
Hari ini hari minggu kebetulan Ibu sedang libur, mereka berniat pergi jalan-jalan karena biasanya Ibu sibuk.
Sanja dan ibu sudah siap untuk pergi, mereka berangkat pukul 08.00 pagi. Mereka berbelanja keperluan sekolah Sanja, " bu sepatu Sanja masih bagus kok, jadi belum perlu buat beli lagi. Mending uangnya Ibu simpen aja" dengan berbisik agar tidak terdengar oleh pelayan toko
" udah kamu nurut aja. Ibu kan baru gajian jadi bisa beliin kamu, lagian sepatu kamu itu udah butut mending ganti aja dari pada nanti jebol kan malu" sambil sedikit bercanda
" ih tasnya lucu, coba pake. Warnanya biru kayak warna kesukaan kamu" Sanja menarik tangan ibunya keluar toko, karena kalau sudah belanja ibunya suka kalap dan jadi boros.
" bu kita harus banyak-banyak nabung, karena kita nggak tahu kedepannya kaya apa" ibu tersenyum dan mengelus puncak kepala Sanja lembut.
Sorot matanya menyiratkan rasa bangga sekaligus rasa sedih, bangga karena Sanja memiliki pemikiran bijak dan dewasa, sedih karena itu pertanda bahwa anaknya semakin besar dan suatu saat akan meninggalkannya ikut suaminya.
Memang pemikiran itu terlalu cepat dan juga belum tentu benar, tapi kekhawatiran seorang ibu pasti selalu ada.
" ibu senang karena kamu sudah berpikir jauh kedepan"
" aduh kenapa jadi sedih sih suasananya" Sanja mengalihkan pembicaraan karena matanya sudah berkaca-kaca
" ha ha ha, masih cengeng ternyata anak ibu" mencubit pipi Sanja gemas
" kita makan bakso yuk bu, laper nih"
__ADS_1
"Ayok, kita makan disitu"
Ibu dan anak itu menikmati makan pagi yang sudah kesiangan di warung bakso pinggir jalan, tak berapa lama bakso dimangkok sudah habis.
" kita sekalian belanja di pasar" ajak ibu, karena lokasi pasar yang tidak jauh dari warung bakso.
Hiruk pikuk pasar yang cukup padat serta bau amis dari ikan dan bau lainnya tercampur jadi satu.
Awalnya Sanja cukup terganggu, tapi setelah beberapa saat ia mulai terbiasa dan merasa kalau pasar tradisional tidak seburuk yang ia kira.
" ini berapa bu?" Tanya ibu pada penjual
" itu lagi mahal sekilonya Rp 26.000"
' buset jauh amat nawarnya' pikir Sanja, kayaknya nggak bakal dikasih deh
" Rp 23.000 itu untung saya udah minim banget"
" Rp 18.000 saya ambil"
" bu masa segitu kan penjualnya udah bilang untungnya minim" bisik Sanja
__ADS_1
" bohong itu" Mereka berbicara sangat pelan jadi tidak terdengar oleh yang lainnya
" aduh bu nggak bisa "
" yaudah saya belanja ditempat lain aja" ibu meninggalkan lapak tersebut, namun beberapa detik kemudian
"Rp 20.000 deh bu saya lepas" ibu balik lagi
" ditambah daun bawang yah" akhirnya penjual itu hanya bisa pasrah 'dirampok' ibu
" the power of emak-emak, bukan maen" gumam Sanja yang hanya bisa didengar ia sendiri.
" kayaknya udah cukup belanjanya, kamu masih butuh yang lainnya?" Tanya ibu, Sanja menggeleng
Mereka berdua pulang menggunakan becak, semilir angin menerpa wajah seiring kayuhan tukang becak.
Sanja mengantuk dan tanpa sadar tertidur sepanjang perjalanan. Kini mereka sudah sampai di rumah.
Mungkin efek kelelahan mondar-mandir Sanja memutuskan untuk tidur dikasur.
Gadis itu terbangun kala semerbak bau masakan yang tercium sampai kamar. Ibu memasak beberapa masakan untuk makan sore, ada pindang dan gorengan bakwan.
__ADS_1
Sanja makan dengan lahapnya karena masakan ibunya sangat enak, bahkan iq sampai nambah.
Liburan kali ini ia bahagia karena, ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama ibunya. Meski sederhana tapi karena dilakukan bersama orang yang tersayang apapun jadi lebih bermakna dan menyenangkan.