
Karena ku percaya dia adalah yang terbaik untukku.
Dan karena aku juga tak ingin mengecewakan kalian berdua, orang tuaku.
Bolehkah aku berharap mendapat nasihat darimu, Ayah.
Karena kau Ayahku dan juga pria terhebat yang kukenal selama hidupku.
Jika ku boleh memilih, ku ingin memilih keduanya, membahagiakan keluargaku dan memilih orang yang kusayangi.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
# GIBRAN POV#
[ Flashback ON ]
“Rey, apa malam ini saya tidak ada pertemuan?” tanyaku pada Rey.
“Tidak ada Tuan,” jawab Rey dengan yakin, “Sudah saya periksa berkali-kali.”
“Kalau begitu carikan alasan yang tepat agar saya tidak perlu hadir di acara makan malam nanti?”
“Maaf Tuan, tapi sebaiknya Tuan hadir,” saran Rey, “Nyonya Farrah sangat marah dengan sikap Anda yang pergi begitu saja semalam.”
“Cih... Kamu seperti tahu saja kejadian semalam,” sindirku, tak terima jika aku disalahkan.
“Tuan membawa calon kekasih Tuan Rafie pergi dari acara makan malam di kediaman Tuan Nashir,” jawab Rey tanpa ragu.
Aku menatap tajam pada Rey, haruskah dia memaparkan secara rinci kesalahanku?
“Sekarang keluar dan lakukan apa yang kuperintahkan,” ujarku.
Lama-lama bersama Rey ternyata juga menguji kesehatan mental dan jantungku.
“Rey, tadi kau salah. Wanita itu bukan calon kekasih Rafie ... yang benar adalah wanita itu adalah kekasihku yang hilang bertahun-tahun yang lalu,” jelasku.
Mana bisa aku menerima jika Sherina-ku dikatakan milik orang lain.
Sherina akan jadi milikku lagi. Wanita itu harus merasakan apa yang selama ini kurasakan.
Akan kubuat dia memohon untuk tetap tinggal di sisiku, akan kubuat dia memohon agar aku tak meninggalkannya.
“Sherina, kali ini rasa cintamu padaku harus jauh lebih besar dari pada rasa cintaku padamu!” tekadku.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Malam harinya dengan sangat terpaksa aku harus mengikuti permintaan Ibu untuk makan malam bersama wanita yang tidak pernah kusukai.
“Gibran ... terima kasih sudah mengajakku makan malam,” ucapnya dengan gaya manja yang membuatku jijik.
“Bukan gue, tapi Ibu yang maksa gue untuk makan malam bareng lu,” ucapku memperjelas situasi malam ini.
Wanita yang ada di sisiku kini adalah Soraya.
Temanku sejak kecil, wanita kejam yang sudah membully Sherina, wanita yang selama ini terus mengejar-ngejar cintaku.
Syukurlah tak butuh waktu lama untuk bisa tiba di salah satu restoran mewah.
Suasana yang sangat romantis menyambut bahkan sejak langkah pertama memasuki restoran ini.
Aku jadi membayangkan jika suatu saat nanti aku dan Sherina akan makan malam romantis berdua di tempat ini.
Di benakku sudah kurencanakan jika suatu saat aku akan makan malam berdua bersama Sherina di sini. Aku akan memaksanya bermain piano untukku, seingatku dulu dia pernah ikut ekskul piano di SMA. Akan kubuat pria lain di resto ini akan cemburu melihat betapa cintanya Sherina padaku.
Aku terkekeh dengan bayangan di benakku.
Aku merasa sikap Soraya sangat aneh. Saat kami hendak memasuki ruangan VIP yang sudah dipesan Ibu, Soraya memaksa untuk bergelayut manja di lenganku.
__ADS_1
Aku berusaha melepasnya, namun sayang pintu sudah lebih dulu terbuka dan betapa terkejutnya aku saat di sana sudah ada kedua orang tua kami masing-masing.
Tak ingin mempermalukan Soraya, aku terpaksa bersabar dengan semua sikap manja wanita ini.
Aku hanya menjawab seadanya saja, hingga akhirnya Soraya mengucapkan hal yang membuatku tercengang.
“Ma ... Pa ... “
“Om ... Tante... “
“Aku sekarang sudah siap jika pertunangan kami segera dilaksanakan.” Ucap Soraya dengan percaya diri.
