
Untukmu yang dengan bangga kuperkenalkan Ia sebagai ‘Sahabatku’.
Melalui perkenalan yang tidak biasa, siapa yang menyangka jika persahabatan kita akan sampai disini.
Aku dan kamu, kita memilki kenangan kelam kita masing-masing di masa lalu.
Tapi terima kasih karena masih mengizinkanku masuk mengisi lembaran kisah dalam kehidupanmu.
Terima kasih untuk segala waktu yang telah kau korbankan hanya agar aku tidak merasa kecewa.
Terima kasih untuk semua ocehanmu yang penuh kejujuran dan kasih sayang. Meski kadang aku kesal, tapi ketahuilah itu adalah caramu mengatakan “You know me better.”
Terima kasih karena selalu ada, saat aku diterpa badai hidup, aku terjatuh dan terpuruk serta dihujat oleh dunia, di saat itu kau lah yang berlari kencang untuk menemuiku , memelukku, menghapus tetasan air mataku, lalu mengucapkan kata-kata penyemangat untuk membuatku tetap teguh berdiri.
Setiap saat aku butuh kamu, kamu di sana untukku.
Setiap saat kamu butuh aku, aku di sana untukmu.
Teruntuk sahabatku, saudaraku meski tanpa ikatan darah yang sama.
Aku menyayangi kalian.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# RAFIE POV #
[Flashback, malam sebelum ulang tahun Sherina]
Beruntung ini sudah larut malam, hingga emosiku tidak perlu semakin diperparah dengan macetnya jalanan Ibukota.
Tujuanku saat ini adalah sebuah klub malam. Aku akan berpesta di sana ... akan kubuat tempat itu semakin ramai dengan kehadiranku.
Aku tak peduli pada mobilku yang kuparkirkan dengan asal, aku masih punya banyak mobil yang lain.
Tapi kesempatanku untuk melayangkan tinjuku di wajah tampannya hanya saat ini saja.
BRAAAAKKKK !!!
Kudorong dengan kasar pintu ruangan VVIP, di sana kulihat pria yang kucari tengah menyeringai dengan wajah angkuhnya padaku.
“Jadi dugaanku benar, dia akan mengadu padamu” ujarnya saat aku bahkan masih mengatur nafasku agar tidak terlalu membabi buta saat menghajarnya.
“Tentu saja dia akan mengadu padaku,” balasku.
“Jika bukan aku, siapa lagi pria yang menjadi tempatnya mengadu? Jangan-jangan kamu masih berharap jika itu adalah dirimu?” sindirku.
Kulihat rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat.
“Selama ini, kamu kupercaya, kuceritakan semua padamu, namun ternyata dibalik itu semua selama 8 tahun kau membohongiku,” ucapnya sembari melangkah mendekatiku tanpa rasa takut.
“Kau tahu dia di mana bahkan kau sering bersamanya, menghabiskan waktu bersama di saat aku sibuk berusaha melupakan perasaan yang kupunya untuknya,” lanjutnya.
“Untuk apa aku memberitahukan keberadaannya padamu?” balasku tak kalah penuh emosi.
“Supaya kau bisa menyakitnya lagi? Kau mau menyiksanya lagi?”
“Jangan kira aku akan membiarkanmu melakukan hal itu lagi padanya!” Ucapku dengan tegas.
Bisa ku lihat-temannya yang lain menatap heran pada kami, mereka pasti tak paham dengan perdebatan kami.
“Meski kau tak mengizinkan, aku akan tetap merebut Sherina kembali. Sejak dulu dia milikku, sampai kapanpun akan begitu!” Bentaknya.
“Si#lan ... tak kusangka punya saudara br#ngsek sepertimu!”
Dan ...
BUUUGGGHHH ........
Satu pukulan mendarat di wajah tampan adik sepupuku, Gibran.
Aku menyeringai melihat ada bercak darah di sudut bibirnya.
“Harusnya kau berterima kasih sebab aku membawanya padamu, harusnya kau bisa bersikap lebih baik padanya,” Ujarku.
__ADS_1
“Jangan ikut campur, jangan mengguruiku aku punya caraku sendiri untuk membuatnya tinggal selamanya di sisiku.”
“Baik aku tak akan ikut campur, tapi saat ku tahu jika kau menyakitinya lagi, maka aku sendiri yang akan membawanya pergi!” Ancamku.
Lalu saat aku hendak berbalik pergi dari ruangan itu, pertanyaan Gibran menghentikanku.
“Fie, Bagaimana perasaanmu padanya? Apa kau juga menginginkannya?”
“Aku menyayanginya.”
Kemudian aku segera berlalu meninggalkan tempat itu.
“Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi dirimu, kalian berdua kusayangi sebagai adikku.” Batinku.
[Flashback End]
🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Aku dan Harsya kini tengah berdiri didepan sebuah rumah. Rumah ini tampak asri, meski bangunannya masih model lama, tapi cukup terawat dan masih sangat kokoh.
Aku yakin pemiliknya terdahulu merawat dengan baik rumah ini.
Yah, ini adalah rumah masa kecil Sherina, dan di sinilah aku dan Harsya akan menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya.
Sengaja kami sudah membawa sebagian besar barang-barang milik Sherina dari apartemen, bukan berniat mengusirnya hanya saja memastikan agar wanita itu tidak menolak kado pemberian dari kami berdua.
Susah payah tim pengacaraku membujuk pemilik rumah ini untuk bersedia menjual dan pindah dari rumah ini hanya dalam kurun waktu seminggu.
“Semoga Sherina menyukai kado kita yah,” ucapku.
“Tentu dia harus menyukainya, kita bersusah payah melakukan ini untuknya,” jawab Harsya.
