Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 35. Penawaran rahasia


__ADS_3

Cinta tidak selamanya berlaku adil.


Dan kali ini, kurasa aku yang lebih mencintai.


Memenuhi kebutuhanmu dan membuatmu nyaman adalah tujuanku berada di sisimu.


Aku berusaha menyelami apa yang ada dalam benakmu, berusaha memahami hal-hal apa saja yang membuatmu bahagia.


Mencemaskanmu, menjadikanmu prioritas, hingga mengalah, kini sudah seperti hobi yang sangat kugemari.


Perlahan-lahan, hari yang kulalui bersamamu menjadi bagian dari masa depan yang kuimpikan.


Aku sadari, kali ini aku yang sangat mencintaimu.


Hingga aku mampu menjadi pecundang bagi diriku sendiri.


Terus saja mengagungkan pemakluman dari setiap kesalahanmu.


Aku sadari, kali ini cintaku lebih berat dibandingkan cintamu yang pernah kusia-siakan.


Dan aku mampu menerima jika perjalanan cinta kita tak akan selalu manis.


Aku akan menghargai setiap balasan yang kau beri atas cintaku yang tulus tanpa adanya pretensi.


🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸


# SHERINA POV #


Apa aku sudah bersikap keterlaluan pada Gibran? Batinku.


Jejak kemerahan di pergelangan tanganku adalah salah satu bukti jika tadi Gibran benar-benar berusaha menahan amarahnya.


Aku pun merasa aneh pada diriku, meski jejak ini terasa perih namun sepertinya aku sudah mengenal rasa sakit ini.


Tak pernah kuduga jika makan malam kali ini, berubah menjadi ajang pertarungan antara Pak Sadewa dan Gibran.


Walau kuyakin jika setelah ini aku akan kembali dilanda rasa lapar, tetapi saat ini namun rasanya untuk meneguk air saja sangat sulit.


Pak Sadewa dan Gibran yang saling melempar tatapan tajam, namun mengapa aku yang merasa canggung, batinku.


Aku merasa jemari tanganku mulai dingin.


Ada hawa yang sangat dingin namun bukan lagi berasal dari penyejuk udara tapi dari kedua pria yang sedang berperang lewat tatapan.


Dua jam yang mencekam akhirnya berlalu saat kedua pria itu akhirnya menyelesaikan makan malamnya.


“Sherina ... apa kita bisa bicara berdua saja?” pinta Pak Sadewa.


Secara impulsif bukannya menjawab, aku malah menengok ke arah Gibran.


Apa yang baru saja kulakukan? Apa aku baru saja meminta izin darinya? Sesalku dalam hati.


Tampak Gibran yang keningnya sudah berkerut dan menatap tajam pada Pak Sadewa.


“Aku akan menunggumu di luar. Cepatlah, aku tak suka menunggu,” ucap Gibran sambil berdiri dari kursinya.


Aku mengangguk menyetujui ucapan Gibran. Namun tanpa bisa kuduga, sebelum berlalu Gibran tiba-tiba mengecup keningku.

__ADS_1


“Aku di luar .... jika terjadi sesuatu,” ucap Gibran.


Aku mematung.


Sepertinya ada sayap yang baru saja muncul di punggungku, sebab rasanya kini aku sedang terbang setelah mendapatkan perlakuan manis dan tak terduga dari Gibran.


Lalu saat menyadari jika di sini bukan hanya ada kami berdua.. tapi ada juga Pak Sadewa, aku yang sedang melayang sontak terjatuh.


Aku menelan salivaku saat menatap Pak Sadewa yang menatapku tanpa senyum di wajahnya.


“Bapak mau bicarakan apa?” tanyaku saat Gibran sudah menghilang dari balik pintu.


“Apa ada yang ingin kamu jelaskan lebih dulu?” tanyanya. Raut wajah dinginnya mulai memudar, mulai kembali seperti Pak Sadewa sebelum Gibran muncul.


“Penjelasan apa yang Bapak harapkan?”


“Mengenai dia bukan siapa-siapa bagimu,” jawabnya.


Aku menghela napas panjang. “Ya Bapak benar, saat ini dia bukan siapa-siapa bagiku.”


Aku menjawab jujur. Namun aku tak mengerti arti dari helaan napasku barusan.


Apa mungkin aku berharap jika ada jawaban lain yang bisa kuberi? Batinku.


Meski aku masih bertanya-tanya namun sepertinya Pak Sadewa lebih dulu memahami maksudku.


“Baik, aku mengerti sekarang,” ucapnya.


“Tapi Sherina, aku bukanlah orang yang suka menyia-nyiakan kesempatan. Dan bagiku kini adalah saat yang tepat untuk aku mengatakan apa yang selama ini coba kutahan.”


Dengan senyumnya, duda matang di hadapanku mencoba menenangkan aku.


“Kamu kenapa menjadi sepanik itu?” tanyanya sembari tertawa.


