Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 46. Dosen Cantik Kekasih Si Bos


__ADS_3

#Sherina POV#


Berat sekali rasanya untuk membuka kedua mataku yang terpejam pagi ini, namun sinar sang mentari berhasil menerobos masuk melalui jendela kamar yang tirainya telah tersingkap dan mengusik tidurku yang nyenyak.


Tersingkap, kuulangi kata itu dalam batinku.


Siapa yang menyingkap tirainya? Di mana aku?


Tak ingin dikuasai dengan kebingungan, segera kuputar rekaman kejadian semalam yang berhasil terekam oleh otakku.


Astaga! Semalam aku dan Gibran kembali dari Bali lebih awal, pekikku dalam hati.


Apa itu berarti kami berdua melewati malam bersama? Seperti ... seperti ... seperti ...


Dengan mata yang masih terpejam kugelengkan kepalaku, jangan sampai terjadi hal-hal yang seharusnya belum boleh terjadi.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di keningku yang mengernyit. Akhirnya manik mataku pun menyerah, keduanya terbuka sempurna.


“Apa yang kamu pikirkan sepagi ini sayang?” suara bariton Gibran memaksaku membuka mata.


Tampannya.


Aku tersihir oleh pesona pria di hadapanku. Sungguh ciptaan Tuhan yang satu ini begitu mempesona, penampilannya rapi lengkap dengan setelan jasnya menambah ketampanannya berkali-kali lipat.


Aku bersyukur pemandangan yang sangat indah itu memanjakan kedua manik mataku pagi ini.


“Sayang ....” tegurnya.


“Tadi keningmu mengernyit, entah apa yang kamu pikirkan dan sekarang kamu melamun.”


“Apa yang begitu menarik perhatianmu, hemm?” tanyanya.


KAMU!! Jeritku namun hanya bisa kulakukan dalam hati saja.


Netraku memindai ke sekitar ruangan kamar dengan nuansa biru dan abu-abu.


“Apa kita di kamarmu?” tanyaku.


Gibran mengangguk membenarkan tebakanku.


Kini aku tak lagi berbaring, kuubah posisiku menjadi duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


“Kapan kita sampai?” tanyaku.


“Pukul 2 dini hari,” jawab Gibran.


“Lalu sekarang pukul berapa?” tanyaku.


“Pukul 7 pagi,” jawab Gibran singkat.


“Apa aku tertidur selama itu?” gumamku lirih.


“Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu sayang?” tanyanya.


Aku bungkam.


Bagaimana caranya aku bertanya pada Gibran mengenai kekhawatiranku soal apa yang bisa saja terjadi semalam.


Karena tak mendapat jawaban dariku, Gibran lalu beranjak dari tempatnya.


Dikecupnya keningku, “Hari ini aku harus berangkat lebih awal sebab ada meeting.”


“Tapi sebelumnya aku akan mengantarmu dulu ke kampus,” ujarnya. “Bersiaplah lebih cepat sayang, aku akan menyiapkan sarapan.”


Gibran sudah melangkah menjauh menuju pintu. Pintu pun sudah terbuka namun sebelum sosoknya benar-benar meninggalkan kamar pria itu berbalik badan.


“Sayang ... tenanglah,” ucapnya.


“Apa pun yang ada di pikiranmu itu tidak terjadi.”

__ADS_1


Pandangannya mengarah ke atas sofa yang di atasnya ada bantal dan selimut.


“Sebenarnya ingin sekali aku tidur dan memelukmu sepanjang malam,” akunya.


“Namun kuurungkan sebab aku tak yakin jika bisa bertahan hanya dengan tidur saja.”


Setelah Gibran mengucapkan hal itu, pipiku merona menahan malu. Aku pun akhirnya bisa tenang.


“Syukurlah, semuanya masih terjaga hingga hari ini,” gumamku.


...****************...


Aku sudah siap dengan setelan kemeja, blazer dan rok. Kuperiksa sekali lagi penampilanku pada cermin besar di kamar Gibran sebelum akhirnya aku keluar dan bergabung bersama si empunya apartemen sedang memainkan gawainya di meja makan.


Gibran menyiapkan dua roti yang sudah ia olesi selai blueberry dan segelas susu juga segelas kopi.


“Maaf sayang, aku hanya bisa menyiapkan roti saja untuk sarapan.”


“Tak apa Gibran ... sarapan ini sudah sangat cukup untukku,” balasku.


Aku sudah pernah merasakan sarapan yang terburuk. Bahkan tak ada sarapan pun rasanya sudah tak asing bagiku. Batinku.


“Siang nanti aku akan keluar kota mengurus sesuatu,” ujarnya.


Seketika aku menghentikan kegiatan mengunyahku.


“Luar kota? Berapa hari kamu akan pergi?” tanyaku.


Baru saja kami menjalin kasih, tapi Gibran sudah harus pergi. Bagaimana jika aku merindukannya? Monologku dalam hati.


“Besok aku akan kembali, jangan terlalu merindukanku,” jawabnya.


“Percaya diri sekali kamu,” elakku.


“Aku yakin kamu akan merindukanku sayang, sebab aku pun akan begitu. Aku akan sangat merindukanmu,” ucapnya.


“Kuharap saat besok aku pulang, kamu akan terbiasa memanggilku dengan sayang,” imbuhnya.


...****************...


Penerbangan semalam mengharuskan setiap penumpangnya untuk tidak mengaktifkan ponselnya. Sejak saat itu ponselku sudah tak aktif dan pagi ini baru kuaktifkan kembali.


Bermacam-macam ucapan selamat kini membanjiri aplikasi pesan singkat milikku.


Sebagian besar mendoakan agar cintaku dan Gibran akan bertahan selamanya, yang tentunya ku-aminkan dalam hatiku.


