Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 26. Belum terlambat, kan?


__ADS_3

Kamu yang tiba-tiba datang di hadapanku dengan sebuah kejutan manis.


Sederhana, namun kejutanmu ini membuatku melupakan sejenak lelah, kesulitan, atau kesibukan yang tengah kuhadapi.


Melepaskan segala benih-benih stres di dalam benakku, dan mengubahkan jadi semangat yang baru.


Sentuhan ringan seperti elusan di kepalaku, atau rengkuhan ringan di pundakku,


Mampu membuatku melepas lelah, kepenatan, serta segala kekesalanku.


Bukankah semua itu hal yang sederhana?


Tak perlu berusaha keras atau banyak mengumbar kata-kata.


Cukup di sampingku dan perlakukan aku dengan baik.


Setiap hal kecil yang kamu lakukan, membuatku senang.


Energimu membuat semangatku turut bertambah.


Setidaknya semua kejutan ini mampu membuat pikiranku seharian ini lupa dengan segala rutinitas yang sangat melelahkan.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


# SHERINA POV #


Di mana kini kakiku berpijak pun aku tak tahu. Sebab sejak menjemputku secara tiba-tiba yang kukategorikan sebagai penculikan dengan pelakunya adalah sahabatku sendiri.


“Sampai kapan aku harus menutup mata?” Keluhku.


“Sabar dong, bentar lagi juga sampai,” jawab Harsya.


Tak lama kemudian kurasakan mobil berhenti. Lalu Harsya menuntunku turun dari mobil. Sesekali Ia akan mengingatkan jika ada lubang atau batu yang menghalangi langkahku.


Aku mengikuti Harsya dan Rafie, berhenti entah di mana atau entah apa yang ada di hadapanku kini.


Kurasakan ikatan kain pada mataku mulai mengendur .


Dan ketika kain itu enyah dari mataku, maka perlahan netraku mencoba menyesuaikan dengan cahaya di sekitar.


Aku hanya bisa berdiri mematung saat akhirnya netraku bisa menangkap dengan sempurna apa yang kini ada di hadapanku.


Sebuah bangunan rumah, lebih tepatnya jika sekarang rumah itu disebut model rumah tua.


Dengan pagar kecil dan pendek, tanpa carport apalagi garasi, sebab sebagian besar halamannya dipenuhi dengan tanaman.


Tiba-tiba sekelebat bayangan seorang gadis kecil bermata abu kebiruan sedang berlari-lari tanpa menggunakan alas kaki di halaman rumah itu. Sementara Sang Ayah sedang asyik membaca berita di koran, dan Sang Bunda yang baru saja bergabung setelah menyiapkan seduhan teh untuk menemani sore keluarga kecil yang bahagia.


Air mata dari kedua pelupuk mataku akhirnya berlinang tanpa aba-aba. Semakin jelas tawa anak kecil itu dibayanganku maka semakin terisak pula aku dengan tangisanku sendiri. Bahkan kini kedua bahuku ikut bergetar.


“Ini rumah masa kecilku,” ucapku lirih.


Kurasakan rengkuhan di pundakku, bukan hanya dari seorang saja, tapi dari 2 orang yang selalu ada di masa-masa tersulitku.


“Dan akan tetap menjadi rumahmu hingga nanti,” ucap Harsya.

__ADS_1


“Selamanya akan menjadi rumahmu, Mi cielo,” sambung Rafie.


“Apa maksud kalian?” tanyaku.


“Ini adalah hadiah ulang tahun untukmu dari kami berdua” jelas Harsya.


Logikaku mengerti maksud keduanya , tapi hati kecilku takut kecewa, jadi lebih baik kupastikan saja.


“Ayo masuk, dan lihat kejutan apa yang ada di dalam sana,” ujar Rafie.


Dengan keduanya yang merengkuh pundakku, kami berjalan melewati pagar, lalu melewati taman, dan tiba di teras.


Meski tak ada lagi kursi teras kayu favorit Ayah di sana, tapi sebagian besar semuanya sama.


Harsya memberikan aku kunci, perlahan kubuka pintunya, dan yang ku dapati pertama adalah ruang tamu yang berhiaskan banyak balon dan hiasan ulang tahun.


“Selamat ulang tahun, Sherina,” ucap Harsya.


Ia lepaskan rengkuhannya lalu memelukku dan sekali lagi mengucapkan selamat ulang tahun.


Dilanjutkan dengan Rafie yang melakukan hal yang sama.


Setelah itu kami menuju ke halaman belakang, seingatku di halaman belakang dulu adalah taman bunga anggrek milik Bunda, tapi kini taman anggrek itu telah berubah menjadi kolam ikan. Dan ini menjadi hal pertama yang berubah dari rumah ini.


