Kehidupan Baru Sanjana

Kehidupan Baru Sanjana
Bab 1 Awal


__ADS_3

BAB 1. Awal


Lengan Sanja masih belum terbiasa menarik tambang karet yang digunakan untuk menarik ember dari sumur timba, bertahun-tahun lengan dan jemarinya hanya terbiasa memutar keran air lalu mengucurlah air bersih dengan suhu yang bisa disesuaikan. Rasanya lucu sekali jika membayangkan bahwa semua kemewahan itu pernah ia rasakan, segala kemudahan rasanya bisa ia dapat saat itu. Namun saat ini sanja hanya bisa terpaku menatap tembok kamar mandi yang berwarna kehijauan ditutupi lumut, di rumah peninggalan nenek dari ibunya.


Kehidupan lamanya terasa amat jauh dari jangkauan sanja, bermula dari kematian ayahnya. Pagi itu masih terbayang jelas di benak senja, mereka masih makan bersama, ibunya memakai terusan berwarna pastel dengan renda menghiasi lengannya, ayahnya tampak gagah dengan balutan kemeja lengan panjang berwarna biru muda, koper berwarna biru tua sudah siap menunggu di samping tangga, berisi baju yang cukup dipakai untuk tiga hari. Rencananya Ayahnya hendak mengikuti rapat direksi di perusahaan makanan cepat saji tempatnya bekerja, yang akan di adakan di luar kota. Ayahnya tampak terburu-buru melahap nasi goreng di depanya.


“Pelan-pelan pa..” Ibunya mengingatkan.


“Takut telat ma, satu jam lagi pesawatku berangkat, belum kalau macet,” balas ayahnya sembari menandaskan satu gelas besar sari lemon yang dicampur madu dan air hangat, itu kesukaan ayahnya.


Momen itu abadi dalam ingatan sanja, momen kebersamaan terakhir bersama ayahnya, sebelum siangnya ia mendapat kabar pesawat yang ditumpangi ayahnya hilang kontak. Dunia serasa menghimpitnya saat itu, dan ketika puing-puing pesawat di temukan, dan dikonfirmasi bahwa tak ada penumpang yang selamat, dunia terasa luluh lantak tak bersisa. Namun dunia masih terus berputar dan hidup masih terus berjalan.


Dua bulan sejak pemakaman ayahnya kini ibu sanja harus mulai mencari pekerjaan karena tidak mungkin terus mengandalkan uang peninggalan suami. Namun karena umur yang sudah melebihi persyaratan dan pengalaman yang kurang, sampai saat ini belum ada perusahaan yang bisa menerima ibu sanja.


Saat sedang dalam keadaan bingung dan frustasi, ada seorang teman lama yang menawarkan investasi dibidang properti yang hasilnya cukup menjanjikan. Bagai angin segar, akhirnya tanpa ragu ibu sanja menginvestasikan sebagian tabungan. Awalnya semua lancar keuntungan yang didapat ibu sanja cukup besar, karena hal itulah akhirnya ibu sanja mulai menambah investasi dan bahkan berhutang pada bank dengan jaminan rumah. Namun naasnya beberapa bulan setelah ibu sanja menyerahkan semua investasinya tidak pernah ada uang yang masuk kerekeningnya.


Pihak bank sudah mendesak agar segera membayar tagihan hutang yang sudah tiga bulan belum dibayar, jika sudah sampai jatuh tempo belum juga dibayar rumah yang menjadi jaminan akan disita oleh bank. akhirnya ibu sanja mendatangi kantor tempat ia berinvestasi. Alangkah terkejutnya saat melihat kantor tersebut sudah tidak beroperasi, ibu sanja mencoba berpikir positif ‘mungkin kantornya pindah’ ucapnya dalam hati. Ibu sanja mendatangi alamat rumah temannya, dunia seakan runtuh saat lagi lagi tempat yang ia datangi sudah tak berpenghuni. Dari warga sekitar diketahui bahwa sudah banyak orang yang menjadi korban investasi bodong teman ibu sanja.


Dari kejadian itulah rumah disita bank dan uang tabungan hampir habis, setelah menjual beberapa barang berharga yang tersisa masih belum mencukupi untuk bertahan hidup dikota yang serba mahal. Ibu sanja memutuskan pulang kekampung halaman dan menempati rumah peninggalan nenek sanja.

