Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 23. Tak pernah berakhir


__ADS_3

Ketika pergi menjadi sah,


Itu artinya aku menyerah sebelum kita sampai di garis akhir.


Maaf jika pada akhirnya semua nampak sia-sia.


Pengorban yang sudah kita lakukan.


Kesabaran yang sudah kita usahakan.


Pengertian yang sudah kita bangun.


Sudah kurasakan fase di mana ku rasa aku tak sanggup untuk bertahan lagi.


Saat hanya aku yang penuh luka, lebam, remuk saat memperjuangkan hubungan ini.


Sudah pula kurasakan fase di mana aku ingin langsung pergi tapi hati kecilku mencegah.


Saat kutahu dan sadar jika jauh di lubuk hati terdalam masih dirimu yang bertahta.


Maaf ... sekali lagi maafkan aku.


Meski pergi adalah pilihan yang paling akhir.


Paling akhir sekali.


Namun kini aku sudah sampai di titik paling akhir itu .


Aku pergi.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


# GIBRAN POV #


Jika boleh jujur, aku rindu Sherina-ku yang dulu.


Sherina yang selalu menundukkan wajahnya saat berada di dekatku, Sherina yang selalu malu saat jadi pusat perhatian, Sherina yang tak bisa menatapku lebih dari 3 detik.


Meski kuakui aku bangga padanya, akhirnya dia bisa juga kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.


Tapi ada perasaan tak rela saat dirinya ditatap penuh minat oleh pria pria di luar sana.


“Sial ... harusnya dia tak perlu melepas kacamatanya,” gerutuku.


“Maaf Tuan, kacamata yang mana yah?” tanya Rey yang sedang mengemudi di sampingku.


“Kacamata apa?”


“Lah, Tuan tadi yang lebih dulu bahas kacamata,” lirih Rey namun masih bisa terdengar olehku.


“Oohhh, yang kumaksud itu Sherina,” jelasku.


“Sherina? Dosen baru yang datang terlambat?”


Aku mengangguk. “Menurutmu bagaimana jika membuat peraturan baru untuk para dosen agar memakai seragam yang sama?”


Ide itu terlintas begitu saja di benakku. Kupikir dengan begitu mungkin saja kecantikan Sherina bisa sedikit berkurang.


“Rey, bagaimana menurutmu?” tanyaku tak sabar.


“Kau lama sekali hanya memikirkan hal seperti itu saja, ck!”


“Maaf Tuan, tapi apakah Anda punya hubungan dengan dosen itu?” tanya Rey.


Kuakui dia pria yang cerdas, dia mengerti tanpa harus ku jelaskan.


“Kamu cerdas, aku suka.”


“Ceritanya panjang, yang pasti Dia itu adalah milikku, harusnya seperti itu. Tapi dia berani menentang dan kabur,” jelasku.

__ADS_1


“Jika ada yang berani menentangku tentu harus kuberi pelajaran, benar?”


“Terima kasih atas pujiannya Tuan, tapi jika melakukan ide Anda, Saya yakin semua orang pasti akan curiga,” ujarnya.


“Terlebih ini adalah universitas di mana semua mahasiswa memakai pakaian bebas rapi, akan aneh jika dosennya malah memakai seragam,” lanjutnya.


“Cih.....” aku berdecih, meski sebenarnya aku juga setuju.


“Lantas sekarang tugasmu adalah pikirkan bagaimana agar Sherina menyesali keputusannya yang kabur dariku.”


“Secepatnya!”


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


“Tuan, malam nanti Anda memiliki acara makan malam bersama keluarga Tuan Nashir di kediaman beliau,” ujar Rey mengingatkanku.


“Rey, sejak kapan aku menghadiri acara seperti itu?”


“Dari pada ke sana lebih baik aku ke bengkel.”


Yah, sejak 3 tahun yang lalu, bahkan sebelum aku kembali ke Indonesia aku bersama ketiga sahabatku, Bara, Kaif, dan Faqih mendirikan sebuah bengkel yang khusus untuk mobil sport dan mobil balap.


Aku tiba-tiba saja menjadi kesal, mengingat Faqih yang notabenenya adalah kekasih Naila, pastinya dia sudah tahu jika Sherina sebenarnya sudah kembali ke Jakarta.


Dan si*lnya Faqih bahkan tak memberitahu ku hal itu.


Kurasakan ponselku bergetar, keningku berkerut saat melihat nama Rafie dilayar.


“Ya Fie ... “ ucapku menerima panggilan Rafie.


“Malam ini lu jangan sampai gak datang yah ... Gue punya kejutan,” balas Rafie


“Kejutan? Gue jadi penasaran, dan semoga kejutan Lu sama dengan yang Gue pikirin saat ini,” ucapku.


Sesaat setelah mengakhiri panggilan bersama Rafie, aku jadi curiga jika Rafie sudah mengetahui Jika Sherina adalah wanita yang selama ini kuceritakan.


“Rey, sekarang siapkan aku setelan yang paling bagus. Aku harus terlihat berbeda malam ini,” titahku.


