Kehidupan Baru Sanjana

Kehidupan Baru Sanjana
BAB 18 flashback


__ADS_3

“ Biarkan hanya aku yang tahu, dan itu lebih baik” Arjana tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Sanja.


Satu tahun yang lalu


Saat itu Arjana sedang liburan bersama keluarganya atau lebih tepatnya sedang mengunjungi salah satu kerabat di Jakarta.


Karena merasa bosan Ar memutuskan untuk jalan-jalan dan tanpa sadar ia sudah jauh dari rumah saudaranya, di tengah kebingungan ia melihat ada seorang gadis yang sedang diganggu oleh 3 laki-laki yang umurnya kira-kira 20 tahun.


Ia merasa itu bukan urusan dia jadi memilih untuk pergi tapi hati nuraninya berkata lain, ia langsung menendang salah satu pemuda hingga tersungkur di tanah.


“b@&%%^t “ jika dilihat dari jumlah Ar memang kalah jumlah apalagi dilihat dari perawakan lawannya yang lebih besar, tapi berdasarkan kemampuan Arjana lebih unggul terbukti dengan lawannya satu persatu mulai tumbang.


Ketiga pemuda itu lari kocar-kacir setelah melihat kemampuan Ar


“ hah sial” Ar melihat darah saat mengelap sudut bibirnya


“ eee terimakasih sudah bantu aku” ucap gadis itu malu-malu, Ar tidak memperdulikannya dan langsung pergi


“ biar aku obati dulu lukamu sebagai permintaan maaf” mencekal tangan Ar


“ nggak usah” tapi tangannya sudah keburu ditarik, kebetulan apotek tidak jauh dari situ


“ mau aku bantu?” Ucapnya yang melihat Ar kesulitan, tanpa menunggu jawaban gadis itu langsung mengambil alih kapas dan obat merah.


“ auw shh” desis Ar saat lukanya di obati


“ maaf, aku bakal pelan-pelan” beberapa saat kemudian semua sudah selesai diobati.


“ ok selesai, oh iya kenalin namaku Sanjana Nilakandi” sambil mengulurkan tangan


“ kamu nggak perlu tahu” dan langsung pergi


“ ya ampun aku telat” Sanja melihat jam


“ harusnya aku tadi tidak pergi jauh” sambil terus berlari


“ Sanja! Kamu kemana aja? Sebentar lagi giliran kita” ucap Amel saat Sanja sampai


“ maaf tadi aku cari angin buat ngilangin gugup”


“ yaudah ayo kita siap siap”

__ADS_1


Di tempat lain, Ar yang masih berjalan tak tentu arah tanpa sengaja melihat sebuah kompetisi band di taman kota. Ia memutuskan untuk pergi menonton dan mungkin nanti akan bertanya pada seseorang disana mengenai jalan pulang.


“ tidak buruk untuk ukuran kompetisi” setelah melihat band yang tampil


“ ok kita sambut peserta terkahir kita band sakura” satu persatu anggota naik ke atas panggung dan menempati posisi masing-masing


“ bukankah itu gadis tadi” ucap Ar dalam hati


Seketika Arjana terpukau melihat penampilan Sanja yang tampak berbeda dengan saat dia berbicara, diatas panggung gadis itu nampak bersinar dan bebas.


Hingga penampilan Sanja selesai Ar tidak mengalihkan pandangan sedikit pun, sampai akhirnya ia pun tersadar “ astaga kenapa jantungku berdetak lebih cepat, apa yang salah denganku”


Ia menepis pikiran itu dengan fokus mencari jalan pulang, setelah bertanya dengan beberapa orang akhirnya dia bisa pulang dengan selamat


“ kemana saja kamu hah? Trus ini kenapa muka kamu sampai bonyok begitu” omel bunda


“ kalau mau pergi bilang dulu, itu bundamu sampai kayak reog nyariin kamu” ucap bapak sambil terkekeh


“ iya maaf, tadi niatnya cuma jalan sekitar sini tapi malah kebablasan. Nyasar deh “


“ trus kenapa bisa sampai luka-luka kayak begini”


“ brantem sama preman” ucap Arjana pelan


“ udah bund Ar pasti punya alesan kenapa sampai berantem, bener kan nak?”


