Kehidupan Baru Sanjana

Kehidupan Baru Sanjana
BAB 12 di Hukum


__ADS_3

Diruang kepala sekolah sudah berkumpul mama Zaina dan orang tua anak tadi, suasana cukup menegangkan.


“ memang yah didikan orang yang bermasalah itu nggak pernah benar”


“ maksud anda apa” ucap mama


“ ayahnya tukang selingkuh dan ibunya tidak bisa mendidik”


“ atas dasar apa anda menganggap saya tidak bisa mendidik anak” suara mama mulai meninggi


“ buktinya anaknya jadi tukang buli dan bermasalah” Zaina merasa ibunya akan marah tapi yang terjadi justru sebaliknya


“ anak anda yang memulai pertengkaran ini jadi anak anda yang bermasalah. Untuk masalah anak saya membuli..”


“ maaf permisi” Sanja yang saat itu ingin memanggil guru mendengar suara dari ruang kepala sekolah, saat mencuri dengar ia paham akan situasinya dan memberanikan diri untuk masuk.


“ itu mom korban bulinya” tunjuk $ gadis yang bertengkar dengan Zaina


“ silahkan masuk, nak..?”


“ Sanja pak” membalas pertanyaan pak kepala sekolah


“ nak sanja ada perlu apa?”tanya pak kepala sekolah, “ maaf sebelumnya bukannya saya tidak sopan, tapi saya tadi mendengar tentang tuduhan yang ditujukan untuk Zaina”


“ emang seperti itu kok! Atau jangan-jangan kamu disuap yah sama si Zaina, dasar sifat orang miskin yang gampang tergoda sama harta” sarkas $, ibunya menyenggol lenngannya menyuruh untuk diam


“ sepertinya anak anda yang pembuli” mama tersenyum sinis


“ mohon tenang semuanya biarkan nak Sanja menyelesaikan ucapannya” pak kepala seolah menengahi, “begini saja nak Sanja, apa benar nak Zaina membuli kamu?” lanjutnya


“ jika mempermalukan didepan umum adalah pembulian, berarti benar” $ tersenyum penuh kemenangan, tapi tak bertahan lama saat Sanja mengatakan “ tapi mengatakan suatu fakta adalah kesalahan? Karena menurut saya apa yang dikatakan Zaina adalah kebenaran dari kondisi saya saat ini”


“ awalnya memang saya malu ketika Zaina mengatakannya didepan semua orang, tapi pada akhirnya saya harus berterimakasih kepada Zaina. Sebab dengan beredarnya berita itu saya tidak perlu menyembunyikan kondisi keluarga saya, jadi saya dan teman-teman bisa saling terbuka. Hal baikny saya jadi bisa berteman dengan teman sekelas saya, yang awalnya mereka menyerah untuk berteman karena sifat saya yang sulit diajak berbicara sekarang kita jadi saling memahami dan banyak membantu saya” jelas Sanja panjang lebar.


Mereka semua tercengang dengan pemaparan Sanja yang sangat panjang sekaligus menampik tuduhan $. semua selesai dengan jalan damai, karena semua pihak sama-sama salah.


Pada saat yang sama, kelas Sanja sedang mengerjakan tugas kelompok.


“ San kamu tadi manggilnya kekutub utara dulu apa? Lama banget” rasa penasaran yang membuncah akhirnya keluar juga dari mulut Ara.


“ tadi ada urusan sebentar keruang kepala sekolah”


“ hah! Lo bikin masalah apa sampai dipanggil keruang kepsek”


“ nanti aku ceritain”

__ADS_1


“ ayolah sekarang aja aku udah penasaran banget nih” desak Ara, kedua teman yang lain juga menunggu dengan wajah penasaran


“ ADIRA jangan berisik atau nanti saya hukum”


“ bentar bu nanggung, lagi seru nih gosip. Ibu mau gabung?” jawab Ara


“ Adira salin jawaban kelompok kamu tiga kali, kumpulkan nanti sepulang sekolah”


“ tapi bu”


“ nggak ada tapi-tapian sekali lagi kamu protes ibu tambah lagi hukumannya jadi empat kali”


“ iya bu maaf” jawab Ara lesu, akhirnya mau tidak mau ia harus mengerjakan tugas yang diberikan dari pada harus nambah.


