Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 6. Rencana dan Tujuan


__ADS_3

Aku tak akan pernah bisa kemanapun, jika


hanya memiliki rencana tanpa memiliki tujuan.


Sama halnya jika aku hanya tahu bermimpi,


tanpa tahu cara membuat rencana.


Saat ini aku berencana untuk mulai meraih


impianku.


Dan targetku adalah kalian yang telah


meremehkanku.


Aku tak akan melakukan hal sia-sia dan


membuang energiku.


Tunggu aku kembali.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


# Sherina POV #


“Kok bisa sih ada orang gila


berkeliaran?”


“Bagaimana kalau Ibu itu tiba-tiba


membuat kerusuhan?”


“Huuuuwwwaaaa……. Mama… Adek takut, ada


orang gila…”


Sekiranya seperti itulah, keluhan yang dapat kudengar dari orang-orang yang berada di sekitarku.


Aku hanya bisa menelan salivaku, sesekali


mengelus dada berharap agar diberikan kesabaran ekstra untuk menghadapi


berbagai cercaan dan hinaan dari orang lain. "Perjalananku dengan bus ini masih panjang," gumamku menguatkan diri.


“Eh.. Culun! Pindah kamu!” Perintah seorang remaja pria dengan kasar padaku dan Bunda.


Ku katakan kasar, sebab dari pandanganku mungkin usianya lebih muda dariku.


“Kenapa harus pindah? Saya lebih dulu


menempati tempat duduk ini,” ucapku membela diri.


“Heh, kamu gak lihat anak kecil itu sejak


tadi menangis ketakutan karena kamu membawa orang gila,” balasnya tetap


membentakku.


Aku akhirnya menoleh, melihat kearah anak


kecil yang dimaksud dan benar saja anak itu sedang terisak-isak sambil sesekali


melirik kearah Bunda.


Aku menghela napasku, tak ada lagi


pembelaan yang dapat aku katakan. Memang benar, sedari tadi beberapa kali


Bunda berteriak histeris, entah apa yang sedang dipikirkannya.


Dengan terpaksa aku mengumpulkan semua


barang-barangku, lalu mengajak Bunda untuk pindah ke kursi  paling belakang pada bus.


Seingatku aku juga sudah pernah melewati


masa-masa yang sulit, namun rasanya tak sesakit ini.


Entah mengapa, apakah mungkin karena kini


tak ada lagi Ayah dan Shafiyyah.


Sesekali aku menatap dalam pada netra


Bundaku. Netra yang sangat indah, warnanya sama dengan warna netra milikku, abu


kebiruan.


“Bunda, kemana perginya tatapan hangatmu?”


batinku.


Kedua tangannya kugenggam erat, “Kumohon


cepatlah pulih Bunda, aku sangat memerlukan kehadiranmu sebagai sandaranku saat ini,” lanjutku membatin.


“Ayah, Fiyyah, apa kalian sudah merasa


lebih tenang sekarang? Apa Fiyyah sekarang sudah tak sakit lagi?” tanyaku dalam


hati, pandanganku menerawang ke gelapnya malam  lewat jendela bus.


“Ayah, Fiyyah, mengapa tak meninggalkan


beberapa pesan padaku? Agar aku tahu harus seperti apa setelah kalian pergi,” batinku.


“Jika aku dan Bunda menyusul kalian, apakah


kita bisa Kembali bersama?” tanyaku.


Mungkin yang dimaksud orang-orang itu


sebagai orang gila adalah aku. Rasanya aku lebih memilih menjadi gila, dari pada harus merasakan kembali rentetan kemalangan yang menimpaku akhir-akhir ini.


⚘⚘⚘⚘


Langkahku terhenti Ketika aku dan bunda


sudah berdiri di depan sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas.


Aku menimbang-nimbang, apakah kami harus


masuk sekarang atau tidak.


Enam belas jam perjalanan bukanlah waktu yang singkat, aku yakin kini Bunda sangatlah lelah.


Kuedarkan pandanganku ke sekeliling,


suasana masih sunyi senyap, bahkan ayampun masih enggan untuk berkokok.


“Permisi, kalian sedang mencari sesuatu?”


ucap seorang wanita yang sukses membuatku terperanjat.


Menyadari aku yang terkejut dibuatnya,


wanita itu lantas memohon maaf.

__ADS_1


“Maaf jika aku mengejutkan kalian, tapi mungkin


aku bisa membantu kalian. Apa kalian sedang mencari seseorang?” Lanjutnya


bertanya dengan sangat ramah.


Dari penampilannya yang menggunakan mukenah dan menenteng sajadah, kupikir wanita ini baru saja kembali dari Shalat subuh


di masjid.


“Aku dan Bunda baru saja tiba dari Jakarta,


Kami sedang mencari kediaman bibiku,” jawabku, “Namanya Bibi Wita.”


Kulihat kening wanita itu mengernyit, Ia


lantas maju beberapa langkah ke depan dan mengamati wajahku dan wajah bunda


bergantian.


