Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 32. Dia ada di mana-mana


__ADS_3

Entah bagaimana aku bisa jatuh hati padamu.


Jawabannya sama ketika aku bertanya siapa yang tahu kelak kita bisa bersama atau tidak.


Mengapa tiap kali bertemu denganmu, perasaan ini bisa muncul begitu saja.


Rasanya begitu sulit menghindar, sepertinya hanya dirimu yang berhasil meluluhkan hatiku.


Luluhnya hatiku menjadikanku bodoh. Aku bodoh ketika harus menanti kepastian yang entah kapan bisa kau beri.


Segera putuskan, apa perasaanku ini yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan? Atau perasaanku ini hanya sebatas cinta dalam diam?


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


# Sherina POV #


Aku sungguh tidak menyukai orang yang tidak bisa bersikap profesional. Hanya karena masalah pribadi, membuat orang lain dirugikan.


Lantas bagaimana jika hal itu terjadi pada diriku?


Aku terus merutuki diriku yang tak hentinya memikirkan Gibran.


Bagaimana jika dia salah paham? Batinku.


Ponselku sudah menjadi korban kegalauanku. Berulang kali aku mencoba menghubungi Gibran, namun segera kuputuskan panggilan tersebut bahkan sebelum nada panggil terdengar.


Seperti inilah yang kutakutkan jika aku mulai membuka hati, bisa saja fokusku untuk mencari keadilan bagi ayah dan Shafiyyah bisa teralihkan.


Aku masih bergelut dengan segala pikiranku, mengenai salah pahamnya Gibran, mengenai langkah awal apa yang harus kulakukan untuk memulai pencarian fakta kecelakaan ayah, ditambah lagi dengan rasa bersalah pada mami Laila yang mulai mengusikku.


Tiba-tiba pintu ruanganku diketuk, membuatku harus meninggalkan sejenak segala beban pikiran yang masih bergelayut manja di benakku.


Bergegas kubuka pintu, dan sedikit kecewa sebab yang kini berdiri di hadapanku adalah salah seorang mahasiswaku.


Entah mengapa aku sempat berharap jika yang mengetuk adalah si pria menyebalkan, pemaksa yang sedang sensitif.


Tapi mana pernah Gibran mengetuk saat masuk ke ruanganku, batinku.


“Maaf mengganggu Bu, saya ingin menyampaikan pesan dari rektorat jika ibu diminta untuk menemui Pak Martin di ruangannya,” ucap mahasiswa tersebut.


“Baiklah ... terima kasih,” balasku.


Sebuah senyuman manis dariku mengiringi langkah mahasiswa itu yang kian menjauh.


Tak ingin membuat Pak Martin menunggu lama, segera aku bergegas menuju ruang rektor.


Seperti biasa sepanjang koridor kampus yang kulalui, hampir setiap mahasiswa dan mahasiswi menyapaku.


Dan sebagai dosen favorit pilihan para mahasiswa, tentu saja aku harus membalas sapaan mereka dengan senyumku.


Sebelum masuk ke ruangan Pak Martin aku terlebih dahulu menemui sekretarisnya untuk menyampaikan maksud kedatanganku.


Kulihat sang sekretaris menghubungi Pak Martin via telepon, lalu tak lama setelah sambungan teleponnya selesai aku pun diizinkan untuk masuk.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Selamat siang Pak,” sapaku.


“Siang Bu Sherina,” balasnya, “Silahkan masuk.”


“Saya mendapatkan pesan untuk menemui Bapak,” jelasku setelah dipersilakan untuk duduk.


Pak Martin lalu menyodorkan sebuah kertas, yang setelah kubaca isinya adalah sebuah undangan untuk menghadiri seminar nasional untuk para rektor universitas.


“Universitas kita mendapat undangan seminar nasional yang akan dilangsungkan besok di Surabaya,” ujar Pak Martin menjelaskan ulang maksud dari undangan yang baru saja selesai kubaca.


Aku hanya mengangguk seraya terus memperhatikan dengan seksama setiap ucapan Pak Martin.


“Aku ingin kamu yang kali ini mendampingiku menghadiri seminar tersebut,” sambungnya.


Dalam hati aku sangat senang mendengar hal ini, namun aku merasa tak pantas sebab masih banyak dosen lain yang lebih senior.


“Terima kasih Pak atas kesempatan yang diberikan pada saya, sungguh saya sangat tersanjung karena Pak Martin mau mempercayai kemampuan saya,” Ujarku.


