Kehidupan Baru Sanjana

Kehidupan Baru Sanjana
BAB 21 Tersesat


__ADS_3

Sosok tersebut semakin mendekat dan terdengar seseorang berteriak memanggil.


" anak-anak kalian dimana" teriak Zaki


" pak Zaki, pak Zain " hampir saja Zain dan Zaki terjatuh karena terkejut


" syukurlah kalian selamat" ucap Zain


" sebentar lagi sore sebaiknya kita cepat kembali ke perkemahan pak" usul Arjana tapi respon dari duo Z sungguh mengejutkan


"Maaf tadi kami buru-buru mencari kalian dan lupa meninggal kan jejak"


" Jadi kita tersesat?" Semua hanya tertunduk lesu tak tahu apa yang harus dilakukan.


" Mungkin kita harus mencari tempat yang aman untuk berlindung sambil menunggu bantuan datang" ucap Sanja


Merekapun mulai mencari tempat yang lapang dan tidak terlalu rimbun, kemudian membersihkannya dari kerikil dan daun-daun.


Terutama daun karena biasanya ular senang bersembunyi disitu, mengorek menggunakan sebilah ranting.


" Kayaknya kita harus cari ranting untuk membuat api unggun, oh iya Ra kamu bawa garam kan?" Sanja mulai mengomandoni, karena dia sering wisata alam bersama ayahnya meski sekarang agak berbeda.


" iya bawa kok,Nih" menyerahkan satu kantong plastik garam


" mau bikin ikan asin, sampai bawa garam segitu banyaknya" Zaki terkekeh


" kata bunda biar nggak ada ular pak,Ar juga bawa banyak"


Sanja mulai menaburkan garam disekitar tempat mereka berharap dapat menghalau ular, Arjana sudah selesai menyiapkan api unggun. Waktu sudah gelap saat persiapan mereka selesai.


" mungkin kita bakal disini untuk sementara, besok kita akan mengirim sinyal" mereka mulai merapatkan pakaian karena udara sudah semakin dingin


" kita harus gantian jaga" usul Ar


" yah dimulai dari aku, Zain, kamu dan terakhir dua anak perempuan"


" baik" ucap Ar


Hari sudah mulai malam Zaki menjadi yang pertama dapat giliran jaga, memastikan area aman dari hewan buas juga menjaga api unggun tetap menyala agar sedikit menghalau hawa dingin.


Sanja dan Ara mendapat giliran pagi jadi sudah tidak terlalu mengantuk, Sanja tampak fokus menulis dibuku catatan dengan penerangan seadanya.


Ia mengingat-ingat pengajaran ayahnya tentang alam.

__ADS_1


Pagi menjelang, Sanja menandai terbitnya matahari sebagai acuan arah.


Mereka memakan bekal yang mereka bawa, dan sebisa mungkin menghemat persediaan.


" bapak kok bisa tahu kita tersesat" tanya Arjana disela-sela makannya


" Jadi kemarin saat kalian tidak sampai-sampai di perkemahan kami berniat untuk menjemput kalian" terang Zain


" iya pak maaf kemarin kita numpang ke toilet warga" potong Ara


" trus?" Ar penasaran


" tanpa sengaja kita denger ada sekelompok anak perempuan yang bukan dari sekolah kita"


" intinya mereka mengubah papan penunjuk jalan karena nggak suka sama Ara dan Sanja mungkin" Zain tidak terlalu yakin


" apa anaknya rambut bergelombang  ada rambut yang warna putih sebagian mirip Anna di film projen, tingginya kira-kira 159. Trus juga suaranya cempreng?" Cerocos Ara


" yah kurang lebih iya sama seperti yang kamu deskripsikan" sahut Zaki


" wah fix ini ulah Shania" seru Ara


" bapak nggak memperingatkan mereka?" Ucap Arjana


" Apa bapak yakin mereka akan melapor?, karena dilihat dari tindakan mereka untuk mencelakai kami. Sepertinya kemungkinannya kecil mereka mau membantu kita" ucap Arjana


