
Melihat kejadian yang tidak senon*oh membuat Dewi Ayanng Nikkah langsung menghampiri Kuotta dengan ekspresi marah. "Kenapa kau malah ke'enakan sialan? ... harusnya kau singkirkan tangan adikmu itu dasar Pria mesum .... hiyaaaaaak ...," sahutan Dewi lalu langsung menendang Kuotta sampai terpental.
"Kakaaak ...." Enyu meneriaki Kuotta yang terpental Kedinding lalu setelahnya ia meloncat kearah Dewi dengan cakaran dan giginya yang tajam sambil menggeram marah, "Egrrrrrrrr .... awas kau t*ete*k besal."
Dewi membuat sihir perisa pelindung transparan, sehingga Enyu tidak bisa mendekatinya, Enyu hanya bisa mencakar-cakar perisai yang mengelilingi Dewi itu, lalu Dewi berkata, "Tunggu Enyu maafkan kakak, kakak kelepasan tadi, lagian kenapa kau terang-terangan memegang Anunya kakak mu itu."
"Dewi handukmu lepas!" sahutan Yura berekspresi syok dan Yuki pun sama berekspresi syok mereka berdua sama-sama menggelengkan kepalanya.
Sementara Dewi yang baru sadar akibat sahutan itu, ia pun langsung berteriak kencang, "Kyiaaaaaaaaaa ...." ia menutup seluruh daerah kewa*nitaan-nya hanya dengan menggunakan tangannya saja, karena handuknya saat ini berada di luar perisai pelindungnya, dia tidak bisa mengambil handuknya itu, karena jika ia lepaskan perisainya, pasti Enyu akan mencakar wajahnya yang cantik menjadi bopeng. Meski Dewi bisa memperbaiki wajahnya sendiri tapi dia tidak ingin merasakan sakitnya cakaran Enyu.
Kuotta yang masih terduduk melirik kearah Dewi dengan seringai mesumnya. Mata Dewi yang malu-malu itu bertemu melirik ke mata Kuotta yang mesum. Kuotta melemparkan senyuman melengkungnya yang manis sembari memberikan dua jempolnya kearah Dewi cantik itu dengan kesan menggoda dan memainkan alis genitnya.
Dewi malang itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa pasrah seluruh bagian tubuhnya telah di lihat Kuotta. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya dengan perasaan malu yang luar biasa.
Sungguh baru kali ini Kuotta melihat penampakan keindahan panorama bukit dan lembah kesucian yang sangat mulus, indah dan cantik sekali dari sosok seorang Dewi pesona kasih sayang, milik Dewi itu sungguh punya karakter tersendiri.
Kuotta berdiri dari duduknya sambil memainkan rambutnya dengan kesan sok keren dan narsis, ia nampaknya sangat bugar dan baik-baik saja, lalu ia menyahuti Enyu, "Enyu Kakak tidak apa-apa kok, kami tadi cuma main bola, kami sering main bola kayak gini, tadi kakak jadi bola dan Dewinya lagi nendang bola, kakak kan kuat bisa jadi bola dan bisa jadi apa saja."
Enyu menanggapi Kuotta dengan berkata, "Ohh jadi tadi kakak cuma jadi bola ya?, tapi jangan main-main gituan lagi ya kak ...! Enyu gak tega liat Kaka jadi bola, biarl kak Dewi aja yang jadi bolanya, kakak yang tendang dia kuat-kuat?"
"Iya-iya lain kali kakak yang tendang dia ... hihihihihi?" setelah mengatakan itu Kuotta pun mengedipkan sebelah matanya dengan genit kearah Dewi, Dewi yang melirik kearah Kuotta ia merasa tidak enakan dan hanya bisa menundukkan kepalanya saja.
__ADS_1
Setelah perisai itu lepas Yuki langsung memakaikan handuk kembali ke tubuhnya Dewi Ayanng Nikkah yang sedang traumatik sambil menutup wajahnya.
Yura masih kebingungan persoalan T*it*it terpotong yang sempat tertunda, ia berjalan memeriksa tempat yang membuat Enyu terkejut.