“Namun, sepertinya masih banyak rekan-rekan dosen lain yang lebih senior dan lebih kompeten dari saya Pak,” ucapku.


Secara tersirat aku menolak tawaran Pak Martin.


“Tapi aku dan para dekan sudah setuju jika yang mengikuti seminar nasional kali ini adalah kamu,” ujar Pak Martin.

__ADS_1


Aku diam sejenak.


Apa sebaiknya kuterima saja yah? batinku.


Mungkin saja dengan menambah kesibukanku aku bisa sedikit mengambil jeda untuk menenangkan diri dari segala beban pikiranku.


“Baiklah Pak, saya akan berusaha semampu saya untuk mendampingi Pak Martin saat seminar nasional nanti,” putusku akhirnya.


Tak ingin berlama-lama di ruangan Pak Martin, aku segera pamit undur diri.


Aku hanya kembali ke ruanganku untuk mengambil tas dan segera pulang ke rumah untuk bersiap.


Seminar tersebut akan berlangsung selama 3 hari 2 malam, dan tentu saja aku butuh waktu untuk meyiapkan segala keperluanku.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Hari seminar pun tiba.


Setelah menempuh perjalanan udara selama 1 jam 30 menit, kini aku dan Pak Martin akhirnya mendaratkan kaki kami di kota Surabaya.


Seluruh akomodasi telah diatur oleh pihak universitas yang bekerja sama dengan pihak panitia penyelenggara seminar.


Seminar berlangsung di sebuah hotel mewah, yang selain digunakan sebagai tempat berlangsungnya seminar, hotel ini juga akan menjadi tempat menginap bagi para peserta seminar yang berasal dari luar kota Surabaya.


Menurutku lokasi hotelnya tak begitu jauh dari pusat kota Surabaya, hanya saja sekali lagi kemacetan membuat segalanya menjadi lebih lama.


Butuh waktu lebih dari 1 jam untuk tiba di hotel. Setibanya di hotel, Aku dan Pak Martin diberikan key card kamar kami masing-masing.


Seminar baru akan dimulai esok hari, hingga beberapa peserta dari luar kota memanfaatkan hari ini untuk berkeliling kota Surabaya.


Sedangkan aku yang mulai merasa lelah segera undur diri pada Pak Martin juga beberapa rekan rektor dan dosen lain yang sejak tadi mengobrol bersama.


Kulangkahkan kakiku menuju lift, aku sudah tak sabar ingin merebahkan tubuhku.


Suasana siang ini cukup sepi sebab hanya aku seorang yang berdiri menunggu lift.


Ting....


Bunyi yang terdengar saat pintu lift terbuka.


“Sherina ...”


“Pak Sadewaa ...”


Entah mengapa rasa lelahku tiba-tiba menguar saat bertemu lagi dengan seorang duda yang dulu sempat membuat jantungku berdebar ketika berada didekatnya.


“Kamu kemari karena ikut seminar juga?” tanyanya yang mendapat anggukan dariku sebagai jawaban.


“Wah ... aku beruntung sekali bisa bertemu dengan kamu di sini,” ujarnya.


“Sama ... tak kuduga bisa bertemu Bapak di sini,” balasku.


“Kamu semakin cantik Sherina,” pujinya tanpa menghiraukan tatapan bingung dari seorang wanita yang kuduga adalah dosen yang mendampingi Pak Sadewa saat seminar nanti.


“Terima kasih Pak,” balasku.


Bapak juga makin tampan saja, batinku ikut membalas pujian Pak Sadewa.


Ya ... aku memujinya dalam hati. Sejak dulu juga begitu, mana berani aku memuji Pak Sadewa secara langsung.


“Bagaimana kabar Bapak?” tanyaku berbasa-basi.


“Zaskia, bagaimana kabarnya? Sudah lama aku tak bertemu dengannya,” Ujarku.


Pak Sadewa tertawa, tawanya masih sama seperti dulu. Ia masih saja terlihat makin tampan saat tertawa.


Astaga, ada apa denganku? Mengapa aku sangat lemah saat melihat yang bening-bening seperti Pak Sadewa dan Gibran, batinku.


“Wow ... aku akan menjawab pertanyaanmu satu per satu,” jawabnya.


“Aku baik-baik saja Sherina, kuharap kamu juga sama.”


“Zaskia ... dia juga baik-baik saja. Sekarang Kia dan Ibunya berdomisili di Medan, di rumah orang tua Kiara,” sambungnya.


