Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 36. Kekasih (palsu) lagi?!


__ADS_3

Harus kuakui jika melupakanmu adalah hal tersulit.


Sudah kucoba berbagai cara, menyerah, menutup hati, hingga mencoba membuka lagi pada hati yang baru.


Namun yang terjadi, kamu tetap saja melintasi pikiranku, menghantui hatiku yang kosong.


Hingga takdir mempertemukan kita lagi, dan aku jatuh cinta lagi.


Jatuh cinta menjadi sangat mudah jika yang dipilih hati adalah dirimu.


Silakan menghakimiku, namun harus kuakui ... aku ingin kamu kembali menjadi milikku.


Aku ingin kembali menjadi tempat ternyaman saat kamu pulang, aku ingin menjadi tempatmu bisa berbagi cerita dengan nyaman.


Tentu tak hanya hal indah, aku juga bersedia jika kamu mengecewakanku sesekali, membuatku cemburu, maka aku sudah siap seandainya kamu kembali melakukan hal itu.


Sebab melupakanmu salah satu hal yang tersulit, maka maafkan aku yang akan memaksamu kembali dalam hidupku.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


# SHERINA POV #


“Sampai kapan kamu mau berdiri di luar. Ayo masuk,” ujar Gibran.


“Bagaimana jika kita bicara di tempat lain saja?” usulku.


“Tempat lain? Di mana? Di Kamarmu? Aku butuh tempat yang pribadi untuk membicarakan hal ini.”


Aku menghela napas, memang sulit jika harus menghadapi sifat pemaksa Gibran.


Aku menengok ke kiri dan kanan, memeriksa keadaan sekitar. Saat kurasa aman, segera aku melangkah masuk ke dalam kamar hotel tipe president suite yang menjadi tempat Gibran menginap malam ini.


Gibran lantas menutup pintunya, dan mengajakku duduk di sofa yang letaknya terpisah dengan kamar tidur.


“Jika kamu minum alkohol, aku pergi saja.”


Ancamku.


Mendengar ancamanku, Gibran yang sudah memegang gelas dan siap-siap meneguk isinya, terpaksa mengurungkan niatnya.


“Karena sebentar lagi aku akan bahagia, maka kali ini akan kuikuti keinginanmu,” ucapnya.


Aku berdecih. Sebenarnya apa lagi yang direncanakan olehnya, sepertinya dia sangat yakin dengan apa yang akan dilakukannya, batinku.


“Jangan bertele-tele Gibran, aku lelah dan ingin segera istirahat,” Ujarku.


“Hemm ... apa perlu kita istirahat saja dulu, kita bisa bicarakan hal ini nanti,” tawarnya.


Aku semakin kesal dibuatnya, apa dia sedang mempermainkan aku, sepertinya dia sengaja memancing emosiku.


Aku sudah berdiri dan hendak beranjak pergi dari kamar Gibran.


Baru selangkah dan Gibran berhasil meraih salah satu lenganku, menarikku hingga kini ia memeluk tubuhku dari belakang.


“Jadilah kekasihku kembali Sherina,” pintanya dengan berbisik di telingaku.


Aku terpaku selama beberapa detik.


Dalam semalam 2 kali hatiku dibuat bimbang oleh 2 pria yang berbeda.


Jika sebelumnya Pak Sadewa mengungkapkan cinta tanpa berharap untuk memilikiku, berbeda dengan Gibran.


Dari apa yang ia ungkapkan barusan, yang bisa ku mengerti yaitu jika Pria ini ingin memilikiku, namun ia tak memberiku kepastian akan isi hatinya.


Apa mungkin karena dia memiliki perasaan padaku? Batinku.


“Sherina, kembalilah padaku. Aku akan membantumu mencapai tujuanmu dan kamu juga akan membantuku menghindari perjodohan dengan Soraya,” jelas Gibran.


Seketika segala dugaan yang sempat terlintas dan menggetarkan hatiku, sirna tak berbekas.


Apa yang sebenarnya kuharapkan? Apa aku berharap jika Gibran memintaku jadi kekasihnya karena ia mencintaiku? Itu hal yang tak mungkin terjadi Sherina! Batinku.