“Aku hanya akan mengungkapkannya, aku tak akan meminta jawabanmu."


Ucapan Gibran baru saja menjadi awal keheningan sesaat.


“Aku, jatuh cinta padamu Sherina Kanza ....”


“Sudah lama kupendam rasa ini, sejak pertama kali melihatmu menari balet di koridor kampus. Kamu wanita pertama yang membuatku tertarik pada sesuatu, tertarik untuk terus melihat senyummu,” ucapnya.


Dan kata cinta itu akhirnya terucap darinya. Kata cinta yang dulu sempat kuharapkan.


Tapi untuk saat ini, menerima ungkapan cinta bukan lagi tujuan utamaku.


Seperti kata Pak Sadewa jika dia hanya akan mengungkapkan saja, hingga aku pun bertahan untuk tetap bungkam.


“Statusku kala itu, juga posisimu yang tak lain adalah mahasiswiku membuat aku bertahan dengan cinta dalam diamku.”


“Meski sekarang tak ada lagi penghalang untukku mengharapkan cintamu, tapi aku cukup realistis. Aku sadar ada nama seseorang di hatimu yang menjadi benteng penghalang.”


“Jadi untuk saat ini, cukup aku ungkapkan saja perasaanku. Aku akan selalu menunggu hingga kamu datang padaku dan memitaku untuk menanyakan jawabanmu,” ujarnya.


Aku mengangguk, Pak Sadewa benar-benar menunjukkan kedewasaannya. Tak ada paksaan darinya dan tak ada permintaan yang membebaniku.


“Aku sangat menghargai dan menghormati Bapak, sebagai pria bijak yang bisa mengerti kondisiku saat ini," ujarku.

__ADS_1


" Terima kasih Pak, aku merasa beruntung dicintai pria seperti Bapak,” lajutku.


Aku bungkam sejenak, menimbang apakah harus aku katakan atau tidak.


“Dan maaf jika aku tak bisa memenuhi harapan Bapak,” ucapku lirih.


Senyuman yang diberikan Pak Sadewa saat ini cukup membuatku lega.


Setidaknya aku bisa tenang, sebab antara aku dan Pak Sadewa tidak perlu ada kecanggungan setelah malam ini.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Kupikir Gibran bercanda tentang menungguku. Namun saat aku dan Pak Sadewa keluar dari restoran, pria itu masih setia berdiri di sana.


Aku bisa merasakan jika netra Gibran terus mengamati gerak-gerikku dan Pak Sadewa.


“Terima kasih sudah bersedia makan malam bersamaku, sampai jumpa besok.” Ucap Pak Sadewa sebelum ia berlalu meninggalkanku dan Gibran.


“Kalian janjian untuk bertemu lagi besok?” tanya Gibran saat Pak Sadewa telah pergi.


“Apa yang dia bicarakan denganmu?” tanyanya lagi bahkan sebelum aku menjawab pertanyaan sebelumnya.


“Sudah berapa lama kamu mengenalnya? Apa hubunganmu dengannya?”


Gibran mencecarku dengan berbagai pertanyaan.


Aku yang merasa kesal, memilih untuk pergi meninggalkan Gibran.


“Sherina ... berhenti dan jawab pertanyaanku sekarang!” titahnya.


Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatap Gibran.


“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab semua pertanyaanmu, terlebih jika kamu memaksa seperti ini,” balasku.


Tak ingin berlama-lama berdebat dengan Gibran, kembali kulangkahkan kakiku menjauh darinya.


“Hentikan langkahmu Sherina!”


“Aku sudah tahu semua yang terjadi pada keluargamu. Ayah dan adikmu yang meninggal dalam kecelakaan juga Bundamu yang kini dirawat di sebuah yayasan sosial akibat depresi.”


Apa yang dikatakan Gibran berhasil menghentikan langkahku.


“Kamu mencari tahu tentangku? Apa yang kamu inginkan dariku hah?!”tanyaku dengan tangan yang mengepal.


Aku sangat kesal, seenaknya saja Gibran mencari tahu kehidupan pribadiku.


“Aku punya penawaran yang bagus untuk kita berdua. Kamu ingin mendengarnya?” tanyanya.


Aku tak bergeming dari tempatku. Masih dengan membelakangi Gibran, bisa kurasakan jika pria itu berjalan semakin mendekat ke arahku.


“Ayo ikut denganku, aku yakin kamu akan menyukai penawaranku ini Sherina.”


Dalam hati aku enggan mengikuti keinginan Gibran, namun rangkulannya di pundakku memaksa agar aku mengikuti ke mana ia melangkah.


Entah penawaran seperti apa yang Gibran ingin bicarakan denganku. Yang kutahu semua yang berhubungan dengan Gibran akan selalu merugikanku dan menguntungkan untuknya.


🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸

__ADS_1


__ADS_2