
Sangat sulit jika harus merangkai kata untukmu.
Saat kutemukan 1 kata yang pas, sayangnya aku harus menghapus lagi 2 kata.
Begitu seterusnya, hingga tak kusadari jika fajar telah menyingsing.
Kertas penuh coretan berserakan dimana-mana pada meja bahkan lantai kamarku.
Pada Akhirnya aku hanya harus bangga dengan 3 kata yang berhasil kutulis sepanjang malam,
“Selamat ulang tahun”
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# SHERINA POV#
“Terima kasih telah bersedia mengantarkan aku pulang.”
“Dan untuk semua yang kamu katakan tadi, aku anggap tidak mendengar apapun!”
“Permisi, selamat malam Tuan Gibran.”
Dengan tegas kukatakan aku tak setuju dengan pikiran gil*nya.
Namun sepertinya masih sama, aku selalu kalah cepat darinya.
Sebelum berhasil meraih pegangan pintu, Gibran lebih dulu meraih pergelangan tanganku.
“Sherina, kau yang paling tahu jika aku benci penolakan.”
Aku berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya namun sia-sia saja.
“Lebih baik kau membenciku daripada aku harus kembali lagi berurusan dengan pria temperamental sepertimu!”
Setelah ucapanku selesai, kurasakan cekalan tangan Gibran melemah.
Segera kutarik tanganku dan bergegas turun dari mobilnya tanpa pamit.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat, tidak sekalipun aku menengok ke belakang. Kurasakan ada buliran air mata yang menggenang di pelupuk mataku.
“Aku benci Gibran!”
Sebelum masuk ke lift, aku melirik sekilas mobil putih milik Gibran masih terparkir di tempat yang sama.
“Apa lagi rencananya?”
“Kenapa juga malam ini aku harus bertemu dengannya,” batinku.
Saat tiba di apartemen, segera ku ambil ponselku, lalu aku tumpahkan semua kekesalanku dengan mengoceh di grup obrolan bersama Harsya dan Rafie.
✉️[Sherina] Aku benci Gibran!
✉️[Rafie] Apa yang terjadi? Apa dia menyakitimu? Si*lan harusnya aku tak membiarkan dia yang mengantarmu pulang.
✉️[Harsya] What? Kenapa membiarkan Sherin bersama pria br*ngs*k itu?
✉️[Rafie] Kamu menyalahkan aku? Yang membatalkan janji siapa? Ini karena kamu yang tidak datang.
✉️[Harsya] Bukan aku tak ingin menepati janji, aku juga tak tahu jika jadwalku akan dimajukan.
“Hufftt ...” aku menghembuskan nafasku kasar.
“Mengapa jadi mereka yang bertengkar sih ..." gumamku.
✉️[Sherina] Sudah ... Sudah ... aku baik-baik saja. Dan sekarang aku sudah di apartemen. Next time akan kuceritakan apa yang terjadi, istirahatlah, selamat malam dan terima kasih telah mencemaskanku. Aku sayang kalian berdua.
Setelah mengirimkan pesan, aku bergegas ke kamar mandi. Aku ingin berendam yang lama malam ini.
Tubuh dan pikiranku sangat lelah. Mengapa setelah 6 bulan hidupku damai-damai saja, kenapa harus sekarang Gibran muncul lagi dan bersikap seperti ini.
Akan lebih baik jika saja dia membenciku dan tak ingin melihat wajahku, aku akan dengan senang hati melakukannya.
__ADS_1
Kulihat kembali ponselku, ada balasan pesan dari Harsya dan Rafie.
✉️[Harsya] Tidak, tunggu aku akan segera ke apartemen. Mana bisa aku tidur sebelum memastikan kamu baik-baik saja.
✉️[Rafie] Baiklah, kita bertemu di apartemen Sherina. Tapi sebelumnya aku harus menemui seseorang dulu.
