
Berawal dari sebuah ketidaksengajaan,
Aku dan kamu pertama kali bertemu.
Berharap jika kau akan menjadi cinta pertama dan cinta terakhir.
Namun harapan tetaplah sebuah harapan.
Meski kau akan selalu menjadi istimewa di sepanjang hidupku, sebab padamu aku merasakan semua yang pertama.
Pertama kali mengagumi seseorang dan merasakan getaran aneh.
Pertama kali ikut merasa senang hanya karena melihat seseorang tersenyum.
Pertama kali merasa bahagia walau hanya bisa menatap punggungnya saja dari kejauhan.
Perasaan kecewa, tentu saja ada.
Sebab harapan indah menjadikanmu yang pertama dan terakhir harus sirna.
Harapan untuk menjadikanmu penghuni terakhir dalam hati.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
#GIBRAN POV#
Tiga hari menemani Sherina di Surabaya, membuat pekerjaanku yang sudah menumpuk kini makin menggunung.
“Rey, apakah tumpukan berkas ini sudah bisa menyaingi ketinggian gunung Everest?” tanyaku.
Rey menggeleng. “Belum Tuan, namun jika Anda berlibur sebulan lagi ... bisa saja hal itu terjadi.”
Aku berdecih, “Cih, aku hanya bercanda Rey. Kau tak perlu menganggapnya seserius itu,” balasku.
Aku mulai membuka lembaran pertama dari salah satu berkas yang menumpuk di hadapanku.
Tapi entah mengapa, bayangan Sherina yang cemberut sebab harus pulang ke Jakarta lebih awal tiba-tiba saja terbersit di benakku.
Ahh ... sedang apa yah dia? batinku.
“Rey, menurutmu apa aku perlu menghubungi Sherina pagi ini?” tanyaku.
“Jika Anda memiliki keperluan dengan Nona Sherina, maka silakan Anda menghubunginya,” jawab Rey.
Aku menghela napasku, sepertinya aku telah bertanya pada orang yang salah. Mungkin karena lelah aku lupa jika Rey adalah robot bernyawa.
“Astaga Rey ... bukan itu maksudku. Aku pernah membaca sebuah artikel jika wanita akan senang jika pasangannya menghubungi mereka lebih dulu di pagi hari,” jelasku.
Rey tampak berpikir, sementara aku berharap mendapatkan saran yang sesuai dengan harapanku.
Terlebih, darinraut wajahnya Rey tampak berpikir sangat keras. Bahkan ia sempat melirik ke jam di pergelangan tangannya.
“Tapi, menurut saya sebaiknya sebelum menghubungi Nona Sherina, anda pastikan dulu jadwal mengajarnya. Bisa saja saat ini, Nona sedang berada di kelas.”
Kali ini aku menatap tajam pada Rey.
Asisten lucknut, apa tidak bisa dia berbohong sedikit saja untuk menyenangkanku, batinku.
“Itu karena kau tidak memiliki kekasih, kau tak paham cara sederhana menyenangkan wanita.”
“Lihat lah ini dan pelajari jika suatu saat kamu memiliki kekasih," ucapku.
"Aku akan mengirim pesan pada Sherina. Aku yakin dia akan sangat senang dan segera membalas pesan yang kukirim."
‘Kamu di mana? Aku sedang di kantor. Jika kamu senggang, aku ingin bertemu siang ini. Kita bisa makan siang bersama.’
Setelah mengetikkan pesan tersebut, segera ku kirim dan dengan angkuh menunggu balasan pesan darinya.
Satu menit berlalu ...
Dua menit ......
Lima menit ...........
Dan sampai puluhan menit telah berlalu, belum ada balasan dari Sherina.
Aku melirik ke arah Rey, dan seolah tahu maksudku Rey segera memberikan pendapatnya.
“Bisa saja Nona belum membaca pesan Anda,” ujar Rey dengan senyum dipaksakan.
Meski ragu, aku tetap membenarkan ucapan Rey.
“Benar juga," sahutku.
"Mungkin lebih baik jika aku meneleponnya saja,” putusku.
__ADS_1
Tut ... Tut ... Tut ...
