
# Sherina POV #
Kupejamkan mataku saat kurasa degupan jantungku mulai memburu.
Kapan ciuman ini akan berakhir. Batinku.
Kurasakan tangan Gibran yang semakin menekan tengkukku. Sementara satu tangannya lagi tiba-tiba saja sudah berada di punggungku. Membelai lembut membuatku semakin nyaman dengan kegiatan kami saat ini.
Aku yang mulai menikmati ini semua spontan meletakkan tanganku di dada bidang Gibran.
Tanpa kusadari aku membalas setiap perlakuan lidah Gibran. Pertarungan terjadi di dalam sana, dan berakhir dengan aku yang gemas dan menggigit bibir bawah Gibran.
Tautan bibir kami terlepas sejenak, dahi kami saling menempel napasku masih memburu begitupun dengannya.
"Kamu berani menggigit bibirku," ucapnya di tengah-tengah usahanya mengumpulkan oksigen.
Karena malu, aku hendak menyudahi semua kegilaan ini, tapi Gibran sepertinya belum menginginkan semua berakhir.
Kembali ia satukan bibir kami, dan kini kembali mengabsen apa-apa saja yang ada di dalam sana.
Ciuman kami semakin lama semakin menuntut, aku akhirnya gagal menahan lenguhanku saat kurasakan bibir Gibran yang basah akibat ciuman kami kini sedang mengecup di ceruk leherku.
Salah. Ini salah, apa yang dilakukan Gibran sudah semakin jauh. Batinku.
Embusan napasnya, juga bibir yang basah membawa perasaan yang baru pertama kali kurasakan. Seperti ada yang mengaduk-aduk perutku.
Aku ingin menolak, namun nyatanya aku semakin mendongakkan kepalaku ketika nikmatnya permainan Gibran di leherku mencapai puncaknya.
Beberapa detik setelahnya, akhirnya Gibran mengakhiri semuanya. Pria itu dengan lembut menjauhkan tubuhnya dariku. Ia bersandar pada kursinya, lalu kedua tangannya ia letakkan dikemudi.
"Sebenarnya aku tak pernah membayangkan akan mengungkapkan semua ini di mobil," ucapnya diikuti tawa.
"Tapi Sherina, apa setelah ini kamu masih berpikir jika apa yang terjadi di antara kita semuanya palsu?" Tanyanya.
Aku yang tadinya memalingkan wajahku ke luar jendela, kini beralih menatapnya.
"Maksudmu?"
"Maafkan aku yang bodoh Sherina. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap lemah lembut atau romantis seperti pria-pria lainnya," ungkapnya
"Sejak kecil Ibu mendidikku dengan keras. Menjadi putra tunggal keluarga ini sungguh melelahkan bagi Gibran kecil, namun aku belajar menerima semua sebab tak tahu apa yang harus kulakukan."
"Sampai aku mulai mengenal cara untuk memberontak. Segala kekesalan dan tekanann batin akibat didikan keras Ibuku, kulampiaskan dengan memacu kendaraan di jalan raya. Itu menjadi awal mula aku mencintai dunia balap."
Kulihat Gibran menarik napas panjang, sepertinya ada suatu hal menyesakkan yang kini mengganjal batinnya.
"Kekecewaanku semakin bertambah tatkala sosok ayah yang dulu menjadi tempatku mengadu tidak mendukung keputusanku untuk lebih fokus dan serius di dunia balap. Beliau ingin aku menjadi sepertinya. "
Aku menatap Gibran lekat, ada kepedihan, ada luka, ada kekecewaan yang tampak jelas di kedua netranya.
Kini gantian Gibran yang memalingkan wajahnya, menatap ke arah luar dari jendela.
"Ayah menuntutku untuk meneruskan semua kerja kerasnya selama ini," lirihnya.
"Aku terpaksa bertahan dengan jabatan dan kekuasaan yang bukan menjadi keinginanku," sambungnya.
__ADS_1
Ungkapan isi hati Gibran sungguh memilukan. Di balik sosok yang keras seperti itu, ada sisi lain Gibran yang nyatanya rapuh.
Entah keberanian dari mana, aku meraih tangan Gibran dan menggenggamnya erat.
Hal itu rupanya membuat Gibran kembali mengalihkan pandangannya padaku.
"Aku tak tahu cara bersikap lembut Sherina, aku tak tahu cara berkata-kata romantis seperti pria lain. Aku juga sulit untuk mengungkap bagaimana perasaanku, bahkan aku sulit dalam mengendalikan emosiku." aku-nya.
"Tapi jika itu yang kamu inginkan, aku akan berusaha melakukannya untukmu," ucapnya.
Aku bisa melihat ada keseriusan dan tekad dari tatapannya.
"Sekarang pilihannya ada padamu, apakah masih ingin menganggap semua ini hanyalah kepalsuan? Atau kamu bersedia untuk mulai menjalani semua ini dengan sungguh-sungguh?" Tanyanya.
"Aku tak memaksamu Sherina. Jika kamu masih perlu meyakinkan dirimu, maka aku akan menunggu," sambungnya.