“Ayo tiup lilinnya,” seru Harsya dengan kedua tangan membawa kue ulang tahun yang berlumuran cokelat.


Kubuat permohonan agar semua orang yang menyayangiku selalu diberikan kebahagiaan, lalu segera kutiup lilinya dengan penuh rasa syukur sebab hari ulang tahunku kali ini kembali aku lewati bersama-sama dengan orang yang ku sayangi dan menyayangiku .


Setelah aku puas berkeliling rumah barulah kami menikmati hidangan makan malam yang sudah disiapkan Rafie dan Harsya.


Aku semakin dibuat takjub saat kamar utama sudah terisi dengan barang-barang yang sebelumnya kutinggalkan di apartemen Harsya.


Larut malam semakin menjelang, Rafie dan Harsya pamit pulang pada pukul 10 malam. Sepeninggal keduanya, rumah ini nampak semakin sepi, hanya aku dan segala kenangan tentang Ayah dan Bunda dulu.


Kupilih kembali ke kamar, dan merapikan beberapa barangku.


Hingga suara bel pintu menghentikan aktivitasku.


Aku berlari menuruni tangga, seperti yang sering kulakukan dahulu.


Bunyi bel pintu yang terus-menerus menandakan jika mungkin saja yang bertamu adalah orang yang tak sabaran.


Ceklek ...


Pintu terbuka, dan aku akhirnya bemar-benar merasa terkejut.


“Selamat ulang tahun,” ucapnya.


Aku masih berdiri mematung.


“Apa aku sudah terlambat? Sepertinya masih ada sejam lagi sebelum hari esok tiba,” sambungnya.


Dan aku masih tetap mematung.


“Apa kau benar-benar akan membiarkan lilinnya meleleh hingga habis tak bersisa?” tanyanya.

__ADS_1


Aku tersadar dan buru-buru meniup lilin angka 26 yang sudah meleleh hampir setengahnya.


“Dari mana kamu tahu aku di sini? Dan siapa yang memberi tahu jika hari ini ulang tahunku?” tanyaku.


“Karena aku Gibran El-Fatih, aku akan tahu semua yang ingin kutahu. Begitu juga dengan apa yang ku inginkan, aku akan mendapatkannya,” ujar Gibran dengan angkuhnya.


“Apa kau tidak tahu caranya menerima tamu yang benar?” sindirnya.


“Tentu, tapi hanya berlaku jika orang itu juga tahu waktu untuk bertamu di rumah orang lain,” balasku tak ingin kalah.


“Baiklah, aku mengaku salah datang pada jam istirahatmu,” ucapnya.


“Tapi aku tak ingin lagi kehilangan momen ulang tahunmu,” lanjutnya.


Aku menyipitkan mataku, mengamati raut wajah Gibran, namun yang kudapati hanya keseriusan di sana.


“Bisakah kau membantu dengan menerima kue ini?” sarkasnya.


Segera aku mengambil kue dari kedua tangan Gibran, setelah kue berpindah ke tanganku dengan gerakan secepat kilat pria itu lalu mengecup puncak kepalaku sekali.


“Selamat ulang tahun,” lirihnya.


Mataku membola. “Gibran, kau sengaja yah!” pekikku.


Gibran hanya terkekeh, akhirnya rencananya berhasil.


Dengan kedua tangan Sherina yang masih memegang kue ulang tahun, Gibran beralih berdiri di belakangnya lalu menuntun wanita itu menuju mobilnya. Tak lupa Ia menutup pintu rumah Sherina lebih dulu.


“Ayo masuk,” ucapnya setelah membuka pintu mobil.


Aku menggeleng. “Kali ini benar-benar aku akan diculik,” batinku.


“Masuk sendiri, atau aku yang akan –“


Segera kuhentikan ucapannya dengan beranjak masuk ke dalam mobil.


Ku lihat sekilas Gibran tersenyum penuh kemenangan. Dan beberapa saat kemudian mobilnya mulai melaju setelah Ia memasangkan seatbelt dan memindahkan kue ke kursi belakang mobilnya.


Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan ibukota yang lengang.


“Aku akan melaporkanmu dengan tuduhan penculikan,” ancamku.


“Silahkan saja jika bisa,” balasnya.


Dan seketika aku menjadi lemas, ketika menyadari jika aku melupakan ponselku di kamar.


Raut wajah kecewaku mungkin tampak lucu bagi Gibran, pasalnya kini pria itu hanya tertawa.


Dan aku, aku hanya bisa bersandar mencari posisi nyaman.


“Tidurlah, aku akan membangunkanmu saat kita sampai,” ucapnya saat aku memejamkan mataku.


“Oh My God, tolong beri aku kekuatan seperti jin botol yang bisa menghilang,” batinku.


🌼🌸🌼 🌸To be continued 🌼🌸🌼🌸

__ADS_1


__ADS_2