
Akhir pekan adalah waktu yang dinantikan oleh semua orang termasuk kedua bersahabat yang sedang main gundu. Ibu sudah pergi lima menit yang lalu, berangkat ke toko milih bundanya Ara.
persaingan yang cukup sengit antara keduanya, saling mengincar lawan. Mereka tampak serius dengan yang sedang dilakukan, tidak ada yang mau menyerah, hingga rasa haus mulai terasa.
" jajan es yuk, es kelapa depan pasar enak banget loh" usul Ara
" boleh, yuk!. Tapi minum dulu, soalnya udah haus banget" mereka berdua masuk kedalam rumah dan mulai bersiap untuk pergi. Berangkat berboncengan dengan sepeda milik Sanja, ditengah perjalanan mereka menemui orang yang sedang mendorong gerobak ditanjakan, karena nampak kesusahan mereka menepikan sepeda dan mulai bantu mendorong.
......................
Perjalanan kembali berlanjut dan akhirnya sampai ke tempat yang mereka tuju, rasa lelah terbayarkan setelah menyeruput es kelapa. Rasa manis yang pas, serta daging kelapa muda yang terasa lembut menyebar keseluruh mulut, ditambah es batu yang menghalau rasa panas akibat cuaca yang cukup terik.
" udah yuk pulang" Sanja sudah menyelesaikan minumnya.
" bentar aku mau bungkus buat nanti" Ara memesan dua lagi untuk dirinya dan Sanja, belum cukup sampai disitu mereka membeli beberapa jajan seperti cimol dan batagor.
saat perjalanan pulang mereka yang kebetulan lewat depan rumah Zaina dan melihat ada sedikit keributan, Ara meminta Sanja untuk berhenti saat dikira cukup jauh tapi masih bisa melihat keadaan dirumah gedong teraebut tanpa ketahuan.
"ngapain kita lihat masalah orang lain kaya gini?"
bisik Sanja
"ssttt"
......................
Disisi lain,
" jadi papah lebih milih pelakor nggak tahu diri itu dari pada aku sama mama" satu tamparan mendarat di pipi Zaina, ia merasa sangat kecewa
" siapa yang ngajarin kamu nggak sopan kayak gini hah!"
"heh, kayaknya nggak diperlukan sopan santun untuk menghadapi orang yang ngga punya perasaan kaya kalian" Zaina tersenyum getir dan langsung masuk kedalam rumah
" surat cerai akan aku kirimkan secepatnya, jadi tolong kalian cepat pergi dari sini" ucap mama zaina
"ayo kita pergi sekarang sayang, aku udah kepanasan nih" kata pelakor sok manja yang nggak tahu diri, setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah itu.
mama pergi menemui anaknya dikamar,
__ADS_1
" coba mama lihat pipinya" mama ingin memeriksa namun Zaina menolak
" mama, tolong keluar dari kamarku" Zaina menangis sendirian dikamar, meluapkan semua emosi yang ia rasakan.
" wah parah banget itu bapaknya Zaina, main tampol-tampol aja. ikut gedeg akunya"
" udah yuk Ra kita balik"
Mereka melanjutkan perjalanan yang tertunda, saat sedang santai mengayuh sepeda tiba-tiba muncul bebek karena kaget sepeda mereka oleng dan masuk ke sawah
" kamu nggak papa Ra" tanya Sanja khawatir
" aduh pinggangku encok" Ara bangun dengan tangan berada di pinggang.
" kayak nenek-nenek aja pake encok segala, tapi nggak ada yang luka kan Ra"
"aman tenang aja, sini biar aku aja yang bawa sepedanya" bukan Ara namanya kalau tidak jahil, setelah sanjana naik sepeda gadis tomboy itu langsung mengendarai sepeda ugal-ugalan begitulah jalan-jalan siang mereka yang penuh drama.
