
Sebuah dilema antara cinta dan keluarga.
Sebuah perjalanan cinta segitiga antara aku, kamu, dan keluargamu.
Sebuah kisah di mana cinta protagonis harus melawan keluarga sebagai antagonisnya.
Seperti kisah kita yang terlalu menghayati peran, kita yang terlalu berbahagia hingga melupakan jika semua ada timbal baliknya.
Begitu mudahnya kebahagiaan datang dan begitu mudah pula rintangan mengiringinya.
Dan kini saatnya telah tiba, di saat kita teramat saling menginginkan dan yakin untuk menjadi satu, kita lupa jika yang menyatu tak hanya kita, tapi dua keluarga yang sangat jauh berbeda harus dipersatukan.
Maka ...
Sebelum kisah romansa penuh cinta berubah alur menjadi kisah romansa dengan segala kesenduannya, biarkan kita menikmati perasaan berdebar ketika saling memberi dan menerima cinta.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
#SHERINA POV#
“Ayah ...”
“Sherina!” seru Gibran yang tiba-tiba masuk ke ruangan Paman Nadim.
Sontak aku dan Paman Nadim menoleh ke arahnya.
“Ada apa denganmu? Apa ada yang mengejarmu?” tanya Paman Nadim.
Gibran menggeleng. “Yang ada aku yang berlari kemari untuk mengejar Ayah,” jawabnya.
“Everything oke?” tanyanya padaku setelah ia berhasil duduk di sampingku.
“Ya, aku baik-baik saja.”
Paman Nadim berdecih. “Cih, memangnya hal buruk apa yang bisa terjadi jika Sherina bersama Ayah?”
“Apa pun bisa terjadi, lebih baik aku mencegah hal buruk terjadi,” jawab Gibran.
“Posesif,” celetuk paman Nadim.
“Kapan kamu berangkat ke Bali?”
“Sherina? Pergi bersamamu atau bersama Rafie?” tanya Paman Nadim.
“Tentu saja dia akan pergi bersamaku, aku kekasihnya...” jawab Gibran.
Paman Nadim tertawa melihat sikap posesif putranya, “Kamu yang sabar yah Sherina, beri tahu Paman jika Gibran menyakitimu.”
“Terima kasih Paman, kami permisi.”
Aku dan Gibran meninggalkan ruangan Paman Nadim.
Sepanjang jalan menuju tempat Gibran memarkirkan mobilnya, semua mata tertuju pada kami.
Entah alasan tepatnya apa, apakah karena rangkulan posesif Gibran di pinggangku, atau mereka tertarik untuk mengetahui bagaimana rupa wanita yang menjadi kekasih bosnya
Beruntung sebelum kemari aku sempat merapikan riasanku, jika tidak bisa saja aku dikira pelayan sang tuan muda, batinku.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Kini aku dan Gibran sedang dalam perjalanan menuju salah satu Mall terbesar di Ibu kota.
“Untuk apa kita ke Mall?” tanyaku.
“Bantu aku untuk berbelanja barang untuk kebutuhan apartemenku yang baru,” jawabnya.
Aku hanya mengangguk. Sebenarnya tak penting bagiku apa alasan Gibran memilih pindah.
“Aku tak ingin kamu merasa tak nyaman jika suatu saat kita ke apartemenku yang lama,” lanjutnya.
Aku mengerti maksud Gibran. Apartemen Gibran memang menyimpan banyak kenangan buruk untukku.
Jujur, aku cukup tersentuh dengan niat baik Gibran. Terlebih alasannya pindah karena tak ingin aku merasa tak nyaman.
Aku menarik napas panjang, menghirup banyak oksigen untuk memenuhi rongga dadaku yang tiba-tiba saja sesak jika mengingat kembali kejadian malam itu.
Genggaman tangan Gibran menyadarkanku dari lamunan akan kelamnya masa laluku.
“Kamu tidak ingin tahu lokasi apartemen baruku di mana?” tanyanya.
“Di mana?”
"Tak jauh dari komplek perumahanmu,” jawabnya.
“Itu artinya kita akan semakin dekat dan semakin sering bertemu, kamu juga bisa lebih sering membantuku merapikan apartemen.”
Tidak! Pekikku dalam hati.
Memang Gibran tak akan pernah berubah, batinku.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
__ADS_1
“Apa aku sudah memberitahumu untuk bersiap? Jika sesuai rencana, kita akan berangkat ke Bali 2 hari lagi,” ucap Gibran saat kami berdua sedang menikmati makan malam setelah lelah berbelanja.
