
Zaina pulang tapi tidak mendapati keberadaan mamanya, sebenarnya sudah biasa tapi tampak sedikit aneh karena mobil masih terparkir di bagasi. Gadis itu mencari kesetiap sudut rumah dan kini sampai pada lokasi terakhir, taman belakang. Benar saja mamanya sedang duduk menatap bunga-bunga, ia berjalan mendekat namun langkahnya terhenti saat tanpa sengaja mendengar isakan kecil ibunya.
Zaina memutuskan untuk kembali kekamarnya, ia merebahkan tubuhnya dan menatap langit kamarnya yang tampak lebih suram, seakan mewakili perasaanya yang tidak karuan.
“ dunia memang tak adil, saat orang-orang diluar sana merasa bahagia. Hanya aku yang begini” tertawa getir
Zaina melempar barang yang bisa ia jangkau, berteriak dan pada akhirnya air mata ikut luruh terbawa teriakannya. Kamar yang kedap suara membantu ia memuaskan rasa marahnya, meski bergelimang harta tapi rasa kesepian tidak bisa diganti, hanya kehangatan dari keluarga yang dapat mengusir rasa kesepian. Sayang hal ini tidap pernah ia rasakan semenjak ayahnya pergi ke kota bandung 3 tahun yang lalu, untuk kunjungan bisnis. Disana ayahnya bertemu cinta pertamanya disitulah dimulai kehancuran keluarganya.
Makin banyak pertengkaran yang ia lihat, memang benar cinta yang telah lalu harus dibunuh sampai keakarnya jangan sampai merusak kebahagiaan yang sudah diperjuangkan bersama orang tersayang, karena belum tentu orang dari masalalu bisa membuat kita lebih bahagia dari yang kita dapatkan sekarang.
~
Sanja sedang menyiapkan makan malam untuk dia dan ibunya, makan malam sederhana hanya telor dadar dan tumis kangkung. Tepat saat ia menyelesaikan masakannya ibu sampai rumah, mereka makan bersama, tampak jelas raut wajah ibu yang nampak bangga dengan kemajuan Sanja.
Quality time yang dijalani sederhana tapi sangat bermakna, bukan soal mewah atau tidak namun ini soal bagaimana kita menciptakan suasana yang hangat dan setiap detiknya berharga. Jadi bersyukurlah saat kita masih punya tempat yang membuat kita nyaman dalam keluarga, tempat untuk berpulang saat kehidupan diluar terasa berat.
~
Sang surya masih malu-malu menampakan keagungannya, tapi Zaina sudah bersiap untuk pergi kesekolah untuk menghindari pertemuan yang tidak ia inginkan antara dirinya dan mama.
Zaina sampai kesekolah yang masih sangat sepi kecuali ruang OSIS yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara ulang tahun sekolah. Ia memutuskan untuk menyendiri di taman dekat gudang, lokasi yang jarang didatangi siswa, gadis itu memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menerpa.
Sanja datang lebih pagi dari biasanya, ia ingin lebih mengenal sekolah yang sampai satu bulan ini menjadi sekolahnya. Sambil membawa roti yang ibunya bawa tadi malam, ia mulai memulai petualangan menelusuri setiap sudut sekolah.
Tanpa sengaja matanya menangkap sesosok gadis yang sedang duduk di bangku taman dekat sebuah ruangan yang ia duga sebagai gudang, awalnya ia ragu untuk mendekat karena takut yang ia lihat bukan manusia. Karena lokasinya sepi dan nampak tidak terurus, tapi setelah ia lihat tampak bayangan pada sosok tersebut akhirnya sanja berani untuk menyapa.
“ hai!” Sanja kaget ketika sosok yang ia sapa adalah Zaina. Ia gugup tapi tetap duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“ siapa yang udah nyuruh kamu duduk, pergi sana!” usir Zaina
“ kamu mau?” Sanja tidak menghiraukan tatapan Zaina yang tidak brsahabat, ia menawarkan apa yang tadi ia bawa
“ udah aku bilang pergi dan nggak usah sok akrab deh, aku nggak laper jadi kamu silahkan pergi” tepat saat Zaina menyelesaikan ucapannya perutnya berbunyi, karena tidak makan malam dan sarapan jadi sekarang perutnya benar-benar lapar.
