
33 . MAAF DIFA!!!
Flashback
Saat pertandingan Difa pingsan, dan yang menolong Difa adalah Kak Cibot yang kebetulan menjadi tim medis. Difa lolos ke babak selanjutnya di taekwondo cup.
Difa sangat gembira saat dia tahu lolos ke babak selanjutnya. Mama dan Papa Difa sepertinya kurang suka mendengar berita itu.
Difa di antar keluarganya ke kamar asrama. Setelah mengatarkan Difa, keluarganya pulang ke tempat Om Difa.
Di dalam kamar, ada Renata dan Rizka yang sedang istirahat.
Sambil menunggu adzan Magrib, Difa membuka handphonenya.
Dia melihat ada chat masuk, yang awal dia baca chat dari grupnya.
Pagi hari (pukul 09.00) di grup Difa dan teman-temannya. Mereka sedang mendukung Difa tetapi Difa sibuk tidak membalaa mereka.
Inka : Difaaaaaaa gimana menang ga pertandingan pertama?
Rini : Iya gimna Dif ?? Pingsan ga tu musuh lawan kamu, Dif?
Inka : Difa ga sekejam itu Rin. đ
Tiwi : Emang kamu Rin, sukanya buat orang pingsan.đ¤Ŗ
Rini : Canda woi !!
Inka : Wkwkkw. . .
Tiwi : hihi..
Siang hari (pukul 12.00), Inka mendapatkan kabar kalau Difa pingsan dan dia memberitahukan teman-temannya.
Inka : Difaaaaaa pingsan guys !!!
Tiwi : What?????? Serius, Ka ??????
Inka : Iya, tau dari Kak Juli. Tadi aku nelpon dia, katanya Difa pingsan tapi udah di tanganin tim medisnya.
Rini : Waduh, malah Difa yang pingsan đŠ.
Maafkan aku Difa, karena bahas pingsan tadi.
Tiwi : Difa..... nanti kalau sudah siuman ceritakan semuanya ya! Kita semua dukung Difa juara !!
Rini : Setuju !!!!!!!!!!
Inka : He'eh....
Pukul 16.30, Difa belum juga membalas teman-temannya. Teman-temannya khawatir terhadap Difa.
Rini : Difa kok belum ada kabar ya!! âšī¸
Inka : Iya Difa ga kenapa2 kan? đ
Tiwi : Iya, malah jadi khawatir nih !!!!!!
__ADS_1
Inka ga ada kabar dari Kak Juli tentang Difa????
Inka : Ga ada đ, barusan Kak Juli di telepon malah gak aktip nomornya.
Tiwi : Kita berdoa yuk mudahan Difa ga kenapa-kenapa.
Rini : Amin YRA
Inka : Amin.....
Pukul 17.30, Difa membuka handphonenya melihat chat teman-temannya di grup. Difa tersenyum teman-temannya begitu perhatian.
Difa : Hai pada nyariin iya? đ¤
Inka : Huft, tuan putri dari mana aja? Kangen!!! đ¤
Tiwi : Difa apa kabar sudah sehat lagi?
Difa : Panjang ceritanya, yang jelas Difa tadi pingsan. Yang nolong siapa hayoo.....
Rini : Fadellll.. wkwkwk. Difa gimana pusing ga setelah pingsan?
Difa : Iyuwwwhhhh.. Sekarang Difa sudah baik kok, tebak dulu siapa nah?
Inka : Kak Cibot, tapi ga mungkin hehe
Tiwi : Tim medis haha..
Difa : Iya bener tim medis, tapi tim medisnya Kak Cibot loh. Dia ternyata kuliah di kampus sini.
Tiba-tiba suara adzan di tempat Difa. Di dalam kamlu ada masjid jadi kalau adzan sangat terdengar.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Difa : Lanjut nanti iya, mau sholat dulu.
Bye bye
Difa menutup chatnya dan menaruh handphonenya. Dia mengambil air wudhu, lalu sholat.
Setelah sholat Difa melihat teman sekamarnya belum pada bangun, Difa membangunkan. Renata dan Rizka bangun, wudhu lalu sholat. Difa sedang menyiapkan baju yang di pakai besok, dan memisahkan baju kotornya.
Setelah sholat, Renata menanyakan. "Difa apa baik-baik saja? Apa yang terjadi sampai Difa bisa pingsan?" Difa menceritakan semua, tetapi setelah pingsan dia juga kaget tiba-tiba dia sudah di bopong ke ruang kesehatan.
Mereka dapat chat untuk makan malam, mereka mematikan lampu lalu turun ke bawah bersama.
Di bawah ada Kak Juli yang menunggu Difa.
"Loh kak, kok di sini?" Difa kaget tiba-tiba ada Kak Juli di lobi asrama.
"Iya, mau kasih obat Difa. Ini resepnya dari Bunda terus Kak Juli keluar sama Saboem Soni tadi." Sambil menyerahkan obat ke Difa Kak Juli lari keluar.
Batin Difa di dalam hati. "Kok tumben Kak Juli ga ngajakin dia pergi bareng ke aula tempat makan, Difa juga belum sempat bilang terima kasih."
Renata menggoda Difa. "Cieh itu pacarnya iya?"
__ADS_1
Difa langsung bilang. "Nggak!!!"
Mereka lalu berjalan menuju ke aula.
Di aula Kak Juli membayangkan Difa di saat di tolong Kak Cibot, dia sebenarnya jengkel kok bisa itu orang kasih nafas buatan ke Difa. Maaf Difa, aku masih belum mau liat Difa lama-lama karena setiap melihat terbayang itu.