Sampai rumah Sanja melihat baju kotor yang sudah menumpuk, dan berniat untuk membantu ibunya dengan mencuci baju
" Ra nyuci baju pake tangan gimana yah? biasanya aku pake mesin cuci" ucap sanja yang sedang kebingungan
" oh jadi, kucek kucek jemur jemur" sambil memperagakan persis penonton bayaran
awalnya mereka cukup kesulitan tapi setelah beberapa kali akhirnya mereka bisa, karena dikerjakan berdua jadi lebih cepat selesai. Perut mereka mulai lapar karena pekerjaan yang menguras tenaga itu, lagi-lagi mereka menonton kangtube untuk belajar memasak.
cukup banyak pengalaman yang mereka dapatkan hari ini, " main kartu yuk, aku dah bawa nih" Ara memamerkan kartu yang ia bawa.
" mandi dulu dah sore, lagian aku juga nggak bisa mainnya" ucap Sanja, ia akan beranjak tapi tangannya dicekal Ara
" mandi kan udah tadi pagi, lagian besok juga mandi kan, Buang-buang air. Aku juga nggak bisa main kartu, mainnya pake cara aku aja, liat angkanya siapa yang paling besar berarti menang, yang gambar-gambar nggak usah dimasukin"
" bener juga yah, kita kan harus hemat air. Yaudah kita main pake caramu aja, lebih gampang. Aku yang kocok kamu yang bagi" permainan mereka selesai saat ibu pulang jam 6 sore.
" kalian kok belum mandi" Ibu bertanya karena baju yang mereka pake masih baju yang ibu lihat tadi pagi
" hemat air!" seru Ara dan Sanjana, ibu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Malamnya mereka belajar, setelah memaksa Ara karena anak itu masih ingin terus main. Tugas dan pr sudah selesai dikerjakan, saat ingin lanjut mengulang materi kemarin Ara sudah tertidur diatas meja berbantal buku.
" Ara kita lagi belajar matematika bukan kartografi, kenapa malah bikin peta di buku" Sanja membangunkan Ara dengan ledekan
__ADS_1
" hah kereta" Ara ngelantur karena nyawanya belum ngumpul
" peta Ara bukan kereta, kalau mau tidur langsung dikasur aja, jangan disini nanti badanmu sakit" Ara langsung tertidur begitu menyentuh bantal, sedangkan Sanja lanjut belajar.
...****************...
Hari minggu yang cerah, matahari menampakan senyumnya yang menyilaukan. Agenda Ara dan Sanja hari ini adalah berkebun, dimulai dari mencabuti rumput dan dilanjutkan menyiram tanaman.
" Sanja kayaknya kita harus nyanyi deh biar tanamannya tumbuh subur" muka Ara nampak serius
" hah! teori dari mana itu?" Sanja baru mendengar ada tips berkebun seperti itu
" hih, masa nggak tahu itu dari sumber terpercaya, dari kartun yang aku lihat setiap sore" Sanjana tertawa melihat kepolosan Ara, tapi sebaliknya Ara justru bingung kenapa temannya itu tertawa.
" yaudah kalau kamu nggak percaya. Biar aku aja yang nyanyi, digeboy geboy mujair nang ning nong, nang ning nong.. bakul iwak mangan gendeng" suaranya merdu seperti radio rusak
" biar lebih manjur kayaknya harus pake goyangan deh Ra" Ara dengan polosnya percaya dengan ucapan Sanja dan mulai bergoyang.
" Aku kira kalau kamu bergaul sama yang waras kaya Sanja, bakal sembuh gilanya ternyata makin parah" Arjana nongol tiba-tiba
"Ada apa Ar?" tanya Sanja
" mau nganterin obatnya Ara, takut kumat" Arjana menyerahkan bungkusan seragam sekolah
" kamu ngatain aku gila hah?" kayaknya kalau nggak berantem gatel mungkin yah, pikir Sanja
" pintu depan kan dikunci kok kamu bisa masuk?" heran Sanja
" lewat gang samping rumah" jawab Arjana,
" aku langsung pulang yah, dah" Arjana mengacak rambut Sanjana lembut, dan rambut Ara, bedanya labih heboh sampai rambutnya mencuat kesana kemari dan langsung lari menghindari amukan macan betina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...**Terimakasih sudah membaca karyaku...
...Maaf jika masih banyak kekurangan...
...see you next time**...
__ADS_1