
# Gibran POV #
Aku sudah lama akrab dengan sakitnya memendam perasaan cinta. Meski menderita, tapi rasa malu dan juga takut jika cintaku akan ditolak masih lebih mendominasi dan sulit untuk kutaklukkan.
Namun pertanyaan sampai kapan aku mampu menahan semuanya, yang kini membuatku bimbang.
Berhasil membawa Sherina kembali menjadi kekasihku, rupanya belum bisa membawa kebahagiaan seutuhnya.
Yang terjadi, aku semakin dihantui oleh rasa takut jikalau Sherina akhirnya menemukan cinta pada pria lain sebelum dia menyadari perasaanku.
Percaya jika sekecil apa pun yang terjadi pasti memiliki hikmah di baliknya, mungkin hal itulah yang terjadi padaku kini.
Meski Sherina harus menangis lebih dulu sebab dipermalukan oleh ibuku, atau aku yang harus berusaha menahan amarahku saat melihat ibuku mempermalukan wanita yang aku cintai, tapi setelah itu semua kini aku bisa merasa lega sebab perasaan cintaku akhirnya berhasil kuungkap.
Tak terasa hari telah berganti, jika kuhitung baru sekitar 11 jam yang lalu aku berhasil jujur pada perasaanku.
Kini aku sedang memandangi wajah cantik Sherina yang tampak damai dalam tidurnya. Sesekali kusampirkan beberapa helai rambut yang menggangu tidur Sherina.
Drrttt …. Dddrrrtt …. Drrrttt….
Getaran ponsel yang ada di atas nakas mengalihkan perhatianku. Ternyata getaran itu berasal dari ponsel Sherina. Aku berdecak ketika melihat nama Harsya di layar ponsel Sherina.
"Mau apa dia menghubungi kekasihku sepagi ini?" Gerutuku.
Segera kugeser tombol jawab. "Halo," ucapku.
"Di mana Sherina? Kemana lu bawa Sherina?" Cecar Harsya dari seberang telepon.
Meski hanya mendengar suaranya, sudah bisa kutebak jika kini Harsya terjebak antara khawatir dan amarah.
"Sherina masih tidur," jawabku sesingkat yang aku bisa.
"B*ngsut lu yah!" Umpat Harsya padaku yang sukses memancing emosiku pagi ini.
"Sampai Lu berani maksa Sherina, itu artinya lu udah maksa gue untuk habisin nyawa lu," lanjutnya mengancamku.
"Yang maksa siapa? Dan juga apa yang terjadi antara gue dan Sherina itu bukan urusan lu!" tegasku pada Harsya.
"Sherina itu kekasih gue, asal lu tahu."
Harsya sukses memancing emosiku pagi ini, Si*l kenapa juga dia harus menghancurkan pagiku yang indah. Batinku.
Meski aku telah menjauh dari tempat tidur, suaraku yang sempat meninggi sepertinya mengusik tidur Sherina.
Kuperhatikan tubuhnya menggeliat di balik selimut putih tebal, dan perlahan matanya mulai terjaga.
Tanpa peduli dengan yang akan diucapkan Harsya, aku memutus sambungan teleponnya tanpa aba-aba.
Kuhampiri Sherina yang sudah duduk dan melakukan beberapa gerakan peregangan sederhana.
Kukecup puncak kepala Sherina, kekasihku. "Morning sayang," sapaku.
__ADS_1
"Morning," jawabnya dengan suara yang masih serak.
Sherina mengerutkan alisnya ketika melihat ponselnya berada dalam genggamanku.
"Apa ada yang menghubungiku?" tanya Sherina.
"Hanya Harsya," jawabku acuh.
"Apa katanya?" Risa meraih ponsel yang masih ada dalam genggamanku.
Entah apa yang sudah dibaca Sherina pada hingga kini dia tertawa saat perhatiannya ia tujukan pada ponselnya.
"Sayang, lebih baik jika kamu bergegas mandi dan bersiap-siap segera."
Sengaja aku minta Sherina untuk segera bersiap-siap, selain karena tak ingin semua orang di Villa menunggu kami, aku juga tak ingin Sherina menghubungi Harsya kembali.
Entah apa hubungan pria itu dengan Sherina.
Aku harus memperjelas hubungan pria itu dan Sherina, jika hanya teman maka Sherina harus tahu batasannya.
...💕💕💕...
Dua jam setelahnya, mobil kami sudah kembali memasuki halaman luas Villa milik ayah.
Sekilas kulirik raut wajah Sherina yang berubah tak nyaman ketika banyak suara dan tawa terdengar samar-samar.
Kugenggam tangan Sherina, "Semua akan baik-baik saja sayang, jangan terlalu khawatir."
"Selamat pagi semua," seruku menyapa.
