
Seperti seekor burung angsa yang terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian.
Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.
Begitu pun dengan kita, pertimbangkanlah untuk tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan.
Kita bisa menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Sebab lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri dari pada melakukannya bersama-sama.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# GIBRAN POV #
“Sherina ... bisakah kau melangkahkan kakimu lebih cepat? Lihatlah beberapa menit lagi dan hari ini akan segera berakhir!” gerutuku.
Tanpa kusadari entah sudah berapa kali aku menggerutu malam ini, sebab wanita itu terus keras kepala tak ingin kugendong untuk sampai ke atas bukit.
Yah, saat ini kami sedang melalui jalan menanjak untuk mencapai bukit Alesano.
Setelah berhasil memaksanya ikut denganku, aku membawanya ke Bukit Alesano yang berada di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Setelah tadi aku berusaha untuk bisa sampai ditempat ini lebih cepat dengan tujuan tak lain agar kami masih bisa melewati momen ulang tahunnya hari ini bersama.
Kini aku dibuat kesal oleh Sherina yang berjalan sangat lambat, sementara dalam hitungan menit lagi hari ini akan segera berganti.
“Ayolah ... biarkan aku membantumu,” pintaku sembari mengulurkan tangan agar Ia bisa meraihnya.
“Caranya? Menggendongku?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Kupikir itu hanya akal-akalanmu saja untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan,” balasnya.
“Itu karena kau selalu saja berpikir buruk tentangku,” ucapku.
“Came on Sherina, kita sekarang sudah sama-sama dewasa,” Ujarku, “Aku sudah berubah, kau saja dari cupu bisa berubah jadi ....”
Tak kulanjutkan ucapanku.
Sebenarnya aku ingin mengakui jika kini dirinya tampak cantik, sangat cantik. Tapi sengaja tak kuucapkan jangan sampai Sherina menjadi besar kepala.
Kekesalanku akhirnya terbayarkan ketika melihat gemerlapnya kota Bogor dari ketinggian di atas bukit Alesano.
“Huhh ... huhh ... huhh ... “ deru napas Sherina yang memburu mengalihkan pandanganku.
Kubuka botol air mineral yang memang sudah kusiapkan saat hendak naik ke atas bukit.
“Minumlah!” Seruku.
Sherina meraih botol air mineral dari tanganku, tapi yang membuatku akhirnya mengerutkan keningku sebab ia tak langsung meminumnya.
Kuamati gerakannya yang memeriksa botol air mineral dengan seksama. “Sekarang apa lagi? Kalau tidak perlu minum, kemarikan airnya sebab aku masih haus,” Ujarku.
Tak lama kulihat Sherina membuka botol air mineral itu, sebelum mulai meneguknya ia tersenyum lebih dulu.
“Dasar aneh,” gumamku.
“Aku tidak aneh!” sanggahnya.
“Aku hanya tak ingin kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi,” lanjutnya.
“Cih ...” Aku berdecih, “Memangnya kesempatan apa yang bisa kuambil dengan menggunakan botol air mineral,” balasku tak paham dengan maksudnya.
__ADS_1
“Bisa saja kau ingin mencuri ciumanku lewat botol ini ...” ucapnya penuh curiga.
Aku sampai tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Sherina.
“Entah kau benar-benar polos atau hanya berpura-pura polos,” Ujarku.
“Jika hanya ingin ciuman, aku tidak perlu mencurinya. Aku bisa langsung, kapan saja, tanpa permisi, atau pun tanpa aba-aba menciummu,” lanjutku.
Aku semakin dibuat gemas oleh tingkah Sherina saat ia melangkah mundur perlahan dengan kedua tangan menutup mulutnya.
“Arrrgghhhh, kenapa dia bertingkah menggemaskan sih ... bisa-bisa aku benar-benar menerkam bibirnya,” batinku.
Astaga, hampir saja aku lupa dengan tujuan awalnya mengajaknya ke bukit ini.
“Sherina, kemarilah!”
“Karena ini masih termasuk hari ulang tahunmu, maka aku berbaik hati akan memberimu hadiah,” ucapku.
“Tapi aku tak pernah minta dan tak butuh hadiah darimu,” balasnya dengan ketus.
“Meski begitu, aku tetap ingin memberinya,” tegasku, tak ingin dibantah.
“Berbalik!” pintaku.
Sherina tak bergeming, ia malah bersedekap dengan tatapan penuh tanda tanya padaku.
Karena tak sabar segera kubalik tubuhnya membelakangiku, hingga kini ia bisa melihat keindahan kota Bogor yang dipenuhi kerlap kerlip lampu berwarna-warni yang dibentangkan 360 derajat dari atas bukit.
Sherina tersentak tatkala sebuah kalung dengan liontin berbentuk angsa kulingkarkan ke leher jenjangnya yang putih.
“Selamat ulang tahun Sherina,” ucapku lirih.
Sherina masih mematung, tak bergeming sedikit pun.
“Te-terima kasih Gibran,” balasnya dengan terbata.
“Tapi aku sungguh-sungguh tak mengharapkan apa pun,” ucapnya.
“Tapi aku mengharapkannya Sherina.”
