Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 22. Tunangan wanita lain


__ADS_3

Karena dia berbeda.


Karena dia sangat tidak biasa.


Karena dia spesial dan mampu membuaku nyaman.


Dan yang pasti aku tak bisa memilih hati ini jatuh cinta pada siapa.


Wanita sesempurna dirinya


Pantas saja jika menarik perhatian banyak pria lainnya .


Kekhawatiran ku hanyalah satu,


Karena kamu pun tak bisa memilih hatimu akan berlabuh pada pria yang mana.


Kekhawatiran ini lama kelamaan bisa saja menjadi trauma.


Apa lebih baik untuk sementara aku memilih untuk tak jatuh cinta dulu?


🌸🌼 🌼🌸 🌸🌼 🌼🌸 🌸🌼


# SHERINA POV #


“Ada yang bisa saya bantu, Nona?”


Seorang karyawan wanita menawarkan bantuan padaku.


Yah, meski kata Rafie jika acara malam ini hanya makan malam biasa, namun tak ada salahnya jika aku menyiapkan penampilan yang lebih baik.


Sebagai bentuk penghormatanku karena telah diundang oleh sang empunya acara. Terlebih Mami Laila sangat baik padaku.


Aku mengenal Mami Laila sekitar 3 tahun yang lalu saat kami secara tak sengaja bertemu di Yogyakarta. Aku, Rafie, dan Harsya sedang menghabiskan akhir pekan dengan maraton nonton film di bioskop, dan di mall yang sama Mami Laila juga sedang mengadakan pameran untuk butiknya.


Sejak pertemuan kami, Mami Laila beberapa kali menemui kembali saat beliau tengah bertandang ke Yogyakarta.


Menurut Rafie, mungkin saja hal itu karena Mami Laila telah salah paham. Beberapa kali Mami Laila bertanya pada Rafie apa hubungannya denganku.


Saat Rafie menjawab hanya sahabat , maka Mami Laila akan menceramahi Rafie seakan jika putranya terlambat bergerak, maka dia bisa kehilangan kesempatan.


“Nona,” tegur karyawan itu sekali lagi.


“Oh.. maaf,” balasku, “Aku mencari gaun, tapi yang sederhana dengan warna-warna pastel,” ungkapku.


Karyawan bernama Rina itu lalu mengarahkanku pada sebuah rak yang dipenuhi gaun.


Pilihanku jatuh pada sebuah mini dress tanpa lengan berwarna salem dengan potongan leher bermodel turtle neck.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menjatuhkan pilihan pada mini dress itu, entahlah aku hanya menyukai warnanya yang lembut.


Setelah memastikan ukurannya sudah sesuai, segera kuselesaikan pembayarannya dan bergegas kembali ke apartemen.


🌼🌸🌼🌸🌼🌸


Jam 7 malam, sudah berlalu sejak 30 menit yang lalu. Jika Harsya tidak memaksa untuk pergi bersama-sama mungkin saat ini aku kini sudah berada di kediaman keluarga Rafie.


Semakin menambah kekesalanku saat aku membaca sebuah pesan teks dari Harsya, disusul ada panggilan masuk dari Rafie.

__ADS_1


“Iya Raf,” ucapku saat menerima panggilan Rafie.


“Aku masih di apartemen,” jawabku saat Rafie menanyakan keberadaan ku.


“Harsya memintaku menjemputmu,” ucapnya.


“Tak perlu, aku sudah menghubungi taksi online, sebentar lagi aku akan tiba di sana,” balasku.


Aku terpaksa berbohong jika sebentar lagi aku akan tiba di sana. Pasalnya dibelakang Rafie, kudengar suara Mami Laila yang menanyakan keberadaanku.


Entah memang sengaja, tapi sebenarnya lokasi apartemen Harsya dan rumah orang tua Rafie sangat dekat.


Seandainya aku tidak mengenakan gaun mini dan sepatu high heels, aku akan memilih berjalan kaki dibanding harus menaiki mobil dan menempuh jarak yang cukup jauh.


Saat sampai di kediaman orang tua Rafie, kulihat ada beberapa mobil yang sudah terparkir rapi di halaman besar rumah yang menurutku lebih mirip dengan istana.


Kulangkahkan kakiku menuju ruang makan tempat semua orang Kini tengah berkumpul.


Dari kejauhan kulihat meja makan yang bisa menampung 14 orang dewasa hanya tersisa beberapa kursi kosong saja.


“Untung saja aku berdandan dan membeli pakaian, makan malam antar keluarga dekat versi Mami Laila yang kaum bangsawan tentu saja berbeda dengan maka malam versi rakyat biasa sepertiku,” batinku.


