
1. SANGGAR TARI
Sore hari dengan cuaca yang mendung di sebuah sanggar tari di Kota Pan. Sanggar tari yang tidak begitu luas, dan terlihat desain yang kuno dan unik. Banyak anak-anak yang mengikuti les tari di sana.
"Anak-anak hari ini pengumuman, siapa saja yang akan mengikuti lomba antar sanggar tari antar kota." Kata Bu Tari kepada anak-anak.
Anak-anak bersorak "Iya Bu Tari, kita sudah tidak sabar."
Ibu Tari membaca nama anak-anak yang ikut lomba tari tersebut.
Di barisan belakang ada seorang anak berumur 10 tahun bernama Difa. Difa adalah pemeran utama di novel ini, dia sudah bertahun-tahun mengikuti les tari tetapi nasibnya kurang beruntung karena tidak pernah sama sekali terpilih untuk mengikuti event apapun.
Ibu Tari menyebutkan nama anak-anak yang ikut lomba. Difa menunduk sedih namanya tidak dipanggil oleh Ibu Tari.
Setelah selesai membacakan nama anak-anak yang akan mengikuti lomba, Difa memberi ucapan selamat kepada teman-temannya yang lolos mengikuti lomba tersebut.
Setelah memberi ucapan Difa keluar pamit ke Bu Tari.
"Bu Tari, Difa pulang duluan ya bu." Difa salim kepada B bTari lalu pergi. Bu Tari juga sedih melihat Difa, tetapi ini semua keputusan semua pengajar yang ada.
Difa menuju halte. Halte tersebut dekat dengan sanggar tari tempat Difa latihan. Di halte, Difa duduk sambil menunggu bis. Air mata Difa menetes dari pelupuk matanya, awalnya sedikit, lama-lama semakin banyak.
**
Tiba-tiba hujan turun dengan deras.
__ADS_1
Di sebelah Difa ada seorang anak SMK sedang melihat Difa menangis. Anak SMK tersebut ikut sedih melihat Difa menangis, begitu hatinya tergerak untuk menegurnya.
"Hai dek, ada apa? Kok menangis?" sapa anak SMK tersebut.
Difa menjawab, "nggak apa-apa kak, cuma lagi sedih kenapa Difa ga bisa bagus menari, padahal sudah latihan bertahun-tahun. Maaf kak, kita baru ketemu tetapi Difa sudah banyak bicara tidak jelas."
"Tidak apa-apa dek sambil menunggu hujan, lumayan jadi ga bosen. Namamu Difa ya? Kalo kakak biasa dipanggil Cibot." Jawab anak SMK tersebut mencairkan suasana.
"Ya Kak, nama saya Difa. Oh iya Kak Cibot, Difa mau cerita sedikit. Difa lagi sedih kak, Difa kan selama ini ikut les tari, tapi nggak pernah terpilih ikut lomba kak. Sedih banget kak apa Difa terlalu bodoh?" Difa berbicara sambil terisak-isak serta menutup muka dengan tangannya.
Kak Cibot senyum dan menjawab, "jangan patah semangat Difa, mungkin seni tari bukan bakat Difa. Coba Difa cari kegiatan lain yang mungkin sesuai dengan bakat Difa miliki."
Difa tersenyum dan berkata di dalam hati"bener juga iya."
"Iya, sama-sama Difa. Pokoknya Kak Cibot yakin Difa bisa jadi orang hebat. Iya betul Kak Cibot sekolah di SMK UNO, kalo Difa sekolah dimana?" jawab Kak Cibot.
"Difa sekolah di SD BSU kak. Wah Kak Cibot pintar donk ya bisa sekolah di sana. Maaf Kak, angkot jurusan rumah Difa sudah datang. Nunggu bis lama, Difa duluan ya kak. Terima kasih banyak Kak sudah menghibur Difa." Difa buru-buru mengejar angkotnya, membuka payung, lalu berlari menuju angkot tujuannya.
Kak Cibot melambaikan tangannya kepada Difa dan tersenyum.
Di sebuah rumah besar serba kayu Ulin di komplek ternama kota Pan.
"Assalamualaikum..." Sapa Difa kepada Bibi Tini. *asisten rumah tangga di rumah Difa.
"Wa'alaikumssalam non Difa. Kenapa hujan begini pulang sendirian? Pak Ucok kan bisa di telepon untuk menjemput." Kata Bibi Tini seraya mengambil handuk untuk Difa.
__ADS_1
"Sudah nggak apa-apa Bi, kangen Bibi yang cantik satu ini, jadi buru-buru pulang." Difa tersenyum sambil mengelap badannya dengan handuk.
"Bisa aja non, lain kali jangan gitu ya non. Non Difa masih kecil, jangan naik angkot." Bibi Tini menegur.
Difa menjawab. "Iya bibi."
Sesampai di kamar, Difa langsung mandi. Sehabis mandi, Difa bercermin sambil berkata "Difa, jangan sedih kamu gadis kuat, mungkin bukan bakatmu di sini seperti kakak tadi."
Setelah berbicara sendiri di cermin, Difa baru ingat kenapa dia tidak meminta nomor telepon Kak Cibot tadi. Siapa tau Kak Cibot bisa jadi teman yang baik.
Seorang anak kecil mengetuk pintu kamar Difa. Dia adik Difa namanya Enri. Sebagai informasi Difa hanya dia bersaudara dengan Enri.
Suara ketukan dari pintu kamar Difa.
Difa membukakan pintu.
"Kak, besok temenin Enri ujian kenaikan tingkat ya, soalnya Mama Papa belum tau bisa temanin apa ga."
Kata adik Difa.
Difa menjawab. "Apa sih yang nggak buat adikku yang paling ganteng."
"Hahaha..." Lalu mereka tertawa bareng.
*bersambung
__ADS_1