Sanja masih pada posisinya tangannya masih terjulur. “ iya aku ambil kalau kamu maksa” meski malu-malu akhirnya Zaina mau mengambil satu potong roti sus, Sanja yang melihat itu tersenyum senang dan ikut makan bersama.
“ kayaknya kamu lagi ada masalah, kamu boleh cerita sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu” Zaina menatap Sanja datar, “ iya.. iya.. maaf silahkan dimakan”
Mereka makan dalam diam tanpa seorangpun mengeluarkan suara, sampai bekal yang Sanja bawa habis tak bersisa dan akhirnya Zaina buka suara “ kamu nggak marah sama aku, karena masalah kemarin?” Sanja menggeleng
“ nggak karena berkat kamu aku bisa akrab sama teman-teman, aku juga belajar untuk bisa berinteraksi dengan orang lain. Terimakasih ya!” Sanja tulus mengatakan itu, Zaina menunduk mendengar penuturan Sanja.
“ kamu tahu setiap kejadian buruk atau pun baik pasti ada hikmah dibaliknya. Jadi kita harus selalu bersyukur” lanjut Sanja
“ maaf apa aku boleh tahu masalahmu mungkin aku bisa bantu, tapi ngga papa kok kalau kamu ngga pengin cerita” Zaina menatap Sanja sebentar dan mulai menceritakan semuanya, mulai dari perselingkuhan ayahnya sampai tangisan ibunya.
“ kalau kamu mau menertawakan aku silahkan saja, aku memang pantas untuk itu”
“ aku rasa ini bukan sesuatu yang pantas untuk ditertawakan. Aku justru marah, maaf tapi jujur saja aku kesal ke papamu”
“ aku mungkin tidak pernah mengalami itu tapi entah mengapa aku paham apa yang kamu rasakan” lanjut sanja
“ menurutku itu justru lebih baik, dengan perpisahan orang tuamu setidaknya kamu dan mamamu bisa hidup tanpa bayang-bayang ayahmu. Aku rasa kalian bisa hidup lebih bahagia, kuncinya hanya satu saling menguatkan. Saling bersandar dan jadi tumpuan satu sama lain, mungin alasan ibumu jadi workaholic dan mengacuhkanmu itu cara beliau untuk mengalihkan pikirannya. Yang tanpa disadari justru menyakiti kamu” Zaina memperhatikan setiap ucapan Sanja
“ mulailah untuk terbuka dengan mamamu katakan semua yang kamu rasakan, mulailah hidup baru. Maaf mungkin mengatakannya mudah tapi sulit untuk dijalani, maaf aku terlalu ikut campu masalahmu. Aku kekelas dulu yah, dah!! sampai bertemu lagi”
__ADS_1
kini tinggal Zaina sendiri merenungi semua ucapan Sanja, bebannya sedikit terangkat. Ia agak bingung kenapa ia menceritakan semua kepada orang yang ia benci karena itu mengalir begitu saja.
Zaina kembali saat bel berbunyi, belum ada guru yang datang saat ia masuk kelas, tiba-tiba salahsatu teman menghampirinya.
“ aku lihat papa kamu jalan sama tante-tante seksi di sosmed, romantis banget lagi” seloroh temannya dengan nada mengejek
“ apa urusannya sama kamu? Nggak ngerugiin kamu kan” Zaina tahu berita ini cepat atau lambat bakal terjadi
“ kalau aku jadi kamu sih malu banget yah buat berangkat sekolah “ temannya sengaja memancing amarah Zaina
“ buat apa aku malu sama perbuatan orang lain”
“ dia papa kamu loh Za, pasti nanti nurun kekamu” teman temannya tertawa mengejek
“ meskipun aku nanti selingkuh juga nggak akan mau sama kalian, bisanya cuma ngejek orang”
“ kayaknya kamu harus instrospeksi diri deh, bukannya kamu juga ngejek anak kelas sebelah” Zaina terpancing emosinya
“ iya memang kemarin aku kaya gitu, beruntung orang itu bukan kamu tapi Sanja anak yang tidak menaruh dendam bahkan menyadarkan aku. Kalau itu kamu pasti udah kaya gini” Zaina menjambak rambut teman yang tadi mengejeknya, akhirnya terjadilah keributan dan orang tua mereka dipanggil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Terimakasih sudah membaca karyaku...
...Maaf jika masih banyak kekurangan...
...See you next time
__ADS_1
...