“Tidak ada ... aku akan ke acara makan malam di rumah paman dan bibiku,” jawabku.


“Tapi ini akan sedikit berbeda,” lanjutku.


🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸


Malamnya aku sudah siap dengan setelan jas berwarna abu-abu yang disiapkan oleh Rey.


Kukira aku yang datang paling akhir, nyatanya bahkan sudah lewat 30 menit setelah kedatanganku, tamu spesial yang dijanjikan Rafie tak kunjung tiba.


Aku masih berpura-pura belum mengetahui keberadaan Sherina.


Kudengar Rafie menghubungi seseorang yang kuduga adalah Sherina, mereka terdengar sangat dekat.


Rasanya ada hawa panas yang menguar dari tubuhku ... tak nyaman rasanya melihat Rafie lebih akrab dengan Sherina dibanding aku.


Lebih baik aku mengobrol bersama Pasha, pikirku.


Kuhampiri Pasha yang sedang mengobrol bersama para orang tua, sepupuku yang satu ini memang sedikit berbeda.


Pasha memang adalah idola para kaum paruh baya di keluarga kami, dia bisa bertahan lama dalam obrolan bersama para tetua yang sangat membosankan.


“Mereka membahas apa? Sepertinya menarik sekali,” tanyaku pada Pasha.


“Mami Laila cerita soal wanita yang sedang dekat dengan Rafie,” jawab Pasha.


“Katanya seorang dosen di Universitas El-Fatih, lu kenal?” tanyanya.


Aku menggeleng. “Awas saja jika wanita itu Sherina,” batinku.


“Sejak dulu Sherina milikku, sekarang pun dia harus kembali jadi milikku. Akan kubuat dia menyesal telah pergi tanpa izinku,” batinku.

__ADS_1


Kami semua sudah siap di meja makan, sesaat sebelum makan malam di mulai.


Suara seorang wanita menarik perhatian kami semua.


“Cantik, sangat cantik,” batinku.


Tatapanku tak bisa teralihkan dari wajah cantik itu, terutama bola mata yang sangat indah.


“Dulu aku bahkan harus menyiksanya agar bisa menghabiskan waktu bersamanya, agar bisa menatap lebih lama keindahan bola mata itu,” batinku.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Bisakah waktu berjalan lebih cepat? Rasanya sangat menyesakkan melihat kedekatan Rafie dan Sherina.


“Mengapa harus Rafie?”


Belum selesai aku meredakan kekesalanku pada putranya yang sengaja mengumbar kemesraan bersama Sherina, sekarang Mami Laila membuat masalah baru.


“Gibran, jadi kapan kamu akan akan bertunangan?” tanya Mami Laila.


Dan setelah itu bisa kulihat raut wajah Sherina dan Rafie berubah.


“Bagaimana jika Sherina salah paham?” batinku.


Tampak Sherina merasa tak nyaman berada di dekatku, dia selalu ingin menghindar.


Hingga Rafie datang dan menahan Sherina duduk sangat dekat disisinya.


"Aku hanya ingin bertanya pada Adik Sepupuku, mengapa sejak tadi dia terus memandangimu?"


“Apa tidak boleh?” tantangku


Rafie menggeleng. “Boleh saja, bukankah keindahan memang diciptakan untuk memanjakan mata,” ujarnya.


“Yang tidak boleh adalah lu menyakitinya. Karena sekarang dia adalah wanita penting dalam hidupku, jadi jangan coba-coba,” ucapnya memberi peringatan padaku sambil berbisik.


“Gue serius, lu paling tahu kalau Gue selalu serius dengan ucapan gue,” lanjutnya seraya menjauhkan diri dan kembali ke tempatnya.


“Terserah Lu, bagi Gue, antara Gue dan Sherina masih ada hal yang perlu kami luruskan,” ucapku.


Aku berdiri, sudah cukup aku membuang- buang waktu, sekarang saatnya kupastikan wanita ini kembali patuh padaku seperti dulu.


Kuraih pergelangan tangan Sherina, sedikit mengentaknya hingga wanita itu terpaksa berdiri.


“Kita harus bicara, jangan menolak!”


“Paman dan Bibi ...”


“Ayah dan Ibu, Kami permisi pulang lebih dulu,” ucapku.


Dan tak ingin mengulur waktu lagi ku bawa pergi dari tempat Itu.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Meski terus bungkam, tapi aku senang Sherina menurut seperti dulu lagi.


Kami berdua sudah berada dalam perjalanan menjauhi kediaman paman Nashir.


“Jangan terlalu dekat dengan Rafie, aku tak mengizinkanmu,” tegasku.


“Aku tak perlu izinmu,” balasnya ketus.


“Apa kau tak ingat dengan hubungan kita?” Tanyaku.


“Hubungan apa? Hubungan palsu?” balasnya.


“Hal yang sudah lama berakhir, mengapa harus kau ungkit lagi?” lanjutnya.


Aku mencengkeram erat kemudi, menahan emosiku.

__ADS_1


“Tidak akan ada yang berakhir jika bukan aku yang mengakhirinya!”


🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸


__ADS_2