Panggilan pertama berakhir dengan tidak ada jawaban dari Sherina.
Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tenang Gibran, bisa saja dia tak menyadari jika ponselnya berdering, batinku.
Kucoba sekali lagi.
Tut ... Tut ... Tut ...
Namun kali ini panggilanku ditolak olehnya.
Sekilas kulirik Rey yang berusaha menahan tawanya.
Beraninya dia menolak panggilanku, batinku.
Aku tak semudah itu menyerah. Kucoba sekali lagi, dan akhirnya Sherina menerima panggilanku.
Namun belum sempat aku bicara, wanita itu menyela lebih dulu.
“Aku akan menghubungimu sebentar lagi. Aku sedang mengajar,” ucapnya dengan berbisik.
Lalu ...
Tut ... Tut ... Tut ...
Panggilan diputuskan sepihak oleh Sherina.
Aku menatap Rey yang wajahnya tampak memerah sebab berusaha menahan tawanya.
“Jika sudah tak ada lagi, saya permisi Tuan, “ pamitnya.
Aku tahu Rey ingin keluar dari ruanganku secepatnya sebab ia ingin menertawakanku sepuasnya.
Oh .. tidak akan kubiarkan, batinku.
“Tidak. Tetaplah berdiri di tempatmu dan teruslah menahan tawamu,” titahku.
Bisa kulihat wajah Rey mendadak berubah lemas. Kasihan juga aku melihatnya.
“Dalam lima belas menit, aku ingin jadwal Sherina sudah ada di atas mejaku.”
Dan setelah itu Rey segera berlalu untuk mengerjakan perintahku.
Kupandangi ponselku, setelah tadi memutuskan panggilanku secara sepihak wanita itu bahkan tidak ada inisiatif untuk menghubungiku kembali.
Bahkan hingga mendekati waktu istirahat makan siang, belum ada kabar darinya
Akhirnya kuputuskan untuk menghubunginya lebih dulu.
Beruntung kali ini, Sherina cepat menjawab panggilanku.
“Halo ... Gibran,” ucapnya di seberang telepon.
“Kenapa tak menghubungiku kembali?” tanyaku.
“Maaf, aku lupa. Oh ya, memangnya ada apa menghubungiku?”
“Apakah sepasang kekasih perlu alasan untuk saling menghubungi?” tanyaku.
“Tentu saja tidak," jawabnya.
Seketika senyum terbit di wajahku. Akhirnya dia mengakui jika kami sepasang kekasih. Lebih tepatnya aku memaksanya menjadi kekasihku.
“Tapi hal itu untuk pasangan kekasih normal, sedang kita kan hanya kekasih palsu.”
Senyum yang baru saja terbit di wajahku, kini menghilang. Aku meremas ponsel di genggamanku.
Sampai kapan wanita ini terus-menerus mengira jika aku menjadikannya kekasih palsu, batinku.
“Terserah kamu saja, yang terpenting sekarang aku tak ingin hal itu terulang lagi. Aku ingin kamu segera menerima panggilanku saat aku menghubungimu dan membalas pesanku saat aku mengirimkan pesan untukmu.”
“Iya ... Baiklah. Aku akan mengingatnya Yang Mulia,” jawab Sherina diikuti oleh suara tawa pria yang terdengar olehku.
“Siapa itu? Apa kamu sedang bersama seorang pria? Kamu di mana sekarang?”
Mendengar suara tawa pria, membuat dadaku terasa panas dan sesak seketika.
“Aku sedang di restoran XXX. Pria yang kamu dengar tawanya itu adalah Rafie dan Harsya, kami hendak makan siang di sini.”
“Apa? Makan siang? Kirimkan lokasi restoran itu, aku ke sana sekarang juga," ucapku sebelum mengakhiri panggilanku.
Segera setelah mendapatkan lokasi restoran, aku bergegas menyusul Sherina.
__ADS_1
Selama perjalanan, aku terus memikirkan mengenai kedekatan Rafie, Harsya, dan Sherina.
Dua pria itu lagi ... mengapa mereka selalu saja berada di dekat Sherina-ku.