Aku hanya mengangguk, tak ingin berkomentar apa pun yang bisa saja membuat kami akhirnya membahas mengenai masalah rumah tangga Pak Sadewa dan Ibu Kiara.


“Apa masih ada pertanyaan lain?” tanya pak Sadewa dengan raut wajah yang menggodaku.


Aku tertawa sambil menggeleng. “Cukup Pak,” jawabku sambil melanjutkan tawaku.

__ADS_1


“Kalau begitu, apa sekarang boleh aku yang bertanya padamu?” tanyanya.


Aku mengangguk, “Silakan, selama pertanyaan Bapak tidak sesulit dengan pertanyaan saat kuis di kelas,” jawabku sembari bercanda.


“Apa kamu sekarang masih sendiri?” tanyanya tanpa basa basi.


“Apa aku masih memiliki kesempatan?” tanyanya lagi.


Blank .....


Aku mematung, jawaban apa yang harus kuberikan pada Pak Sadewa yang kini terus menatap padaku.


“Ekheemm ...” dehemhan dari wanita yang sejak tadi hanya menjadi pendengar di antara kami berdua akhirnya menjadi penyelamatku.


Tampak Pak Sadewa mendesah kecewa, lalu berbalik menoleh pada wanita itu.


Bisa kulihat Pak Sadewa menaikkan kedua alisnya, seakan bertanya apa maksud dehemannya.


“Sudah lewat 15 menit dari jadwal anda, Pak ...” ujarnya.


Pak Sadewa mengangguk lalu kembali menatap padaku.


“Bisakah kita makan malam bersama?” pintanya.


Belum sempat aku menjawab, Pak Sadewa sudah kembali berucap.


“Aku belum memberimu hadiah ulang tahun dan kamu juga belum mentraktirku,” lanjutnya.


Sementara Pak Sadewa berbicara, aku hanya diam membisu. Masih memikirkan cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan Pak Sadewa sebelumnya.


“Bagaimana? Kita bisa makan malam bersama, kan?” tanyanya lagi.


“Ya, bisa ... aku bi-bisa Pak,” jawabku ragu.


Senyum terbit di wajah Pak Sadewa, sebelum akhirnya ia pamit untuk menghadiri pertemuannya yang sempat tertunda.


Astaga Sherina ... masalah apa lagi yang akan kau hadapi nanti malam, batinku.


Aku hanya bisa menatap Pak Sadewa yang berjalan menjauh, lalu setelah itu dengan langkah berat aku menuju kamarku untuk beristirahat.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Tak terasa malam pun tiba, pesan beruntun dari Pak Sadewa sudah sejak tadi menghiasi layar ponselku.


“Apa aku pura-pura sakit saja yah?” gumamku.


“Atau aku pura-pura ketiduran aja?”


“Atau aku ........” gumamanku terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar.


Tok ... Tok ... Tok ...


Ceklek,


“Malam Pak Sadewa,” sapaku.


“Malam ... apa kamu sudah siap?” tanyanya.


Dari mana dia bisa tahu nomor kamarku? Tanyaku dalam hati.


“Tunggu aku di lobi yah Pak. Beri aku waktu 15 menit untuk bersiap,” pintaku.


“Baiklah, santai saja dan silakan gunakan waktumu. Aku menunggu di lobi,” balasnya.


Setelah Pak Sadewa pergi aku sadar jika tak ada jalan bagiku untuk kabur, lari, atau menghindar.


Hadapi Sherina, katakan jika fokusmu saat ini bukanlah sebuah hubungan percintaan, ucapku dalam hati untuk menyemangati diriku sendiri.


Lima belas menit berikutnya aku sudah berada di lobi. Kuedarkan pandanganku mencari sosok pria tinggi, yang berpakaian rapi dengan kacamata yang menghiasi wajah tampannya.


“Pak Sadewa ....” seruku saat mendapati sosok yang kucari.


“Sherina ....” sedetik kemudian namaku juga terdengar menggema.


Aku dan Pak Sadewa menoleh ke arah sumber datangnya suara.


Tampak kening Pak Sadewa mengernyit, mengamati sosok pria yang berjalan tergesa-gesa ke arah kami.


“Gibran!” pekikku.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Gibran di sini! Mengapa dia bisa ada di mana-mana! Batinku menggerutu.


🌸🌼🌸🌼To be continued 🌼🌸🌼🌸


__ADS_2