Setelah membaca pesan balasan keduanya segera kurelakskan tubuhku di dalam bathtub yang sudah penuh dengan busa.
“Beruntung sekali aku memiliki Harsya dan Rafie. Cukup dengan mereka berdua saja dan juga bunda dalam hidupku, aku sudah sangat bersyukur,” batinku.
“Heemmm ... Aku suka wanginya, menenangkan kan.”
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Tiga puluh menit kemudian, suara Harsya terdengar memanggil dari luar pintu kamar mandi.
“Sherin, kamu baik-baik saja?”
“Ya, aku sedang berendam. Tunggulah sebentar,” teriakku dari dalam kamar mandi.
Tak kusadari jika aku sudah cukup lama berendam. Lebih tepatnya aku tak sadar sudah berapa lama pikiranku berkecamuk memikirkan pria itu.
Semakin ingin kuabaikan, ucapan Gibran semakin terngiang di benakku.
Setelah berpakaian kulirik jam di atas nakas, sebentar lagi pukul 12 malam.
“Semoga saat hari berganti, aku juga sudah melupakan ucapan Gibran," harapku.
Aroma harum dari arah dapur menuntun langkahku menuju sumber datangnya bau.
“Sya ... Kamu sendiri saja? Di mana Rafie?” tanyaku.
Harsya mengedikkan bahunya, “Dia sedang menemui seseorang lebih dulu.”
“Dan sepertinya orang itu adalah Gibran,” ujar Harysa.
“Ahh ... Aku tak sabar menunggu bagaimana wajah Gibran besok,” celotehnya sambil tertawa.
“Sherina, maafkan aku. Jika kutahu dia akan kembali mengancammu, tentu tak akan kubiarkan dia mendekatimu lagi,” sesal Rafie.
“Bukan salahmu. Sudahlah lebih baik kita makan, Harysa memasak hal yang luar biasa.”
Rafie ikut duduk di meja makan berhadapan denganku.
“Sejak remaja Gibran memiliki masalah dengan emosinya. Bukan hakku untuk bercerita mengenai masa lalunya. Yang perlu kamu tahu, sudah beberapa tahun terakhir dia terus-menerus menemui dokter untuk membantunya mengontrol emosinya yang sering meletup-letup,” ungkap Rafie.
Aku hanya diam, tak bisa berkomentar apapun. Sejak dulu kuakui Gibran memang sangat cepat terpancing emosinya. Tapi jika bersamaku, emosinya bisa 2 kali lebih cepat terpancing.
“Apalagi jika hal itu Ia rasa penting baginya, Gibran akan lebih bersikap posesif dan lebih mudah marah.” Sambungnya.
“Apa sekarang kamu menggiring opiniku agar berpikir jika Aku penting baginya?” tanyaku.
Gibran hanya mengedikkan bahunya.
“Aku berkata apa adanya, bukan karena dia saudaraku, semua yang kukatakan adalah fakta.”
Tak ingin Gibran semakin membayangi pikiranku, aku sengaja tak membalas lagi ucapan Gibran.
Aku tak ingin berpikir atau lebih parahnya jika Aku mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.
“Hanya fokus pada tujuanmu Sherina!” batinku mengingatkan.
Aku bahkan belum memulai tujuanku, sebab aku tak tahu harus memulai dari mana. Jadi jangan sampai aku teralihkan pada hal yang bisa saja malah menyakitiku.
Sudah hampir pukul 1, kulihat Harsya dan Rafie masih menikmati makan malam, ralat makan tengah malamnya.
Harusnya aku besok masih bisa tidur lebih lama jika tak ada pemberitahuan untuk hadir lebih pagi sebab akan diadakan rapat koordinasi bagi para dosen.
“Kalian berdua tidurlah di sini, sudah sangat larut. Aku tidur lebih dulu, besok pagi sekali ada kegiatan di kampus,” ucapku.
“Tidurlah kamu pasti lelah,” ucap Rafie.
