Kehidupan Difa

Kehidupan Difa
SENYUM MANIS


__ADS_3

22. SENYUM MANIS


Flashback


Episode sebelumnya Enri di temukan di rumah sakit dan penculik tersebut belum diketahui siapa orangnya. Papa Difa mendatangi kediaman Aji. Papa Difa ingin membahas masalah sms tersebut.


"Pak Anggara sebelumnya saya mau bilang maaf kalau saya membuat bapak terganggu masalah kampanye, tetapi saya tidak suka Pak Anggara menggangu keluarga saya. Saya tanya apa anak buah Bapak yang menculik anak saya." Tanya Papa Difa dengan kesalnya.


"Saya juga mau minta maaf Pak Wisnu karena telah mengganggu kenyamanan Bapak dan keluarga. Masalah penculikan anak Pak Wisnu bukan saya pelakunya, saya berani bersumpah Pak." Ucap Pak Anggara


"Saya ingatkan Pak, kasus ini akan saya bawa ke pengadilan." Ancam Papa Difa sambil melotot.


"Silahkan, karena ini salah saya. Saya berani menerimanya." Balas Pak Anggara dengan santai.


Papa Difa lalu pamit dan meninggalkan kediaman Pak Anggara.


Aji melihat Pak Wisnu keluar dia langsung berlari menemui papanya. Aji kesal kenapa papanya mengganggu Difa, marahnya lagi Aji yang memberitahu papanya nomor tersebut.


Aji merasa bersalah kepada Difa, tetapi papanya meminta maaf dan papanya khilaf. Papa Aji takut kalau pemilihan walikota nanti Pak Wisnu yang menang. Aji hanya menangis mau marah tapi orang tuanya. Aji lalu masuk ke kamar meninggalkan papanya.


***


Hp Papa Difa bergetar, ada telepon dari kantor polisi. Pak Polisi mengabari mendapatkan sidik jari dari botol yang melempar ke satpam sekolah Enri.


Papa Difa menyusul Pak Polisi ke tempat yang share Pak Polisi, sampai sana menemukan orang yang ciri-cirinya seperti dokter di rumah sakit.


Papa Difa hampir menonjok penculik tersebut tetapi di lerai polisi yang ada.

__ADS_1


Sesampai di kantor polisi penculik tersebut meminta maaf kepada Pak Wisnu karena telah menculik anaknya, dia menculik karena terpaksa. Papa Difa membentak dan mengapa Enri yang dia culik.


Penculik tersebut bercerita pada lusa sebelum kejadian dia melihat Enri di jemput, keesokan harinya menurut dia Enri anak yang bisa dia jadiin sasaran.


Penculik tersebut terus meminta maaf, dia juga menceritakan kalau dia juga salah memberikan makan Enri karena dia tidak tahu Enri punya alergi udang. Dia sudah berusaha untuk menyelamatkan Enri.


Papa Difa lalu bertanya, " kenapa kamu culik anak saya Mas."


"Maaf Pak, saya butuh duit. Istri saya mau melahirkan di kampung Pak." Jawab Penculik tersebut sambil menggenggam tanganya.


Papa Difa memukul meja dan meninggalkan ruanhan tersebut.


Pak Polisi menyuruh Papa Difa untuk pulang dan berkumpul bersama keluarganya. Urusan penculik nanti biar polisi yang mengurusinya.


Papa Difa menyetujuinya dan dia ke rumah sakit.


Di rumah sakit dia tidak sengaja ketemu Kak Juli. Papa Difa ingat kalau Kak Juli teman Enri dan Difa.


"Iya Om, sedang apa Om di sini siapa yang sakit Om?" Tanya Kak Juli balik.


"Ayo sudah ikut Om ke atas." Ajak Papa Difa.


Mereka lalu ke atas ke ruangan Enri di rawat. Saat masuk ruangan Kak Juli melihat Difa tersenyum sepertinya sudah lama Kak Juli tidak bertemu Difa.


"Hy Kak Juli, ada di sini ko bisa?" Tanya Difa bingung.


"Loh loh ko bisa di sini kak? " Tanya Enri juga.

__ADS_1


"Kalian ini liat Juli kok kaya kaget gitu." Jawab Mama Difa sambil tersenyum.


"Santai ya kak." Jawab Difa tersenyum manis.


Kak Juli membalas tersenyum dan menjawab. " Iya soalnya Bunda dokter di rumah sakit ini bagian spesialis kandungan. Enri kenapa sakit apa kok bisa di infus?"


"Ini Enri habis di culik Jul, untungnya tidak apa-apa." Jawab Papa Difa sambil mengelus kepala Enri.


"Hah, terus sudah di tangkap Om penculiknya?" Tanya Kak Juli kaget


Papa Difa menjawab, "sudah baru aja,Jul."


"Pah, Omnya jangan dihukum ya pah, dia baik sama Enri pah. Enri di belanjakan cemilan dan makanan yang banyak." Bujuk Enri sambil memegang tangan papahnya.


Papa Difa menjelaskan kalau orang bersalah harus di hukum, tetapi Enri tetap tidak menyetujui pendapat papanya.


Suasana mulai tak enak, Kak Juli pamit dan Difa mengantarkan Kak Juli ke lantai bawah. Kak Juli cerita sebentar lagi akan ada pertandingan taekwondo di luar kota. Misal Difa dan Enri mau ikut dua minggu lagi ada seleksinya.


"Terimakasih ya kak infonya nanti Difa bicaraka ke orang tua Difa dulu." Ucap Difa tesenyum.


"Ya sama-sama Difa. Oia satu lagi kaka mau bilang." Kata Juli sambil melihat Difa.


"Apaan kak ? masalah taekwondo lagi." Jawab Difa pensaran.


"Ituloh senyum Difa bisa semanis itu makan apa tadi." Canda Kak Juli sambil tertawa.


"Ih Kak Juli ga jelas , sudah ah Difa ke atas lagi." Kata Difa sambil berjalan mundur pelan.

__ADS_1


"Maaf ya Difa bercanda." kata Kak Juli sambil melambaikam tangan.


Lalu mereka berpisah, Difa naik lagi ke ruangan Enri di rawat. Difa bersyukur keluarganya sudah kembali bahagia lagi.


__ADS_2