
Kelas masih nampak sepi, hari ini sanja sengaja datang lebih pagi untuk menemui penulis surat anonim yang ia dapat kemarin, sengaja tidak mengajak Ara karena bisa menimbulkan keributan yang tak diinginkan. Beberapa menit kemudian datang seorang siswi perempuan dengan kedua temannya, salah satunya yang ia duga adalah bosnya, nampak tidak asing namun sanja tidak yakin akan ingatannya.
“ aku akui kebranianmu untuk bertemu denganku” ucap bos para gadis itu, tatapannya cukup tajam mengisyaratkan kebencian dan menguatkan opini Sanja bahwa ia memang pernah bertemu sebelumnya. “ apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya wajahmu tak asing” ucap Sanja hati-hati. Alih-alih menjawab Zaina justru memerintah ke anak buahnya “bawa dia ke belakang sekolah” Sanja memberontak saat tangannya di tarik, tapi karena dua lawan satu akhirnya Sanja bisa diseret oleh keduanya.
Belakang sekolah yang merupakan area paling jarang dikunjungi oleh siswa, tidak ada yang istimewa hanya ada kolam kecil dan pepohonan yang tidak terawat.
“ Sanja Nilakandi” Zaina tersenyum misterius, dan melanjutkan ucapannya “ tahu apa kesalahanmu hem?” ia mencengkeram pipi Sanja.
“ lepas atau aku teriak sekarang!” ancam Sanja, bukannya takut Zaina justru menantang.
“ teriak saja sepuasnya, dan kita lihat siapa yang akan datang”
“ Sanja.. sanja.. tinggal berlutut dan akui semua kesalahanmu maka aku bakal lepasin kamu. Gampangkan, jadi kamu nggak perlu susah-susah buat teriak” lanjutnya. Sanja tersenyum mendengar penuturan Zaina yang terdengar konyol ditelinganya.
“ maaf yah mba Z..Zaina, mana ada sih orang minta maaf ketika dia sendiripun tidak merasa pernah buat kesalahan” sanja melihat nama Zaina
“ wah.. udah salah masih nyolot. Emang harus di kasih paham nih anak” Zaina mulai kesal, seolah paham apa yang dimaksud Zaina salah satu temannya mengunci tangan Sanja di belakang dan yang satu menampar Sanja. Pipi panas dan telinga yang berdengung saat satu tamparan mendarat dipipi mulusnya, seolang belum cukup di lanjutkan dengan pipi yang sebelah lagi, Zaina tertawa puas begitupun kedua temannya.
Sanja berusaha untuk melepaskan diri namun sayang tenaganya tak cukup, ia mulai mensiasati dengan menginjak kaki orang yang mencengkeram tangannya, dan beruntung rencanapun berhasil. Karena masih terkejut dengan tindakan berani Sanja, Zaina terlambat bereaksi dan sanja berhasi mencengkeram kerah baju zaina. “denger yah! Aku minta maaf jika memang aku ada salah ke kamu, tapi bukan berarti kamu bisa mukul aku seenaknya, kamukan bisa bilang apa kesalahanku dan bisa diselesain dengan cara baik-baik” tatapan Sanja tajam, dan ia mengatakan semua kalimat itu dengan penuh penekanan, ia merasa kesal dengan perlakuan semena-mena dari Zaina.
Zaina dibantu kedua temannya berusaha melepaskan cengkraman Sanja dan tanpa sengaja tubuh Sanja terlempar ke kolam, walaupun tidak dalam namun cukup untuk membasahi sebagian besar seragam Sanja. Ketiganya nampak terkejut karena niat awalnya tidak ingin mendorong kekolam, dan bel jam pelajaran pertama berdentang, kedua teman Zaina sudah pergi
__ADS_1
“ kesalahanmu yang pertama, kamu pernah menabrakku di lorong dan membuat semua buku yang aku berserakan, dan kamu justru melepas tanggung jawabmu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Yang kedua aku benci saat melihat kedekatan kamu dan ibumu” Zaina meninggalkan Sanja dan berbalik setelah beberapa langkah menatap sanja dengan tatapan sulit diartikan, tapi Sanja melihat ada sedikitnrasa marah, benci, simpati, dan rasa bersalah yangterpancar dari sorot mata Zaina. Meski singkat namun Sanja bisa merasakan itu.
