
Sanja segera ganti baju dan mulai melakukan pekerjaan rumah yang sudah biasa ia lakukan, semua pekerjaan selesai pukul empat sore. Gadis itu langsung mandi, setelah mandi ia tidak memasak karena ibu akan pulang lebih awal dan membeli makanan dari luar. Sekarang sedikit santai, ia membuka pesan dari Amel yang sudah ia abaikan akhir-akhir ini.
Masalah dengan Zaina sudah selesai jadi tidak ada alasan untuk tetap marah, mereka berbincang cukup lama membicarakan masalah Sanja marah dan alasan Amel menceritakan privasinya. Kini mereka sudah resmi berbaikan dan ada satu kabar membahagiakan band Amel DKK, menjuarai lomba band meski hanya peringkat 2.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore, terdengar pintu diketuk.
“ lihat apa yang ibu bawa” menunjukan kantong kresek warna putih, Sanja membuka setelah berada di dapur.
“ wah banyak banget bu” wajah Sanja berbinar, ia mulai menurunkan satu persatu isinya
“ ada ayam geprek, kebab, es kelapa, keripik kentang. Bakal makan puas nih, makasih bu!” Sanja memeluk ibunya
“ iya sama-sama” ibu tersenyum melihat reaksi Sanja yang tidak berubah dari dulu ketika diberi sesuatu.
...****************...
Tanggal 28 April
Hari yang paling ditunggu-tunggu tiba, waktu bebas pelajaran alias lomba.
“ guru Bk kita lahiran guys, nih lihat anaknya cewe imut banget astaga” Ara sudah memulai kehebohannya
“ serius mana lihat”
“ emang udah nikah?”
“ iya yah padahal garang abiz” dan banyak celotehan nggak jelas ketika teman kelas Sanja melihat postingan guru BK
“ Galak-galak gitu juga good looking nggak kaya kamu” ledek Ara
“ wah mandang fisik, gini-gini juga banyak yang suka” ucap anak cowo yang diledek Ara
“ pantesan kemaren Sanja ke ruang kepsek bukan ruang BK, jadi karena lagi cuti?”
“ lah ketinggalan jaman nih bocah”
Arjana yang merupakan anggota OSIS sekaligus panitia memanggil teman-teman sekelas untuk berkumpul dilapangan, hari pertama adalah tarik tambang entah itu putra maupun putri.
“ wah kita harus semangat San biar cepet istirahat “ kelas Sanja mendapat no urut 1
“ apa hubungannya, harusnya semangat biar menang” sanja terkekeh
“ maklum efek nervous”
__ADS_1
Pertandingan berlangsung sengit, kedua kubu saling menunjukan peforma terbaik mereka, meski hanya permainan biasa. Sanja yang sudah terlatih menarik tambang (sumur timba) mulai memperlihatkan kekuatannya begitupun sang pewaris perguruan beladiri Ara. Berkat kekompakan dan semangat yang tinggi kelas Sanja memenangkan babak pertama.
“ uye.. uye..” Ara meledek kubu lawan dengan tingkah tengilnya, Sanja langsung menarik untuk menghindari keributan. Tapi bukannya berhenti Ara malah menjulurkan lidahnya.
Babak kedua kelas Sanja kembali meraih kemenangan, hingga babak final putri sekarang dimulai,
Kedua tim sudah bersiap di posisinya masing-masing tinggal menunggu aba-aba dari panitia untuk mulai.
Saat peluit melengking diudara pertanda dimulainya pertandingan, saling tarik menarik maju mundur maju mundur cantik, eh!. Tanpa sengaja kaki Ara terpeleset dan membawa kekalahan untuk kelasnya, acara hari pertama selesai semua sudah diperbolehkan untuk pulang. Mereka kembali kekelas untuk mengambil tas begitupun dengan Ara bedanya ia tidak langsung pulang tapi nangis di pojokan.
“ itu si Ara nggak kesambet setan lapangan kan?” bisik salah satu teman, mereka semua menatap heran dengan kelakuan Ara yang tidak biasanya menangis
“ maaf kelas kita kalah gara-gara aku” ucapnya sambil menangis
“ A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim..” seolah-olah bersiap untuk meruqyah
“ aku nggak kesurupan ustadz “ semuanya tertawa
“ nah gitu dong galak, kalau kaya cewe berarti bukan Ara namanya” ucap anak yang tadi dipanggil ustadz
“ nggak papa kok kalah kan yang penting kebersamaannya” ucap Sanja yang disetujui semua orang
“ aaa kan jadi pengen peluk” semua anak berlarian keluar kelas
“ woi jangan kabur!! aku tangkep satu-satu nih” akhirnya mereka malah main kejar-kejaran
“ emang udah selesai urusan OSISnya, tapi entar nunggu Ara” tapi Arjana malah menarik tangan sanjana menuju parkiran.