__ADS_1


Lalu bagai mana dengan sanja? Terpukul pastinya, kesedihan kehilangan orang tercinta dan sekarang kekecewaan pada ibunya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Terpaksa sanja harus pindah sekolah, meninggalkan sahabatnya, harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbanding terbalik dengan kehidupannya dikota.


Kini sanja telah sampai di tempat kelahiran ibunya didesa kinanti, suasana khas pedesaan yang asri dimana sawah sawah terbentang luas gunung -gunung yang menjulang tinggi. Perjalanan yang menyenangkan dan menyegarkan mata jika saja dalam suasanahati yang baik, tapi tidak bagi sanjana yang sedang dalam suasana hati yang buruk. Perjalanan jadi terasa jauh dan membosankan ‘aku ingin segera sampai dan tidur’ ucap sanjana dalam hati. Detik berganti menit, setelah 15 menit akhirnya mereka sampai di rumah nenek. Perjalanan 3 jam 15 menit yang melelahkan bagi keduanya.


Rumah nenek sanja merupakan rumah sederhana, namun cukup nyaman untuk ditinggali. Karena beberapa hari yang lalu ibu sudah mengabari saudara di kampung dan meminta tolong untuk membersihkan rumah, agar bisa langsung ditinggali.


Ada beberapa tetangga yang datang, sanja yang tidak suka keramaian memutuskan untuk masuk kedalam dan melihat-lihat. Rumah yang tidak terlalu luas, bagian belakangnya terdapat kebun yang tidak terurus karena memang ibu sanja adalah anak tunggal jadi tidak ada yang mengurus.


“Huft.. apa aku bisa bertahan hidup disini” ucap sanjana saat melihat keadaan rumah apa lagi kamar mandinya yang menggunakan sumur timba.


Sanja duduk diatas batu dan memainkan ponselnya, sampai ibu memanggilnya.


“duh ini gimana sih makenya! Sumpah ribet banget masa iya ngambil pake gayung, dapet air ngga kecemplung iya” gumam sanja yang baru pertama menggunakan bahkan melihat secara langsung sumur timba.


“loh nak ngga jadi mandi?” ibunya yang sedang masak di dapur melihat sanja keluar dari kamar mandi masih menggunakan baju yang sama dan tubuh yang kering.


“ngga bisa ngambil air” jawab sanja datar bahkan terkesan dingin. Belum sempat ibu membuka suara lagi sanja sudah masuk kedalam kamar.


“sanja! Makan dulu yuk sayang. Ibu udah masak makanan kesukaanmu ayam kecap” ucap ibu saat masuk kekamar anaknya.

__ADS_1


“aku ngga laper bu, aku cape mau tidur”


“loh dari pagi kamu kan belum makan masa ngga laper”ucap ibu, sanja menenggelamkan kepala ke bantal ingin segera mengakhiri percakapan.


“yaudah terserah kamu kalau ngga mau makan, kalau laper nanti ambil sendiri yah” kata ibu


“oh iya nak! Besok kamu ikut ibu yah mengurus administrasi di sekolah baru” ajakan ibu hanya dibalesi anggukan.


Keesokan harinya. “ sanja ayok bangun nak! nanti keburu siang, Panas nanti” teriak ibu membangunkan anak semata wayangnya.


“eugh.. iya bu ini udah bangun”matanya masih lengket seolah ada yang menaruh lem dimatanya.


“buruan! Ayo sekalian ibu ajarin pakai timba” sanja berjalan mengikuti ibunya kesumur.


“jadi pertama.. sanja! Dibuka itu matanya” rasanya membuka mata saja sulit apa lagi untuk mandi pikir sanja. Setelah penjelasan ibunya, sanja mencoba namun terasa sulit karena berat ember dan tambang karet yang kasar. Setelah bersusah payah akhirnya sanja bisa mandi. mereka sarapan bersama sebelum berangkat kesekolah sanja yang baru.


...****************...


**terimakasih sudah membaca, mohon maaf jika masih banyak kesalahan dalam menulis

__ADS_1


see you next time**


__ADS_2