
#Gibran POV#
”Apa rindu memang seberat ini?” tanyaku pada Rey yang sayangnya tak mendapatkan jawaban.
Tentu saja tak akan ada jawaban, bahkan aku pun sangsi jika Rey pernah merasakan yang namanya rindu. Lantas bagaimana ia akan menjawab pertanyaanku.
Memikirkan hal itu membuatku tersenyum-senyum seorang diri hingga membuat kening Rey mengernyit.
“Maaf Tuan, tapi bolehkah anda membagi hal lucu itu denganku?” pinta Rey.
“Aku memikirkan dirimu,” jawabku singkat.
“Di-di-diriku?” kening Rey semakin mengernyit, aku semakin tak kuasa menahan tawa saat melihat raut wajah Rey yang sangat lucu.
“Hei, kau jangan salah sangka. Aku sedang memikirkan apakah kau pernah merasakan yang namanya rindu?” tanyaku tanpa basa-basi.
Dan benar seperti dugaanku, Rey menggeleng sebagai jawaban.
“Sebaiknya jangan Rey. Rindu itu berat, kau gak akan kuat.” Ujarku mengikuti salah satu dialog dari sebuah film yang terkenal.
Rey terbahak hingga mengundang atensi dari dua orang pramugari cantik yang sedang menawarkan minuman pada penumpang pesawat.
Ya benar, aku dan Rey kini sedang berada di udara. Di dalam sebuah pesawat terbang yang akan membawa kami ke salah satu kota di Jawa Timur.
Alasan yang kuberikan pada kekasihku adalah urusan bisnis namun sebenarnya aku kemari karena sebuah informasi yang baru saja diterima Rey beberapa hari lalu.
Saat aku dan Sherina berada di Bali, Rey akhirnya mendapatkan infromasi jika pria yang menjadi kambing hitam dalam kecelakaan yang dialami keluarga Sherina beberapa tahun silam kini berada di kota Surabaya.
“Permisi Tuan, apakah anda butuh sesuatu?” tanya seorang pramugari wanita dengan lembut padaku.
Jika aku tak salah, aku melihat wanita itu mengerling padaku.
Wangi, cantik, dan menarik. Batinku.
Namun segera kugelengkan kepalaku sebagai jawaban. “Tidak, terima kasih.”
Sadar-sadar Gibran. Kamu bukan lagi pria bebas. Bagaimana pun menariknya wanita lain, namun ingatlah tak ada yang setulus Sherina. Peringatku dalam hati pada diri sendiri.
...****************...
Segera setelah salah satu orang kepercayaan Rey melajukan mobilnya meninggalkan Bandara, tanpa menunggu lama aku segera menghubungi Sherina.
“Halo sayang, kamu di mana?” tanyaku sambil memandangi wajah cantik kekasihku lewat gawaiku.
Beruntung sekarang teknologi sudah semakin canggih, hingga aku bisa mengurangi sedikit kerinduanku dengan melakukan panggilan video bersama Sherina.
“Aku sedang berbelanja, kulkasku harus segera diisi jika tak ingin aku berakhir kelaparan.”
Jawabnya diikuti dengan kekehan. Aku menjadi semakin rindu saat mendengar tawanya.
“Cantik sekali, kamu sangat cantik saat tertawa seperti itu sayang,” pujiku.
“Bisakah kamu berhenti menggombal?” Balasnya diikuti tawa seorang pria yang samar-samar kudengar.
__ADS_1
“Sayang, kamu tak sendiri? Kamu bersama siapa? Apa dia seorang pria?” cecarku.
Sherina menjawab dengan anggukan. “Aku bersama Harsya,” jawabnya.
“Apa hanya bersama Harsya saja? Kamu yakin?” tanyaku memastikan.
“Kamu tak percaya padaku?”
“Bukannya aku tak percaya ta-“ ucapanku terhenti saat wajah cantik Sherina berganti dengan wajah tampan Harsya.
“Kami hanya berdua Gibran,” ujarnya. “Atau … apa kamu ingin aku mengundang seseorang lagi untuk ikut bergabung bersama kami?” ujar Harsya yang sontak mebuatku membelalakkan mata padanya.
“Si*lan! Awas saja kalau kamu berani.” Ancamku pada Harsya, namun direspon dengan tawa oleh pria yang berprofesi sebagai model itu.
Samar-samar kudengar suara Sherina yang bertanya pada Harysa siapa seseorang yang kami maksud. Beruntunglah Harsya tak menjawab dan hanya terus tertawa.
Mungkin merasa tak puas dengan jawaban Harsya, Sherina pun kembali meraih ponselnya dari genggaman Harsya.
“Gibran, siapa yang kalian bicarakan?” tanyanya.
“Tak penting." Jawabku singkat.
"Hanya seseorang yang tak penting, sa-yang.” Jawabku dengan menekankan kata sayang.
Aku masih tak mengerti dengan Sherina yang sangat sulit memanggilku dengan sebutan sayang.