Apalagi Rafie ... apa tujuannya mendekatkan Sherina denganku, jika dia juga terus menerus mendekati Sherina.
Apa wanita itu tak tahu jika sejak tadi aku juga sudah kelaparan saat menanti telepon dan pesan darinya.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Hanya dalam 20 menit aku tiba di restoran XXX. Restoran dengan arsitektur bernuansa tradisional Jepang yang sangat menarik.
“Irasshaimase, ada yang bisa saya bantu, Tuan?” sapa salah satu pelayan.
“Aku mencari meja nomor 19,” jawabku.
“Mari Tuan, saya antar.”
Pelayan tersebut lantas mengarahkanku ke sebuah ruangan privat yang menjadi ciri khas restoran Jepang.
Saat kugeser pintunya, bisa kulihat Sherina, Rafie, dan Harsya sedang tertawa terbahak-bahak.
Tawa lepas yang baru pertama kali kulihat dari Sherina.
“Ekheemm ...” Aku berdeham untuk menarik perhatian ketiganya.
“Gibran ... kemarilah,” ucap Sherina. Sembari menepuk tempat kosong di sisinya.
Jelas sekali jika Sherina tampak sangat santai, tanpa beban saat bersama dengan kedua pria ini.
“Kami sengaja menunggumu untuk makan bersama,” ucapnya.
Aku tersenyum membalas ucapan Sherina.
“Karena sudah tak ada yang ditunggu lagi, mari kita makan,” ucap Rafie di balas anggukan oleh keduanya.
Kulihat Sherina menuangkan sup Miso ke dalam 3 mangkuk dan memberikannya pada Rafie, Harsya, dan juga untukku secara bergantian.
“Untukmu?” Tanyaku.
Sherina hanya menggeleng.
“Lu gak tau kalau Sherin alergi dengan pasta kedelai?” tanya Harsya.
Sebuah fakta yang baru kuketahui, jika Sherina memiliki alergi pada makanan.
Aku kembali memikirkan pertanyaan Harsya, apakah masih ada hal lain darinya yang tak kuketahui? Sebanyak apa yang diketahui oleh Rafie dan Harsya mengenai Sherina-ku?
“Mi Cielo, sepertinya kami belum bisa memberikanmu restu untuk menjalin kasih dengannya,” ucap Rafie.
Kulihat Sherina hanya membalasnya dengan mengedikkan bahunya.
Mi Cielo? Apa itu panggilan spesial Rafie untuk Sherina-ku? Batinku.
“Restu? Apa hubungan gue dan Sherina juga butuh restu dari kalian berdua?” tanyaku.
Rafie dan Harsya mengangguk bersamaan.
“Jika tak mendapatkan restu kami, maka silakan akhiri hubunganmu dengan Sherina kami,” ucap Harsya diiringi tawanya.
“SHERINA KA-MI?” ulangku.
Emosiku sudah sampai pada puncaknya, sejak tadi kedua pria ini terus membuatku geram.
Lalu perlahan aku merasakan ada sebuah elusan lembut pada tanganku yang sudah terkepal.
“Jangan dengarkan Harsya,” ucap Sherina lembut. “Dia memang usik,” lanjutnya.
“Sudah ... sudah...” celetuk Rafie.
“Harsya hentikan leluconmu,” lanjutnya dan seketika Harsya berhenti tertawa.
“Gibran, lu gak butuh restu dari kami berdua untuk menjalin hubungan lagi dengan Sherina,” ucap Rafie.
“Tapi yang perlu lu ingat, sekali saja lu buat Sherina menangis lagi ... itu artinya lu sudah siap untuk hadapi kami berdua,” lanjutnya.
Ingin rasanya aku membalas ucapan Rafie, namun kurasa ini bukan saat yang tepat.
Aku mengenal Rafie sepanjang hidupku, dia Kakak sepupuku dan kami sangat dekat sejak kecil.
Dan dari yang kulihat jika kini Rafie tidak main-main dengan ucapannya.
Yang menjadi pertanyaanku hingga kini, apa artinya Sherina bagi Rafie dan Harsya.
Dan apa arti Rafie dan Harsya bagi Sherina.
__ADS_1
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸 🌼🌸