***
Rumah Om Difa, di sana Mama dan Papa Difa sedang mengobrol. Mereka berdua tidak setuju Difa melanjutkan pertandingan ini, karena rawan dan Difa mau ikut ujian. Mereka tidak mau Difa kenapa-kenapa.
Mereka akhirnya memutuskan besok pagi untuk berbicara sama Difa.
***
Setelah makan Difa keluar aula sebentar melihat bintang-bintang. Saat Difa melihat ke langit, tiba-tiba ada yang memotret Difa. Difa merasa ada yang memotret dia, dia lalu berteriak. "Kalau mau foto bilang-bilang dulu dong, nanti Difa berpose yang bagus."
Ada suara Kak Cibot tertawa. "Hahaha, kamu ada-ada aja Difa." Difa menoleh kaget dikira siapa yang foto dia secara diam-diam. Difa lalu duduk di tangga depan aula. Kak Cibot pun ikut duduk di tangga tersebut.
"Gimana Difa, mendingan setelah pingsan tadi?" Tanya Kak Cibot sambil melihat muka Difa.
Difa menjawab, lalu menanyakan tentang keadaan tadi. "Iya udah mendingan ini Kak. Tadi kenapa sih kak? terus yang selamatin tadi kakak sama teman-teman kakak ya?"
"Alhamdulillah, iya tadi Difa pingsan gara-gara lawan Difa berbuat kasar, terus teman-teman kakak dan kakak yang tolong Difa. Saat Difa sudah siuman kita mengatarkan Difa ke ruang kesehatan yang dekat sama GOR tadi agar Difa bisa beristirahat." Kak Cibot menjelaskan ke Difa masalah peristiwa tadi. Kak Cibot belum berani cerita masalah nafas buatan, pikirnya tidak perlu di ceritakan.
"Terima kasih ya Kak Cibot dan teman-teman sudah merawat Difa. Kalian sukses menjadi tim medis." Sambuh Difa sambil mengancungkan jempolnya.
"Oh iya Kak, sebenarnya ada yang mau di tanyakan tapi ga sempet terus. Mau tanya nama kaka kan Anggara. Kenapa panggilannya Cibot?" Tanya Difa penasaran.
Kak Cibot tiba-tiba tertawa. "Hahaha, iya sudah banyak yang menanyakan ini. Jadi dulu waktu kecil kakak botak dan mata kaka sipit kaya cina. Cibot itu singaktan Cina Botak."
Difa kaget lalu ikut tertawa. "Hah, hahaha.. Kirain artinya apaan kak. Terus kak, kuliah di sini ambil fakultas apa teknik elektro?"
"Kakak kuliah hukum bukan teknik sama sekali," mendengar itu Difa kaget karena yang Difa tahu Kak Cibot berasal dari SMK jurusan listrik. "Difa pasti kaget iya? Iya karena Ibu seorang pengacara, Kakak di minta untuk melanjutkan Firma punya Ibu kakak," jawab Kak Cibot menunduk sedih karena dia mempunyai cita-cita lain.
Difa melihat ekpresi muka Kak Cibot langsung menghibur. "Sabar iya kak, Orang tua kaka pasti mau kakak kuliah yang terbaik buat kakak." Tiba-tiba Difa menunjuk ada bintang jatuh. Difa meminta Kak Cibot untuk berdoa apa yang dia mau. Kak Cibot dan Difa berdoa di dalam hati.
Saboem dan teman Difa keluar aula karena sudah selsai makan. Saboem Yosep dan Saboem Billi melihat Difa dan berjalan menuju Difa. Difa mengenalkan Kak Cibot kalau Kak Cibot berasal dari kota Pan dan sedang kuliah di kampus ini. hari ini Saboem Yosep atau Saboem Billy mengizinkan Difa untuk istirahat dulu tidak usah ikut latihan.
Saboem Yosep melihat Kak Cibot meminta tolong untuk mengantarkan Difa ke asrama tempat Difa.
Difa dan Kak Cibot berjalan ke asrama, dari kejauhan Kak Juli yang melihatnya sedih.
Setelah sampai di lobi asrama. Kak Cibot pamit untuk pulang. Mereka lalu berpisah di lobi. Sebelum berpisah mereka saling tukar nomor handphone.
***
Keesokan harinya, di pagi hari yang cerah. Orag tua Difa menelpon, meminta Difa untuk turun ke bawah karena mereka menunggu Difa di bawah.
Difa keluar kamar, lalu turun ke bawah menemui orang tuanya. Mama Difa langsung mengajak Difa keluar asrama sebentar. Mereka menuju tempat makan dekat asrama. Di sana mereka sarapan soto ayam kampung.
Setelah makan, Papa Difa menaruh sendok garpunya. "Sebenarnya Papa Mama ada yang mau dibicarakan kepada Difa. Tetapi Difa jangan sedih ini yang terbaik buat Difa," ucap Papa Difa kepada Difa dengan muka tersenyum.
"Maksudnya Pah?" Difa bingung, sambil menoleh Mama Papanya.
"Maaf Difa!!! Difa pertandingannya tidak usah di lanjutkan lagi ya? Karena kita tidak mau Difa seperti kemaren. Sebentar lagi ujian Difa, Mama Papa takut." Mama Difa menjelaskan, walaupun berat untuk berbicara tetapi ini buat kebaikan anaknya.
Difa diam, karena kaget mendengar orang tuanya bilang begitu.
__ADS_1