Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 30. Reuni


__ADS_3

Semua pertanda ini meyakinkanku jika aku benar-benar mencintaimu.


Aku tahu tak semudah itu kamu melupakan semua kesalahanku, itulah mengapa aku menugaskan diriku untuk menjadi penyembuh luka yang kubuat.


Akan kumulai dengan merangkai serpihan hatimu, aku akan mendampingimu walau hatimu tak bersamaku.


Tak kurasa akan sepedih ini.


Ternyata aku sangat naif, sebab sempat berpikir jika memenangkan hatimu bisa kulakukan dengan mudah.


Aku sempat lupa, jika kamu bukan lagi gadisku yang dulu.


Kini kamu wanita sempurna yang layak dipuja-puja oleh banyak pria, termasuk aku.


Dan hal itu membuat aku tidak percaya diri, aku tidak ikhlas, aku kekanak-kanakan, sebab aku cemburu.


🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸


#GIBRAN POV#


“Jadi benar jika kalian dulunya sepasang kekasih?” bibi Laila terus memberondong kami dengan pertanyaan yang sama sejak kami datang.


“Iya bibi Laila, benar dulu kami sempat menjalin kasih saat masih di sekolah. Tapi bibi doakan saja, semoga kami bisa kembali bersama,” ucapku.


Bisa kulihat bibi Laila yang memaksakan senyumnya, kemudian berlalu masuk ke dalam ruangan tempat Sherina kini sedang mencoba beberapa gaun yang telah kupilihkan.


Bukan tanpa tujuan aku melakukan ini semua. Tujuan pertamaku memang ingin menghadiri reuni bersama Sherina sebagai pasangan yang tampil serasi.


Tujuan keduaku tentu saja adalah menunjukkan pada bibi Laila siapa pemilik Sherina sebenarnya.


Dari Ibuku, aku tahu jika bibi Laila sangat berharap Sherina dan Rafie bisa menikah. Hal itu tentu saja tak akan kubiarkan.


Tak lama setelah itu, Sherina keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun hitam mini bermodel tali spaghetti yang menampakkan bahu putih dan mulusnya.


Untuk sepersekian detik, aku dibuat terperangah dengan penampilan Sherina yang sungguh cantik dan menggoda.


“Wauuww ... kau cantik sekali Sherina,” pujiku.


Ada semburat merah di wajah mungil miliknya.


“Tapi sepertinya gaun ini terlalu terbuka,” Ujarku berkomentar.


Tentu saja aku tak akan pernah mengizinkan dan ikhlas, jika hal seindah itu dinikmati oleh sepasang mata lain.


Dengan langkah berat, Sherina kembali masuk ke dalam ruang ganti diikuti oleh 2 orang karyawan butik dan juga bibi Laila yang terus menggeleng melihat sikap posesifku.


Aku menunggu lagi beberapa saat dengan sabar, sampai Sherina kembali membuatku terpesona dengan penampilannya yang sungguh luar biasa.


Kali ini ia mengenakan gaun hitam panjang tanpa lengan, dengan potongan sangat rendah di bagian punggungnya.


Cantik, batinku.


Tapi sekali lagi batinku rasanya tak rela jika harus membagi keindahan ini.


Aku menggeleng. “No ... big no Sherina,” ucapku.


Kulihat Sherina mendesah kecewa, tapi tanpa membantah atau bertanya alasanku ia kembali berbalik menuju ruang ganti.


Itulah Sherina-ku ... Sherina-ku yang penurut dan tak banyak pertanyaan, batinku.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


“Ibu dengar kamu akan hadir dalam reuni besok?”

__ADS_1


Ibu menyambutku dengan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.


“Ya, aku akan hadir,” jawabku singkat.


“Pergilah bersama Soraya. Ibu dengar dia belum ada teman untuk pergi bersama ke acara itu,” ujarnya.


Aku tertawa, “Kata siapa Soraya tidak memiliki teman? Soraya itu wanita populer Bu, banyak pria yang mengantre untuk bisa menjadi pasangannya ke acara reuni,” jelasku.


“Tapi yang Soraya inginkan hanyalah dirimu,” balas Ibu.