“Dasar wanita ular!” rutukku dalam hati.
“Bukannya kemarin dia menolak dengan alasan masih ingin fokus pada karirnya?” batinku.
“Wah bagus itu, akhirnya kalian memutuskan hal yang paling tepat. Ibu yang akan menyiapkan semuanya,” imbuh Ibu.
“Kami juga akan membantu menyiapkan semuanya,” ucap Ibu dari Soraya.
Di saat kedua Ibu itu saling bertukar pendapat mengenai persiapan pertunangan putra dan putri mereka, Gibran sendiri terlihat tak tertarik.
Aku akan membicarakan hal ini di rumah saja. Biar bagaimana pun , Soraya adalah seorang wanita, terlebih kami sudah berteman sejak kecil.
Aku tak akan mempermalukannya dengan menolak pertunangan ini sekarang.
Namun pikiran bijak itu seketika sirna, saat aku melihat foto yang dikirimkan Rafie.
Aku meremas ponsel digenggamanku.
Melihat foto Sherina yang berangkulan mesra dengan Rafie sungguh membuat hatiku memanas.
Tak cukup dengan Rafie, ada juga foto Sherina dengan Seorang pria yang kutahu adalah sahabat Rafie, Harsya.
Bahkan hanya dari foto itu aku bisa menilai jika hubungan mereka sangat dekat, Sherina bahkan tersenyum dan tertawa dengan lepas. Hal yang tak pernah Ia lakukan saat bersamaku.
“Tidak bisa dibiarkan, aku juga harus buat momen spesial di hari ulang tahunnya kali ini,” batinku.
Baru saja hendak membuka suara untuk pamit lebih dulu, Ayah menghentikanku dengan pertanyaannya.
“Tapi kita belum mendengar pendapat dari putra kita,” ujarnya dengan bijak.
“Pertunangan ini bukan hanya soal keputusan dari Soraya, tapi keputusan Gibran juga harus dipertimbangkan,” lanjutnya.
Dan ya, inilah ayahku. Ayah yang tak akan memaksa kehendaknya, terkecuali soal pendidikan dan karier.
“Bagaimana denganmu Gibran, apa kamu setuju dengan pertunangan ini?” tanya Ayah yang mengejutkan hampir semua orang di ruangan ini.
Kulihat jika Ibu sudah menatap ayah dengan tatapan tak setuju.
Ibu pasti sudah tahu jika aku tak akan setuju dengan pertunangan ini.
Saat semua perhatian tertuju padaku, kurasa ini adalah saat yang tepat untuk mengakhiri drama putra baik dan berbakti yang sedang kulakoni.
“Terima kasih Ayah sudah mau mengerti, dan memberikan aku kesempatan untuk memilih,” Ujarku.
“Dengan segala rasa hormatku, Aku hargai harapan Ayah dan Ibu, Om dan Tante, agar kami bisa cepat menikah. Tapi jujur saja, sejak dulu aku pribadi tidak memiliki niat untuk menikah dengan Soraya,” ucapku jujur.
Agak sulit rupanya untuk menolak namun mesti dengan ucapan yang tidak melukai siapa pun.
“Mohon maaf Soraya, bukannya aku ingin melukai perasaanmu atau mengubur harapan dan impianmu. Hanya saja saat ini aku tak bisa menerimamu karena aku sudah memiliki kekasih. Aku harap kamu bisa memahaminya dan mungkin bisa mencari yang lebih dari aku,” ucapanku kini tertuju langsung pada Soraya.
Kulihat sudah ada genangan air mata yang membuat mata Soraya nampak berkaca-kaca.
“Apa yang kamu maksud adalah perempuan itu? Si Culun itu?” tanya Soraya.
Di bawah meja kedua tanganku telah mengepal. “Gadis ular, beraninya dia menyebut wanitaku Si Culun,” batinku.
__ADS_1
“Si Culun? Siapa dia? Apa kamu memiliki kekasih?” ucapan Soraya memancing Ibu untuk bertanya.
Baiklah aku jujur, semasa sekolah aku tidak diperbolehkan oleh kedua orang tuaku untuk berpacaran. Itu juga yang menjadi penyebab mengapa aku selalu tidak pernah perlakukan Sherina dulu layaknya seorang kekasih jika di sekolah.
Yang orang tuaku tahu, semasa SMA dulu aku memanfaatkan seorang siswi pintar yang tergila-gila padaku untuk membantuku belajar.