“Ke Bali? 2 hari lagi? Maaf, aku tak bisa,” tolakku.
“Dan juga itu adalah rencanamu. Kamu tak pernah meminta pendapatku,” jelasku.
“Kenapa tak bisa? Alasannya? Karena pekerjaan?” cecarnya.
Aku mengangguk.
“Urusan kampus tidak perlu kamu khawatirkan. Biarkan Rey dan Martin yang mengaturnya.”
Aku memijit keningku, yang tak sakit.
Benar juga, kampus itu adalah miliknya. Tentu saja dia bisa melakukan apapun, batinku.
“Tapi aku tetap tak bisa," tolakku lagi.
“Alasannya?”
“Aku sudah janji untuk menemani Rafie ke suatu acara,” jawabku.
“Acara pembukaan butik baru mami Laila? Tanyanya.
Aku mengangguk.
“Tak perlu pergi bersamanya. Kamu hanya boleh pergi denganku.”
Aku menghela napasku. “Tapi aku sudah terlanjur janji pada Rafie.” Jelasku.
“Tapi yang menjadi kekasihmu adalah aku,” balasnya.
Kekasih?
Dari sikapnya padaku di depan orang lain, kuakui Gibran selalu bersikap bagai seorang kekasih idaman setiap wanita.
Romantis, lemah lembut, dan penuh perhatian.
Namun di balik itu semua, Gibran tetaplah manusia paling pemaksa.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Sesuai rencana yang telah diatur oleh Gibran, malam ini aku dan Gibran akan berangkat ke Bali untuk menghadiri acara pembukaan butik mami Laila yang baru.
Benar, semua sesuai rencana Gibran. Sebab aku baru tahu jika seharian ini, Gibran sengaja meminta Pak Martin membuatku sibuk seharian.
Aku sampai lupa janjiku pada Rafie dan berakhir bersama Gibran saat ini.
“Apa kamu lupa caranya tersenyum?” tanyanya membuyarkan lamunanku.
Aku sungguh merasa jadi sahabat yang terburuk untuk Rafie dan Harsya yang sudah sangat baik padaku selama ini. Sedangkan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk keduanya.
“Lalu kenapa wajahmu terus ditekuk?” tanyanya lagi.
Aku hanya mengedikkan bahuku, sembari terus menghela napasku.
“Apa karena Rafie?”
Aku masih bertahan untuk tak bergeming. Terus kupandangi gelapnya langit dari balik jendela pesawat, membayangkan indahnya kilauan bintang di luar sana
Ya, sekarang kami sedang berada di dalam pesawat yang akan membawa kami ke Pulau Dewata Bali.
Sudah 30 menit sejak pesawat lepas landas meninggalkan Jakarta, aku sudah tak sabar untuk sampai di sana lalu meminta maaf pada Rafie sebab tak bisa menepati janjiku.
“Tenanglah, aku sudah menjelaskan pada Rafie jika kamu akan datang bersamaku. Rafie juga mengerti … bukankah dia juga sudah memberi restu pada kita?” jelas Gibran.
Meski aku mendengar semua penjelasan Gibran, namun aku tetap tak bergeming. Aku terus bersikap keras kepala dengan memejamkan mataku, berpura-pura sedang tertidur.
Bisa kudengar helaan napas Gibran.
“Istirahatlah, aku akan membangunkanmu saat pesawat akan mendarat.”
“Tidurlah, berhenti berpura-pura.” lanjutnya.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Hampir 2 jam mengudara dan kini kami telah tiba di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai di Bali.
Seorang sopir dan sebuah mobil mewah telah menanti kedatangan tuan muda El-Fatih.
Sopir yang dipanggil Gibran dengan Bli Putu segera melajukan mobil menuju ke tempat tujuan yang aku tak tahu di mana.
“Apa semua keluargaku sudah datang?” tanya Gibran.
“Sudah Tuan,” jawabnya.
Semua keluarga? Batinku.
Bukannya kami kemari untuk pembukaan butik mami Laila.
“Tersenyumlah Sherina, kumohon jangan kacaukan malam ini,” peringatnya saat sebentar lagi kami akan tiba di tujuan kami.
__ADS_1
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Hanya sekitar 30 menit waktu yang kami perlukan untuk sampai di sebuah villa mewah yang berada di daerah Seminyak.