Tatapan ingin membunuh kudapatkan dari Harsya, sedangkan Ibu kulihat menatap Sherina bagai macam yang hendak menerkam.
"Dari mana saja kalian?" Tanya Ibu.
"Kami dari hotel tempat kami menginap Bu," jawabku.
"Apa? Kalian berdua menginap bersama di hotel?" Pekik Ibu.
"Ya, aku tak ingin mengambil resiko kekasihku merasa tak nyaman di sini," jawabku dengan santai.
"Jika Ibu ingin aku tinggal di sini, maka ibu juga harus terima kehadiran kekasihku," Ujarku.
"Aku ingin semua orang yang ada di sini, menghargai dan menghormati Sherina seperti kalian menghargai dan menghormatiku," lanjutku.
"Jika tidak bisa, maka maaf aku harus pergi," ucapku. "Aku tak ingin wanita yang kucintai merasa tak nyaman."
Dari sudut mataku bisa kulihat ayah yang tersenyum. Sementara Ibu wajahnya sudah memerah menahan amarahnya padaku.
"Sudah … sudah …" Rafie kini berdiri dari kursinya dan berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba canggung setelah aku dan Sherina tiba.
"Karena alasan berkumpulnya semua orang di sini untuk menghadiri acara opening butik Mami-ku, maka aku mewakili mami mengenalkan kalian pada Sherina," ujarnya dengan suara yang lantang agar semua orang keluarga besarku juga Soraya dan keluarganya yang sedang menikmati sarapan, bisa mendengar pengumuman yang Ia buat.
__ADS_1
"Wanita yang sejak semalam mungkin menjadi bahan pembicaraan kalian, wanita itu tak lain adalah kekasih dari Gibran, dan juga sahabat yang sudah seperti adik untukku. Dia adalah seorang dosen di Universitas El Fatih," lanjut Rafie.
Setelah perkenalan kedua kalinya pagi ini, aku dan Sherina ikut bergabung di tempat yang sudah disiapkan Rafie untuk kami berdua.
Harsya sepertinya ingin sekali mengajak Sherina bicara, namun Rafie mencegahnya.
Sarapan kembali dilanjutkan, suasana yang tegang kini mulai mencair lagi.
Meski masih merasa sedikit tak nyaman, Sherina tetap memaksakan senyumnya.
Satu pemandangan aneh yang baru saja netraku tangkap. Mengapa Pasha terus menerus memandangi Sherina-ku?
"Mengapa aku merasa wajah kekasihmu ini tak asing yah," ungkap paman Naufal.
Ucapan suaminya disambut tawa oleh sang istri Meysha Nadira.
"Daddy … kamu itu tiap hari bertemu banyak orang, jadi pantas saja jika kamu mengira wajah Sherina tak asing," tuturnya.
"Tapi kali ini Naufal benar. Kalian sebenarnya mengenal Sherina," celetuk Ayah yang tiba-tiba menarik perhatian kami semua.
Semua orang kini menanti lanjutan ucapan Ayah, termasuk aku dan Sherina.
"Sherina ini putri dari Efendi, salah satu dosen kepercayaanku yang dulu putrinya kamu rawat sebab mengalami gastroschisi," jelas Ayah.
"Apa?" Bibi Meysha terlonjak.
"Jadi kamu adalah putri tertua Yasmin?" Tanya bibi pada Sherina.
Sherina mengangguk, "Benar nyonya," jawabnya singkat.
"Huss ... jangan panggil aku Nyonya! Panggil saja Bibi Mey," tuturnya.
"Bagaimana kabar ibumu sekarang?" Tanya Bibi Meysha lagi.
"Sejak kejadian naas saat itu, aku belum lagi menemui bunda-mu, kalian tiba-tiba saja menghilang bak ditelan bum," sesal Bibi Meysha.
"Maafkan aku yah," sambungnya.
Ditengah-tengah obrolan Bibi Meysha dan Sherina yang semakin akrab saja, tatapan Pasha pada Sherina pun semakin sulit untuk kuartikan.
Kuraih ponselku yang kusimpan di saku, ada pesan dari Rafie pada grup obrolan kami bertiga, aku, Rafie, dan Pasha.
Rafie meminta waktu agar kami berkumpul, sebab ada hal penting yang perlu ia sampaikan.
...💕💕💕...
Entah hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Rafie, yang pasti setelah kusetujui permintaan Rafie dari dengan berat hati aku harus merelakan Sherina bersama Harsya selama aku, Rafie, dan Pasha bertemu di sebuah saung yang ada di halaman belakang Villa.
Pasha yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat suara ketika Rafie baru saja tiba.
"Sejak kapan lu tau kalau wanita itu adalah dia?" Tanyanya pada Rafie dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
Wanita? Siapa wanita yang dibicarakan Pasha?
...💕💕 To be continued 💕💕...