraan apapun di dalam mobil, mereka hanya terdiam terus menerus. Tak ada yang bisa membuka suara, yang ada hanya luka. Luka pun datang. Menangis tanpa suara yang bisa ia lakukan. Kalau dia menangis sampai terdengar bisa bisa di marahi sama Papa nya.
Di Kediaman Keluarga Pratama.
Di ruang tamu, Adriana sudah menanti anak nya dari tadi. Adriana berdiri, berjalan pelan menuju ke arah anak nya yang keadaan nya sudah tak baik baik saja.
Adriana tak marah, bahkan Mama memeluk Karin dengan penuh kasih sayang. Mam malah menangis, menepuk pundak anak nya beberapa kali.
Mam datang sembari membawa es batu yang sudah ber Alas kain . Pertama-tama membersihkan luka anak nya dengan air biasa agar semua kuman hilang. Setelah itu Karin memegang kain berisi es batu dan ditempelkan di pipi nya, perih perih dingin. Karin hanya bisa menahan nya, mungkin tak lama.
"Papa!!" Adriana berteriak kepada suami nya, karena Pratama kerepotan sendiri dengan Hp nya. "Apasih yang Papa lakukan??? Lihat anak mu sedang terluka ini! Bagaimana sih kamu!"
Pratama menyaku Hp nya kembali, "Maaf" Papa mengelus punggung tangan Karin dengan perasaan penuh bersalah. Karin menggeleng pelan, "Ini semua salah ku, aku berhak tuk-"
"GAK!!!KARIN GAK PEENAH SALAH! KAMU TAK AKAN PERNAH BERSALAH! CAMKAN ITU!!!"
Karin menghadap ke belakang, Mama Adriana membela nya walau ia sudah berbuat masalah baru di rumah ini. Dia bingung, ia harus memilih, ini kesalahan nya atau bukan, karena semua itu terjadi di depan kedua mata nya. Tak mungkin kalau ini semua dikatakan bukan salah nya.
"Masih sakit" Papa mengecek keadaan Karin dengan menyentuh pelan bekas tamparan dari nya. Karin hanya mendesis, ia tak bisa teriak kecuali sendirian di rumah. Rasa nya seimbang, kadang perih cekit cekit kadang tak ada rasanya sama sekali.
__ADS_1
Sekarang Karin hanya bisa tersenyum melihat kedua orang tua nya masih percaya dengan dirinya walau terjadi kesalah pahaman sepersekian detik. Dan tak akan dia lupakan dengan ucapan kasar Papa nya hingga hatinya tertusuk sedikit.
"Aku memalukan ya Pa. Aku juga udah membuat masalah baru disini. Memang aku tak pantas disini, apalagi membuat nama baik keluarga menjadi buruk. Aku... Ini.... -"Menghela napas, memejam kan mata merasakan semua kerisauan di peluh keringat nya.
"Lupakan itu"
"Hm?" ia memandang Papa nya dengan mulut tertutup. "Maksud Papa apa?!" tanya Mama penasaran, memegang kepala Karin dengan kedua tangan nya, "Maksud kamu apa Karin?" tanya Mam begitu penasaran.
Karin langsung berkeringat basah. Ia melirik sana sini, Papa pun membuka suara. "Tidak Mama. Tadi hanya ucapan si detektif di kantor polisi yang mengolok olok Karin. Mangkannya Karin sampai tetpikir pikir sampai sekarang" tipu Pratama tak ingin buat ribut dengan istrinya. Adriana hanya menghela napas pelan, menata rapi rambut anak nya yang berantakan sedari tadi.
"Ayo kita tidur. Masalah kamu sudah selesai kan? Tak usah dipikirkan, malam ini Mama akan tidur sepuasnya dengan mu. Papa juga masih banyak pekerjaan, ayo" Mam Adriana memegang pergelengan tangan nya, membawa Karin menuju ke kamar nya.
Ditatap Papa nya yang ada dibelakang dengan wajah datar. Papa menatap Karin juga dengan tatapan biasa. Sampai di atas tangga hingga mau sampai di kamar Mam nya, Karin masih berpikir keras.
"Bagaimana ini... Besok aku akan dibawa ke tempat keramat itu. Aku tidak mau, Papa juga tanda tanda tak mau bertindak sama sekali . Apa benar Papa merelakan ku besok di kekam di penjara? Setelah Mama tidur aku akan menghampiri Papa, mungkin Papa mau berbicara sesuatu dengan ku. Baiklah, kalau begitu aku harus membuat Mam tertidur secepat nya"
Karin tersenyum saat Mama Adriana mempersilakan Karin untuk masuk ke dalam Kamar nya.
"Good night, Karin"
"Good Night Mam"
Lampu meja di matikan, mereka tertidur pulas tapi tidak dengan Karin yang sudah terjaga dari tadi. Dari tadi dia menunggu Mama nya tertidur pulas tanpa gangguan nya lagi.
Hingga tersenyum pun yang bisa dia lakukan, walau Mam nya tertidur tapi rasa hangat ini tak kan hilang.
"Untung saja ada Mama. Kalau tidak aku bisa di tampar habis habis an sama Papa tadi" Karin terduduk, mencium kening Mam pelan, dan pergi dari ranjang menuju ke ruang kerja Papa nya.
"Tapi maaf, Anak mu masih banyak kesalahan yang belum di perbaiki. Maafkan anak mu ini karena sudah membohongi Mama. Hanya ini yang bisa Karin lakukan, terus maju, lagi dan lagi" terakhir Karin menyelimuti Mama nya dengan selimut tebal.
Karin menatap bintang bintang di luar jendela dari sini.
__ADS_1
"Tasya" Karin seketika teringat dengan anak nya.
#