“Aku minta maaf untuk kejadian 8 tahun lalu. Entah apa kau percaya atau tidak, tapi aku memang memiliki masalah dengan pengendalian emosiku,” jelasku.
Kulihat Sherina tak begitu terkejut dengan pengakuanku.
“Apa Rafie telah memberitahukan padamu perihal itu?”
Bungkamnya Sherina sudah menjadi jawaban.
“Tapi itu semua karena Rafie ingin aku berhenti salah paham padamu dan aku sudah memaafkanmu,” belanya.
“Lalu apa kita masih bisa kembali seperti dulu lagi?”
“Maksudmu kembali menjadi kekasih palsu lagi? Tapi untuk apa? Sekarang aku sudah baik-baik saja, tak ada lagi orang yang merundungku,” jawabnya.
Dan ... mendengar itu semua jujur saja jika aku sangat, sangat kesal dan kecewa.
“Apa dia benar-benar tidak punya perasaan padaku sama sekali? Walau pun hanya secuil saja perasaan itu, apakah tidak ada?” batinku.
“Baguskah jika sekarang kamu baik-baik saja, selamat karena itu,” jawabku.
“Tapi kini aku yang tidak baik-baik saja,” lanjutku.
__ADS_1
“Jika dulu aku yang menolongmu, kini saatnya aku yang meminta tolong padamu, bantu aku menggagalkan perjodohan yang diatur orang tuaku,” pintaku. Alasan konyol itu keluar begitu saja dari bibirku.
“Caranya?” tanya Sherina.
“Sama seperti dulu, jadilah kekasihku!”
“Ta-tapi ... kekasih palsu, kan?” Tanyanya ragu.
Aku mengangguk, jika ini satu-satunya cara untuk mendapatkannya kembali maka akan kulakukan.
Kulihat Sherina masih ragu, keningnya bahkan mengernyit memikirkan ini.
“Bisakah kau memberiku waktu? Aku harus memikirkan hal ini baik-baik,” pintanya.
“Silakan, gunakan waktumu dengan baik. Yang perlu kamu ingat aku orang yang tidak sabar,”
“Kau pasti tahu jika menunggu adalah salah satu hal yang tidak kusuka,” lanjutku.
Kali ini Sherina tak menjawab. Dia hanya mengangguk, lalu kembali menatap keindahan kota Bogor malam ini.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Saat ini sudah pukul 3 dini hari saat mobilku berhenti tepat di depan rumah Sherina.
“Terima kasih atas penculikan yang mengesankan,” ucapnya.
Aku kembali tertawa karena ucapan Sherina yang terkesan sarkasme.
“Tak perlu sungkan, lagian ini ulang tahunmu. Tentu saja harus ada hal indah yang harus kamu kenang,” balasku membuat Sherina tersenyum sangat manis.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
Aku mengangguk mengizinkannya.
“Kalung ini berliontin angsa, apa ada makna tertentu di baliknya?” tanyanya.
“Kau yakin ingin mengetahuinya?”
Sherina mengangguk.
“Banyak hal yang bisa kita pelajari dari angsa,” ucapku.
Wajah Sherina makin cantik di saat seperti ini.
“Saat pemimpin kawanan angsa yang sedang terbang lelah, maka Ia akan mundur dan secepatnya burung angsa lain menggantikan posisi dan tugasnya,” jelasku.
“Belum lagi dengan suara riuh rendah dari angsa-angsa yang terbang di bagian belakang dalam formasi, semata-mata bertujuan untuk memberikan semangat bagi burung angsa yang ada didepannya agar bisa menjaga terus kecepatan terbangnya.”
“Lalu hubungannya dengan alasan kau memberiku kalung ini apa?” tanya Sherina.
“Aku ingin kau mengerti jika seperti halnya burung angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya. Jadi percaya saja pada dirimu sendiri, dan yakinlah jika akan ada orang yang membutuhkan bantuanmu dan kamu yang membutuhkan bantuan orang lain,” jawabku.
“Dan juga percayalah jika suaramu bisa menguatkan dan bukan melemahkan orang lain, jadi percaya pada dirimu dulu sebelum kau membantu orang lain,” lanjutku.
“Aku mengerti sekarang, terima kasih sudah berusaha mengingatkan hal yang paling sulit kulakukan,” ucapnya.
“Jadi, bolehkah aku percaya jika kau akan pertimbangkan permintaanku tadi? Aku butuh bantuanmu, aku butuh suaramu sekarang Sherina,” bujukku lagi.
“Aku akan memikirkannya, terima kasih untuk malam ini,” ucapnya sebelum Ia akhirnya benar-benar turun dari mobilku dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Sambil netraku mengawasi Sherina yang perlahan semakin menjauh lalu akhirnya menghilang di balik pintu rumahnya, aku hanya bisa bermonolog seorang diri di dalam mobil.
__ADS_1
“Selain itu angsa juga digunakan sebagai lambang cinta sejati meskipun tak sepopuler burung merpati. Sebab Burung angsa hanya mencintai pasangannya, ia bereproduksi untuk menghasilkan keturunan hanya dengan pasangannya. Itulah mengapa angsa melambangkan kesetiaan dalam hubungan. Dan sebenarnya aku berharap kita bisa seperti itu, dahulu."
🌼🌸🌼🌸 To be continued 🌸🌼🌸🌼