“ aku udah WA Ara buat bawa sepedaku” Ajana mengambil alih kemudi sepeda Sanja, “Yuk”
Akhirnya mereka berdua berboncengan pulang sekolah
Kembali lagi ke Ara
“ udah lah aku cape, beliin minum dong” seru Ara
“ nggak mau, kita pulang dulu dah” teriak teman-temanya
“ emang nggak ada setia kawannya” sungut Ara, apalagi ketika membaca pesan dari Arjana
“ wah dia malah asik mesra-mesraan” sebuah ide terbersit di pikiran Ara
“ mumpung lagi dipinjemin secara sukarela, mending aku pake buat off road”
__ADS_1
“ cihuy!!” Ara mulai mengendarai sepeda gunung milik Arjana, beruntung hari ini pakai baju olahraga jadi lebih gampang. Ia mulai menjelajahi jalanan menanjak berkerikil di hutan nabatah, hingga sampai pada tempat yang cukup luas didalam hutan tersebut.
Tidak kelihatan dari luar karena dikelilingi pepohonan, meski didalamnya cukup terang. Gadis itu tidak sengaja menemukannya ketika sepedanya hilang kendari di turunan yang tidak terprediksi.
Ara mulai berkeliling dengan berjalan kaki setelah memarkirkan sepedanya dibawah pohon salam, ia hampir terjatuh saat kakinya tersandung sesuatu. Saat dicek tampak sesuatu yang seperti kotak yang menyembul dari tanah
“ boleh diambil nggak yah takut kualat. Izin saja lah, mbah cucumu izin mengambil kotak ini ya punten..punten.. “ baru saja Ara ingin mengambil terdengar sebuah Auman dan munculnya sosok harimau putih, ia langsung pergi mengendarai sepedanya. Harimau itu mengejar jaraknya yang cukup jauh memberikan kesempatan pada Ara untuk kabur, tapi harimau itu semakin dekat dan ketika ia keluar dari hutan Nabatah Harimau itu berhenti mengejar. Hatinya berdetak tidak karuan, baru kali ini ia melihat binatang buas langsung apalagi sedang sendiri tanpa senjata.
Sepedanya terperosok saat mendekati jalan utama, karena lokasinya agak miring Ara terguling dijalanan yang biasa sepi, karena hanya untuk dilewati warga yang akan kesawah atau kebun jadi tidak terlalu luas.
Orang-orang yang baru pulang dari sawah melihat Ara dan langsung menghampiri
“ kamu nggak papa nak?” ucap ibu yang membantu Ara berdiri
“ ha..harimau bu” suaranya bergetar dan terbata, orang-orang yang ada disitu saling pandang
“ kamu dari hutan Nabatah ya nak?” Ara langsung mengangguk cepat masih terlihat raut muka yang ketakutan diwajahnya.
“ kamu pasti belum dengar cerita tentang hutan Nabatah ya? Jadi kita tidak boleh ketempat keramat itu pada waktu-waktu tertentu seperti jam 12 siang, karena biasanya tempat itu akan menunjukan diri beserta penunggunya yaitu harimau putih”
“ iya bu benar harimau putih” sekarang ia sudah mulai tenang, karena sedikit terluka ia diantar menggunakan mobil bak milik petani begitupun sepedanya.
Saat tiba di depan rumah Arjana sedang menaiki motornya untuk mencari Ara yang tadi belum pulang. Setelah mengucapkan terimakasih pada para petani itu, mereka masuk ke dalam rumah.
“ kemana aja kamu kenapa sampai luka-luka begini” bapak mulai marah
“ udah pak jangan marah-marah biarkan Ara cerita semuanya” bunda menengahi, bunda mulai mengobati luka Ara. Gadis itu mulai menceritakan kejadian dari awal sampai akhir, setelah mendengar itu ayah menghela nafas.
“ maaf pak seharusnya Ar nggak pulang duluan” sesal Arjana, meski sering bertengkar tapi ia sayang pada adiknya.
“ ini salah aku kok pak, kalau aku nurutin perkataan kak Ar pasti kejadiannya nggak kaya gini”
“sudah-sudah semua sudah terjadi, tapi ingat jangan ulangi lagi” nasihat bapak dan diangguki oleh bunda
“ mungkin ini sudah saatnya kalian tahu sejarah padepokan Harimau putih kita” bapak menyerahkan buku berjudul ' DESIR HUTAN NABATAH' masing-masing satu untuk Adira dan Arjana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Terimakasih telah membaca karyaku...
...Maaf jika masih banyak kesalahan...
...oh iya mau sekalian promo karya author yang lain yaitu "Desir Hutan Nabatah"...
__ADS_1
...see you next time
...