
Bicaralah, jika tidak mana bisa aku memahamimu.
Berhentilah berdrama dan menuntutku menjadi lebih sensitif hingga bisa mengetahui inginmu tanpa membicarakannya.
Bagaimanapun juga aku dan dirimu tak mungkin bisa menjadi dua pribadi yang memiliki sifat dan perilaku yang sama.
Hingga terkadang apa yang kulakukan bukanlah yang kamu inginkan, dan yang kau lakukan bukanlah yang kuinginkan.
Namun akankah hal ini menjadi alasan bagi kita untuk saling menjauh?
Akankah kita menjadi lelah, sementara belum pasti di luar sana ada orang lain yang lebih memahami?
Yang kita perlukan hanya lebih banyak waktu bersama, lebih banyak kebersamaan hingga kita bisa lebih saling memahami.
Perjalanan kita akan panjang, mari berjuang bersama untuk saling memantaskan diri sebelum memasuki babak berikutnya dalam hubungan kita.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# SHERINA POV #
Aku sungguh tak paham dengan Gibran. Apa kesalahanku hingga membuat sikapnya padaku bisa berubah dalam sekejap.
Mungkin kuota untuk memuji hingga membuatku merona sudah habis, hingga yang tersisa hanya sikap acuh dan dingin yang khas seorang Gibran.
Tak hanya Gibran yang tiba-tiba saja bersikap aneh, Barra pun demikian.
Jika sikap Soraya yang terus mengibarkan bendera permusuhan sudah bisa ditebak olehku, lain halnya dengan Barra.
Jika biasanya Barra akan ikut meremehkanku, namun malam ini pria itu terus saja menghindariku.
Tiap kali netra kami tanpa sengaja bertemu, Barra akan mengalihkan pandangannya lebih dulu dariku.
Tapi baguslah, dengan begini aku tak perlu takut dan khawatir jika Barra akan mengusikku lagi, batinku.
“Ada apa denganmu? Apa aku berbuat salah?” bisikku pada Gibran saat acara reuni baru saja usai.
Gibran menggeleng. “Jika kau sudah puas menebar pesona, ayo pulang!” balasnya tanpa menatap padaku.
“Siapa yang tebar pesona?” tanyaku namun tak dihiraukan olehnya.
Gibran terus saja melangkah menuju meja di mana ayah dan ibunya berada.
“Ayah, Ibu, aku dan Sherina pamit pulang lebih dulu,” ucapnya dengan sopan.
“Sampai bertemu lagi Sherina ... sering-seringlah berkunjung, aku sangat suka mengobrol dengan wanita yang memiliki wawasan luas sepertimu,” ucap Ayah Nadim.
Aku membalas dengan anggukan penuh semangat. “Tentu saja Tuan, saya merasa beruntung bisa bertukar pikiran dengan Anda,” balasku sembari mengulurkan tangan untuk berpamitan.
“Karena ini di tempat umum, kumaafkan kamu yang selalu berbicara formal padaku. Tapi jika di tempat lain santai saja Nak, bagaimanapun sebentar lagi kamu akan jadi anggota keluarga kami,” ucap Tuan Nadim lirih sembari meraih uluran tanganku.
“Terima kasih Tuan Nadim, anda sangat baik padaku.”
Ingin sekali kuluruskan kesalah pahaman yang terjadi karena Gibran yang terus-menerus mengatakan jika kami berdua memiliki hubungan spesial.
Namun kuurungkan niatku sebab Tuan Nadim, Paman Nashir, dan juga Mami Laila bersikap sangat baik padaku.
Sangat berbeda dengan Nyonya Farrah, yang dengan jelas menampakkan jika dirinya sangat tidak menyukai kehadiranku.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Aku lebih suka Gibran yang marah-marah atau mungkin Gibran yang terus menggodaku. Dibandingkan dengan Gibran yang terus mendiamiku seperti ini.
“Gibran ... kamu marah?”dan pria itu tetap tak bergeming.
“Apa aku harus bilang setiap aku marah?” balasnya ketus.
