
#Sherina POV#
Drrrttt ....
Drrrttt ....
Drrrttt ....
Lamat-lamat suara getaran dari ponselku terdengar ditelingaku.
Seingatku terakhir kali aku meletakkan benda pipih itu di atas nakasku.
Harusnya aku tidak mengaktifkan ponselku, gerutuku dalam hati.
Aku menyesali keputusanku yang membiarkan ponselku dalam keadaan aktif karena berharap Gibran akan menghubungiku lagi.
Nyatanya hingga aku terlelap beberapa jam yang lalu, Gibran tak kunjung menghubungiku.
Masih dengan kedua netra yang terpejam, aku meraba-raba nakas yang berada tepat di samping tempat tidurku.
Kedua mataku masih enggan membuka, jadi kuputuskan untuk menerima panggilan itu dengan mata terpejam saja.
Toh si penelepon tak akan mengetahui hal itu, pikirku.
“Ya ...” suara serak khas bangun tidurku menyapa si penelpon yang entah siapa.
“Sayang ...” sontak kedua manik mata yang tadinya enggan terjaga, kini membuka sempurna.
“Hemm,” balasku hanya dengan deheman berharap Gibran menyadari jika kini aku dalam mode kesal padanya.
“Apa aku mengganggu tidurmu, sayang?” tanyanya.
Bukan pertanyaan seperti ini yang kuharapkan, batinku.
“Cobalah melihat ke langit, dan temukan jawabannya di sana,” jawabku ketus.
Jawabanku di sambut tawa oleh Gibran.
“Sayang, saat ini aku tak bisa berpikir untuk mencari jawabannya sendiri,” akunya.
“Pikiranku sudah dipenuhi oleh dirimu, aku begitu merindukanmu sayang hingga tak bisa memikirkan hal lain lagi.” Ujar Gibran.
“Gombal! Kamu paling jago dalam urusan merayu wanita,” balasku.
Meski begitu semburat merah mudah aku yakin kini telah menghiasi pipiku dengan sempurna.
Pipiku yang tiba-tiba terasa panas semakin membuatku yakin akan hal itu.
Bersyukur aku dan Gibran kini hanya terhubung melalui sambungan telepon, jika tidak aku pasti akan malu sekali.
“Aku serius sayang,” ucapnya meyakinkanku.
“Jika tak percaya, sekarang tengoklah ke arah luar melalui jendela kamarmu” imbuhnya.
Kedua netraku membola mendengar penuturan Gibran barusan.
Apa maksudnya saat ini Gibran ada di sini? Di depan rumahku?
Apa dia kemari menemuiku? Karena merindukanku?
Dengan senyuman dan wajah yang semakin memerah, bergegas aku melakukan perintah Gibran.
Saking semangatnya, hampir saja aku terjatuh dari atas tempat tidur sebab salah satu kakiku yang masih terlilit selimut.
__ADS_1
Secara naluriah kurapikan penampilanku sebelum menarik kain gorden yang menghalangi pandanganku ke luar jendela.
Setelah kurasa diriku sudah siap, segera aku menengok keluar jendela dan bisa kurasakan debaran jantung yang tiba-tiba saja berdetak dua kalo lebih cepat.
Dia, pria itu ada di sana, bersandar di mobil berwarna hitam miliknya, dengan kepala yang menatap ke atas, ke arah jendela kamarku.
Dia, pria itu tampak sangat tampan, berdiri di bawah pekatnya langit malam dengan cahaya bulan yang menyorotnya hingga membuatku sulit untuk mengalihkan pandanganku.
“Ekheemmm ...” dehemannya yang terdengar dari ponsel yang masih kutempelkan di telinga, mengusikku yang sedang mengagumi dan memuji Gibran.
“Apakah kamu sudah puas memandangiku?”imbuhnya.
“Ka-kamu benar-benar ada di sini? Sejak kapan?” tanyaku.
“Kalau kamu ingin tahu jawabannya, kenapa tak mencari tahu sendiri.”
Astaga!
Apa yang kulakukan berdiri mematung di sini dan dengan bodohnya membiarkan Gibran menunggu di bawah sana.
Segera aku berlari menuruni anak tangga satu per satu untuk menggapai pintu dan menemui Gibran.
Sekilas kulihat jam di ponselku yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Ada keraguan untuk menemui Gibran bertamu pada saat ini, rumahku yang berlokasi di areal perumahan ini memiliki aturan mengenai jam berkunjung dan jam menerima tamu.
Tapi biarkanlah kali ini aku membangkang, aku juga merindukan Gibran.
Bunyi derit pintu menggema di sunyinya malam, senyumku mengembang tatkala sosok pria yang berada di balik pintu tadi merentangkan tangannya lebar.
Dengan manja segera aku berhambur ke dalam pelukannya. Bisa kurasakan dekapannya begitu erat dan sesekali ia sempatkan mengecup puncak kepalaku.
“Kamu melanggar aturan jam bertamu di perumahan ini,” ucapku.
Gibran mengangguk, “Aku tahu.”
“Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat merindukan kekasihku,” imbuhnya.
“Bisnis apa yang sedang kamu kerjakan hingga baru selesai selarut ini?” tanyaku penasaran.
