
Aku ingin menjadi satu-satunya dan yang paling utama bagimu.
Meski aku tahu, jika aku sudah banyak menggurat luka di hatimu.
Namun aku masih ingin percaya jika waktu akan menjadi penyembuh segalanya.
Meski yang bisa kulakukan kini hanya menjagamu bertahan di sisiku, sembari aku membantumu pulih lalu siap kembali merajut tali kasih yang sebenarnya.
Hilangkan semua perasaan jera.
Bersamaku kembali kita rangkai cerita cinta baru.
Bersamaku mari kita meremang bersama dalam tawa kebahagiaan.
Bersamaku mari kita saling bersandar saat kejinya dunia mulai menyerang tanpa belas kasih.
Bersamaku mari kita bagi rata setiap tawa dan tangis dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup yang akan kita lalui berdua.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
# GIBRAN POV #
Efek kurangnya tidurku semalam, kini tampak sangat jelas di wajahku.
Pagi ini aku memaksakan diri untuk berangkat ke kantor dengan 5L, lesu, lemah, letih, lelah dan lalai.
Senyuman para karyawan menyambutku, namun seperti biasa tak ada satu pun yang kubalas.
Begadang semalaman ternyata membuahkan hasil juga. Aku akhirnya memiliki cara untuk mengikat Sherina disisiku.
Jika tak ingin mengalami penolakan, biarkan kugunakan cara licik dan memaksa seperti dulu lagi.
Tampak Rey sudah berdiri siap membuka pintu ruang kerjaku.
“Selamat pagi Tuan,” sapanya.
“Pagi ... ayo masuk,” balasku.
“Ada sesuatu yang ingin kubahas,” sambungku.
Rey mengangguk patuh. Ia ikuti langkahku hingga kini ia berdiri di depan meja dan aku duduk bersandar di kursi kebesaran milikku.
“Berikan banyak bantuan pada lembaga sosial tempat ibu Sherina kini berada,” perintahku.
“Aku ingin menjadi orang berpengaruh di sana.”
Rey mengangguk mantap. Aku tahu pasti jika dia sudah paham apa yang harus dilakukannya.
“Satu lagi, malam nanti kosongkan jadwalku. Aku ingin bersama Sherina malam ini,” Ujarku.
“Baik Tuan,” jawab Rey sebelum keluar dari ruanganku.
Hari ini pekerjaanku cukup banyak. Ada beberapa pertemuan yang harus kuhadiri sejak siang tadi.
Hari sudah mulai senja saat aku dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku melirik ke arah bagasi mobil, kulihat ada sebuah koper yang biasa kugunakan.
Siapa yang mau berangkat? Apa isinya koper itu? Sepertinya pagi tadi tak ada, batinku.
“Rey, kau mau keluar kota yah?” tanyaku yang dijawab gelengan kepala olehnya.
“Lalu koper itu?”
“Itu koper Anda tuan,” jawabnya.
Keningku mengernyit, “Bukankah sudah kukatakan jika malam ini aku ingin menemui Sherina?”
Aku yang tadinya bersandar pada kursi penumpang di samping Rey, rasanya ingin menendang Rey keluar dari dalam mobil.
“Karena anda ingin bertemu dengan nona Sherina hingga aku menyiapkan koper,” ucapnya.
“Nona Sherina dan Tuan Martin sedang menghadiri seminar nasional yang di langsungkan di Surabaya,” sambungnya.
__ADS_1
“Ini tiket pesawat anda, sedang hotelnya sudah kusiapkan di hotel yang sama dengan nona Sherina.”
Apa? Pekikku dalam hati.
Entah kini aku harus memujinya atau benar-benar melancarkan rencanaku untuk menendang Rey keluar dari dalam mobilku.
Andai saja bisa terlihat, mungkin saat ini Rey bisa melihat asap mengepul dari atas kepala dan kedua telingaku seperti adegan di film-film kartun.
“Astaga Rey!”
“Kenapa baru memberitahuku sekarang?” tanyaku.
“Aku hanya mengikuti perintah anda, tuan.”
“Bukannya anda yang bilang ingin menemui nona Sherina malam hari,” jelas Rey.
Inginku marah saja, namun ucapan Rey ada benarnya juga.
“Dan juga pertemuan hari ini semuanya sangat penting, Tuan.”
“Saya hanya ingin menghindari kemurkaan tuan besar Nadim pada anda,” sambungnya.
“Baiklah, kali ini kau kumaafkan,” ujarku.
“Berapa lama aku dan Sherina akan berada di Surabaya?”
“Seminarnya akan berlangsung selama 2 hari. Jadwal anda sudah saya kosongkan selama itu.”
Pintar ... beruntung aku tak jadi menendangnya keluar dari mobil, batinku.
Aku akhirnya tersenyum mendengar ucapan Rey. Aku tak sabar menghabiskan waktu berdua hanya bersama Sherina.
Kupastikan kali ini, Sherina tak bisa menolak lagi untuk kembali padaku.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Cacing-cacing penghuni perutku sejak tadi terus berdemo meminta segera diberi makan.
