
Kuotta mencoba melarutkan suasana dengan berkata, "Rumahnya gak aneh ko'k ini justru sangat bagus, antik dan cantik sekali, lagian aku suka sekali dengan dada wa*nita, jadi rumah seperti ini adalah salah satu rumah impian ku juga."
"Benarkah?" Yura bertanya antusias.
"Tentu saja!" Jawaban Kuotta di akhiri senyuman.
"Terimakasih Suamiku aku terharu sekali, kalau gitu ayo kita masuk!" Yura mengulas senyum manis setelahnya menyeka kantong matanya yang basah lalu ia menuju pintu masuk dan di ikuti ke empat oranga lainya.
"Wah lumah kak Yula bagus sekali ...! Enyu suka-Enyu suka, di sini sangat sejuk," Celetuk Enyu yang sedang berdiri bersama yang lainya saat mereka baru saja tiba di ruang tengah rumah tersebut.
Sementara Dewi Ayanng Nikkah sedang mengumpat di dalam hatinya, "Lumayan sih rumahnya ... tapi kalau dibandingkan dengan istanaku, sangat jauh bagusan istanaku yang di kayangan."
"Jadi beneran kau tinggal sendirian di rumahmu ini Yura?" Kuotta bertanya sambil memperhatikan setiap sisi ruangan tengah itu.
"iya aku sendirian, kenapa emangnya?" Yura menjawab sambil melirik kearah Kuotta.
"Apa kau tidak takut jika ada semacam hantu atau setan yang akan mengganggumu di saat malam hari?" Kuotta bertanya kembali sambil menakut-nakuti Yura dengan ekspresi wajahnya yang di seram-seramkan namun tetap saja tampan.
Yura menjawab santai, "Hmmm ... gak takut kok, lagian aku belum pernah melihat hantu di rumahku ini, sudahlah sayangku gak usah bahas tentang hantu lagi, mendingan kalian duduk dulu di kursi, aku akan ambilkan makanan dan minuman dibelakang!"
"Tunggu Yura ...! Aku mau ikut, aku ingin membantumu juga!" sahutan Yuki yang berlalu menyusul Yura ke dapur.
Sementara ketiga orang lainya menuruti seruan Yura dan langsung duduk di kursi sofa yang ada di tengah-tengah ruangan tersebut.
Yura dan Yuki yang berada di dapur mereka berdua sedang mengambil makanan yang ada di lemari kaca lalu mengambil minuman yang ada di lemari es, sungguh lemari es yang terlihat asing dan aneh itu membuat Yuki merasa kagum sekali sambil menggelengkan kepalanya.
Sambil mengeluarkan beberapa minuman, Yuki merasa heran, kenapa lemari es yang tidak memiliki teknologi mesin ini bisa bekerja?? Hal itu pun membuatnya bertanya kepada Yura dengan ekspresi keheranan. "Ini kulkas kan Yura??"
__ADS_1
"Iya itu kulkas ...! Yura menjawab sambil sedang membagi rata lauk pauk ke piring yang telah di isinya nasi. "Kenapa, kau heran ya? ... sebenarnya kulkas itu memang sangat berbeda dari Dunia asal kita, karena kulkas itu terbuat dari perpaduan antara plastik dan batu kristal es sihir yang telah di rancang sistem dan energi sihirnya agar bisa menjadi lemari es."
Yura sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan penjelasan Yuki tersebut, namun dia mengangguk-angguk saja biar dikira seolah-olah telah mengerti.
Beberapa menit kemudian akhirnya Yura dan Yuki kembali ke ruangan tengah sambil membawa makanan dan minuman yang cukup banyak di dalam dua nampan besar, nampan besar yang di bawah Yura berisi 5 piring makanan, sementara nampan besar yang di bawah Yuki berisi 5 minuman es jeruk.
"Makanannya siap...!" Sahutan Yura sambil tersenyum lembut.
"Minumannya juga siap ...!" sahutan Yuki yang juga tersenyum lembut, ia tidak mau kalah dari Yura, ia ingin terlihat sempurna di mata Kuotta.
Mereka berdua meletakkan makanan dan minuman itu di meja yang ada di tengah-tengah di kelilingi kursi tempat duduk mereka, lalu Yuki dan Yura pun ikutan duduk bersama yang lainya.
