
# Gibran POV #
Prang
Tiga gelas yang berisi jus buah kini sudah berubah menjadi pecahan kaca yang berserakan di sekitar meja tempat aku, Rafie, dan Pasha berkumpul.
"Hei … taken easy!" Ucap Rafie menenangkan Pasha yang kini tengah menumpahkan semua amarah dan kekecewaannya.
"Lu minta gue tenang?!"
Aku bisa melihat betapa besarnya kekecewaan Pasha.
'Tapi maaf saudaraku, aku tak akan melepaskan wanitaku,' batinku.
Aku masih menahan untuk tak mengatakan hal itu langsung pada Pasha. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya yang membuat Pasha begitu kecewa.
Apakah fakta jika kami berdua telah mengetahui siapa Sherina sejak dulu. Atau fakta jika kini wanita yang selalu kami bicarakan dulu adalah orang yang sama.
"Lu berdua gak tau betapa kecewanya gue. Apa kalian menganggap gue sebodoh itu untuk kalian bohongi terus?" Tanya Pasha.
"Sha, lu harus tenang kalau lu mau tau semuanya," selaku.
Pasha berdecak lalu menatap tajam padaku. "Lu bisa bilang begitu karena sekarang lu pasti merasa menang lagi dari gue!" Balasnya.
"Menang apaan? Sherina bukan hadiah!" Tegasku, akupun mulai terpancing emosi.
"Dengerin gue, sejak dulu Sherina adalah kekasih gue. Bukannya kalian juga tau, bagaimana gue kehilangan dia, bagaimana usaha gue mencari dia. Jadi sudah sewajarnya kalau sekarang dia kembali jadi milik gue," jelasku.
**** … umpatku dalam hati saat Pasha dengan beraninya menarik kerah kemeja yang kugunakan.
"Sebaiknya lu singkirkan tangan lu," peringatku.
"Gue akan menahan diri untuk gak membalas kali ini," Ucapku menegaskan jika aku tak akan mengalah kali ini.
Aku tahu jika seseorang yang berprofesi dokter seperti Pasha sangat menjaga tangannya.
"Gue gak peduli!" Balasnya.
Sepertinya Pasha benar-benar di puncak emosinya.
"Cukup!" Rafie berusaha menengahi perdebatan antara aku dan Pasha.
"Dengarkan gue! Gue ajak kalian berdua bicara, bukan untuk saling menyalahkan atau merebutkan Sherina," ucap Rafie.
Sontak aku dan Pasha yang sudah saling mencengkeram kerah akhirnya melepaskan cengkraman masing-masing dan kembali duduk di tempat kami semula.
"Apa yang Gibran katakan itu benar. Sherina itu bukan barang yang bisa kalian jadikan hadiah."
"Gue yang pertama kali menemukan Sherina melalui Harsya." Jelas Rafie.
Rafie menoleh padaku, "Dengarkan ini baik-baik, terutama lu yang selalu menganggap Harsya adalah ancaman."
"Harsya dan Sherina adalah sahabat. Mereka hanya sahabat, tak akan pernah berubah perasaan itu sebab keduanya sudah memiliki tambatan hati masing-masing."
"Gue mengenal Sherina dari Harsya. Pertama kali mengenalnya, bagiku Sherina adalah sosok wanita yang berusaha tegar di balik semua luka hati karena ulah seseorang."
__ADS_1
Rafie mengatakan semua itu sangat jelas sembari menatap padaku. Aku sadar akulah seseorang yang dimaksud Rafie.
"Sherina yang gue kenal saat itu, adalah gadis rapuh yang memiliki tekad besar untuk mengungkap keadilan atas apa yang terjadi pada keluarganya," sambungnya.
"Itulah yang menjadi alasan mengapa gue memutuskan tak memberi tahu jika gue menemukan Sherina-" Rafie menjeda ucapannya.
"Wanita yang telah membuat lu frustasi," sambungnya dengan mengarahkan telunjuknya ke arahku.
Kemudian beralih kepada Pasha, "Wanita yang menjadi cinta pertama lu."
Jujur saja aku tak nyaman saat Rafie menyebut Sherina cinta pertama Pasha, meski memang itu kenyataannya. Bahkan bisa kutambahkan jika Sherina-ku adalah cinta pertama dan satu-satunya wanita yang dicintai Pasha.
"Tapi sekarang, gue dan Sherina sudah sama-sama menyadari perasaan kami. Jadi gue harap lu bisa mengerti," ucapku.
Sontak Rafie memijat keningnya yang entah sakit atau tidak, sementara Pasha kembali mengepalkan tangannya.
Pasha terbahak, "Lu minta gue mengerti? Lu tau bagaimana besarnya harapan gue menantikan momen seperti ini?"
"Menanti momen di mana gue akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang selama ini hidup dalam hati gue," tegasnya.