“Tapi aku tidak, Bu. Yang akan pergi bersamaku adalah kekasihku, jika bukan dia orangnya maka aku lebih memilih untuk tak menghadiri acara reuni itu,” tegasku.


Aku sudah akan menapakkan kakiku ke anak tangga pertama menuju kamarku, namun ucapan Ibu kembali menghentikan langkahku.


“Beberapa saat yang lalu, Laila menghubungi Ibu. Bibimu itu bertanya mengenai perjodohanmu bersama Soraya,” ujar Ibu.


Tak kuduga jika bibi Laila nekat menghubungi ibu.


"Kata Laila, kamu ke butiknya bersama dosen muda itu? Apa dia yang akan kau jadikan pasangan ke acara reuni?" tanya Ibu.


"Harusnya jika bibi Laila benar menghubungi ibu, maka tentu saja ibu sudah tahu jawabannya," jawabku.


“Ingatlah Gibran, sejauh apa pun kamu berpetualang pada akhirnya kamu tetap harus menepi,” peringat Ibu.


Tak akan kubiarkan peringatan Ibu mengacaukan diriku lagi, ini adalah hidupku.


Sudah cukup Ibu mengatur hidupku.


Mengenai pendampingku kelak, aku akan mengikuti pilihan hatiku dan memasrahkannya hasilnya pada Yang Maha Kuasa.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Sudah kuduga jika malam ini kami berdua akan menjadi pusat perhatian.


Gaun lengan panjang, berwarna broken white, dengan detail model sabrina yang sukses menampilkan leher jenjangnya dan membuat orang yang melihat pasti tertarik atau bahkan mengaguminya.


Gaun itu sangat pas untuknya, hingga berhasil menampilkan bentuk tubuh Sherina yang sangat indah.


Perasaan cemburu dan jiwa posesifku meronta-ronta. Tak sedetik pun kubiarkan rangkulanku pada pinggangnya lepas.


Semua orang di ballroom hotel mewah harus tahu jika wanita cantik ini segera akan menjadi milikku.


“Gibran, bisa lepasin gak? Aku risih dilihat banyak orang,” ucap Sherina saat aku mengeratkan rangkulanku dan membawa tubuhnya lebih dekat padaku.


Aku hanya menggeleng dan hal itu membuat Sherina cemberut.


Saat berjalan masuk bisa kulihat di sebuah meja berbentuk lingkaran yang letaknya paling depan, Ayah dan Ibuku menatap kami dengan tatapan yang berbeda.


Jika Ayah menatap kami dengan binar bahagia, sedangkan Ibu menatap kami dengan binar permusuhan.


Saat sedang asyik mengamati tatapan cemburu dari para pria, rangkulanku pada Sherina terlepas sebab Naila menarik Sherina ke dalam dekapannya.


“Sherina, kamu sangat cantik. Aku sebenarnya merajuk padamu, kamu lebih memilih datang kemari bersamanya dari pada datang bersamaku,” protes Naila tanpaa peduli jika orang yang sedang ia bicarakan bisa mendengar semuanya.


“Maafkan aku Nay, kamu pasti tahu bagaimana pemaksanya Gibran,” balas Sherina.


Secepat kilat kubawa kembali Sherina dalam rangkulanku saat kulihat Faqih dan Sherina saling menyapa lalu Faqih hendak memeluknya.


Meski Faqih adalah kekasih Naila dan juga merupakan salah satu sahabatku, namun aku tetap tak rela jika ia memeluk Sherina.


“Wooaaawww ... sepertinya pasanganmu sangat posesif, Sherin,” ucap Faqih yang dibalas dengan Sherina yang hanya mengedikkan bahunya.


Sebelum ikut bergabung di meja bersama Naila dan Faqih, aku mengajak Sherina bertemu dengan beberapa rekan bisnisku yang turut diundang.

__ADS_1


Reuni SMA El-Fatih memang tak pernah hanya menjadi ajang reuni untuk mengeratkan tali silaturahmi, tapi juga sebagai ajang untuk menjalin kerjasama bisnis bagi para alumni.


Dan untuk ke sekian kalinya aku harus menahan cemburu saat banyak dari rekan bisnisku yang terang-terangan memuji penampilan memesona Sherina.