“ itu pak jadi tadi aku nggak sengaja lihat ada cewe diganggu sama preman jadi aku bantu”


“ halah modus kamu” ucap Ara dengan nada tengilnya


“ nggak usah nyambung-nyambung” hampir terjadi keributan kalau tidak segera dilerai.


Biasa lah kakak ade kalau belum berantem itu kaya ada yang kurang >_<


Saat ini Ar sudah selesai mandi dan sedang rebahan di kasur, raganya sih di kamar tapi pikirannya melanglang buana entah kemana. Yang pada akhirnya tertuju pada gadis bernama Sanjana yang tadi ia temui, dadanya bergemuruh saat memutar kembali memory tadi siang.


Penampilan yang belum pernah Arjana lihat memberikan sensasi baru bagi pemuda itu. Perasaan kagum, senang dan emosional tercanpur menjadi satu, perasaan yang sulit diutarakan melalui kata-kata.


Dengan ini Arjana resmi sebagai fanboy Sanjana, keesokan harinya Ar kembali menyambangi taman yang kemarin berharap ia bisa menemui gadis itu, meski kemungkinannya sangat kecil.


Saat Ar akan pulang dengan perasaan kecewa, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang. Hampir saja orang itu celaka karena jurus pertahanan diri Arjana, beruntung matanya dengan cepat menangkap seseorang yang ia tunggu dari tadi.

__ADS_1


“ hai” ucap Sanja pelan dan terjadi situasi canggung diantara keduanya


“ ekhem, ada apa” akhirnya Ar membuka suara


“ terima kasih untuk yang kemarin “ ucap Sanja dengan senyum kikuk


“ ya sama-sama”


“ oh iya kemarin kamu lihat penampilan aku kan, gimana?” Sanja lebih bersemangat ketika membahas tentang band


“ yah lumayan” ucap Ar singkat


“ oh gitu yah” nampak kecewa


“ penampilan kalian lebih keren dari yang lainnya” ucap Ar menghibur Sanja, ‘yah walaupun aku cuma lihat dia tim sih’ tapi tidak ia ungkapkan


“ beneran?” Ar mengangguk


“ itu berkat kamu”


“ hah?” Ar bingung dengan pernyataan gadis di sampingnya itu


“ jadi kemarin itu penampilan perdanaku dihadapan banyak orang dan aku gugup banget, tapi entah mengapa saat lihat kamu di kerumunan orang aku langsung percaya diri dan semangat”


” jadi kamu lihat?” Ar tidak percaya dengan ketajaman mata Sanjana yang dapat melihatnya ditengah kerumunan orang.


“ Mmmm, kamu nggak engap pake masker terus dari kemarin?” Sanjana mengungkapkan pertanyaan yang sedari tadi ia pendam


“ yah lebih nyaman begini sih” mereka mengobrol cukup lama hingga Sanjana harus pulang karena sopirnya sudah menjemput.


Banyak yang Ar ketahui mengenai Sanja bahkan alamat rumah karena tadi sempat membahas untuk pertemuan selanjutnya berharap tempat tinggal mereka dekat.


Tapi sayang besok Ar sudah pulang ke desa, sering kali Ar mengirim surat dan bahkan hadiah kecil untuk Sanja. Mengapa menggunakan surat karena lebih unik dan berdebar-debar saat menunggu jawaban.


Tapi tiba-tiba Ar kehilangan kontak, ya itu bertepatan dengan kematian ayah Sanja dan masalah-masalah lain. Sanja semakin tertutup dengan lingkungan sekitarnya.


Ar selalu mengirim surat dari rumah saudaranya yang cukup jauh karena menghidari dari Ara yang suka kepo, jika sudah ketahuan pasti diledek habis-habisan.


Cukup banyak surat dan beberapa hadiah yang ia kirimkan tapi tak ada satupun balasan yang datang. Pagi itu suasana hati Ar sedang tidak bagus karena terus kepikiran, saat guru memperkenalkan murid baru ia tidak mendengarkan.


Namun sebuah suara yang sangat ia rindukan terdengar, ia tak menyangka dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


Ternyata murid baru itu adalah Sanja tapi dengan aura yang berbeda dan juga sedikit suram.


Meski sudah pasti Sanja tidak akan mengenali dia, karena sanja tidak pernah melihat muka Ar. Tapi pemuda itu sudah sangat senang dan merasa puas.


__ADS_2