Dalam hati aku juga mengakui jika diriku tak jauh berbeda dengannya. Aku juga bodoh, tak tahu caranya mengungkapkan jika aku pun merasakan hal yang sama dengannya.
Aku bungkam cukup lama, otakku bekerja keras mencari kata-kata yang pas untuk menjawab Gibran tapi hasilnya nihil. Otakku malam ini sepertinya lelah dan tak bisa berpikir jernih.
Tak ingin Gibran lebih lama menunggu dan berakhir mengacaukan kesempatan malam ini.
Masa bodoh! Batinku.
Dengan sisa keberanian yang kupunya, kulepaskan seat belt yang sejak tadi membatasi pergerakanku.
Kedua tanganku menangkup wajah tampan Gibran yang malam ini sangat bersinar, sungguh menyilaukan.
Cup.
Astaga, aku mengecup bibir Gibran lebih dulu. Pekikku dalam hati
"Apa ini sebuah jawaban?" Tanyanya.
Wajahku mendadak memanas, aku yakin 1.000% jika kini wajahku memerah seperti tomat, atau mungkin merah seperti kepiting rebus.
Sepertinya Gibran sedang berusaha menahan tawanya. Dan entah dari mana datangnya keberanianku, kini aku sudah kembali menyatukan bibir kami lewat ciuman.
Ciuman yang lebih menuntut dari sebelumnya. Lebih lama dan lebih jauh, sebab ciuman Gibran baru berakhir ketika aku terperanjat saat menyadari jika ciuman Gibran kini sudah mulai turun dan hampir mencapai bagian dadaku.
Gibran mengerti keterkejutanku, ia menghentikan aksinya. Napas kami kembali saling memburu.
Gibran mulai menyalakan kembali mesin mobil, dan mulai melajukannya untuk meninggalkan parkiran toko yang menjadi tempat kami mengakui perasaan masing-masing.
"Kita mau ke mana?" Tanyaku.
Satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam tanganku.
"Kita harus mencari hotel sayang," jawabnya.
"Ho-hotel?"
Gibran mengangguk.
"Tapi untuk apa?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
Gibran tak menjawab, ia hanya mengecup punggung tanganku yang sejak tadi di genggamnya.
Seketika suasana romantis tadi berubah menjadi horor bagiku.
'Apa yang ingin dilakukan Gibran di hotel denganku?'
'Tak mungkin kan Gibran berniat jahat padaku?'
'Apa Gibran sama seperti pria br*ngsek lain yang menuntut wanitanya untuk berhubungan …..' bahkan dalam batinku aku tak bisa melanjutkan ucapanku.
Aku menggelengkan kepalaku yang kini dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk tentang apa yang kemungkinan akan terjadi.
Tak kusadari jika mobil telah berhenti dan kini Gibran sudah turun lebih dulu dan beralih untuk membuka pintu mobil untukku.
"Ayo," ajaknya.
Aku menggeleng.
"Kita pulang saja ke villa, orang-orang pasti mencari kita," tolakku.
"Aku sedang kesal sayang, tak ingin bertambah semakin kesal saat melihat wajah-wajah mereka." Bujuknya.
Aku masih tak bergeming dari tempatku duduk.
"Ayolah sayang, apa yang membuatmu bersikap begini?" Tanyanya.
Aku bimbang, haruskah aku mengatakan kekhawatiranku.
Kutatap wajah Gibran kini tak seramah sebelumnya.
"Kamu mau turun dan jalan sendiri, atau aku akan menggendongmu?"
Pilihan yang sulit, namun melihat Gibran yang sudah bersiap-siap hendak menggendongku aku segera turun dari mobil.
Gibran merengkuh pinggangku, dan kami berjalan masuk bersama.
Tak sedetik pun Gibran membiarkan aku jauh darinya. Jika tidak merengkuh pinggangku, maka dia akan merangkul pundakku atau menggenggam jemariku. Mungkin dia mengetahui rencanaku yang ingin kabur.
Saat kami berdua sudah di dalam kamar, jantungku berdegup semakin tak karuan. Aku memilih untuk berdiri di depan jendela besar yang menampakkan kolam renang yang ukurannya tidak terlalu besar.
Aku terlonjak saat dua tangan melingkari perutku dari arah belakang.
"Santai sayang, ini aku jangan takut," ucapnya.
"Apa sikapmu ini karena berpikir jika aku akan memaksamu melakukan hal itu?" Tanyanya.
Aku mengangguk dengan ragu.
Gibran kini menjawabku dengan posisi yang masih sama, hingga embusan napasnya terasa hangat menjalari ceruk leherku.
"Meski aku sangat ingin, tapi aku tak akan pernah memaksamu. Aku juga ingin melakukan semuanya di saat yang tepat," Jelas Gibran membuat perasaanku sedikit tenang.
"Aku mengajakmu kemari sebab tak suka jika melihatmu murung seperti tadi saat di villa," lanjutnya.
Gibran membalik tubuhku agar menghadapnya.
__ADS_1
"Sekarang tidurlah, besok pagi-pagi sekali kita harus kembali ke villa," ucapnya dan diakhiri dengan sebuah kecupan di keningku.
🌸🌼🌸 To be continued 🌸🌼🌸