__ADS_1
Aku mengernyitkan keningku. “Aku mana bisa tahu kamu marah atau tidak , jika bukan kamu yang ngomong,” jawabku, “Aku bukan paranormal!” balasku tak kalah ketus.
Kupalingkan wajahku menatap ke arah jalanan yang masih ramai dilalui oleh kendaraan berlalu lalang meski malam sudah semakin larut.
Sekilas kulirik Gibran yang tetap bertahan dalam diamnya, meski tangannya sudah tampak mengepal kuat pada kemudi.
Cih ... bukankah dia ingin menjalin hubungan denganku lagi? Harusnya jangan mendiamiku seperti ini, batinku.
Namun setelah menyadari apa yang ada pada batinku, segera aku menggeleng berharap pikiran itu sirna seketika.
Mengapa aku berharap Gibran tak mendiamiku? Apa aku juga berharap hubungan kami bisa terjalin lagi? batinku.
Tanpa bisa kucegah, sepanjang perjalanan pulang yang diselimuti keheningan, aku hanya sibuk dengan perasaan juga pikiranku sendiri.
Apa sebenarnya yang kamu inginkan Sherina? Jangan semudah itu termakan rayuan Gibran, ingat tujuanmu dan ingat bagaimana dulu perlakuannya padamu, batinku.
Kali ini meski terbersit rasa tak rela, namun aku harus setuju dengan pikiranku sendiri.
Hingga deheman Gibran menyadarkan dari lamunanku.
“Sudah sampai, kamu mau turun atau tetap tinggal dan melamun sampai pagi?”tanyanya.
“Tentu saja aku akan turun. Mana tahan aku berlama-lama sama pria sensitif sepertimu,”balasku.
Baru saja aku hendak membuka pintu mobil, namun Gibran berhasil menahan tanganku.
“Lain kali jika sedang bersamaku, jangan pernah alihkan perhatianmu pada pria lain. Apalagi jika pria itu adalah pria playboy seperti Kaif,” ujarnya.
Aku menghela napas panjang. Jadi ini masalahnya, batinku.
Kuurungkan niatku untuk segera turun dari mobilnya, kubenarkan posisi dudukku hingga kini aku menghadap pada Gibran yang masih enggan menatapku.
“Aku tak pernah dan tak berniat memperhatikan Kaif. Meski tak kau katakan, aku juga tahu bagaimana perilaku Kaif pada setiap wanita,” jelasku.
“Juga ... mungkin harus kutegaskan padamu kembali, jika saat ini aku tak berniat menjalin hubungan dengan siapa pun.”
“Jika kau tak berniat, maka aku akan memaksamu. Kau tahu bagaimana aku yang tak akan berhenti sampai aku mendapatkan apa yang ku inginkan,” tegasnya.
“Terserah padamu, kau juga harus tahu jika aku yang sekarang bukan lagi Sherina yang akan terus mengikuti keinginanmu!”
Gibran mengedikkan bahunya. Dengan wajah acuhnya, dia hanya melirik sekilas ke arah wajahku yang kuyakini sudah memerah karena menahan amarah.
“Lihat saja nanti sayang, sebentar lagi kau tak akan bisa menolak apa pun yang aku ucapkan,” ucapnya.
Sekali lagi ia mengatakannya tanpa menatap padaku, membuat darahku mendidih sampai ke ubun-ubun.
Tak ingin berlama-lama bersama pria menyebalkan seperti Gibran, aku segera turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Aku semakin yakin untuk tak terlibat hubungan apa pun lagi dengannya,” gumamku sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
“Dasar Sherina, kau bodoh sekali sempat berpikir untuk menjalin hubungan kembali dengannya,”rutukku pada diriku sendiri.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Sejak perdebatan semalam, tak ada lagi kabar dari Gibran.
Baguslah ... aku bisa terbebas dari pria pemaksa sepertinya, batinku.
Pagi ini aku diantar oleh Rafie yang kuduga pasti memiliki niat tersembunyi.
“Jadi bagaimana dengan Gibran?” tanyanya saat kami tengah bergelut dengan kemacetan ibu kota di pagi hari.