"Lalu semudah itu lu minta gue mengerti? Apa yang harus gue mengerti? Mengerti untuk merelakan dia? Merelakan dia bersama lu yang dulu pernah menyakiti hatinya?" Pasha kembali terbahak.
"Tidak, Gibran!" Tekan Pasha.
Kini gantian aku yang mengepalkan kedua tanganku.
"Baiklah, gue bukannya meminta padamu. Gue hanya mengatakan hal ini agar lu tidak semakin terluka," balasku.
"Relakan cinta pertama lu, Sha …" sambungku.
"Terserah padamu, jika itu memang keputusanmu. Berjuanglah, tapi aku juga tak akan tinggal diam. Aku akan melakukan hal apa pun untuk menjaga keutuhan hubungan kami."
"Aku percaya pada Sherina, jika cintanya hanya untukku saja," lanjutku.
Satu kalimat terakhir dariku benar-benar membuat emosi Pasha tiba di puncaknya.
Pasha pun memilih berlalu meninggalkan aku dan Rafie.
Rafie mengacak-acak rambutnya yang biasanya selalu tampak rapi membuatku melebarkan senyumku.
"Gila yah lu, masih bisa senyum saat suasana genting seperti ini," keluhnya.
"Lah gue harus apa?"
"Lu gak nyadar kalau Pasha baru aja ngibarin bendera perangnya," jelas Rafie.
Aku mengangguk tanda jika aku mengerti.
"Aku paham, sangat paham."
Pria yang tak lain adalah sepupuku, kini telah masuk dalam daftar hitam orang-orang yang dapat mengancam hubunganku dengan Sherina.
Kini, Pasha berada di urutan teratas mengalahkan Sadewa dalam daftar hitam orang-orang yang menjadi ancaman bagiku. Batinku.
...💕💕💕...
__ADS_1
Setelah pertemuan dengan Pasha yang berakhir dengan ancaman tersirat, aku bergegas mencari keberadaan Sherina.
Aku mencarinya di kamar tempat pelayan menyimpan barang-barang kami, namun tak ada sosok Sherina di sana.
Kulirik jam di pergelangan tanganku, cukup lama juga aku meninggalkan Sherina. Tiga jam berlalu tanpa terasa.
Arrgghhh, aku merindukannya.
Aku melangkah selebar dan secepat yang aku bisa. Tujuanku hanya satu, yaitu kamar Harsya dan Rafie.
Tok tok tok
Kuketuk pintu dengan tak sabar.
Klik
Suara kunci yang diputar dari dalam disusul seruan seorang pria menandakan jika sebentar lagi pintu akan terbuka.
Suara pintu berderit saat dibuka disusul dengan aku yang menerobos masuk dengan tak sabar hanya karena ingin menemui Sherina.
"Di mana Sherina?" Tanyaku.
"Siapa yang datang Sya?" Suara wanita yang sangat ku kenali terdengar dari dalam.
Maaf, tapi aku langsung saja melewati Harysa.
Tak menghiraukan pria itu yang kini tampak kesal akibat perbuatanku.
"Sayang, ini aku."
Sherina tersenyum sangat manis menyambutku. Aku segera menghampirinya dan membawanya dalam dekapanku.
Aku memeluknya erat, aku tak ingin kehilangan dirinya.
Sepertinya dia baru saja memoles kuku tangannya dengan cat kuku berwarna cokelat hingga dia tak bisa membalas pelukanku.
Menyadari hal itu timbul ide cemerlang di otakku, segera kutangkup pipinya dengan kedua tanganku lalu kubungkam bibir merah muda miliknya dengan bibirku.
Sepertinya Sherina hendak protes, mungkin ia terkejut dengan ciumanku yang tiba-tiba.
Kubiarkan tautan bibir kami terlepas sesaat, namun saat Sherina baru saja mulai membuka bibirnya untuk melayangkan protes segera kubungkam kembali dengan bibirku. Kini aku memiliki akses bebas untuk menikmati setiap inci dari apa yang selama ini bersembunyi di balik bibir merah muda milik Sherinaku.
"Woyy,bermesraan di kamar kalian sendiri Sono!" Celetuk Harsya yang menjadi penonton gratis adegan romantis kami.
Tak kuhiraukan peringatan Harsya, ciuman ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
Sherina yang awalnya pasif dalam pergulatan ini, kini mulai aktif membalas setiap gerakan lincahku di dalam sana.
Hingga kurasa napas kami mulai memburu satu sama lain yang menandakan jika pasokan oksigen harus segera diisi ulang, barulah aku melepas tautan kami.
"Aku mencintaimu Sherina, sangat mencintaimu sayang."
"Kumohon, hanya lihat aku, jangan pernah tinggalkan aku lagi."
...💕💕 To be continued 💕💕...
__ADS_1