__ADS_1
Saat aku hendak masuk ke kamar kudengar Harsya memanggil namaku, “Sherin ...”
“Ya?” jawabku.
“Mimpi indah, kamu harus bahagia, ingat?”
Aku tertawa sambil terus menganggukkan kepalaku, aneh sekali Harsya tiba-tiba mengucapkan kalimat seperti itu.
Sebelum memejamkan mataku, aku kembali teringat akan ucapan Gibran yang kini sudah terkontaminasi dengan ucapan Rafie.
“Apa benar aku penting untuknya? Tapi selama 7 tahun mengapa dia tak mencariku?”
🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Hampir saja aku bangun terlambat jika tidak menyalakan alarm tambahan pada ponselku.
Ada 1 notifikasi pesan yang masuk, senyumku terbit ketika nama Pak Sadewa tampak dilayar.
✉️ [Pak Sadewa] Selamat ulang tahun Sherina. Doaku sederhana, sesederhana perasaan yang kumiliki untukmu. Aku hanya ingin kamu, wanita yang mengisi sebagian hatiku menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku senantiasa mendoakan apa pun yang menurutmu baik dan menjadi kebaikan untukmu dan hidupmu. Selamat ulang tahun, aku selalu menanti saat kamu akhirnya bisa menerimaku dan masa laluku.
“Ulang tahun?” gumamku.
Segera kuperiksa tanggal hari ini, 6 Juni.
Yah ini adalah hari ulang tahunku. Jika bukan karena pesan berisi kata-kata manis dari Pak Sadewa mungkin saja aku akan melupakan hari ini.
Kurasakan kedua netraku mulai berkaca-kaca, aku mengingat kali terakhir aku merayakan ulang tahun bersama Ayah, Bunda, dan Shafiyyah.
“Aku rindu Bunda,” lirihku.
Segera kutelepon Bunda melalui ponsel Bu Ayu.
“Halo ... Sherina ...” ucap Bu Ayu menjawab di seberang telepon.
“Halo ... Bu Ayu, bagaimana kabar Ibu dan Bunda?” tanyaku.
“Alhamdulillah kami baik Nak,” jawabnya.
“Ibu sudah menunggu telepon darimu sejak pagi tadi, Ibu yakin hari ini kamu pasti ingin bicara pada Bundamu, kan?” sambungnya seolah tahu apa yang kupikirkan.
“Iya Bu, terima kasih dan maaf jika aku merepotkan Ibu,” ucapku dengan suara mulai serak karena menahan tangis.
“Hei ... Gadis yang berulang tahun tak boleh bersedih sayang, bicaralah, santai saja,”
Setelah ucapan Bu Ayu, lalu tak ada lagi suara yang terdengar dari seberang sana.
Hanya hembusan napas sesekali terdengar. “Bunda ... bagaimana kabar Bunda?” tak ada jawaban dari Bunda.
“Bunda ... aku baik-baik saja di sini, Bunda juga di sana baik-baik yah. Banyak istirahat yah, Bunda...” ucapku lagi.
“Hari ini usiaku sudah 26 tahun, terima kasih Bunda.”
Meski tak ada ucapan selamat ulang tahun dari Bunda, hanya dengan mendengar isak tangis di seberang telepon saja sudah jauh melebihi ekspektasiku.
“Terima kasih Bunda atas semuanya yang telah Bunda berikan padaku, terlalu banyak hingga tak bisa kusebut satu persatu.”
“Aku menyayangimu, Bunda.”
Dan air mataku pun luruh tak bisa terbendung lagi.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# RAFIE POV #
“Kamu yakin Sherina sudah pergi?” tanyaku pada Harsya yang tengah mengintip dari balik pintu.
“Sepertinya sudah aman,” jawab Harsya.
“Waktunya kita beraksi!” Ujarku menambah semangat kami pagi itu.
Demi mempersiapkan kejutan untuk sahabat, saudara kami yang tersayang, Sherina Khanza.
__ADS_1
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