Aku menatap Harsya, rasanya akhir-akhir ini kami jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukan masing-masing.
“Sya, bagaimana jika sebelum menjemput Sherina kita mampir sebentar ke kantorku?" ajakku.
“Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak, jangan sampai rencana kejutan kita untuk Sherina berantakan,” tolaknya.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼
“Huuffttt ... Akhirnya persiapan selesai,” Ujarku lega.
Kami sengaja menghias area taman belakang yang dekat dengan kolam ikan untuk merayakan ulang tahun Sherina.
Kue ulang tahun dengan lilin angka 26 diatasnya.
Makanan yang disiapkan oleh koki dari hotelkupun sudah tersaji dengan sangat cantik di atas meja makan.
Kamar utama yang bersada di lantai 2 dan ruangan lainnya sudah dirapikan oleh beberapa staf dari hotelku.
“Sekarang saatnya kita menjemput sang empunya acara, sudah siap memberinya kejutan?”
“Tentu saja, aku yakin Sherina pasti akan sangat senang.”
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# SHERINA POV #
Pagi ini rasanya aku kesal sekali pada Harsya dan Rafie, apa mereka berdua benar-benar melupakan hari ulang tahunku.
Bahkan pagi ini, mereka masih tidur saat aku harus berangkat ke kampus.
“Pak Sadewa saja ingat, mengapa mereka tidak?” gerutuku.
“Ingat apa? Dan siapa Pak Sadewa?”
Suara bariton yang tak asing menyapa Indra pendengaranku.
Bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya di ceruk leherku.
Awalnya aku ingin membalasnya dengan ucapan setajam silet, tapi aku tertegun saat melihat ada bekas luka dan lebam di wajah tampannya.
Tanpa sadar atau dasar tanganku yang nakal, kuusap lembut bekas luka di sudut bibirnya.
__ADS_1
“Apa Rafie yang melakukan ini?” tanyaku.
“Hemm ... “ jawabnya dengan mata terpejam
“Tak kusangka Rafie benar-benar melakukannya,” lirihku.
Aku baru tersadar saat Gibran ikut memegangi tanganku.
Segera kutarik dengan kasar tanganku, ada perasaan antara rela dan tak rela, antara kecewa dan takut-takut jika ada orang lain yang melihat.
“Ma ... maaf, aku tak bermaksud aneh. Apa itu perbuatan Rafie?”
Gibran berdecih. “Sejauh apa hubunganmu dengan Rafie? Ini pukulan pertamanya padaku. Bahkan saat kami latihan bela diri bersama, dia tak pernah memukulku.”
“Kami sangat dekat, dan kau tak perlu tahu urusan kami berdua,” ucapku lalu melangkah pergi tanpa menghiraukan Gibran yang terus berbicara.
“Kau tahu aku sudah memperingatimu, jika aku tak suka kau dekat dengan pria mana pun. Meski itu Rafie,” ucapnya.
“Bukan urusanmu!” Jawabku ketus.
“Jika Rafie saja bisa melukai wajahku, maka aku juga bisa membalasnya. Tapi semua keputusan ada di tanganmu,” ucapnya santai.
“Semalam aku membiarkannya, sebab kutahu aku memang melakukan kesalahan. Tapi saat ini aku sudah memperingatimu berkali-kali, jadi pilihannya ada di tanganmu sekarang.”
Kuhentikan langkahku, hingga Gibran pun ikut berhenti melangkah.
Rupanya dia benar-benar mengikutiku. “Pergilah! Berhenti mengusikku.”
“Kau mengusirku? Beraninya kau mengusir pemilik kampus ini,” ujarnya.
“Benar juga, bisa-bisa aku yang diusir dari kampus ini,” batinku.
Lalu aku kembali berjalan menuju ruang tempat rapat koordinasi akan berlangsung.
Namun derap langkah kaki Gibran dan asistennya masih mengikuti ke mana langkahku.
Aku diam saja, tak ingin kehadiran Gibran merusak hari spesialku yang harusnya berjalan dengan indah dan penuh tawa.
Namun kesal juga rasanya saat mendengar mahasiswi itu memekik kegirangan saat Gibran membalas senyum mereka. “Dasar ABG labil!”
“Berhenti mengikutiku!” gerutuku.
“Bagaimana jika dia ikut masuk ke dalam ruang rapat? Aku belum siap diinterogasi oleh rekan dosen yang lain,” batinku.
“Aku tak mengikutimu Aku juga akan ikut rapat pagi ini.” Balasnya.
“Cih, Aku tak percaya,”
Lalu pintu ruangan terbuka, nampak Pak Martin sang rektor kampus menyapa Gibran.
“Tuan Gibran ... mari silahkan masuk,” ujar Pak Martin.
Aku mematung, Gibran menoleh sekali padaku.
“See?”
Hanya itu kata yang mampu kutangkap dari gerakan bibirnya.
Sekali lagi aku mempermalukan diriku di hadapan Gibran.
Dan untuk kedua kalinya aku berharap bisa menghilang sesaat dari muka bumi. “Aku maluuuuuu!” Jerit batinku.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# Sheria POV]
Entah apa yang direncanakan oleh Rafie dan Harsya, setelah sore ini keduanya menculikku dari kampus, entah kemana mereka mau membawaku dalam keadaan mata tertutup.
Namun jika boleh jujur, aku senang dan tak sabar ingin tahu kejutan apa yang disiapkan kedua sahabatku ini.
Bukan ... bukan karena kejutannya aku senang. Tapi karena ternyata mereka tak melupakan jika ini adalah hari ulang tahunku.
🌼🌸🌼🌸 To be continued 🌸🌼🌸🌼
__ADS_1