Ucapanku tadi mengundang tawanya. “Baiklah sayang, aku harus membayar belanjaanku. Kita sambung nanti yah,” ucap Sherina yang mengakhiri panggilan video kami.
Akh, rasanya aku masih enggan untuk mengakhiri panggilan ini. Aku benar-benar merindukan Sherina, namun sepertinya aku tak bisa mengelak sebab kini aku pun sudah sampai di tujuanku setelah satu jam yang lalu pesawat yang kutumpangi mendarat sempurna di Bandar Udara Internasional Juanda.
...****************...
Aku sebagai dalang penculikan seorang pria. Pekikku dalam hati.
Semoga saja semua berjalan sesuai rencana, hingga semua yang kukhawatirkan tak akan terjadi dan berakhir mengecewakan banyak orang.
Krieeeetttt ….
Bunyi derit pintu menggema, tampak di hadapanku sebuah bangunan tua yang sangat besar namun sayangnya tampak usang.
Jika melihat tampilan luarnya, tadinya aku sempat berpikir jika bangunan ini tak berpenghuni. Berbeda saat aku mulai melangkah masuk, rupanya bagian dalamnya sangat bersih dan terawat.
Bahkan tak berlebihan jika kuakui bagian dalam rumah ini sangat mewah untuk ukuran sebuah rumah tua.
“Di mana pria itu?” tanya Codet pada pria lain yang lebih dulu berada di dalam rumah itu.
“Ada, di tempat biasa.” Jawabnya santai.
Kulihat pria itu menyapa Rey. “Eh Bang, gimana kabarnya?”
Rey mengangguk, mungkin saja anggukan itu sebagai pengganti jawaban jika dia baik-baik saja.
“Tuan, kenalin Setyo. Dia partner Codet dalam misi kali ini,” Ujar Rey.
__ADS_1
Aku mengangguk mengikuti gaya Rey, namun tak kuduga Setyo malah mengulurkan tangannya padaku untuk berjabat tangan.
“Saya Setyo Tuan,” ucapnya ramah memperkenalkan diri.
“Saya Gibran,” ucapku sembari tangan kananku kugunakan untuk menyambut uluran tangannya.
“Terima kasih kalian berdua sudah mau membantuku,” imbuhku.
“Jangan sungkan Tuan, selama kami dibayar pasti akan kami kerjakan.” Celetuk Codet.
Aku sempat tertegun saat Codet melepas jaket kulit yang ia kenakan sejak tadi. Rupanya di seluruh lengan hingga ke punggungnya dipenuhi tattoo yang gambarnya tak aku mengerti.
“Apalagi bayaran dari Tuan dan Bang Rey sungguh besar, mana bisa kami menolak.” Ujar Setyo.
“Sudah ... sekarang di mana pria itu?” tanya Rey memotong perkenalanku dengan Setyo dan Codet.
Padahal aku baru saja tertarik untuk mencari informasi mengenai dunia keduanya. Mungkin saja aku bisa menarik mereka untuk meninggalkan dunia kelam seperti ini.
Setyo kali ini yang memimpin jalan, menuju sebuah kamar yang tak jauh dari ruang tamu tadi. Pria itu pula yang membuka kunci dan pintu itu.
Tampak seorang pria paruh baya yang diikat di sebuah kursi. Ruangan itu kosong melompong, tak ada furnitur lain selain 2 buah kursi yang salah satunya sudah berpenghuni.
Malangnya pria paruh baya itu, batinku.
Namun mengingat apa yang ia perbuat pada keluarga dari wanita yang kusayang membuatku menarik kembai rasa ibaku padanya.
“Silakan Tuan,” ucap Rey.
Kutarik kursi yang masih kosong dan kuletakkan tepat di hadapan pria paruh baya yang tak berdaya di hadapanku.
“Tuan, apa salahku? Mengapa Anda menyuruh preman ini menculikku?” cecar pria paruh baya yang akhirnya ku tahu bernama Agus.
Kutunjukkan foto Sherina yang menjadi wallpaper pada ponselku.
“Kamu ingat wanita ini?” tanyaku.
Agus menggeleng. Raut wajahnya tampak bingung.
Akh, aku baru menyadari jika saat kecelakaan itu terjadi Sherina masih berpenampilan culun. Secepatnya aku kembali mencari foto Sherina yang dulu sering kuambil diam-diam.
“Lihat sekali lagi!” titahku.
“Perhatikab baik-baik, Kamu pasti mengenalnya.”
Tampak Agus yang terkejut saat melihat foto Sherina. “Maafkan aku Tuan, maafkan aku.” Ucapnya dengan memelas.
“Ceritakan kejadian yang sebenarnya,” ujarku.
Setelah itu mengalirlah cerita Agus mengenai kejadian malam itu. Betapa aku kesulitan menahan emosiku saat tahu jika pelaku sebenarnya adalah sepasang pria dan wanita yang sedang berbuat mesum hingga menyebabkan kecelakaan.
“Beritahu aku siapa mereka!”
Agus terlihat menghela napasnya panjang sebelum memenuhi permintaanku.
__ADS_1
"Huft ... mereka ....."
...****************...