Rasanya ada cairan bening dari pelupuk mataku yang memaksa ingin keluar, hanya saja sekuat tenaga aku menahan agar hal itu tidak terjadi.


Bersusah payah aku melepaskan diriku dari pelukan Gibran.

__ADS_1


“Kau memintaku menjadi kekasih palsumu lagi?” tanyaku.


“Kekasih palsu?” Gibran kembali menjawabku dengan pertanyaan.


“Jika kamu menanggapinya seperti itu, terserahlah padamu. Yang terpenting bagiku, kau mau menjadi kekasihku lagi.”


“Tapi maaf, tidak akan pernah!” tolakku dengan tegas.


“Aku bisa membantumu mengungkapkan fakta di balik kecelakaan orang tuamu,” bujuknya.


Aku mengernyit keningku, Gibran tahu soal tujuanku kembali kemari.


“Aku bisa melakukan hal itu sendiri,” balasku.


Gibran mengusap kasar rambutnya, sepertinya dia sedang merencanakan hal lain untuk menjeratku dalam hubungan palsu sekali lagi.


“Lalu, bagaimana dengan fakta mengenai Bundamu yang depresi? Bagaimana jika semua orang akhirnya tahu mengenai Ibumu? Asal kau tahu Sherina, aku dengan mudah bisa melenyapkan tempat Bundamu saat ini bernaung,” ancam Gibran.


Si#lan ... dasar Gibran br#ngsek yang pemaksa, teriakku Dalam hati.


“Jangan libatkan bundaku,” peringatku.


“Apa yang akan kulakukan tergantung dari apa keputusanmu,” ucap Gibran.


“Jadilah kekasihku, kali ini aku akan benar-benar menepati janjiku untuk menjagamu. Akan kubantu kamu mengungkap fakta yang kamu cari.”


“Akan kubawa keadilan ke hadapanmu Sherina.”


“Dan kamu, cukup bertahan di sisiku sebagai kekasihku.”


Janji-janji yang Gibran ucapkan terdengar meyakinkan.


Namun permintaannya agar aku bertahan di sisinya membuatku ragu, apa yang sebenarnya akan terjadi hingga ia memintaku untuk bertahan.


Aku harus bertahan dari apa? Apa yang akan kuhadapi setelah aku kembali jatuh pada lubang yang sama kedua kalinya.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Hari ini adalah hari pertama seminar. Ini adalah kali pertama aku mengikuti seminar sebagai seorang dosen.


Sekali lagi kuperiksa penampilanku di cermin.


Semalam sebuah keputusan besar telah kuambil. Kuputuskan untuk kembali percaya pada Gibran.


“Aku sudah pernah berada di posisi ini dahulu, harusnya aku sudah belajar dari pengalamanku dahulu untuk menghadapi Gibran nantinya,” monologku di depan cermin sembari terus menghela napas.


Suara ketukan di pintu menghentikan lamunanku pagi ini.


Tok... Tok.... Tok...


Saat membuka pintu, wajah tampan Gibran menyapaku.


Lumayan... netraku dapat asupan vitamin pagi ini, batinku.


“Ayo sarapan,” ajaknya.


“Sarapan? Kamu dan aku?” tanyaku.


Gibran mengedarkan pandangannya ke sekitar, “Memangnya ada orang lain lagi selain kita berdua?”


Aku menggeleng.


“Yang kumaksud adalah, haruskah kita sarapan bersama?


“Akan ada banyak peserta seminar di restoran hotel, ada Pak Martin juga... bukankah kebersamaan kita akan menjadi tanda tanya bagi mereka?”


“Lantas? Apa aku harus peduli?” Tanya Gibran.


“Aku tak peduli apa yang orang lain pikirkan. Aku hanya ingin sarapan ditemani oleh dirimu, dan t ada bantahan,” lanjutnya.


Apa lagi yang bisa kulakukan jika Gibran sudah memperingatkan jika dia tak ingin dibantah.


Mengikuti apa yang diinginkannya adalah satu-satunya cara agar aku bisa menjalani hidup tenang dengan status sebagai kekasih Gibran, kekasih palsu.


🌼🌸🌼🌸

__ADS_1


Dengan langkah yang berat aku berjalan di belakang Gibran. Awalnya pria itu biasa saja namun saat mulai memasuki restoran hotel, tanganku tak pernah lepas dari genggamannya.