"Waahhhh makanan ini pasti enak sekali ...!" celetuk Enyu yang sangat ceria sambil menepuk-nepuk tangannya dengan pelan.
"Terimakasih banyak Yura, Yuki ...! maaf kalian jadi repot-repot begini!" Ujarnya Kuotta sambil berekspresi tidak enakan.
"Tidak masalah kok, tidak repot, lagian ini kan sudah tugasnya seorang istri." Yura menjawab dengan antusias.
Sementara Dewi Ayanng Nikkah dari tadi hanya berekspresi masam dan jutek. Kuotta yang melihat ekspresi Dewi itu membuat nya sedikit bingung lalu tanpa pikir panjang lagi ia pun langsung saja mengambil makanan yang ada di meja untuk di berikannya kepada sang Dewi yang masih merengut.
"Ini makanlah Ayangku! biar kekuatanmu pulih kembali atau mau A'a suapin," tutur lembut Kuotta sambil menaruh piring berisi makan di atas meja yang ada depannya Dewi.
Mendengar Kalimat itu membuat Dewi Ayanng Nikkah sedikit tersentak kaget, namun ia berusaha bersikap biasa-biasa saja sambil memalingkan wajahnya yang memerah dari hadapan Kuotta.
"Aku bisa makan sendiri kok lagian aku masih punya tangan ... selamat makan maaf aku duluan ...!" ucapan Dewi yang langsung saja menyuap makanan itu kedalam mulutnya yang imut.
"Ya sudah kalau kau tidak mau, tapi jika lain kali kau ingin, bilang saja ya Ayanngku, gak usah malu-malu!" ujarnya Kuotta lalu mengulas senyum melengkung.
__ADS_1
"Diam ...! aku lagi makan," balasan Dewi tidak melirik Kuotta.
"Dia kenapa ya?" Sahutan Yura berbisik pelan di telinganya Yuki.
"Entahlah mungkin dia sedang Pms datang bulan, jadinya Sensitif deh ... eee ... apakah seorang Dewi juga Pms ya??" Yuki balik bertanya.
"Entahlah aku juga tidak tahu?" setelah mengatakan itu Yura pun langsung mengambil makanannya lalu di ikuti juga oleh Yuki.
"Apa kalian semua sudah cuci tangan? ... kalau aku dan Yura tadi sudah saat di dapur?" Yuki bertanya sambil melihati orang yang di maksudnya secara bergantian.
"Sudah kami tadi sudah cuci tangan di wc sebelum kakak bawa makanan ini!" Enyu menjawab antusias sambil melirik Yuki.
Akhirnya mereka semua melahap makanan itu dengan senang hati, bersemangat dan bern*afsu sekali
"Kakak suapin Enyu ... ayo-ayo!" Enyu membuka mulutnya di hadapan Kuotta.
Kuotta tersenyum lembut lalu memasukan makanan itu kedalam mulut mungil dan imutnya Enyu menggunakan tanganya secara langsung tanpa sendok, Bahkan Enyu tanpa ragu di setiap suapan itu selesai, pasti ia akan menjilati sisa-sisa makanan yang ada di tangannya Kuotta.
"Wahh masakan kak Yula enak sekali ya kak?" sahutan Enyu kepada Kuotta, lalu setelahnya ia menjilati pinggiran bibirnya sendiri.
"Iya Enak." Jawab Kuotta di balut dengan senyuman manis.
Enyu dengan semangat ia juga bergantian menyuapi Kakaknya, saat di lihatnya ada bekas nasi yang menempel di bibir kakaknya, tiba-tiba saja Enyu tanpa ragu dan polosnya langsung menjilati bibir Kuotta dengan lidahnya dan di akhiri dengan lum*atan yang kesannya seolah sedang berci*uman.
Kejadian itu membuat ketiga gadis yang dari tadi diam-diam mengintip membuat mereka semua tersedak makanannya sendiri, lalu langsung meminum air jeruknya yang ada di gelas beling masing-masing.
"Kalian tidak apa-apa?" Kuotta bertanya pura-pura tidak mengerti padahal ia sangat tahu pasti ketiga istri yang lainya itu sedang salah tingkah saat melihat kemesraannya bersama Enyu.
__ADS_1
...****************...
...To Be Continue...