Kehidupan Difa

Kehidupan Difa
MENCARI ENRI


__ADS_3

19. MENCARI ENRI


Sore hari di rumah Difa. Teman-teman Difa datang ke rumah, tiba-tiba Fadel dan teman-temannya juga datang ke rumah Difa.


"Lah, ngapain kalian ke sini?" Tanya Rini bingung melihatnya.


"Pingin liat Difa, masa liat kamu,Rin" Jawab Fadel ketus.


Aji melerai ,"udah ayo masuk, malah ribut di sini."


Mereka lalu masuk bersama. Bibi Tini membukan pintu dan mengajak mereka masuk. Bibi Tini menawarkan minum dan memanggil Difa.


Mama Difa telah tidur sehabis minum obat dokter, lalu Difa keluar kamar Mamanya.


Muka Difa tampak sedih, teman-temannya menanyakan sebenarnya ada apa dengan keluarganya.


"Difa coba cerita ke kami. Difa sejak di sekolah tadi murung terus mukanya kami lihat." Ucap Inka sambil memegang tangan Difa.


"Iya cerita aja ga apa-apa Difa, kita siap jadi pendengar yang baik." Kata Rini.


"Gini, jadi kemaren Difa dapat sms teror gitu isinya mau culik Difa. Difa aman tapi adik Difa Enri yang di culik tadi di sekolahnya." Jawab Difa sambil menangis menutup mukanya.


"Sabar ya Difa, nanti Enri ketemu kok." Ucap Rudi menenangkan Difa.


Fadel tidak mau kalah. "Kita bantu cari ya Difa, kebetulan ayah kan Jaksa banyak channelnya masalah gini."


Inka memegang tangan Difa agar Difa tidak menutup mukanya lagi dan Tiwi memberi tisu ke Difa untuk menghapus air matanya. Agra juga mau membantu Difa, kebetulan Papa Agra salah satu petinggi angkatan darat di kota tersebut. Mereka semua menenangkan Difa agar Difa bisa tersenyum lagi.


Bibi Tini datang membawakan cemilan dan minuman buat mereka. Bibi Tini sebenarnya sedih tapi dia juga ikut menenangkan Difa.


***

__ADS_1


Tempat Enri di culik.


Mata Enri di buka setelah tadi di tutup oleh kain. Ikatan tangan Enri di lepas. Enri berada di sebuah kontrakan kecil dan gelap. Enri tampak ketakutan tetapi penculik tersebut cukup baik, dia memberikan Enri minuman dingin dan cemilan. Muka penculik itu tampak asing oleh Enri, Enri dan penculik tersebut menonton tv. Mereka melihat berita tentang anak kedua keluarga Hutomo di culik. Enri setelah mendengar berita itu dia melihat ke penculik tersebut, penculik tersebut seperti ketakutan.


***


Kantor Polisi.


"Yesssss, kita dapat Pak Hutomo orang yang mengancam Difa. Kami lacak dulu ya pak tempatnya berada." Ucap Pak Polisi kepada Papah Difa.


Papa Difa ikut melihat komputer melihat radar jaringan nomor tersebut, setelah dapat mereka bergegas menuju ke tempat tersebut. Sesampai di sana di sebuah container tidak terpakai mereka hanya mendapatkan handphone tersebut tanpa orang satupun.


Papa Difa tampak sedih dan kecewa. Pak Polisi menyuruh Papa Difa untuk pulang ke rumah, nanti barang bukti di bawa ke Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) san Papa Difa nanti di kabari lagi untuk hasilnya.


****


Pagi hari di rumah Difa.


As I want you to be


As a friend, as a friend


As an old enemy


Take your time, hurry up


Choice is yours, don't be late


Take a rest as a friend


As an old

__ADS_1


Memoria, memoria


Memoria, memoria


Come doused in mud, soaked in bleach


As I want you to be


As a trend, as a friend


As an old


Memoria, memoria


Memoria, memoria


And I swear that I don't have a gun


No, I don't have a gun


No, I don't have a gun…


Bunyi nada dering handphone Papa Difa.


Papa Difa mengangkat telepon ada kabar baik dari kantor polisi.


Papa Difa langsung melaju ke kantor polisi.


***


bersambung dulu ya readers 😁

__ADS_1


__ADS_2