Ke Isekai Bersama Sistem Harem

Ke Isekai Bersama Sistem Harem
20) Proses Pendaftaran Menjadi Pahlawan


__ADS_3

Kuotta bersama Enyu, Dewi Ayanng Nikkah dan Yukita telah sampai di depan Kantor PPKBA. Kantor yang mereka lihat itu adalah sebuah gedung yang cukup megah, mereka berempat dari luar gerbang dapat melihat bahwa terdapat lumayan banyak petugas dan pahlawan di sekitaran halaman gedung tersebut, bahkan rakyat sipil biasa seperti mereka juga ada banyak di sana, Kuotaa berfikir mungkin saja rakyat sipil itu juga ingin mendaftarkan diri menjadi pahlawan.


"Wihhhh ... besal sekali lumahnya." Enyu mengatakannya sambil terpelongo memasati bangunan gedung kantor tersebut.


Kuotaa bersama Yukita dan Dewi hanya terkekeh pelan saat mendengarkan dan menyadari kepolosan Enyu yang tidak dapat membedakan antara Rumah dan Gedung.


"Hihihihihihi ... Itu Gedung kantor ... Enyu! bukanya rumah!" sahutan Yukita setelah selesai terekekeh.


"Ohhh ... hihihiihhi ... Enyu kila itu lumah," Enyu cengengesan sambil menggaruk kepala bagian belakang nya yang tidak gatal.


Kuotta bersama ketiga istrinya yang belum sah itu memasuki gerbang kantor Pahlawan setelah lolos pemeriksaan dari beberapa orang petugas penjaga gerbang, dan juga mereka berempat telah mendapatkan informasi dari petugas itu tempat letak posisi ruangan pendaftarannya.


Mereka berempat berkumpul di ruangan yang di maksud, dan berjumpa dengan banyaknya petugas pendaftaran yang ada di sebuah loket yang cukup mewah. Dari sekian banyaknya loket dan petugas pria maupun wanita, Kuotta memilih untuk menghampiri satu loket yang terdapat 2 petugas yang tidak sedang melayani seseorang.


Kuotta tidak suka mengantri, jadi kebetulan sekali 2 petugas itu tidak sedang melayani orang lain dan mereka berdua pun terlihat cukup cantik dengan dada yang luar biasa jumbo itu.


Kuotta sempat bergumam bertanya-tanya di dalam hatinya, berapakah ukuran BH dari petugas itu? Kuotta rasa ukuran dada milik kedua petugas itu sama besarnya dengan milik Dewi Ayanng Nikkah. Jadi jika ada kesempatan Kuotta berniat akan menanyakan secara langsung kepada Dewi cantik itu berapakah ukuran Bh yang ia pakai.


Salah satu Petugas yang menyadari ada empat orang asing berada di hadapannya, membuatnya berkata, "Selamat datang ada yang bisa kami bantu? Apakah kalian berempat ingin menjadi pahlawan?" ia mengucapkan kata-katanya dengan sopan santun dan secara formal sambil sedang menyiapkan pena dan beberapa kertas di mejanya.


Kuotta yang sedang berdiri menjawab petugas itu dengan cara yang tak kalah sopan sembari mengelurkan senyuman manis super tampanya, "Benar sekali kami ingin menjadi Pahlawan apakah loket disini melayaninya juga?"

__ADS_1


Sementara Dewi bersama Yukita dan Enyu yang juga berdiri hanya mengangguk antusias.


Di sisi Kedua Petugas itu nampaknya mereka berdua sedang berebutan untuk melayani Kuotta, dan mereka juga berupaya menahan perasaan membuncah saat melihat Kuotta yang luar biasa tampan itu, sampai-sampai pada akhirnya salah satu dari mereka ada yang terjungkal ke belakang, sehingga perebutan itu di menangkan oleh petugas berambut kuning. Sementara petugas wanita berambut hitam sedang melirih kesakitan dari belakangnya gadis berambut kuning.


"Kalau begitu kalian duduklah di kursi yang ada di belakang kalian itu!" Seruan dari Petugas berambut kuning.


Kuotta bersama ke tiga Istrinya menurut dan langsung duduk di kursi yang di maksud dengan gaya karakter khas mereka masing-masing.


Setelah melihat keempat orang itu telah duduk di kursi, petugas berambut kuning ini pun keluar dari loketnya sambil diam-diam menjulurkan lidah ejekan ke temanya yang masih merintih kesakitan.