“Apa maksudnya ini? Bagaimana mereka tahu mengenai hubungan kita?” tanyaku.


Gibran tersenyum, pria itu tampak jauh lebih tenang. Berbeda denganku yang mulai panik.


“Semalam ada yang mengunggah foto kita di situs Universitas. Foto saat kita berada di pesta malam itu,” jawabnya.


“Aku tak ingin beritanya simpang siur, jadi semalam aku membuat klarifikasi mengenai berita yang membenarkan hubungan kita.”


“Sepertinya artikelnya telah terbit, itulah sebabnya semua orang kini memberi kita ucapan selamat.”


Penjelasan Gibran membuatku tak sabar untuk berseluncur di dunia maya.


Dan saat situsnya berhasil terbuka, kedua netraku terbelalak melihat berita yang menjadi hotline news.


Berita yang bertajuk “Dosen cantik, kekasih Tuan muda" telah mendapatkan ribuan jumlah like dan beribu komentar. Sebagian besar berasal dari mahasiswi yang patah hati setelah pemilik universitas yang menjadi idola mereka kini telah memiliki tambatan hati.


Aku begitu terkejut melihat tajuk artikel yang memuat berita mengenai hubungan kami.


Kekasih tuan muda? Dosen cantik?


“Siapa yang membuat artikel ini?” tanyaku datar.


“Aku.” Jawab Gibran menyombongkan dirinya.


“Gibraaaaaan!!!!!” sontak aku memekik menahan kesal padanya.

__ADS_1


Tidakkah pria ini tahu jika perbuatannya ini akan membuatku sangat malu saat berada di kampus nanti.


Namun semua sudah terlambat, aku hanya harus bersiap menghadapi reaksi dari ribuan orang yang telah melihat unggahan tersebut.


...****************...


Belum juga tenang suasana kampus akibat berita yang di rilis oleh si tuan muda, siang ini aku kembali menjadi sumber kegaduhan yang terjadi di kampus.


Semuanya terjadi karena Harsya, sahabatku itu datang mengunjungiku di kampus.


Ponselku kembali tak hentinya menerima pesan singkat dari beberapa mahasiswiku dan beberapa dosen wanita.


Semua karena kehadiran Harsya yang mengaku sebagai sahabatku kepada setiap orang yang ia tanyai saat ingin menemuiku tadi.


“Jadi apa yang membuat Ibu Dosen cemberut seperti ini, hmm?” Tanya Harsya ketika sudah berada di ruanganku.


Aku hanya memicingkan mata pada pria tampan yang akhir-akhir ini terus dielu-elukan para wanita dari semua kalangan usia, tidak terkecuali dengan banyak mahasiswiku.


“Apa kamu dan Gibran memang janjian untuk membuat hidupku tak tenang hari ini?” Tanyaku dengan ketus pada Harsya.


Kulihat kening sahabatku itu mengernyit, aku paham jika kini ia bingung dengan sikapku yang tiba-tiba tak ramah padanya.


Tanpa membalas ocehanku, dengan telapak tangannya yang ia tempelkan di dahiku kini pria itu seperti seorang ayah yang sedang memeriksa suhu tubuh putrinya.


“Kamu tak demam Sherin, suhu tubuhmu normal-normal saja,” ungkapnya.


“Tak panas juga tak dingin,” imbuhnya.


“Namun aku tahu apa yang membuatmu marah-marah tak jelas seperti ini,” ujarnya.


“Kamu pasti kesal karena Gibran pergi ke luar kota, kan?” tebak Harsya.


Kedua alis Harsya naik turun seolah meminta persetujuan dariku.


“Sotoy!!!!” balasku.


“Mengapa juga aku harus kesal saat Gibran ke luar kota,” elakku.


Sengaja aku berdiri dari kursiku, hingga mampu mensejajarkan tinggi tubuhku dengan tinggi tubuh Harsya yang duduk di sudut meja kerjaku.


“Aku malah senang Gibran pergi,” ungkapku dengan berbisik.


“Itu artinya aku dan kamu bebas pergi ke mana pun. Tak ada Gibran dengan segala peraturannya yang sudah mengalahkan kitab perundang-undangan,” lanjutku diiringi tawa.


“Apa katamu? Kamu yakin senang jika Gibran pergi?” tanya Harsya sekali lagi.


Aku mengangguk, “Hemm ... yang terpenting aku bisa menikmati waktuku sendiri.”


Setelah ucapanku selesai Harsya dengan liciknya menunjukkan layar ponselnya yang baru saja merekam apa yang aku ucapkan.


“Harsya!!!” pekikku.


“Traktir aku ke salon Bu Dosen yang cantik, kekasih tuan muda,” tawar Harsya.


“Lalu rekaman suara ini akan segera kuhapus?”


“Kamu memerasku? Dasar sahabat luck-nut,” umpatku.


“Jadi bisakah kita pergi sekarang Bu dosen cantik kekasih tuan muda?” candanya.


“Baiklah, kali ini kamu menang.”


Aku dan Harsya berjalan bersisian keluar dari ruanganku, dan hal itu lagi-lagi mengundang atensi dari banyak mahasiswi.


Begitulah aku dan Harsya, meski karena kesibukan masing-masing membuat waktu pertemuan kami semakin berkurang, namun saat bertemu tak pernah ada rasa canggung.


Aku selalu beruntung memiliki Harsya.


Kehadirannya hari ini cukup membantu untuk mengalihkan perhatianku di saat aku merindukan Gibran.


Rupanya Gibran benar jika aku akan merindukannya. Keluhku dalam hati.

__ADS_1


“Sedang apa dia di sana? Apa dia merindukanku juga?” gumamku lirih.


...----------------...


__ADS_2