Halaman luas yang saat ini dipenuhi dengan beberapa mobil mewah, lalu bangunan Villa yang luas yang sebagian besar berdinding kaca mampu membuatku kagum.
“Ayo sayang,” ucapnya dengan tangan terulur padaku.
“Sayang?” gumamku lirih.
“Kenapa kamu terkejut? Apa aku salah?” tanyanya lembut.
“Bukannya sepasang kekasih memang seperti itu? Atau kamu ingin panggilan yang berbeda?”
“Cinta? Honey? Baby? Pumpkin?”
Gibran terus menggodaku.
Aku akhirnya tertawa, melupakan jika aku sedang kesal padanya.
“Stop Gibran, cukup panggil Sherina saja.”
Gibran menggeleng lalu menarikku dalam rangkulannya.
Kami berdua berjalan bersama, dengan Gibran yang terus merangkulku.
“Tidak. Kita harus punya panggilan semacam itu. Menurut Rey, semua pasangan kekasih pasti punya panggilan spesial,” jelasnya.
“Tapi kita kekasih palsu, ingat itu,” Ucapku.
Tawa Gibran terhenti. “Jangan pernah ucapkan kata itu lagi, aku tak menyukainya.”
“Paham, sayang ...” ucapnya kembali menggodaku.
Kami akhirnya kembali tertawa bersama. Aku bahkan tak menyadari jika sudah banyak pasang mata yang menatap ke arah kami.
“Ekhemmm,” deheman seseorang menghentikan candaan kami berdua.
“Pasangan baru memang sering lupa, mereka pikir dunia hanya milik berdua,” ucap Rafie menyambut kedatangan kami.
Gibran tertawa, ia melepas rangkulannya dan berganti menggenggam tanganku.
Sementara tangan lainnya, Ia pakai untuk berjabat tangan dengan sanak keluarganya secara bergantian.
Aku mengikuti apa yang dilakukan Gibran menyalami dan menyapa keluarga Gibran.
Malam ini oleh Gibran, aku diperkenalkan sebagai kekasihnya. Sebagai Sherina, cinta lama Gibran yang kembali bersemi.
Sambutan hangat dari keluarga Gibran malam ini membuatku sempat terlena dan melupakan status hubungan kami.
Hingga, suara wanita paruh baya mengejutkan kami semua.
“Nona Sherina anda di sini juga rupanya,” ujarnya.
“Tapi kok bisa yah? Saya merasa tidak pernah mengundang Anda kemari,” lanjutnya dengan sengaja mempermalukanku.
Sontak aku berbalik menggenggam tangan Gibran dengan erat.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, semua orang kini menatapku dengan tatapan kasihan.
“Ibu!” pekik Gibran.
“Sherina kekasihku, sudah pasti dia kemari bersamaku.” Ujar Gibran.
Wanita yang baru saja mempermalukan ku adalah adalah Nyonya Farrah, ibu dari Gibran.
Dan di sisinya kulihat ada Soraya dan sepasang suami-istri yang kuduga adalah orang tua Soraya.
Huh, lagi-lagi aku harus berurusan dengan Soraya, batinku.
“Terserah apa katamu, tapi Ibu tak merasa pernah dan tak akan pernah merestui atau hanya sekedar mengakui hubungan kalian.”
“Jadi yang merasa tidak diundang silakan pergi,” usirnya padaku.
Air mata mulai menggenangi mataku, malangnya aku ... jauh-jauh aku kemari hanya untuk dipermalukan.
Kini bukan lagi tatapan kasihan dari orang-orang yang kudapatkan.
Tapi, bisikan demi bisikan orang di sekitarku mulai terdengar.
“Baik, kalau begitu aku juga akan pergi. Aku tak akan meninggalkannya,” geram Gibran.
“Kami pun juga akan pergi, kami semua akan bersama Sherina,” ucap Harsya sembari mengangguk pada Rafie.
Aku dan Gibran sudah berbalik dan hendak berjalan pergi.
Namun ....
“Siapa yang berani mengusir tamuku?”
Suara bariton seorang pria paruh baya kini menarik semua perhatian.
__ADS_1
“Sherina adalah calon menantuku, pilihan putraku sendiri. Tak ada yang boleh mengusirnya dari vilaku. Jika ada yang keberatan, silakan sampaikan langsung padaku,” ucap Paman Nadim dengan tegas.
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