"Sepertinya kalian bukan penduduk asli kota ini ya? aku belum pernah melihat gaya berpakaian aneh kalian itu, apakah kalian Warga Benua Luar." Ujarnya Petugas rambut Kuning saat sedang berdiri di hadapan keempat pendaftar itu, ia tiba-tiba memperhatikan keempat orang itu dengan tatapan seolah sedang mengamati.


Ucapan dan perilaku petugas itu membuat Kuotta sedikit kaget, dan merasa cemas, namun ia tidak menampakan ekspresi yang begitu mencolok, Kuotta berfikir apakah mungkin dia bersama ketiga istrinya akan di pinta untuk memperlihatkan tanda pengenal? apakah di Dunia ini juga mereka akan di tanyakan persoalan ID Card atau semacam KTP? kalau kenyataan begitu gawat karena mereka berempat tidak memiliki identitas pengenal dari Dunia ini, hal itupun membuat Kuotta bersama Dewi dan Yukita menelan ludah Getir dan kembali cemas.


"Maaf sebelumnya apa itu TTP?" Dewi Ayanng Nikkah bertanya bingung.


Petugas menjawab dengan perasaan yang bingung juga dan merasa aneh sekali, "Kenapa kalian bertiga yang sudah sebesar ini tidak mengerti arti dari TTP dan kenapa kalian tidak memilikinya??"


Petugas rambut kuning itu mengatakan kalimatnya sambil melirik ke dadanya Yukita dan Dewi Ayanng Nikkah, namun ia sulit berpaling saat pandangannya tertuju pada batang vital Kuotta yang sedikit menonjol dari balik celananya.


Sementara disisi Kuotta, rasa cemas dari pertanyaan petugas itu seketika hilang, karena ia malah diam-diam terkekeh pelan saat menyadari dan melihat kalau Petugas itu sedang melirik dadanya Dewi dan Yukita.

__ADS_1


Kuotta juga mengulas senyum miring ketika menyadari petugas cantik itu sepertinya sedang terpesona dengan batang vitalnya.


"Maaf ...! kami ini sebenarnya dari pelosok pedalaman hutan, bisa di bilang kalau kami ini orang hutan dan tidak pernah tahu istilah TTP itu," ujarnya Yukita dengan santai dan berharap kebohongannya itu bisa di percaya sang petugas.


"Baiklah aku mengerti kalau kalian itu orang pedalaman! Aku akan jelaskan arti TTP. TTP itu adalah singkatan dari (Tato Tanda Penduduk), setiap Warga Benua yang telah berumur 18 tahun keatas maka harus memiliki TTP tersebut, jika tidak memilikinya itu berarti kalian masih anak bawang atau belum sah menjadi warga Benua Allrassu."


"Tapi kami masih bisa kan menjadi pahlawan meski belum punya TTP itu??" Kuotta bertanya dengan penuh harapan.


Petugas itu menjawab sembari menggelengkan kepalanya, "Sebenarnya tidak bisa, karena formulir pendaftaran pahlawan ini harus di cas juga dengan TTP yang ada di tangan kalian dengan cara di tempelkan di kertas formulir ini, tapi tenang saja di ruangan sebelah kalian bisa mendapatkan TTP kalian mari ikut! aku akan mengantarkan kalian."


Petugas rambut kuning itu membawa mereka berempat ke sebuah ruangan lainya yang tidak terlalu jauh, lalu setiba di sana mereka bertemu dengan beberapa petugas lainya.


Petugas berambut kuning itu berbicara kepada petugas lainya, ia memberitahukan bahwa Kuotta bersama ketiga istrinya mau membuat TTP.


Setelah selsai berbicara dengan petugas rambut kuning, Petugas yang seorang pria berambut gondrong ini langsung menyahuti Kuota bersama ke tiga istrinya, Petugas gondrong mengatakan jika ingin membuat TTP maka terlebih dahulu harus membayar biaya administrasi sebesar 20 Pru.


Mendengar itu Dewi Ayanng Nikkah merasa keberatan, ia rasa 20 Pru itu setara dengan 20 porsi nasi beserta lauk-pauknya, seperti yang ia pesan saat di rumah makan sebelumnya.


Sang Dewi pun akhirnya mengeluarkan jurus memelasnya, ia beralasan dengan mengatakan bahwa mereka berempat tidaklah memiliki banyak uang dan ekonomi keluarga mereka pun sangatlah memprihatinkan atau miskin, padahal kenyataannya Dewi pelit ini hanya ingin menghemat uang dari hasil curian Kuotta saat di rumah makan waktu itu.


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2