“Selamat malam semua, maaf jika aku terlambat,” sesalku.


Semua pandangan kini menatap padaku, dan ada satu hal yang baru kusadari.


“Kami bertemu lagi untuk kedua kalinya hari ini,” batinku.


Nampak ada 3 pasangan paruh baya di sana. Yang bisa kupastikan adalah Mami Laila dan Papi Nashir, yang tak lain adalah orang tua Rafie.


Sedangkan pasangan paruh baya yang satunya lagi, jika aku tak salah beliaulah pendiri El-Fatih Insan Unggul, Tuan Nadim El- Fatih beserta istrinya Nyonya Farrah Kaira.


Seorang pria yang juga seusia dengan Gibran entah mengapa sejak tadi terus menatap padaku. Tatapannya seperti menyimpan banyak tanya untukku.


Dan yang terakhir adalah Gibran.


Mami Laila mengenalkan aku sebagai teman dekat Rafie.


Mami Laila terkejut dengan fakta jika Aku dan Gibran sudah mengenal sejak kami SMA.


Aku menjabat tangan Gibran, untuk pertama


Kalinya setelah delapan tahun kami tak bersua.


Hanya sebuah senyuman dariku yang menjadi awal bagi pertemuan kami malam ini.


Makan malam terpaksa harus dimulai tanpa membantu kedatangan Harsya.


Seperti makan malam pada umumnya, obrolan terdengar di sepanjang kegiatan makan malam kami.


Begitupun denganku yang sesekali mendapat pertanyaan mengenai kegiatanku selain mengajar.


Setelah makan malam usai, semuanya berpindah ke ruang keluarga.


Aku sangat suka mengobrol dengan Tuan Nadim, ayah Gibran.


Jelas sekali jika beliau berwawasan luas, dan yang membuatku semakin tertarik sebab beliau ternyata juga menyukai karya sastra seperti novel dan kumpulan buku puisi.

__ADS_1


Hingga ditengah-tengah obrolan kami, Mami Laila bertanya asal pada pria yang tengah mandangku lekat.


“Gibran, jadi kapan kamu akan akan bertunangan?”


Sontak saja, Gibran, aku, dan Rafie saling melempar pandangan. Entah apa maksud dari tatapan kami, yang kami tahu kini tatapan kami bertiga tengah bicara.


"Bibi ... memangnya siapa yang akan bertunangan?" jawab Gibran dengan malas.


"Ya kamu lah, yang namanya Gibran di ruangan ini memangnya ada yang lain selain kamu?"


"Sebab, Gibran yang bibi maksud tidak ada rencana untuk bertunangan dalam waktu dekat," ungkapnya.


Dan tanpa mereka sadari, aku menghembuskan napas lega.


"Apa? Napas lega katamu, Sherina?" batinku tiba-tiba bergejolak.


Jantungku berdetak tak karuan, dan mungkin saja kini sedang melompat-lompat kegirangan.


"Sekalipun aku akan bertunangan, tentunya aku akan bertunangan dengan kekasihku. "


"Bagaimana menurut Anda, Nona?"


Pertanyaan itu sepertinya sengaja tertuju padaku.


Berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan karena jika hal itu terjadi, sama saja aku mempermalukan diriku sendiri.


"Tentu saja, sebab melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi seperti pertunangan, aku yakin jika setiap wanita menunggu hal itu," jawabku.


"Kamu yakin?" tanyanya kembali.


"Yah, tentu saja."


Aku menjawab yakin.


"Apakah Kamu juga seperti itu Nona? Sedang menanti seseorang?"


"Aku? Jika aku memiliki hubungan percintaan tentu saja aku akan seperti itu," balasku dengan yakin.


Aku tidak sanggup. Aku menyerah.


Semakin lama aku disini maka semakin besar pula resiko penyakit jantung yang bisa kuterima.


"Mi Cielo ... ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Rafie.


Aku mengangguk hendak dan menjauh, namun Rafie menarik pergelangan tanganku., memintaku kembali duduk.


"Ak ingin ke toilet sebentar saja," jawabku.


"Nanti saja, duduklah sebentar," cegah Rafie.


"Aku hanya ingin bertanya pada Adik Sepupuku, mengapa sejak tadi diaterus memandangimu?"


Ucapan Rafie barusana sepertinya sukses memprovokasi Gibran.


Sangat jelas, jika pria itu kini rahangnya telah mengeras.


Aku menelan salivaku, "Kumohon ingatkan aku untuk mengutuk Rafie menjadi kodok setelah ini.

__ADS_1


🌼🌸🌼🌸To be continued 🌼🌸🌼🌸


__ADS_2