" kami mengancam akan menuntut mereka" ucap Zaki


" bukankah tidak ada bukti?" Kali ini Sanja yang bertanya


" buktinya ada di ponsel ini, kami tidak sengaja merekam percakapan mereka dan dengan pengakuan akan menjadi bukti yang kuat"


" Sanja apa yang harus kita lakukan?, karena hanya kamu yang kelihatan paling berpengalaman" tanya Arjana


" kita punya dua opsi. Yang pertama menunggu tim penyelamat menerima sinyal dari kita, atau opsi kedua mencari jalan keluar sendiri. Aku rasa opsi yang paling aman adalah yang pertama, karena kita tidak memiliki petunjuk apapun" jelas Sanja


" Ra kamu kan pinter manjat coba lihat dari atas ada sungai deket sini apa enggak" ucap Sanja


" Sebentar" Ara mulai memanjat pohon sampai ke ranting yang paling tinggi.


" ada sungai di dekat sini" teriak Ara dari atas pohon


"Apakah perkemahan kelihatan dari situ?" Tanya Sanja

__ADS_1


" Aku tidak melihatnya"


" apakah kita berjalan sangat jauh" gumam Arjana


" sepertinya tidak juga, karena tempat perkemahan berada di lembah. Jadi kemungkinan kita berjalan ke arah gunung, karena pepohonannya cukup tinggi dan rimbun jadi tidak terlalu nampak" ucap Zaki sambil menunjukan peta.


" apa sih pak omongannya berbelit-belit nggak nyambung banget" protes Ara


" wah bapak bawa peta dari mana? " nampak binar di wajah Sanja


" ngambil di salah satu posko" Ucap Zaki serampangan


" Aneh, kenapa mereka membuat peta dengan lingkup wilayah diluar tempat wisata" heran Arjana


" Jika kita mengikuti arus sungai maka kita bisa menemui desa di sini dan berjalan ke arah barat maka kita bisa sampai di tempat perkemahan" tunjuk Sanjana


' Entah mengapa firasatku tidak enak yah, apa aku terlalu lelah' pikir Arjana


"Kita tidak punya kompas, bagaimana kita tahu mana barat dan mana timur" ucap Ara


" kita menggunakan kompas alam, matahari terbit dari arah sana itu berarti timur dan disebelah sana barat. Tapi itu sedikit sulit jadi kita bisa gunakan lumut sebagai acuan, lumut selalu tumbuh membelakangi arah matahari terbit. Jadi arah timur adalah arah dimana lumut tidak tumbuh dan barat adalah arah sebalinya"


" mungkin kau bisa memimpin jalan" Saran Arjana


" kenapa kita tidak mengirim sinyal saja?" tanya Ara


" karena kalau kita menunggu, belum tentu sinyal kita bisa ditemukan dan menunggu sesuatu yang tidak pasti rasanya kurang baik."


(mungkin kalau terjadi beneran mending nunggu dengan mengirimkan sinyal asap, tapi nggak tahu juga sih karena nggak pengalaman. kayaknya sebelum melakukan kegiatan kita harus memperhatikan prosedur keselamatan dari yang berpengalaman agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Author memilih opsi kedua agar ada sedikit petualangan)


" setahu aku untuk survive kita juga harus deket dengan sumber air, juga biasanya kalau kita ngikutin aliran sungai kita bakalan ketemu desa. Karena biasanya mereka membangun didekat sumber air seperti sungai, alasan lainnya air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah seperti yang pak Zaki bilang kalau tempat perkemahan ada di lembah jadi dengan mengikuti aliran sungai kita bisa sampai"


" dari yang aku lihat di peta kayaknya juga nggak terlalu jauh dari sungai" lanjut Sanja


" semoga saja kita bisa cepet sampai " harap Ara


" mungkin sebaiknya kita cepat mulai perjalanan"


mereka berjalan dengan dipimpin oleh Sanja tak berapa lam mereka sampai di sungai tersebut.


aliran sungainya cukup deras tapi masih cukup aman, mereka melanjutkan perjalanan setelah istirahat dan makan.

__ADS_1


__ADS_2