Kuikuti arah pandangan Gibran, dan kudapati jika kini pria itu sedang menatap penuh kemenangan pada Pak Sadewa.


Dasar kekanakan, pencemburu, raja drama, batinku terus mengutuknya.


“Silakan duduk sayang,” ujarnya.


Keningku sampai mengernyit melihat tingkah Gibran.


Benar-benar palsu, batinku.


“Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku Gibran?” tanyaku saat kami sudah mulai sarapan kami.


“Sudah kukatakan jika aku ingin membantumu dan kamu bisa membantuku,” jawabnya.


“Jika ingin membantuku, bisakah kita akhiri saja permainan ini Gibran. Aku harus fokus pada tujuanku, bisakah membantuku dengan berhenti mengusikku?”


Gibran sontak menghentikan sarapannya. Kulihat ia beberapa kali menghela napas panjang.


“Aku heran denganmu, apa kamu sebegitu tak sukanya jika aku berada di sisimu?” tanyanya.


“Mengapa Rafie atau Harsya bisa dekat denganmu sedang aku tidak?”


“Jangan bawa-bawa sahabatku dalam masalah kita,” selaku.


“Sahabat katamu? Sejak dulu aku tak pernah yakin jika seorang pria dan wanita bisa berteman ... apa lagi sampai bersahabat,” ujarnya.


“Tapi kenyataannya memang begitu, kami bertiga sudah bersahabat dari bertahun-tahun yang lalu,” balasku tetap membela diri.


“Terserah padamu, mau percaya atau tidak ... yang penting sekarang, bisakah kamu membebaskan aku?”


“Kumohon jangan usik kehidupanku atau kehidupan ibuku,” pintaku dengan memelas.


“Sherina, cukup membahas soal berpisah!” Tegasnya.


Aku sampai menelan salivaku saat melihat wajah Gibran yang memerah.


Astaga Sherina ... masih pagi dan kau berhasil membangunkan macan yang tidur, batinku.


“Semakin besar keinginanmu untuk pergi dariku, maka semakin besar keinginanku untuk menahanmu,” lanjutnya.


“Dahulu kamu pergi begitu saja, kamu tak pernah tahu bagaimana aku mencarimu. Jadi untuk sekarang, jangan pernah berpikir atau mencoba untuk pergi lagi tanpa izinku.”


Aku sudah tak berniat lagi untuk melanjutkan sarapanku. Setelah perdebatan kami saat itu, aku memilih untuk bungkam.


Pak Martin yang datang beberapa menit kemudian dibuat terkejut dengan Gibran, pemilik universitas yang ada di sana.


“Pak Gibran, anda di sini juga ... apa sedang ada kegiatan?” tanya Pak Martin.


“Ya ... sudah sejak kemarin saya berada di sini," jawab Gibran


"Tak ada kegiatan khusus, hanya untuk menemani Sherina.” Ujarnya.


Aku membelalakkan mataku menatap Gibran.


Aku tidak ingin ada gosip aneh yang beredar di kampus.


“Menemani Ibu Sherina?” ulang Pak Martin.


“Ya, mana mungkin saya membiarkan kekasih saya pergi ke luar kota hanya berdua bersama pria lain,” jawab Gibran.


Pak Martin terlihat salah tingkah, sudah pasti yang di sindir Gibran adalah dirinya.


“Hemmm ... Maaf Pak Gibran, saya baru tahu jika Bu Sherina adalah kekasih Anda,” ucap Pak Martin.


“Sekarang karena Anda sudah tahu, saya menitipkan Sherina pada Anda di kampus.”


“Dan satu lagi, berita ini tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Saya tak ingin jika ketenangan Sherina terganggu dengan berita-berita di kampus,” peringat Gibran.


Tanpa perlu di jelaskan lebih rinci, kulihat Pak Martin mengangguk tanda ia telah paham keinginan Gibran.


Benar-benar kemampuan aktingnya luar biasa. Bukankah baru saja ia marah padaku? Tapi lihatlah sekarang dia bersikap bagai seorang kekasih idaman, batinku.


🌼🌸🌼🌸 To be continued 🌼🌸 🌼🌸

__ADS_1


__ADS_2