
Diam menjadi pilihan ketika lelah sudah mulai menyapa.
Diam menjadi pilihan ketika sudah tak ada kata-kata lagi yang mampu terucap.
Diam menjadi pilihan ketika sudah tak mampu lagi mengungkapkan perasaan.
Diam menjadi pilihan agar tak ada lagi orang yang tersakiti.
Namun bagaimana jika diam itu hanyalah bagian dari kepura-puraan.
Berpura-pura jika semuanya baik-baik saja hanya karena tak ingin lagi ada hati yang terluka.
Berpura-pura jika semuanya baik-baik saja namun jauh di dalam lubuk hati yang terdalam terasa begitu menyiksa saat potongan-potongan luka lama kembali terkikis.
Sangat pedih saat mengingat semua yang terjadi dulu.
Sangat sulit tiap kali harus menyembunyikan tangis di balik tawa.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
# SHERINA POV #
Berulang kali kubaca undangan reuni dari SMA El-Fatih yang dikirimkan oleh Nayla melalui aplikasi obrolan pada ponselku. Dan berkali-kali pula aku harus menarik napas panjang dan kembali mengembuskannya.
Aku menimbang-nimbang apakah aku harus hadir pada reuni tersebut atau tidak. Lalu jika aku memilih untuk hadir, apakah aku harus tampil sebagai Sherina Si Culun atau Sherina si dosen cantik idola para mahasiswa.
“Sepertinya aku sudah tertular jiwa narsisme Harsya,” gumamku lirih.
Entah sudah berapa lama aku melamun, yang pasti aku tak menyadari sejak kapan Gibran berada di ruanganku dan sudah berapa lama ia duduk di depan meja kerjaku.
“Astaga … kau membuatku kaget,” pekikku.
“Kau?” ulangnya dengan kening mengernyit.
Benar juga, pikirku.
Seketika aku sadar jika saat ini kami berdua berada di dalam wilayah kampus. Hal itu berarti aku hanyalah butiran debu jika dibandingkan dengan Gibran, yang merupakan pimpinan sekaligus pemilik kampus tempatku mencari nafkah.
“Ma-maaf Pak Gibran El-Fatih yang terhormat,” ucapku. Sengaja kuakhiri sapaanku dengan senyum yang terpaksa.
“Itu terdengar lebih baik,” balasnya, “Jadi apa kau akan hadir?” tanyanya sambil mengetuk-ngetuk jemarinya di atas mejaku.
"Menghadiri apa?” tanyaku ketus.
Sontak Gibran berdecih lalu meraih ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamanku. Kemudian ia mengarahkan layarnya tepat ke depan wajahku.
“Masih bingung?” tanyanya.
Aku menggeleng setelah berhasil melihat yang tampak pada layar ponselku.
“Entahlah, belum bisa kupastikan aku akan hadir atau tidak."
“Memangnya kenapa Pak Gibran yang terhormat ingin tahu soal itu?” tanyaku.
Sementara yang ditanya hanya mengedikkan bahunya tanpa memberikan jawaban yang jelas.
Lalu hanya dalam hitungan detik, ponselku yang baru saja diletakkan oleh Gibran ke atas meja tiba-tiba saja berdering.
Tampak nama Nayla di layarnya, membuat keningku mengernyit.
Bukan karena ingin tahu alasan mengapa Nayla menghubungiku, melainkan aku jadi curiga ketika Gibran kini sedang senyum sendiri.
__ADS_1
Semakin curiga tatkala kulihat Ia seperti sedang menahan tawa..
“Aku curiga, perasaanku kok tiba-tiba gelisah yah …” monologku.
“Halo Nay … a-“ ucapanku bahkan belum selesai ketika Nayla, wanita yang biasanya menyapaku dengan lemah lembut kini suaranya sedang memekik ditelingaku.
“Kamu balikan sama Gibran?” pekik Nayla.
“Kata siapa?” tanyaku balik dengan tatapan tajam menuju pada Gibran.
"Tentu saja kata kamu!" jawab Nayla dengan kesal.
Ternyata hal ini yang membuat Gibtan sejak tadi terus menahan tawanya.
“Apa kata kamu!” balasnya.
“Kapan? Sepertinya aku tak per-“ kini aku paham maksud dari senyuman itu.
Segera kuperiksa kembali riwayat pesanku bersama Nayla, dan kekesalanku rasanya ingin meledak saat melihat balasan pesan yang dikirim Gibran pada Nayla.
--------------------------------------
✉️ To : Nayla
Tentu aku akan hadir di reuni, tapi maaf aku tak akan pergi bersamamu. Malam ini aku akan pergi bersama kekasihku, Gibran.
Maaf, dan sampai bertemu di sana.
----------------------------------------
Segera aku beranjak dari tempatku dan kini berdiri di depannya dengan kedua tanganku ku letakkan di pinggang.
“Pak Gibran yang terhormat!” ucapku dengan penuh penekanan di setiap katanya.