Dengan keberanian yang bulat seperti dadanya, Yura pun akhirnya merogoh benda yang terselip di antara kaki ranjang dan dinding kamar itu, saat di lihat dan di ambilnya ia pun terkekeh pelan lalu di letakkannya lah di hadapan mereka semua.
Ternyata apa yang mereka lihat bukanlah T*it*it terpotong berdarah melainkan hanyalah sebuah Mainan Se*ks yang memanglah berbentuk perkakas seorang pria berwarna cokelat dan ada bercak darahnya.
Kejadian itu pun membuat semuanya tertawa terbahak-bahak. Yuki tertawa sambil menahan malu, sementara Dewi Ayanng Nikkah ia juga tidak bisa menahan tawanya, sepertinya ekspresi jutek dan malu-malunya telah di taklukkan oleh insiden ini. Meski sebisa mungkin Dewi menahan tawanya namun tetap saja tawanya itu pecah sampai terbahak-bahak dan hampir saja handuknya terbuka kembali namun cepat-cepat ia mengencangkan kembali gulungan atau ikatan handuknya itu.
Enyu yang tidak takut lagi, dengan santainya mengambil benda yang menurutnya mainan itu, dan langsung di pasangnya di depan se*mpaknya sehingga ia terlihat seperti mempunyai batang vi*tal.
Kekonyolan Enyu membuat tawa mereka semakin pecah, untuk Yuki dan Dewi mereka berdua tertawa tapi bercampur sedikit malu-malu saat melihat mainan Se*ks berbentuk T*it*it itu di goyang-goyangkan Enyu. :v
"Enyu kakak pinjam sebentar mainannya!" seruan Kuotta setelah selesai tertawa sambil menadakan tangannya di hadapan Enyu.
"Ini ...!" jawaban Enyu sambil memberikan mainan **** itu ke tangan Kuotta lalu ia kembali berkata, "Tapi nanti mainan itu buat Enyu ya kakak?"
"Iya nanti buat Enyu setelah kakak cek ke higienis-sanya atau setelah kakak bersihkan ya!" Kuotta menjawab sambil mengendus mainan Se"ks yang ada di tangannya.
"Wajar saja Enyu kaget ia pikir ini T*it*it asli, karena Enyu mencium bau darah sungguhan di Benda ini, hidung Enyu tidaklah berbohong. ... Yura ini milik siapa? ... aku rasa darah ini darah keperawanan seseorang, dan aromanya ini bukanlah darah mu?"
__ADS_1
Yura menjawab dengan ekspresi malu, "Aku rasa itu punya temen kerjaku, soalnya kemarin empat orang temen wanita ku menginap di rumah ku ini, jadi itu pasti ini ulah mereka."
"Aku juga tadi menemukan ini di kamarku, apakah ini parfum? ... aku rasa ini parfum milik temanmu juga ...?" ujarnya Dewi Ayanng Nikkah sambil memberikan botol kaca seukuran botol air minum kepada Yura.
Di benaknya Yura ia terkekeh, "Mana ada parfum ukurannya sebesar ini, dasar Dewi amatiran, minyak oles pelicin hubu*ngan badan aja di kiranya parfum ... hihihihihi ..."
******
Mereka semua akhirnya berjalan kembali memasuki kamarnya masing-masing, sepanjang jalan menuju kamarnya, Enyu berjalan dengan memain-mainkan kakinya sambil menenteng mainan se*ks yang ada di tangan kirinya sementara tangan kanannya bergandengan dengan tangannya Kuotta.
Setelah Kuotta menutup pintu kamarnya ia pun menyuruh Enyu untuk meletakkan mainan Se*ks itu di atas meja, Enyu menuruti seruan kakaknya lalu ia bertanya dengan wajahnya yang polos, "Kita mau ngapain lagi kak sekarang? ... apakah kita langsung mau tidur?"
...****************...
...To Be Continue...
...Kepada para pembaca yang saya hormati mohon dukungannya ya Dengan cara Like, share, Gift tambahkan ke favorit ya....
...Dan Komen juga ya, biar aku merasa ada yang menuggu ceritaku ini dan agar aku semakin semangat update nya....
...Terimakasih...
__ADS_1