Bell istirahat berbunyi, Ara sudah siap mengintrogasi Sanja tapi langsung ditarik oleh Arjana


“ kamu makan aja San biar aku bawa nih nenek lampir”


“ ok makasih” Sanja langsung membuka bekalnya, saat dua orang siswi mendekat


“ San kamu bawa bekal?” Sanja hanya mengangguk karena mulutnya penuh


“ kita gabung yah” kedua orang itu langsung menggabungkan meja agar cukup untuk bertiga


“ Aku sering bawa bekal tapi selalu dimakan dirumah “ ucap siswi A


“ habisnya teman-teman yang lain pada kekantin, jadi aku makan jajan kantin”


“ aku juga sering bawa bekal, tapi sering dimakan di kelas waktu pelajaran. Jadi waktu istirahat udah habis. Tapi hari ini aku pindah ke depan jadi susah mau makan” ucap siswi B


“ wah!! udah pro nih” canda Sanja, mereka bertiga makan dengan diselingi percakapan.


“ CURANG!” semua orang kaget mendengar teriakan Ara


“ masa kamu makan sama yang lain aku nggak diajak, ini gara-gara Ar awas aja nanti. Kamu udah cerita duluan yah sama mereka” cerocos Ara setelah duduk di bangkunya


“ cerita apaan sih “ tanya B


“ Oh jadi belum cerita. Yaudah San ceritain sekarang sebelum bel”Sanja mulai menceritakan dari pertemuan awal dirinya dengan Zaina di taman tadi pagi sampai permasalahan di ruang kepsek.


“ Ngapain kamu malah belain dia, kan dia udah jahat sama kamu” geram Ara


“ ya karena awalnya memang kesalahan aku “ bela Sanja


“ tapi kan bisa dibicarain baik-baik. Atau jangan-jangan kejadian tempo hari juga iya, waktu baju kamu basah” sanja diam tidak merespon

__ADS_1


“ udah aku duga, nggak bisa dibiarin. Ayo kita datengin kekelasnya, atau kita hadang waktu pulang sekolah” sikap Ara seperti orang yang siap tawuran


“ pulang sekolah kan kamu harus ngumpulin tugas dari bu guru” ucap Sanja


“ oh iya belum dikerjain” tubuh Ara lemas seketika


Saat ini semua siswa sudah pulang kerumah masing-masing kecuali dua orang yang masih sibuk, yaitu Ara dan Sanja. Mereka bekerja sama agar cepat selesai Sanja membaca dan Ara menulis, sekarang tinggal satu kali lagi tapi tangan Ara sudah pegal.


“ lihat nih jari tangan aku udah kepelintir” Sanja tertawa melihat itu


“ kalau pegel istirahat dulu aja “


“ nggak bisa nanti jam 3 aku mau nonton kartun kembar gundul” mengingat kartun kesukaannya semangatnya kembali berkobar.


“ kalian belum pulang?” ucap Arjana yang baru kembali dari rapat OSIS


“ belum ini lagi ngerjain hukuman dari bu guru” jawab Sanja


“ udah kita pulang aja San biar dia kerjain sendiri, ini kan hukuman buat Ara” ajak Arjana


“ kasian kalau sendiri, kamu pulang duluan aja” Ara langsung memeluk Sanja karena merasa senang, bukannya pulang Arjana malah duduk dan main handphone. Sepuluh menit kemudian semuanya selesai merega bergegas untuk mengumpulkan tugasnya diruang guru.


Diparkiran “ MERDEKA!!” teriak Ara, “ kayaknya aku harus pidato dulu deh, ok pertama-tama saya..” Arjana langsung menarik tangan Sanja untuk meninggalkan orang aneh itu.


“ tungguin aku jangan ditinggal” teriaknya saat kedua sepeda melaju, Ara berlari sampai gerbang. Beruntung Ar dan Sanja menunggu, akhirnya mereka pulang dengan Ara yang membonceng Ar karena tidak ada boncengan jadi ia berdiri.


mereka sampai ke rumah Sanja, "mau mampir dulu?"


" nggak dulu, aku mau nonton kartun. Ayo buruan Ar uadah mau mulai nih acaranya"


" iya.. iya.. jangan gerak-gerak nanti jatuh. Kita pulang dulu ya, sampai ketemu besok" mereka mulai melaju


" dadah!! " teriak Ara sambil melambaikan tangan


" Ara pegangan!! "


" iya cerewet "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Terimakasih sudah membaca karyaku...


...Maaf jika masih banyak kesalahan...


...See you next time

__ADS_1


...


__ADS_2