“Jangan membahas dia lagi, itu akan merusak suasana hatiku.”
“Kalian bertengkar? Lagi?”
__ADS_1
“Bukankah sejak dulu kami memang selalu begitu? Jangan terlalu terkejut,” jawabku.
“Bagaimana denganmu? Menjemputku sepagi ini, apa terjadi sesuatu?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Akhir Minggu ini, apa kamu sibuk?
Aku berpikir sejenak. “Entahlah, aku belum memiliki jadwal apapun.”
“Baguslah ... kumohon temani aku menghadiri acara pembukaan cabang butik mami yang baru di Bali,” pinta Rafie dengan memelas.
“Harsya?” tanyaku.
“Tentu saja dia akan ikut,” jawab Rafie, “Namun mami memaksaku untuk mengajakmu.”
“Bahkan mami sampai mengancamku. Aku akan kehilangan 30% sahamku jika aku tak berhasil menjadikanmu pasanganku saat pembukaan butiknya nanti,” jelas Rafie.
“Kumohon Sherina, ikutlah bersamaku saat acara itu,” pintanya dengan memelas.
Aku tertawa mendengar cerita Rafie. Sepertinya ucapan Gibran benar, jika mami Laila sangat terobsesi menjadikanku menantunya.
“Kau tak perlu memohon seperti itu. Aku pasti akan membantumu,” jawabku.
“Tapi Raf, apa tak masalah jika kita terus memberi harapan pada mami Laila?” tanyaku.
Rafie hanya mengedikkan bahunya. “Aku pun tak tahu,” jawabnya, “Memangnya jika mami memintaku untuk menikahimu, apa kamu mau?”
What? Pertanyaan macam apa itu, batinku memekik.
“Apa kau sadar dengan ucapanmu?” tanyaku.
“Apa kau mau menyakiti Harsya?” cecarku.
Rafie mengernyitkan keningnya bersamaan dengan laju mobil yang harus berhenti sebab kami sudah tiba di kampus tempatku mengajar.
“Kamu aneh, jika hal itu benar-benar terjadi maka yang paling tersakiti adalah kamu,” ujarnya.
“Memangnya kamu bisa terima jika suamimu itu memiliki kelainan sepertiku?”sambungnya.
Aku terdiam sesaat memikirkan pertanyaan Rafie.
“Mungkin sekarang tidak, tapi lama kelamaan aku tak menjamin untuk tak merasakan sakit di hatiku,” jawabku.
“Tapi ... jika dengan begitu akan mengurangi jumlah orang yang akan tersakiti, maka aku akan rela berkorban.”
“Kau tahu, sama sepertimu dan Harsya ... aku pun bersedia melakukan hal apa pun agar kalian berdua bahagia,” ucapku.
Aku cukup terkejut saat Rafie tiba-tiba menarikku ke dalam dekapannya.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku tak mungkin mengorbankanmu demi kebahagiaanku dan Harsya,” ucapnya.
Aku membalas pelukan Rafie yang terasa sangat tulus bagiku, aku tahu jika dia dan Harsya benar-benar menyayangiku.
Setelah melepas pelukan kami, aku segera turun dari mobil Rafie dan melambaikan tanganku ketika mobil berwarna hitam itu berlalu.
Baru saja aku hendak melangkah, aku dibuat terkejut oleh sebuah mobil yang tiba-tiba melaju dengan sangat cepat di depanku.
Untuk yang ke sekian kalinya pagi ini, aku harus menghela napasnya lagi.
Aku tahu betul siapa pemilik mobil itu. Entah mobil itu datang dari mana dan sejak kapan mobil itu berada di sana.
Jika dia melihat adegan pelukanku bersama Rafie, aku yakin Gibran akan salah paham lagi, batinku.
Dengan langkah berat aku memasuki kampus tempatku mengajar. Mengapa sejak bertemu Gibran hidupku rasanya menjadi tak tenang.
Meski tak ingin. Tapi hati kecilku tetap tak rela jika Gibran benar-benar salah paham.
__ADS_1
Arrgghhh ... aku dilema, batinku.
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌸🌼🌸🌼