
# SHERINA POV #
Aku mencintaimu Sherina, sangat mencintaimu sayang.
Kumohon, hanya lihat aku, jangan pernah tinggalkan aku lagi.
Semua ucapan manis Gibran siang tadi terus terngiang di benakku.
Aku menertawakan diriku sendiri yang tadi merasa sangat bergairah ketika Gibran menciumku.
Sejak kapan aku pandai membalas ciuman Gibran. Batinku.
Tanpa kusadari tanganku yang seharusnya menyapukan kuas blush on ke tulang pipi, kini malah menyapukannya ke bibirku.
Kemudian beberapa detik berlalu, sapuan kuas di bibirku mulai terasa mengganggu.
Aku menggelengkan kepala, berharap bisa mengembalikan kesadaranku. Aneh sekali, setiap kali bersama Gibran, atau aku memikirkan Gibran, maka fokusku akan terganggu.
"Sebegitu dahsyatnya pengaruh jatuh cinta," gumamku lirih, mengomentari apa yang kini sedang kualami.
Disusul dengan senyum dan rona merah di pipiku meski aku belum mengoleskan perona pipi.
Kulanjutkan kegiatan merias wajahku, sebelum Gibran datang untuk menjemput menuju peresmian butik terbaru Mami Laila.
Aku telah selesai bersiap, mengenakan one shoulder dress berwarna navy. Dress dengan lengan hanya di sebelah sisinya saja adalah salah satu model dress yang tak akan pernah ditelan oleh zaman.
Yang paling kusukai dari dress ini adalah adanya aksen belah hingga ke paha, meninggalkan kesan kaki yang jenjang dan dan terlihat lebih menantang.
Tok β¦ tok β¦ tok β¦.
Aku yakin jika yang mengetuk pintu kamar itu adalah Gibran. Sebelum membuka pintu dan menemui pria di balik pintu itu, Aku kembali mematut tubuhku di depan cermin.
Berputar-putar, berjalan ke kiri dan kanan layaknya seorang model di peragaan busana, semuanya hanya untuk memastikan apakah penampilanku sudah sempurna.
Jatuh cinta bisa segila ini ternyata. Batinku, diiringi senyumku yang tidak bisa ku cegah.
Tak ingin membuat pria tampan itu menunggu terlalu lama, aku bergegas mengambil clutch dan menuju pintu untuk menghampiri sang pujaan hati.
Ceklek,
"Malam sayang," sapanya.
" Malam," balasku.
Gibran bungkam dengan salah satu alis yang naik ke atas, "Sayangnya mana?" Tanyanya.
Blush,
Harusnya aku tak perlu menggunakan blush on di wajahku, sebab Gibran bisa menjadi blush-on Al-Amin yang siap kapan saja. Batinku.
"Memangnya harus?" Tanyaku.
"Harus," jawabnya singkat.
Lalu kakinya melangkah masuk melewati pintu kamar, aku sampai harus mundur beberapa langkah sebab posisiku yang berdiri di balik pintu.
Dengan kening yang mengernyit, netraku mengikuti langkah Gibran yang kini berdiri di depan cermin. Rasanya aku seperti melihat diriku beberapa saat yang lalu.
Aku menghela napas. Pasti ada sesuatu yang mengusik Gibran, apa hanya karena aku menolak memanggilnya sayang? Batinku.
Kututup kembali pintu lalu menyusul Gibran masuk ke dalam kamar. Kuposisikan diriku berdiri di sampingnya, bertukar pandangan dengannya melalui bayangan cermin.
"Gak jalan sekarang aja, sa-yang?" Meski masih terbata-bata namun aku usahakan untuk menyebut kata 'sayang' yang baru saja diwajibkan hukumnya oleh Gibran.
Namun pandangan Gibran yang seperti memindai penampilanku, membuat aku merasa sedikit canggung.
"Kenapa? Apa ada yang aneh dari penampilanku?" Tanyaku ragu.
Apa penampilanku terlalu berlebihan? Batinku.
Pria itu masih bertahan dengan diamnya, namun salah satu tangannya menarikku hingga kini posisinya Gibran memelukku dari belakang.
Sekali lagi netra kami saling menatap lewat pantulan bayangan di cermin.
__ADS_1
Cup.
Sasaran kecupan Gibran kini bukan lagi kening, pipi, atau bibirku.
Melainkan bahu kiri ku yang memang terekspos tanpa penghalang apa pun.
Lalu satu tangannya membelai lenganku dengan lembut. Gelenyar aneh kembali terasa, debaran jantung yang kian meningkat seiring hembusan napas yang mulai tak beraturan.
Rasanya banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutku⦠sensasi rasa yang baru lagi.
"Sebenarnya aku gak rela kalau ini terlihat oleh orang lain," ucapnya sembari kembali membelai lenganku.
"Lalu?" Tanyaku.
"Kalau aku memintamu mengganti pakaianmu? Apa kamu bersedia?"
"Hah? Harus ganti baju lagi?" Tanyaku.
Ada ketidak relaan di dalam pertanyaanku.
Gibran tak langsung menjawab pria itu malah membalik tubuhku menghadap padanya.
Selalu tanpa aba-aba Gibran kembali mencium bibirku. Bermain dengan benda kenyal milikku yang berlapis lipstick berwarna merah maroon.
Beberapa menit saling bertukar saliva, hingga akhirnya pertautan bibir kami pun usai.
"Bibirmu selalu menarik perhatian sayang," ucapnya.
"Ayo kita jalan sekarang, tak perlu ganti baju, dengan syarat jangan pernah berada jauh dariku," ujarnya.