Kedua tangannya lalu menangkup pipiku, “Apa


kamu Sherina? Apa kamu putri dari Mas Fendi?” tanyanya bersemangat.


Aku hanya mengangguk, ingin menjawab namun sulit karena wajahku masih ditangkup olehnya.


Kedua netra wanita itu terlihat berkaca-kaca, “Terimakasih Tuhan, akhirnya hari ini datang juga. Aku bisa menemui kalian berdua,” ucapnya sembari memelukku, “Aku adalah Bibi-mu, Bibi Wita. Saudara kembar dari Mas Effendi,” jelasnya setelah melepas pelukannya padaku.


Wanita yang mengaku sebagai Bibi Wita kini hendak memeluk Bunda, namun baru saja Bi Wita hendak mendekat, Bunda melangkah mundur dan berlindung dibalik punggungku.


Bi Wita hanya menatap padaku seolah meminta


penjelasan.


“Bolehkah kita bicara di dalam saja Bi?


Maaf jika merepotkan, tapi kondisi Bunda saat ini masih dalam keadaan yang


kurang sehat,” jelasku.


Bi Wita mengangguk setuju, lalu menuntun


kami masuk ke dalam rumahnya.


“Maaf jika rumah Bibi sangat kecil, Bibi


hanya tinggal seorang diri sejak suami Bibi meninggal dunia,” Ujarnya.


Aku bisa merasakan adanya kerinduam teramat dalam saat Bibi membahas suaminya yang telah tiada.


Kupikir Bibi akan segera mencecarku dengan


berbagai pertanyaan, ternyata aku salah.


Beliau memintaku dan Bunda untuk beristirahat lebih dulu.


"Bibi Wita sangat pengertian, sama seperti Ayah," lirihku.


⚘⚘⚘⚘


# Bibi Wita POV #


Rasanya ingin sekali aku menanyakan banyak


hal pada Sherina dan Ibunya, tapi melihat wajah keduanya yang sangat kelelahan dan mengantuk, aku sungguh tak tega jika harus memberondong keduanya dengan berbagai pertanyaan.


“Mengapa mereka berdua bisa sampai di sini


tanpa ada Mas Fendi?” batinku terus memikirkan hal ini.


Perasaanku mulai berkecamuk, jujur saja aku


gelisah.


telah belasan tahun tak kutemui.


Aku semakin yakin jika sesuatu yang buruk


mungkin saja telah terjadi, apalagi ketika melihat kondisi wanita yang dipanggil


Sherina dengan sebutan Bunda.


Seperti biasa, setelah menunaikan shalat


subuh berjamaah di masjid, pulangnya aku akan langsung membaca ayat-ayat suci


Al-Qur’an.


Entah karena suaraku atau mungkin suara


ayam yang berkokok, namun perhatianku teralihkan ketika pintu kamar Sherina


terbuka.


”Bibi, maaf aku bahkan belum memperkenalkan


diri dengan benar tapi aku sudah tertidur,” sesal gadis itu.


“Tak apa, kamu terlihat sangat lelah dan mengantuk, sudah sewajarnya kamu


tidur,” balasku.


“Aku akan membuatkanmu sesuatu yang hangat, mau teh atau susu?” tawarku.


“Tak perlu Bibi, jika ingin aku akan membuatnya sendiri,” tolaknya.


Aku menggeleng, dan hendak berdiri dari


kursiku, ketika Ia memberitakan kabar buruk itu.


“Ayah…. Ayah… Ayahku telah tiada Bi,”


ucapnya dengan suara bergetar.


“Ayahku dan Shafiyyah,” Ia Kembali terisak,


“ Mereka telah meninggal dunia sebulan yang lalu Bi,” lanjutnya.


Duuuuaaarrrr!!!


Rasanya seperti ada petir yang menggelegar


tepat di atas kepalaku.


Aku kembali duduk di kursi yang kutempati


sebelumnya dengan gerakan kaku, kurasakan denyut jantungku yang memompa berkali-kali lebih cepat dari biasanya.


Rasanya dadaku sangat sesak sedang air mataku, kuyakin telah berlinang


membasahi pipiku, “Mas Effendi,” lirihku dengan terisak.


“Mas Effendi mengapa pergi begitu cepat


Mas,” ucapku beberapa detik kemudian.


Aku menangis, meraung-raung jika aku kini


sendirian di dunia ini.

__ADS_1


Lalu ditengah tangisanku yang semakin menjadi-jadi, kurasakan ada tangan yang menarikku kedalam pelukan yang hangat.


“Bibi tidak sendiri, masih ada aku dan


Bunda,” ucapnya.


Kalimat yang singkat namun mampu


menenangkanku, perlahan-lahan kurasakan degupan jantungku perlahan-lahan mulai


kembali normal seiring dengan usapan tangan gadis muda di punggungku.


“Ada aku dan Bunda Bi, kita tak sendiri,”


Ucapnya terus-menerus tanpa henti.


Entah benar atau tidak, tapi kurasakan


pundakku juga basah, mungkin karena air mata gadis ini.


“Kau benar Nak, kita tak sendiri,” ucapku


yang kini membalas pelukannya.


