
Kafe depan kantor Pemotretan.
Nayla dan adriana masih bercakap cakap, tentang pekerjaan, masalah pribadi, menggosip tentang orang lain. Semua nya mereka bicarakan, tapi masih dengan ucapan yang sopan.
Beberapa menit ber lalu...
Nayla membersihkan kedua tangan menggunakan tisu. "Beberapa hari lagi kamu ulang tahun ya?" tanya Nayla. Adriana mengangguk "Ya Nay, ke berapa ya... Aku agak lupa umur ku selanjutnya berapa" nynyir nya.
Nayla menanggapi "Kamu bagaimana sih, kamu kan akan berumur 40 tahun. Pura pura lupa atau bagaimana nih?"
Adriana hanya tersenyum kikuk "Eh... Oh gitu ya, ternyata aku sudah se tua itu ya" ucap Adriana pelan, melihat kopi nya tinggal sedikit.
"Bagaimana kalau kita mengadakan ulang tahun di rumah kamu. Tenang saja, aku bakal ajak artis artis papan atas untuk datang ke rumah kamu. Ini kesempatan emas kan, kamu bisa berhubungan baik nanti sama mereka. Dan kamu malah tambah terkenal, gak hanya di Instragam aja. Kamu juga bisa masuk tv!" jelas Nayla menyemangati nya.
Ia cukup terdiam mendengar itu. Dulu sekali ia pernah bermimpi terkenal di siaran tv. Tapi itu dulu, itu sudah tidak penting lagi. Beberapa tahun lagi ia pensiun dengan pekerjaan nya itu.
"Apa-apaan sih kamu Nayla. Gak usah repot repot. Aku gak usah ngadain pesta atau apalah. Aku bukan anak kecil lagi, Nayla tahu lah..." ia putar kedua bola mata nya kesamping.
Nayla menghela napas nya, ia mengangguk pelan "Yaudah kalau mau mu gitu. Aku juga gak bisa maksain, orang aku hanya manajer mu yang beberapa bulan lagi gak sama kamu lagi kok" Nayla membuka sebelah mata nya, ia melihat Adriana dengan wajah panik nya.
"Kenapa?" tanya Nayla. Adriana tak berkutik.
"Sesi istirahat nya mau habis" Adriana berdiri menggantungkan tas merah di bahu nya. Berjalan santai keluar kafe.
"Eh tunggu!" Nayla ikut berdiri meninggalkan beberapa uang di tempat.
.
Kantor Metro Jaya
Ting-
Suara lift terbuka, wanita bak gitar spanyol memasuki lift dengan pinggang yang digemulai mulai kan. Itu membuat para staff memandangi nya setiap saat kalau wanita itu lewat di depan mereka.
Dia mengambil cermin kecil dan lipstik merah nya. Bercermin diri, menatap kedua mata cantik nya sendiri, tak lupa memuji dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ayolah masa dia nolak aku lagi!" rucut wanita itu mengembungkan sebelah pipi. Saat lift terbuka dirinya berjalan dengan bak anggunly, ia melihat lihat kesana kesini sambil sedikit bernyanyi, menggoyangkan tubuh nya kecil.
Tok-Tok...
Pintu di buka oleh asisten Pratama, yang bernama Jo.
"Aduh Jo, minggir dong aku mau ketemu-" tapi perkataan nya dihentikan oleh Jo.
"Anda ternyata tak menyerah juga ya, walau pak Pratama sudah punya istri" ketus Jo menghalangi pintu masuk agar wanita itu tak seenak nya masuk ke dalam.
"Jo kamu ini ya! Bisa gak sih jangan menghalangi jalan ku. Biarlah urusan ku ya urusan ku, bukan urusan mu kali. Jo...!" dengan sengaja wanita itu memajukan bidang dada nya kedepan.
"Pokoknya! Aku mau ketemu sama Mas Pratama! Titik!" kedua tangan nya menyingkirkan tubuh Jo yang postur nya saja melebihi tubuh wanita itu.
"Sudah saya bilang! Pak Pratama tak mau bertemu dengan mu!"Jo menyingkirkan kedua tangan wanita itu dari kedua bahu nya.