“Bisnis yang sangat penting sayang. Kuharap aku bisa menyelesaikannya secepat mungkin.”
Berharap menyelesaikan? Apa artinya urusan bisnisnya belum selesai?
“Biarkan seperti ini dulu, aku ingin mendekapmu lebih lama,” pintanya.
Kuturuti permintaan Gibran, kusandarkan kepalaku di dada bidangnya. Rasa kantukku seakan menguar ke udara. Tak ingin sedetik pun kulewatkan momen seperti ini.
“Apakah kau marah padaku karena tak menghubungimu setelah panggilan kita yang terakhir?” tanyanya.
Kuberikan jawaban dengan gelengan kepalaku.
“Aku tak marah,” kilahku. “Aku hanya mencemaskanmu saja,” imbuhku segera.
Pria itu tertawa hingga pelukan kami akhirnya terurai.
“Kenapa tertawa?” tanyaku dengan bertolak pinggang.
“Kamu tak percaya? Aku sungguh tidak marah.” Seruku lagi agar lebih meyakinkan.
“Iya sayang ... iya,” ucapnya. “Aku percaya padamu.”
“Aku percaya jika kamu memang benar-benar marah,” lanjutnya diiringi tawa.
“Sekarang izinkan aku menebus kesalahanku,” ungkapnya.
__ADS_1
“Caranya?”
“Sekarang bersiaplah, kemasi beberapa pakaianmu,” ujar Gibran.
“Kita mau ke mana?” tanyaku.
“Ke tempat yang kamu suka sayang,” jawabnya sembari satu tangannya mengacak-acak puncak kepalaku.
...****************...
Bukan pantai, bukan juga tempat wisata indah lainnya. Tapi tempat yang menjadi tujuanku dan Gibran, indahnya melebihi itu semua.
“Kenapa berdiri di sini?” tanya Gibran. “Ayo masuk!”
Kini aku dan Gibran sedang berdiri di depan sebuah bangunan sederhana yang tak asing bagiku.
Sebuah panti rehabilitasi yang menjadi tempat di mana aku menitipkan Bunda.
Tempat yang paling ingin kukunjungi dari tempat mana pun di dunia ini.
Dan kini, aku masih sulit percaya ... bahkan di saat sang mentari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya aku sudah berdiri di tempat itu.
“Sebentar,” cegahku.
Kuhentikan langkahku saat melihat keramaian yang terjadi di taman kecil yang berada di bagian samping panti.
Ada Ibu Ayu dan para pengurus panti lainnya sedang sibuk menata meja. Dan yang tak kuduga Rey, asisten Gibran juga tampak berbaur dengan sangat akrab bersama yang lainnya.
Dekorasi ulang tahun sederhana telah menghiasi taman ini hingga tampak lebih meriah.
Di atas sebuah meja panjang berbagai macam makanan sudah terhidang. Mulai dari gudeg, soto, bubur, dan aneka kue-kue tradisional lainnya sudah tertata rapi di atas sana.
Air mata sontak menggenangi kedua manik mataku, saat aku membaca tulisan di atas kue ulang tahun berwarna hijau di atas meja.
“Selamat ulang tahun Bunda,” lirihku membaca 4 kata sederhana namun bermakna sangat dalam, terutama untukku.
Aku menoleh pada Gibran yang menyambutku dengan senyuman manisnya.
Apa Gibran yang telah menyiapkan semua ini? Sebuah pesta ulang tahun, kejutan untuk Bundaku. Batinku.
Entah mengapa bibirku yang biasanya begitu kaku saat harus menyebut kata sayang, kini terasa begitu lancar.
“Apa yang sedang terjadi di sini, sayang?” tanyaku.
"Apa kamu yang menyiapkan semua ini?"
“Sayang ... aku mencintaimu. Bukan hanya padamu, tapi pada semua yang ada pada dirimu. Aku akan selalu berusaha menjadi pendukung setiamu sayang, aku akan selalu mencintai apa yang kamu cintai, dan aku akan menjaga apa yang kamu jaga.”
Kurasakan setetes bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Aku begitu terharu mendengar pengakuan Gibran. Dalam hati aku berdoa semoga semua ungkapan Gibran barusan bukan hanya sebatas di bibir saja.
Gibran membawaku dalam dekapnya.
“Sssttttr ... jangan ada air mata hari ini sayang,” bujuknya.
“Aku ingin kamu bahagia, hanya itu yang kupedulikan.”
“Sekarang, tersenyumlah ... kita rayakan ulang tahun Bundamu dengan hati riang. Setelah itu, ayo kita pulang bersamanya,” ujar Gibran.
“Pulang bersamanya?”
“Ya ... pulang bersamanya. Aku tak ingin kamu dan bundamu selalu menyimpan kesedihan karena saling merindukan. Jangan lagi kalian hidup terpisah sayang, aku tahu hal itu sangat menyiksa dirimu sayang.”
Dan tangisku pun akhirnya pecah pagi itu.
__ADS_1
“Terima kasih Gibran, terima kasih sayang telah berusaha mengerti aku," ucapku.
...****************...