⚘⚘⚘⚘


Ku pandangi wajah cantik wanita berdarah campuran Indonesia-Rusia yang kini duduk termenung di teras rumahku.


“Aku harusnya tak boleh lagi mengeluh atas


kepergian suamiku, Aku masih beruntung karena hingga kini aku masih melanjutkan


hidup dengan baik, meski sesekali harus menangis karena kerinduan yang sangat


menyiksa,” batinku.


Tapi Yasmin, meski tak mengurangi


kecantikan wajahnya, namun jelas sekali terlihat jika wanita ini tengah menanggung beban yang sangat berat setelah kepergian Mas Effendi, hingga membuatnya menjadi kehilangan arah seperti saat ini.


Tatapan kosong, tak ada semangat, dan yang membuat hatiku meringis, sesekali Ia akan histeris mencari keberadaan saudara kembar dan ponakanku yang telah tiada.


Sherina sudah menceritakan segalanya,


kronologi kejadian kecelakaan itu hanya Yasmin yang mengetahuinya, namun sayang


sepertinya takdir belum ingin mengungkap kebenarannya.


Pandanganku teralihkan kepada gadis


berkepang dua yang kini sedang menyiram tanaman di halaman rumahku, “Apa yang


terjadi padanya? Selain kepergian ayah dan adiknya, aku yakin masih ada hal


lain yang membebani pikirannya,” batinku.


Ingatanku kembali pada beberapa tahun yang


lalu saat Mas Effendi mengirimkanku beberapa kain batik sebagai ucapan terimakasih karena telah membantu menjual beberapa bidang tanahnya di desa ini.


Di dalam kain batik itu terselip sebuah foto seorang gadis kecil dengan warna


bola mata yang sama seperti milik Sherina. Yang berbeda, gadis kecil di foto


itu terlihat sangat bahagia saat duduk memangku adiknya yang masih bayi.


“Kemana Sherina kecil yang cantik? Apa


waktu yang membuatnya berubah seperti ini? Atau apa mungkin takdir? “


~ ~ ~ ~


# Sherina POV #


Sudah 2 minggu berlalu, aku sangat nyaman


tinggal di rumah Bibi. Warga di sini sangat ramah, meski aku tetap sembunyi sebagai


Nana yang culun, tak ada dari mereka yang meremehkanku.


“Ternyata benar kualitas pendidikan


seseorang  sungguh tak menjamin orang itu


paham caranya menghargai orang lain,” batinku.


Meski disini para penduduknya lebih banyak


hanya menempuh pendidikan hingga di bangku SMA, tapi mereka lebih manusiawi


dibanding dengan teman-temanku yang menempuh Pendidikan lebih tinggi.


Kemarin aku dan Bibi sudah membahas


mengenai aku yang tak ingin melanjutkan kuliah, aku ingin tetap di sini bersama


Bibi dan tetap menjaga Bunda.


Kupikir pembahasan kami sudah usai, namun


ternyata pagi ini Bibi kembali membahasnya.


Diletakkannya sebuah amplop putih di


hadapanku, “Itu adalah peninggalan terakhir dari Ayahmu,” ucapnya.


“Sewaktu dulu Bibi membantu Ayahmu menjual


tanahnya, Ia berpesan untuk meninggalkan sepetak yang akan dia berikan padamu


untuk dijadikan sebagai bekal ketika kamu akan menikah,” lanjut Bibi.


Kulihat Bibi memejamkan matanya guna


menahan linangan air matanya.


“Tanah itu sudah Bibi jual kemarin, dan itu


adalah hasil penjualannya. Bibi juga sudah tambahkan sedikit dari tabungan


Bibi,” ucapnya.


“Meski tak seberapa, tapi Bibi ingin kamu


pergi mengejar cita-citamu dengan uang itu. Buatlah ayahmu bangga  padamu, mengenai Bundamu, tinggalkan saja di sini. Bundamu juga adalah kakak Bibi, sama seperti Mas Fendi. Bibi yang akan merawatnya,” Ujar Bi Wita.


Aku tak dapat berkata-kata lagi, aku hanya


mampu memeluk Bibi dengan erat. Mengucapkan terimakasih berulang-ulang.


“Mungkin benar ucapan Bibi, aku harus membuat Ayah bangga. Pasti ada alasan mengapa ayah sampai menulis alamat Bibi dibalik foto ku dan Shafiyyah pada dompetnya, aku yakin jika ini maksudnya," Batinku.


“Tenanglah di sana Ayah, aku berjanji akan


menggapai impianku, akan ku bawakan keadilan untukmu dan Shafiyyah,” tekadku


dalam hati.


Yogyakarta, kota yang juga terkenal dengan

__ADS_1


sebutan kota pelajar. Di sanalah aku berencana untuk berusaha menggapai mimpiku. Kini aku sudah memiliki rencana, aku juga sudah memiliki tempat yang ingin ku tuju, dan targetku sudah jelas, yaitu kalian.


⚘⚘⚘ To be continue ⚘⚘⚘


__ADS_2