
19. MENCARI ENRI
Sore hari di rumah Difa. Teman-teman Difa datang ke rumah, tiba-tiba Fadel dan teman-temannya juga datang ke rumah Difa.
"Lah, ngapain kalian ke sini?" Tanya Rini bingung melihatnya.
"Pingin liat Difa, masa liat kamu,Rin" Jawab Fadel ketus.
Aji melerai ,"udah ayo masuk, malah ribut di sini."
Mereka lalu masuk bersama. Bibi Tini membukan pintu dan mengajak mereka masuk. Bibi Tini menawarkan minum dan memanggil Difa.
Mama Difa telah tidur sehabis minum obat dokter, lalu Difa keluar kamar Mamanya.
Muka Difa tampak sedih, teman-temannya menanyakan sebenarnya ada apa dengan keluarganya.
"Difa coba cerita ke kami. Difa sejak di sekolah tadi murung terus mukanya kami lihat." Ucap Inka sambil memegang tangan Difa.
"Iya cerita aja ga apa-apa Difa, kita siap jadi pendengar yang baik." Kata Rini.
"Gini, jadi kemaren Difa dapat sms teror gitu isinya mau culik Difa. Difa aman tapi adik Difa Enri yang di culik tadi di sekolahnya." Jawab Difa sambil menangis menutup mukanya.
"Sabar ya Difa, nanti Enri ketemu kok." Ucap Rudi menenangkan Difa.
Fadel tidak mau kalah. "Kita bantu cari ya Difa, kebetulan ayah kan Jaksa banyak channelnya masalah gini."
Inka memegang tangan Difa agar Difa tidak menutup mukanya lagi dan Tiwi memberi tisu ke Difa untuk menghapus air matanya. Agra juga mau membantu Difa, kebetulan Papa Agra salah satu petinggi angkatan darat di kota tersebut. Mereka semua menenangkan Difa agar Difa bisa tersenyum lagi.
Bibi Tini datang membawakan cemilan dan minuman buat mereka. Bibi Tini sebenarnya sedih tapi dia juga ikut menenangkan Difa.
***
__ADS_1
Tempat Enri di culik.
Mata Enri di buka setelah tadi di tutup oleh kain. Ikatan tangan Enri di lepas. Enri berada di sebuah kontrakan kecil dan gelap. Enri tampak ketakutan tetapi penculik tersebut cukup baik, dia memberikan Enri minuman dingin dan cemilan. Muka penculik itu tampak asing oleh Enri, Enri dan penculik tersebut menonton tv. Mereka melihat berita tentang anak kedua keluarga Hutomo di culik. Enri setelah mendengar berita itu dia melihat ke penculik tersebut, penculik tersebut seperti ketakutan.
***
Kantor Polisi.
"Yesssss, kita dapat Pak Hutomo orang yang mengancam Difa. Kami lacak dulu ya pak tempatnya berada." Ucap Pak Polisi kepada Papah Difa.
Papa Difa ikut melihat komputer melihat radar jaringan nomor tersebut, setelah dapat mereka bergegas menuju ke tempat tersebut. Sesampai di sana di sebuah container tidak terpakai mereka hanya mendapatkan handphone tersebut tanpa orang satupun.
Papa Difa tampak sedih dan kecewa. Pak Polisi menyuruh Papa Difa untuk pulang ke rumah, nanti barang bukti di bawa ke Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) san Papa Difa nanti di kabari lagi untuk hasilnya.
****
Pagi hari di rumah Difa.
As I want you to be
As a friend, as a friend
As an old enemy
Take your time, hurry up
Choice is yours, don't be late
Take a rest as a friend
As an old
__ADS_1
Memoria, memoria
Memoria, memoria
Come doused in mud, soaked in bleach
As I want you to be
As a trend, as a friend
As an old
Memoria, memoria
Memoria, memoria
And I swear that I don't have a gun
No, I don't have a gun
No, I don't have a gun…
Bunyi nada dering handphone Papa Difa.
Papa Difa mengangkat telepon ada kabar baik dari kantor polisi.
Papa Difa langsung melaju ke kantor polisi.
***
bersambung dulu ya readers 😁
__ADS_1