Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
BAB 21.BERTEMU SANG MANTAN KEKASIH [PALSU]


__ADS_3

Mataku mulai lelah melihat kebersamaanmu dengannya.


Telingaku mulai bosan mendengar seringai tawamu bersamanya.


Bodohnya pikiranku yang terus kubiarkan berimajinasi tentangmu, walaupun hatiku terus terluka karena itu.


Mengapa melupakanmu tak sesederhana saat aku mulai mencintaimu?


Aku dan cemburuku terombang-ambing tak bertuan.


Yah, tak bertuan sebab kau tak pernah mengerti rasa cemburu ini.


Dahulu cemburuku ini yang membuatku kehilanganmu.


Mencoba melupakan namun semakin kuat pula angan tentangmu.


Di saat hatimu tak lagi sama seperti dahulu,


Jika sekarang aku dan cemburuku kembali, apakah aku berhak?


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


# GIBRAN POV #


“Aku bosan .......”lirihku.


Beginilah jadinya jika mengerjakan hal yang dipaksakan.


Sejak aku menyelesaikan pendidikan S2, dengan kekuasaan dan sikap diktatornya, dengan mudah Ayah membuatku terperangkap di tempat ini.


Aku akhirnya menjadi anak berbakti, mengikuti keinginan kedua orang tuaku menjadi pimpinan El-Fatih Insan Unggul.


Meski tak ingin, tapi aku tak kuasa menolak. Lebih baik, sebab aku akhirnya memiliki alasan untuk menolak rencana gila Ibu yang ingin aku segera menikah.


Kutekan tombol interkom di hadapanku. Tak lama kemudian masuklah sosok pria yang sebaya denganku bernama Reynand.


Reynand adalah sekretarisku di kantor merangkap asisten yang bisa mengerjakan apa saja. Tubuhnya kekar, penuh dengan otot yang kuakui lebih menonjol dari milikku. Tak masalah sebab hal itu juga berguna untuk melindungiku.


Selama aku masih lebih tampan darinya, kurasa itu bukanlah masalah.


“Rey,”ucapku


“Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Tentu saja, itulah mengapa aku memanggilmu,” terangku.


“Apa yang bisa saya bantu Tuan?”


“Aku bosan Rey,“jawabku singkat.


Tampak Rey tercengang dengan ucapanku, “Ada apa Rey? Apa ini kali pertama kamu mendapati seorang bos yang sangat gila kerja?” tanyaku bercanda.


“Tidak ada apa-apa Tuan, hanya saja Saya jarang merasa bosan, mendengar Tuan bosan, Saya bingung mau bagaimana,“ucapnya jujur.


Aku menghela napas, ucapan Rey tidak salah. Mungkin hanya aku seorang pimpinan yang merasa bosan di tengah banyaknya tumpukan berkas yang menanti untuk kuperiksa.


Namun tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang muncul di benakku.


“Ray, kau tahu sebagai pimpinan yang baik semua karyawan harusnya mengenalku kan?” tanyaku meminta persetujuan Rey.


“Betul sekali Tuan,” jawabnya sambil mengangguk.


“Kalau begitu, sekarang kita berangkat ke Universitas El-Fatih. Aku ingin berkenalan dengan para staf dan para dosen di sana,” ucapku.


“Pastikan semuanya hadir,” sambungku.


Rey mengangguk paham, lalu bergegas keluar ruangan untuk menyiapkan semuanya.

__ADS_1


Setelah Rey keluar, aku tertawa.


“Hahahaha, lucu juga membayangkan kampus pasti akan heboh karena tiba-tiba aku berkunjung ke sana,” batinku.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Tiga puluh menit berlalu, jarak antara gedung kantor pusat El-Fatih Insan Unggul dengan Universitas El-Fatih cukup dekat.


Hanya saja berada di kawasan padat pusat perkantoran, membuat waktu yang harus kami tempuh cukup lama.


“Ada berapa dosen totalnya? ”tanyaku.


“Dari 6 program studi yang ada, dari data terakhir ada sekitar 148 dosen Tuan.”


Aku kembali membaca profil universitas. Meskipun pekerjaan ini bukan passion-ku, namun aku tetap tak ingin dianggap bodoh, dan berakhir mempermalukan nama besar keluargaku.


“Namun di tahun ini ada 2 dosen baru masuk, mereka diterima karena salah satunya referensi dari Tuan Rafie dan yang satunya lagi referensi dari Tuan Martin,”jelas Rey.


“Meskipun begitu, baik itu adalah Rafie atau siapa pun, harusnya tetap meminta persetujuanku,”tegasku.


“Baik Tuan, saya akan menegaskannya kembali.”


Pembicaraan kami berakhir setelah mobil memasuki halaman parkir universitas.


Rey keluar lebih dulu lalu membuka pintu mobil untukku.


“Silahkan Tuan,” Aku keluar dari mobil, merapikan jasku sebentar lalu melangkah dengan percaya diri menuju ruang pertemuan.


Sepanjang jalan, aku bisa mendengar para mahasiswi memekik sembari memuji ketampananku.


“Pilihanku sudah tepat. Aku akhirnya melupakan bosanku setelah mendengar para gadis memujiku,” batinku.