Sebenarnya hal seperti ini yang tak aku suka jika bepergian tanpa Rey, asistenku.
Proses check-in hotel dan proses-proses administrasi lainnya membuatku geram dan bosan.
Aku lapar, batinku.
Aku masih berdiri di depan front office hotel saat netraku menangkap sosok wanita cantik dengan gaun selutut berwarna burgundy yang pas melekat menampilkan liukan sempurna tubuhnya.
“Pak Sadewa .....” teriaknya memanggil nama seorang pria.
Hal itu tentu saja tak bisa kuterima.
Di depan mataku, kulihat Sherina-ku bersama dengan pria lain yang cukup tampan meski tampak lebih dewasa.
Siapa dia? Batinku.
Tanpa memedulikan ucapan karyawan wanita dari hotel yang sejak tadi terus saja berusaha menggodaku, kulangkahkan kakiku mendekati Sherina yang kini sudah bersama seorang pria.
“Sherina ....” seruku.
Bisa kulihat raut wajah terkejut Sherina, sementara sang pria tampak biasa-biasa saja.
“Gi- Gibran,” ucapnya terbata.
“Sayang ... maaf aku datang terlambat,” Ujarku. Volume suaraku dengan sengaja ku naikkan dari yang biasanya.
Sontak wajah datar milik pria di hadapanku berubah menjadi terkejut.
“Sayang?” ulangnya sambil menatap penuh tanya pada Sherina.
“Gibran!” pekik Sherina.
Sementara aku dengan acuh meraih pinggang Sherina, membawanya dalam rengkuhanku.
__ADS_1
“Ayo kita makan malam ... dan maaf jika aku membuatmu menunggu. Aku menyesali pertengkaran kita semalam,” ucapku tanpa peduli dengan pria di hadapan kami.
Aku tak peduli dengan pria itu. Mau dia sampai pingsan karena syok pun aku tak peduli.
“Ta-tapi aku sudah memiliki janji dengan Pak Sadewa,” ucap Sherina.
Aku melirik ke arah pria yang sempat menyunggingkan senyum saat Sherina menyebut namanya.
“Baiklah ajak dia ikut malam bersama saja,” ucapku.
Aku bertingkah seolah pria itu yang menjadi pengganggu dalam rencana makan malam kami.
Dan rencanaku berhasil sepertinya berhasil.
“Maaf jika aku mengacaukan janji temu kalian malam ini,” ucapnya.
“Tak apa Sherin, kita bisa makan malam berdua lain waktu,” ungkapnya sambil membelai puncak kepala Sherina di hadapanku.
Di hadapanku! Si*l dia berani menyentuh wanitaku, batinku.
“Tidak Pak, Pak Sadewa tidak menggangu kok.” Ucap Sherina.
“Bagaimana jika kita makan malam bertiga?” usul Sherina.
Pria itu kulihat tersenyum manis ke arah Sherina.
"Baiklah," ucapnya lembut.
Siapa dia?
Seingatku tak ada lagi pria selain Harsya dan Rafie dari catatan yang diberi oleh Rey, batinku.
Jadi siapa dia?
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Sherina berulang kali ingin melepas rangkulanku dari pinggangnya.
Tapi ingat bukan, aku ini Gibran si Pemaksa.
Tak kubiarkan Sherina menjauh dari rengkuhanku.
Tempat tujuan kami untuk makan malam adalah sebuah restoran di lantai 28 hotel ini.
Restoran dengan pemandangan kolam renang out door di balik pintu kaca merupakan salah satu pemandangan indah.
Di sana sangat jelas pantulan cahaya rembulan, berkelap kerlip.
“Jadi bisakah anda memperkenalkan diri?” Ujarku tegas.
“Tentu saja,” balasnya, “Perkenalkan aku Sadewa, aku rektor di kampus Sherina dulu saat di Jogja.”
Pria bernama Sadewa itu kudapati tersenyum sangat manis pada Sherina-ku saat ia mengakhiri perkenalannya.
Lalu seketika kembali menampakkan wajah datarnya saat beralih menatap padaku.
“Lantas anda siapa? Bisakah perkenalkan nama dan ada hubungan apa dengan Sherina?” tanyanya.
Masih dengan aura dinginnya, “Sherina harus konfirmasi identitas anda. Jika tidak sesuai dengan ucapan Anda, mohon maaf jika saya terpaksa memanggil keamanan,” ujarnya.
Kuyakin kini wajahku memerah, kedua tanganku mengepal.
“Aku kekasih Sherina,” ungkapku.
Wajah angkuh Sadewa sempat tampak pias mendengar pengakuanku. Namun segera berubah menjadi senyum mengejek saat Sherina menyela.
“Mantan. Lebih tepatnya mantan kekasih,” ujar Sherina.
Boom.....
Si*l Sherina ..... kau baru saja membuatku malu! Batinku.
__ADS_1
🌼🌸🌼🌸 To be continued 🌸🌼🌸🌼