"Memang nya kamu siapa! Hanya asisten saja bukan lebih! Minggir!"
Sudah muak dengan perbuatan wanita centil ini, ia sengaja mendorong nya.
Wanita itu langsung berdiri, merapikan rambut, lalu merapikan dress pendek yang ia kenakan, bahkan wajah saja ia pastikan tak ada yang lusuh.
Pratama yang sedang fokus dengan laptop nya terhenti saat mendengar Jo dengan suara wanita yang belum ia pastikan siapa.
"Jo, ada apa ini-"
Pratama langsung memasang wajah datar saat wanita di depan Jo itu langsung melingkarkan kedua tangan di lengan Pratama.
"Eve, apa-apaan kamu! Lepasin!" Pratama menyentak nya dengan kasar. Eve, wanita jaim yang tak pernah menyerah akan cinta nya hanya memasang wajah lugu nan polos.
"Ih sayang, kamu ini jangan begitu deh sama aku. Aku udah dandan cantik cantik buat kamu seorang loh, masa gitu sih sifat mu ke aku" goda Eve membusungkan kedua bidang dada ke depan.
Jo langsung menarik mundur tubuh Eve, menatap wanita itu dengan kesal.
"Anda sudah tak tahu diri sama sekali! Pak Pratama tak kan mungkin mau bersama mu! Pulang lah!"usir Jo.
__ADS_1
Eve hanya menanggapi dengan memalingkan wajah nya kesamping, tak menyerah ia sendenkan lengan nya di lengan Pratama.
"Jo kok gitu sih sama aku, Jo jahat banget ya. Kapan dia kamu resign dari tempat kerja mu? Secepat nya ya mas, soal nya aku gak tahan sama sifat nakal nya" Eve memandang Jo sembari mengelus lengan Pratama.
Jo yang mendengar nya tak tinggal diam sebenarnya. Andai saja dia di ijinkan untuk menggaruk garuk wajah wanita itu, mungkin saja sudah ia lakukan dari tadi.
Pratama menyingkirkan tangan nya, menatap tajam kedua bola mata nya. "Sudah kubilang jangan dekati aku lagi. Aku tak suka dengan keberadaan mu disini! Kau hanya penggangu rumah tangga ku, pergilah. Dan jangan kembali lagi!" usir Pratama menunjuk mengarah lift yang ada di depan mereka bertiga.
Eve langsung pura pura kesakitan "Aduh... Duh" ia memagang perut nya sendiri. Jo dan Pratama kaget karena Eve memegang perut nya seperti kesakitan.
Eve duduk di lantai, mengaduh kesakitan, sambil sedikit melirik ke arah Pratama. "Aduh mas, perut ku sakit..."
Jo hanya terdiam sedangkan Pratama langsung khawatir tak tahu harus apa. Jo tau kalau eve itu ratu nya pembohong, tapi pasti ada orang yang percaya akan kebohongan nya sama seperti di masa lalu.
Pratama yang tak ingin ada masalah di kantor nya sendiri, apalagi masalah perempuan langsung menggendong nya ala bridal style. Langsung di bawa masuk ke dalam ruang kerja nya.
"Jo! Panggil kan dokter secepat nya!"
Jo hanya menggeleng "Saya tidak mau"
Pratama langsung memasang wajah serius "Kenapa!!! Eve kesakitan! Cepat panggil kan dokter kesini! Apa masalah nya sih! Kau mau ada masalah di kantor ini!" bentak Pratama tak kalah.
Jo hanya mengangguk, kalau tak menuruti perintah atasan nya bisa bisa ia dipecat.
"Pak, dokter akan kesini, sudah saya telepon tadi" kata Jo.
Pratama mengangguk "Ya sudah" tapi pandangan nya terputus saat melihat Eve teriak kesakitan.
"Minum" lirih Eve memandang Pratama.
Ia mengerti langsung menyuruh asisten nya untuk mengambil kan minuman hangat untuk nya.
"Secepat nya!"
Jo langsung berlari keluar ruangan.
__ADS_1
"Cepat Jo... Aku tak mau lama lama dengan wanita ular ini ,disini..." gumam nya yang khawatir sendiri akan apa yang terjadi pada kedepan nya.