Namun bukan Gibran jika mudah terpengaruh, pujian seperti itu aku sudah sering mendengarnya. Aku tetap saja berjalan dengan angkuhnya tanpa memedulikan para mahasiswi, dan cara itu berhasil sebab kini mereka semakin kegirangan.


Rey berhenti di depan sebuah pintu, dan membukanya untukku.


Tapi sayang, Aku bukan Ibuku yang mudah dipengaruhi dengan sanjungan, aku harus waspada pada Martin, bisa saja lebah dari madu yang Ia beri malah menyengatku.


🌼 🌸 🌼 🌸


“Hooaaammmmm.......”


“Bosan! Makin bosan! Kemana jin ajaibku? Aku mau pergi dari tempat ini!”Batinku.


Kugelengkan kepalaku, mengusir pikiran aneh yang terlintas. Lama kelamaan bisa benar-benar jadi gila jika terlalu lama terperangkap di tempat membosankan seperti ini.


“Rey, kapan meeting ini berakhir?”bisikku.


“Berakhir? Bahkan ini belum mulai Tuan, masih ada seorang dosen yang belum hadir,” jawab Rey.


“Cih, itulah pentingnya sebelum menerima dosen, terlebih jika dosen yang masih fresh graduate, sebaiknya diperhatikan lebih seksama lagi,” ucapku.


Meski kutahu jika dosen yang belum hadir adalah dosen rekomendasi dari Rafie, tapi sengaja kukeraskan saja volume suaraku agar Martin juga mendengarnya.


Dan rencanaku berhasil, lihatlah Martin, Pak tua itu kini menunduk. Aku tertawa dalam hati.


Saat aku sedang menikmati indahnya pemandangan Martin yang salah tingkah, pintu ruangan dibuka dari luar.


Ceklek,


Aku menatap tajam pada seseorang yang muncul dari balik pintu.


Seorang wanita cantik, dengan riasan wajah natural dan penampilannya yang modis membuatku ragu jika ruangan ini memang tujuannya.


“Kemana kacamata besar yang selalu menutupi bola mata indahnya?”


“Kemana rambut kuncir dua yang menjadi ciri khasnya dulu,”

__ADS_1


“Bahkan kini dia berani menatapku? Menatapku tajam, Cih.....”


“Ekheemm....” aku berdeham.


“Maaf Nona, apakah mungkin Anda keliru masuk ruangan?” Tanyaku.


“Maaf jika saya terlambat, tapi Saya yakin, ini adalah ruangan yang benar,” balasnya.


Aku melangkah ke arahnya, mengitari tubuhnya yang kini mematung. Bisa kurasakan jika wanita ini tengah menahan hembusan napasnya ketika aku berada dalam jarak yang cukup dekat dengannya.


“Tapi kok saya tidak mengenalmu Nona?”


“Mungkin lebih baik jika kau mengenalkan dirimu di depan sana,”Aku menunjuk ke tempatku berdiri sebelumnya dengan dagu.


Deg,


Dia tersenyum, dan rasa apa ini? Mengapa hanya karena senyum jelek seperti itu hatku berdebar.


Tap... Tap.... Tap....


Bahkan suara pertemuan heels sepatunya dengan lantai terdengar jelas bagiku.


“Mohon maaf jika saya terlambat, perkenalkan nama saya Sherina Khanza,” ujarnya


“Sherina, benar itu mamanya. Nama wanita yang selama ini membuatku menjadi pria pendendam,” batinku.


“Harusnya kini aku marah padanya, atau harusnya aku mengusirnya,” batinku.


“Tapi aku tak mampu, Seandainya bisa....bolehkan aku mendekapnya erat?”


“Aku rindu padanya!”


🌸🌼🌸🌼🌸🌼


# SHERINA POV #


Rumah adalah tempat ternyaman di dunia, namun bagiku hal itu hanya terjadi bertahun-tahun silam.


Dan hari ini aku kembali berdiri di depan tempat ternyaman itu, tempat yang telah ku tinggalkan berpuluh-puluh tahun lalu.


Aku berharap sedikit saja bisa merasakan kenyamanan yang selalu membuatku rindu.


“Seandainya aku bisa kembali ke dalam sana, akankah bayangan masa lalu itu bisa kurasakan kembali?” batinku.


Ponsel disakuku bergetar, segera kuterima panggilan telepon dari Harsya.


“Sherin......!” Pekik Harsya dari seberang telepon.


“Kamu di mana? Aku menjemputmu di kampus tapi kamu tak ada,” ungkapnya dengan kesal.


“Maaf... Maafkan aku Sya, aku lupa mengabarimu,”balaksu.


“Aku ada urusan mendadak,” lanjutku.


“Apa sudah selesai? Jangan bilang kamu lupa jika hari ini ulang tahun pernikahan Orang tua Rafie?”


Kutepuk keningku tanda sesal sebab sudah melupakan hal yang sangat penting.


“Sya aku benar-benar lupa.”


“Santai saja, lagian masih ada waktu kok untuk kamu bersiap.” Ucap Harsya menenangkanku.


“Bersiapkah, aku akan menjemputmu jam 7 malam nanti,” ucap Harsya sebelum memutuskan panggilan teleponnya.


“Untung Harsya mengingatkan, bisa-bisa aku dikutuk jadi batu akik sama Mami,” aku cekikikan sendiri membayangkan jika diriku benar-benar berubah menjadi batu akik.


🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸

__ADS_1


__ADS_2