Baju yang basah, pipi lebam, serta hawa dingin yang mulai dirasakan Sanja.
“ Sanja!!!” nampak kakak beradik Ara dan Arjana yang berlari kearah sanja. Raut muka keduanya nampak terkejut dan khawatir melihat kondisi Sanjana yang tidak terlihat baik
“ astaga sanja kamu nggak papa? Ada yang sakit? Siapa yang ngelakuin ini hah? Biar aku bale 4 kali lipat” cerocos Ara, sudah kaya emak-emak ngeliat anaknya dijahili teman
“ kita ke UKS aja yah “ Arjana melepas jaketnya dan memakaikan ke Sanja, tanpa aba-aba pemuda itu langsung menggendong Sanja ala bidal style. Berjalan dengan cepat menuju tak terbatas dan melampauinya, maksudnya ke UKS, dan Ara ditinggal.
Sanja sedang berbaring di UKS setelah mengganti pakaiannya denga baju silat milik Arjana, sebenarnya ia menolak untuk tinggal di UKS tapi karena kedua kakak beradik yang keras kepala akhirnya ia mengalah. Sedangka disisi lain Ara dan Arjana sedang dihukum karena telat masuk kelas.
“ hei kalian berlebihan aku benar baik-baik saja, hanya tidak sengaja terpeleset. Aku bisa pulang sendiri” namun tak seorangpun mendengarkan perkataan Sanja
“ udah sinih tasnya aku bawa sekalian, kamu langsung pulang aja” saat ini Ara dan Arjana sedang rebutan tas Sanja
“ aku mau bantu, biar aku aja yang bawa tasnya” Ara langsung ngacir menggunakan sepeda Arjana
Ara sudah lebih dulu sampai dan menceritakan kejadian sanja ke ibu, jadi ketika Arjana sampai ibu sedah menyiapkan air hangat untuk mandi sanja, serta minuman dan camilan untuk AR dan Ara.
“Nak, cerita apa yang sebenarnya terjadi?” kini mereka sedang berada di ruang tamu
__ADS_1
“ nggak ada apa-apa kok bu” Sanja tersenyum untuk meyakinkan ibunya
“ ibu nggak maksa, tapi kalau kamu udah siap cerita ibu siap mendengarkan”
“ makasih yah bu, tapi aku bener-bener nggak papa” Sanja hanya ingin menyelesaikan masalah yang ia perbuat sendiri.
Ara dan Arjana pamit untuk pulang, karena belum ijin ke orang rumah.
Sore itu Sanja membahas bisnis kue ibunya, dan ibu memberikan kabar yang menggembirakan bahwa dia akan jadi koki utama di toko roti milik bunda Ara, semua karyawan toko lama mengakui bakat memasak ibu jadi tidak ada yang keberatan dengan posisi itu. Awalnya ibu merasa keberatan karena memang ia masih baru namun setelah diyakinkan oleh bunda akhirnya mau, dengan catatan harus dibimbing karyawan lama untuk proses operasional.
Jadi mulai besok ibu akan mulai bekerja di toko, letak tokonya berada dikota yang jaraknya tidak terlalu jauh, dan bunda akan antar jemput karena memang searah. Sanja senang mendengar berita bahagia itu, ia berterimakasih kepada Ara. Besok adalah akhir pekan dan Ara berniat untuk menginap dirumah Sanja.
Mentari bahkan belum memancarkan sinarnya namun Ara sudah tiba dirumah Sanja dan mulai berkicau tanpa henti menceritakan apa saja. Sanja melihat barang bawaan Ara berupa dua tas besar yang entah apa isinya, melihat raut wajah Sanja gadis tomboy itu menjawab “ semua yang aku bawa akan sangat berguna nanti, akan aku pastikan akhir pekanmu akan menyenangkan” Ara nampak sangat antusias
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...terimakasih sudah membaca karyaku...
...maaf jika masih banyak kekurangan...
...see you next time...
__ADS_1