Aku mengangguk dan tersenyum menyanggupi permintaan Gibran. Cukup mudah menurutku sebab aku hanya harus berada di sisi Gibran.
Mudahkan?
...πππ...
Butik mami Laila yang masih berada di seputaran area Seminyak membuat perjalanan menuju ke tempat pesta tak memakan waktu lama.
Pencahayaan terang, di butik itu pada malam ini sangat luar biasa menurutku.
Dari tempat Kai memarkirkan mobilnya suara dentuman musik sudah bisa didengar olehku dan Gibran.
"Gibran, mami Laila se-"
Belum usai ucapanku namun Gibran lagi-lagi menyelanya.
"Sayang," peringatnya.
Huhh, bukankah sudah ku bilang jika aku tak terbiasa. Gerutuku dalam hati.
"Maaf sayang β¦" seruku yang dibalas Gibran dengan dehaman.
Tanganku yang awalnya menggandeng Gibran, kini terbebas sebab Gibran kini merengkuh pinggangku sambil berjalan masuk.
"Sayang, semua orang melihat ke arah kita," bisikku.
"Biarkan, biarkan semua tahu kamu dan aku sudah ada pemiliknya," jawab Gibran santai.
Kami berdua menghampiri mami Laila yang kini sibuk menyambut para tamu.
Kuberikan buket bunga padanya, sambil mengucapkan ucapan selamat.
"Selamat Mami, semoga butik mami makin sukses," ucapku tulus.
Mami Laila menyambutku dengan hangat, seperti biasa.
"Kamu sangat cantik malam ini Sherina," pujinya.
"Terima kasih Mam," balasku.
"Dan kamu, awas aja kalau sampai nyakitin anak Sherina," ancam Mami pada Gibran.
"Mami langsung culik dan nikahkan dia dengan Rafie!" Peringat Mami.
__ADS_1
Kemudian Mami kembali menatapku dengan tatapan sendu, "kamu mau kan cantik?"
Aku hanya tersenyum membalas ucapan Mami Laila.
Setelah menyapa sang empunya pesta, aku dan Gibran bergabung bersama Rafie dan Harsya.
Beberapa kali aku mencegah Gibran untuk tidak menenggak minuman beralkohol yang disuguhkan oleh Rafie, namun sebanyak itu pula dia tak menghiraukan peringatanku.
"Gak apa-apa sayang, beberapa gelas minuman tak akan membuatku mabuk." Ujarnya.
Ku edarkan pandanganku melihat keseluruhan ruangan pesta ini. Benar-benar mereka semua berasal dari kalangan yang berbeda denganku.
"Ada apa?" Celetuk Harsya membuat perhatianku kembali.
Aku menggeleng, "Tidak ada apa-apa."
"Apa kamu tak nyaman?" Tanya Harsya.
Aku tersenyum, menyadari jika di tempat yang terasa begitu asing ini aku masih memiliki Harsya yang selalu mengerti aku.
Saat sedang asik mengobrol, meja kami dihampiri oleh seorang pelayan yang memberitahu jika Gibran diminta untuk menemui ayahnya.
Aku memilih untuk tetap tinggal bersama Harsya dan Rafie, sebab tak ingin membuat suasana menjadi kacau. Terlebih melihat tatapan menusuk dari Nyonya Gia.
Kulihat Gibran dan ayahnya berbincang dengan beberapa pria yang mengenakan setelan jas formal.
Sepertinya aku akan sendirian di sini cukup lama. Batinku.
Harsya dan Rafie juga kini sedang menyapa beberapa rekan bisnisnya, meninggalkan aku yang kembali merasa sendiri di tengah keramaian.
Sesak.
Ya sesak itu kembali terasa. Merasa sendiri, sepi, tak ada yang memahami, adalah makanan sehari-hariku dahulu yang tak ingin aku ulang atau jika bisa tak ingin aku kenang.
Tanpa kusadari, rupanya aku sudah berjalan cukup jauh dari hingar bingar pesta. Aku menyibukkan diriku dengan mencari jawaban atas pertanyaan aneh yang kubuat sendiri.
"Mengapa dari tempatku berdiri saat ini bulan terlihat begitu indah? Apa memang selalu seindah itu? Atau hanya aku yang belum menyadarinya?"
Ekhemm,
Dehaman seorang pria mengejutkanku.
"Pasha," sapaku.
Ya, aku ingat namanya Pasha, sepupu dari Rafie dan Gibran.
"Kamu sendirian?" Tanyanya.
"Hemm, begitulah." Jawabku singkat.
Aku memeluk diriku sendiri, ketika kurasakan hembusan angin yang cukup kencang.
"Kau tak ingin masuk?" Tanyanya.
"Lebih baik aku kedinginan dari pada aku merasa sesak," balasku.
"Boleh aku akan menemanimu?" Tanyanya.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi agar kau tak masuk angin dan berakhir sakit, pakailah jasku," ucap Pasha sambil melepaskan jasnya.
Dengan perlahan ia coba sampirkan di pundakku. Namun belum juga jas itu menyentuh kulitku, tubuh Pasha sudah di tarik kebelakang dan sebuah pukulan mendarat tepat di rahang Kokok.
"Aaaarrrgggggghhhh, " Jeritku yang terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba.
Mendengar jeritanku, pria yang melayangkan tinjunya itu berbalik dan menatap tajam padaku.
"Gibran β¦ sayang β¦. Awasss," jeritku lagi.
Ketika Pasha yang baru saja berhasil bangkit dan membalas pukulan Gibran.
...ππ To be continued ππ...
__ADS_1