“Siapa yang mengizinkanmu membalas pesan Nayla?”
“Harusnya kamu berterima kasih. Aku sudah membantumu memutuskan hal yang sejak pagi terus membuatmu tak fokus,” jawabnya seakan semua yang Ia lakukan itu benar.
Tak ada penyesalan di wajahnya setelah berani mengusik hal pribadi milikku.
“Terima kasih katamu? Aku tak suka ponselku di lihat oleh orang lain," balasku.
"Lagian tahu dari mana kalau aku sejak pagi tak fokus?” tanyaku.
“Jika sejak pagi kamu normal-normal saja, maka tak mungkin aku ada di sini sementara pekerjaanku menumpuk di kantor pusat,” jelasnya.
“Apa hubungannya?” Pekikku.
Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Bagaimana bisa Gibran tahu hal yang terjadi padaku sedangkan dirinya berada di tempat yang berbeda? , batinku.
“Jangan katakan jika kamu mengawasiku?” tuduhku.
“Aku selalu menjaga apa yang menjadi milikku, meskipun hal itu masih calon,” jawabnya tanpa rasa bersalah.
Aku hanya bisa menutupi bibirku yang terbuka dengan kedua tanganku.
Astaga ... dugaanku benar, Pikirku.
“Jika iya, bukan masalah kan?” tanyanya.
Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan lagi, rasanya bibirku keluh. Sumpah serapah dan makian yang kusiapkan sejak lama khusus untuk Gibran sepertinya menghilang dari otakku.
__ADS_1
Sejak kapan aku menjadi calon miliknya pun aku tak tahu. Sepertinya aku perlu merasa khawatir dan waspada dengan yang akan terjadi setelah ini, pikirku.
“Sekarang ayo kita pergi, kita harus bersiap menjadi pasangan paling sempurna di reuni itu,” ucap Gibran dengan semangat.
Aku hanya bisa menarik napas panjang lalu mengembusnya kasar.
“Tapi aku masih harus mengajar 2 kelas lagi setelah ini,” tolakku.
Gibran diam sejenak, aku lega karena kukira Ia telah menyerah.
“Baiklah, aku akan menunggumu sampai selesai,” ucapnya acuh.
Ternyata usahaku berbohong pun tak berhasil. Mana mungkin dia tak tahu jadwalku, jika hal kecil seperti aku yang uring-uringan saja dia tahu.
“Pak Gibran yang terhormat, apa Anda begitu santainya hingga mencari kesibukan dengan mengusikku?” tanyaku.
Dan sekali lagi aku dibuat terperangah tak percaya, dengan anggukan kepala Gibran yang membenarkan ucapanku.
“Maka silakan beri aku kesibukan, kumohon.”
Aku hanya bisa menghela napas saja melihat tingkah dari orang nomor 1 di El-Fatih Insan unggul.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Aku selalu kalah dari Gibran, batinku.
Pria ini memang selalu punya 1001 alasan dan cara untuk bisa meruntuhkan tembok pembatas yang sengaja kubangun di antara kami.
Fokusku kini seharusnya bukan mengenai percintaan, melainkan bagaimana aku bisa membuka kembali kasus kecelakaan orang tuaku.
Aku tak ingin Gibran kembali masuk ke dalam kehidupanku. Namun sayangnya semua itu hanya sebatas keinginanku saja.
Terbukti saat ini aku terpaksa mengikuti keinginan Gibran untuk memilih pakaian bersama.
Rencana Gibran, pakaian itu akan kami gunakan ke acara reuni nanti.
“Rin .... Sherina!” seru Gibran membuyarkan lamunanku.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm?” tanyanya.
Sekali lagi Gibran sukses membuat pipiku merona, dengan cara salah satu tangan nackal miliknya yang membelai pipiku dengan punggung jarinya.
“Tidak ada apa-apa,” balasku sembari menepis tangan Gibran yang membelai pipiku.
Tanpa kami sadari, adegan romantis bagai drama Korea barusan ternyata ikut disaksikan oleh beberapa orang pegawai butik yang sudah membuka pintu dan sedang menanti kami masuk.
Sudut mataku menyipit tatkala menyadari jika butik yang kami datangi saat ini adalah butik milik Mami Laila, ibunda Rafie.
Kenapa harus butik ini? pikirku.
"Kenapa dari sekian banyak butik di Jakarta, kenapa harus di sini?" akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
Gibran menghentikan langkahnya, Ia menatapku dalam lalu mendekatkan tubuhnya seperti orang yang hendak berbisik.
"Kamu wanita cerdas Sherina, tanpa perlu kujelaskan kau pasti tau alasannya," bisiknya tepat di telingaku.
Embusan napasnya bahkan berhasil membuatku sedikit meremang.
"Gibran, kamu di sini ... " ucap seorang wanita yang tampak sangat terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
Dan aku sadar, Gibran tak hanya pemaksa. Dia juga adalah pria licik.
__ADS_1
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌸🌼🌸🌼