
Beberapa hari kemudian ketiga anak itu sudah kembali aktif di sekolah, meski ada sedikit trauma tapi pelan-pelan mereka bisa kembali seperti dulu.
Zain belum masuk kelas karena ia masih ingin menemani saudaranya.
Tidak ada yang tahu kejadian yang menimpa Sanja, Ara dan Arjana. Tapi ada baiknya juga karena mereka bisa tetap bebas seperti dulu.
Saat ini ketiga anak itu sesang bersantai di taman,
" aku nggak nyangka kita bisa duduk disini " ada sedikit kesedihan dalam kalimat Sanja
" ya, kupikir itu terakhir kalinya aku bernafas. Karena rasanya sesak" sahut Ara
" Ternyata kita sehebat itu" Arjana mengalihkan pembicaraan
" bagaimana kau tahu, mana yang aku butuhkan saat itu?" Karena mereka sama sekali tidak tahu isi persenjataan komplotan penjahat itu
" aku mengambil sembarangan saja. Seharusnya aku yang bertanya apa yang kamu gunakan saat itu, sampai bisa mengalahkan orang sebanyak itu?" Ucap Ara
" aku tahu beberapa karena sering muncul di film yang aku tonton. Seperti granat kejut dan granat bius, aku hanya mengandalkan insting bertahan hidup" ucap Sanja seadanya
" oh iya kudengar kau terluka cukup parah, bagaimana sekarang?" Tanya Sanja
" yah mungkin karena masih muda jadi pemulihannya lebih cepat" jawab Arjana
"Kenapa kau bicara seperti bapak-bapak" ledek Ara
" benar sesaat aku kira dia tertukar dengan pasien lain" kedua gadis itu tertawa
" Apa kepala kalian terbentur sepertinya kewarasan kalian sudah berkurang atau karena hanyut terbawa arus"
" aku mual jika mengingat itu tolong jangan katakan lagi" seloroh Ara
" bagaimana keadaan pak Zaki yah?"
" lukanya sangat parah" ucap Arjana
" ku kira dia akan mat* dihadapanku" Ara merasa bersalah karena tidak bisa menolong
Ting satu pesan masuk dari group WA yang berisi ketiga anak itu dan pak Zain
" PAK ZAKI SUDAH SADAR!" teriak Ara
Mereka berlari, ingin datang menjenguk.
__ADS_1
" mau kemana kalian? Masuk!" Tapi jam pelajaran sudah dimulai
Setelah pulang sekolah mereka buru-buru keluar, sampai parkiran sekolah
" kalian tidak berfikir untuk pergi ke rumah sakit menggunakan itu kan?" Tanya Arjana, kedua gadis itu malah menatap Ar seolah mengatakan ' kenapa memangnya'
" dari sini ke rumah sakit itu jauh, silahkan saja jika kalian mampu" ucap Arjana
" lalu kita akan naik apa?" Tanya Sanja dengan polosnya
" kita pakai motor tossa itu" menunjuk pada motor tossa yang sudah terparkir cantik di depan gerbang
" woohoo.. " mereka cukup menikmati perjalanan karena lebih leluasa memandang dan juga adem.
" nyolong dari mana Ar?" Tanya Ara
" enak aja nyolong, aku minjem" ucap Ar tak terima
" udah bilang?" Kali ini Sanja yang bertanya
" nanti kalau mau ngembaliin, kalau ngomongnya sekarang pasti nggak boleh
" emang punya siapa Ar"
" punya pak bejo" jawab Arjana sekenanya
" pantesan bau" Ara sudah tak habis fikir dengan kelakuan saudaranya
" untuk pertama kalinya, aku mengakui kalaj stela jeruk tidak buruk juga" ucap Sanja, dalam perjalanan mereka memilih diam. Karena sudah terlanjur dibahas tentang motor pengangkut sampah ini, baunya jadi lebih kuat dari sebelumnya.
" pak Zaki akhirnya anda selamat" ucapa Ara, setelah berebut masuk ruangan
" iya jadi kau tak perlu menangis lagi" ledek Zaki
" memangnya siapa yang menangis" pipi Ara memerah manahan malu, karena aibnya dibongkar
" Oh iya kayaknya ada yang sudah minta dituliskan surat wasiat, masih berlaku nggak yah?" Ara memberikan serangan balik
" memangnya ada apa Zak?" Tanya Zain penasaran
" kalau bapak ceritakan akan saya buat koma lagi" bukannya takut Zaki malah lebih semangat cerita
" jadi waktu kamu ninggalin kita, dia nangis sambil bilang 'pak jangan mati saya suka sama kamu' gitu"
__ADS_1
" enak aja! bohong pak Zain, aku bilangnya ' pak jangan meningsoy didepan aku. Karena aku takut may*t' nggak ada tuh pernyataan cinta" sangkal Ara
" brarti bener kan kalau kamu nangis" Zaki menang
' wah aku dijebak ternyata' batin Ara
*
*
" bapak cepet pulih yah, baru bangun sudah semangat" ucap Arjana
" yah mungkin ini berkat Biket harimau putih" jawab Zaki sekenanya
" jadi itu harimau putih " gumam Sanja
" kau juga?" Tanya Zain
" iya, walau yang kulihat cuma cahaya putih yang cukup terang"
" sama, tapi ketika kuceritakan semua orang tertawa. Mereka kira aku berbohong" ucap Ara kesal
" jadi sebenarnya siapa yang mengirim harimau putih itu untuk menyelamatkan kita?" Ucap Arjana
" namanya biket, dia milik teman kami. Tapi sejarusnya ia tidak sampai sini karena tempatnya jauh" seloroh Zain
" teman pak guru melihara harimau, ngeri sekali. Tapi juga sangat keren" ucap Ara semangat
" yah aku pikir juga begitu" jawab Zaki
" apa harimau itu semacam hewan suci?" Arjana penasaran
" mungkin bisa dibilang begitu" ambigu
" oh iya aku juga pernah bertemu sebelum ini, kau ingat kan Ar saat aku pulang diantar para petani" ucap Ara
" iya kau pulang dengan keadaan seperti gelandangan" Arjana hanya ingat hal konyol saja
" Jadi bisa dibilang bapak selamat karena kekuatan ajaib harimau suci?" terka Sanjana
" tidak sampai seperti itu, karena keselamatan berasal dari sang pencipta. dia cuma perantara
" jawab Zain
__ADS_1
melihat raut bingung Ara ia langsung menjawab " temanku bisa mengerti ucapannya." terangny untuk menjawab kebingungannya
perbincangan mereka berjalan cukup lama dan menyenangkan sekaligus berisik, bahkan berulang kali ditegur.