“Ya, dan wanita itu pula yang telah menyakiti hatinya hingga Gibran setuju kuliah di London!”
Soraya tidak memberikan aku kesempatan untuk bicara, bahkan pertanyaan Ibu pun dijawab olehnya.
“Benar, kamu memang teman yang sangat perhatian Soraya,” ucapku dengan tatapan sinis padanya.
“Wanita itu yang menjadikan alasan aku pindah ke London. Tapi bukan karena dia menyakiti hatiku, tapi karena aku yang menyakitinya,” jelasku.
“Dia motivasiku untuk menjadi seperti diriku yang sekarang.”
“Dan Ayah juga Ibu sudah bertemu dengannya,” imbuhku.
Kuyakin Ayah dan Ibu pasti bingung, sebab belum ada seorang wanita pun yang kuperkenalkan sebagai kekasih atau teman dekat pada mereka.
“Wanita itu adalah Sherina, wanita yang bertemu kalian semalam di rumah paman Nashir,” jelasku.
Aku menerka-nerka reaksi Ayah dan Ibu.
Dan dugaanku benar, Ayah yang tak pernah memandang seseorang dari status sosialnya, Beliau juga mengagumi seseorang yang pintar dan berprestasi, sudah pasti Sherina akan lulus dalam seleksi menjadi menantu di keluarga El-Fatih.
Sedang Ibu, wajahnya kini memerah menahan amarah. Sama dengan raut wajah yang ditampilkan oleh orang tua Soraya.
“Tak kami sangka, ternyata makan malam kali ini hanya untuk mempermalukan putri kami,” ujar Ibu dari Soraya.
“Kami akan terus mengingat apa yang terjadi malam ini,” sambung Ayah Soraya dengan angkuhnya.
Ahmad Parvin dan Afifah Parvin adalah kedua orang tua Soraya, pemilik Parvin Publishing. Keduanya memang terkenal angkuh di antara para pengusaha di bidang itu.
“Maaf atas kesalahpahaman ini,” ucap Ibu berusaha menahan orang tua Soraya yang hendak pergi.
“Iya, kami mohon maaf Tuan Parvin dan Nyonya. Sepertinya pertunangan putra dan putri kita tidak bisa dilanjutkan.”
Aku menatap tak percaya pada Ayah, begitu pun dengan Ibu yang wajahnya semakin memerah saja.
Sepeninggal keluarga Parvin, Ibu langsung saja melayangkan protes pada Ayah.
“Ayah! Apa Ayah baru sadar jika telah menyia-nyiakan keluarga Parvin untuk seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya?”
“Dia Sherina, putri Efendi dan Yasmin. Kita mengenal kedua orang tuanya, bahkan kita juga mengenal Sherina sejak dia masih kecil,” jelas Ayah.
“Berhenti bertingkah seperti hidupmu sulit, aku sudah memberimu kehidupan yang jauh kekurangan. Jadi jangan pernah membeda-bedakan seseorang dari bagaimana kau membutuhkannya,” tegas Ayah.
“Jangan membuatku merasa gagal mendidikmu sebagai istri.”
Kalimat Ayah yang terakhir mampu membungkam Ibu dan juga Aku.
“Aku harus mencontoh Ayah dalam hal tegas sebagai suami,” batinku.
“Sejak tadi kau sangat gelisah, apa kau melewatkan sesuatu?” tanya Ayah beralih menatapku.
“Hari ini ulang tahun Sherina ... aku harus pergi menemuinya,” jawabku.
“Dan mengapa kau masih di sini?”
Aku kembali menatap Ayah dengan tatapan tak percaya. “Aku baru saja akan pergi,” ucapku.
Hanya Ayah yang mengangguk dan tersenyum. “Pergilah, sampaikan ucapan selamat ulang tahun dari Ayah untuknya. Dan jika tak sibuk, sesekali ajaklah Ia ke rumah.”
Aku mengangguk dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Maafkan aku Ibu, aku bahkan pergi tanpa berpamitan tanpamu. Sepertinya kali ini jalanku cukup mudah, selama Ayah menyetujui maka tak ada yang bisa menentangnya.”
__ADS_1
Batinku menari-nari, tak sabar hendak menemui Sherina dan memberinya hadiah yang sudah 8 tahun kusimpan.
[Flashback Off]