“Wanita Anda sungguh cantik Tuan Gibran,” ucap salah seorang rekan bisnisku yang juga salah satu alumni.


“Tentu saja. Bagiku dia adalah berlian yang paling berharga,” balasku ikut memuji.


Wajah Sherina kini makin merona mendapatkan pujian bertubi-tubi.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸


“Kau pasti senang, malam ini hampir semua orang tersihir oleh kecantikanmu,” bisikku pada Sherina, sembari kedua kaki kami terus melangkah menuju meja yang ditempati oleh Ayah dan Ibuku.


“Tentu saja, kau tahu aku bersiap dan berdandan cukup lama untuk penampilan seperti ini," balasnya.


"Aku juga harus menghargai kebaikanmu yang telah memberiku gaun yang sangat indah,” ucapnya membuatku gemas.


Ingin rasanya kucubit gemas kedua pipinya, lalu mendekapnya ke dalam pelukanku. Namun niatku harus kuurungkan sebab kami sudah tiba di tujuan kami.


Tak henti-hentinya Sherina membuatku kagum, sebanyak apa kelebihan yang ia miliki.


Dengan sopan, anggun, elegan, dan berkelas, Sherina menyapa ayah, ibu, paman Nashir dan bibi Laila. Semua orang menyambut Sherina dengan hangat, kecuali ibu.


Seperti sebelumnya, bibi Laila selalu bersikap berlebihan pada Sherina. Bibiku yang satu ini, benar-benar terobsesi untuk menjadikan Sherina menantunya.


Apalagi saat Rafie dan sahabatnya Harsya ikut bergabung di meja itu. Tiba-tiba saja aku dan juga ibu seperti orang asing, sedangkan yang lain terus mengobrol dengan serunya.


Tak ingin berlama-lama bertahan dalam kondisi seperti ini, akhirnya aku mengajak Sherina kembali ke meja yang diisi oleh Naila, Faqih, dan yang lainnya.


“Apa tak masalah? Aku khawatir tuan Nadim tersinggung jika kita pindah ke meja yang lain,” ujar Sherina saat aku mengusulkan untuk pindah meja.


“Kau khawatir ayahku tersinggung atau tak ingin jauh dari Rafie atau Harsya?” tanyaku padanya.


Pertanyaanku memang terkesan menuduhnya, aku hanya merasa kesal sebab sejak pertama kali bergabung tatapan Harsya tak pernah lepas dari Sherina.


Bahkan saat dengan sengaja aku merangkul pundak Sherina, tatapan Harsya sudah seperti ingin mengulitiku.


Meski terpaksa, Sherina tetap mengikuti ke mana aku pergi. Bisa kurasakan tubuhnya sedikit bergetar saat kami kini bergabung di meja yang sudah diisi oleh Naila, Faqih, Kaif, Elena, Barra, dan Soraya.


Tatapan tajam dari Soraya, serta tatapan kagum tak percaya dari netra yang lainnya membuat Sherina sedikit gugup dan mungkin saja terintimidasi.


Segera kurangkul pinggangnya dengan posesif, dan menyapa semua teman-teman kami.


“Hai, masih bolehkah kami bergabung?” tanyaku basa-basi.


“Tentu saja,” jawab Naila.


Sebelum Naila berhasil menarik Sherina duduk di sisinya, aku lebih dulu membawanya untuk duduk di sampingku dengan rangkulan yang tak pernah lepas dari pinggangnya.


“Wow ... lu tak berubah, masih posesif," komentar Kaif.


"Kenalin ke kita-kita dong, jangan lu umpetin mulu," lanjutnya.


"Kenapa harus kukenalkan lagi? Kalian sudah mengenalnya kok, dia ... Sherina," ucapku.


"Sherina Kanza, mantan kekasih yang sebentar lagi akan kembali menjadi kekasihku," ucapku percaya diri sambil menarik turunkan alisku menatap Sherina.


Semburat merah kembali nampak di kedua pipi mulusnya.


Ah ... kumohon berhentilah membuatku gemas, jika tidak aku takut tak bisa menahan untuk tidak menciumnya di sini, batinku.


🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸

__ADS_1


__ADS_2