
# Sherina POV #
“Adakah yang aku tak tahu?”
“Atau mungkin ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan padaku?” Cecarku pada Gibran.
Sayangnya, bukan jawaban yang kudapatkan, melainkan tatapan darinya yang sulit kuartikan.
‘Apa dia marah?’
‘Apa pertanyaanku salah?’
Berharap penjelasan dari Gibran, namun yang terjadi aku malah dipusingkan dengan pertanyaan dalam batinku sendiri.
Sudah 20 menit sejak kami kembali dari acara peresmian butik Mami Laila, namun Gibran masih belum bicara apa pun.
Luka di wajah tampan Gibran pun akhirnya harus terima diabaikan olehku. Sejak tadi aku masih terus sibuk dengan pikiranku sendiri.
Ya, aku dan pikiranku sendiri.
Satu hal yang masih belum berubah dariku... aku masih sulit untuk terbuka dengan orang lain.
Termasuk dirinya... Gibran, kekasihku.
Tak kusadari jika kini Gibran menatap pada aku yang masih betah berdiri, bersandar pada dinding dengan tangan yang bersidekap di dada.
Aku bahkan melupakan sepatu hak tinggi yang masih melekat sempurna menghiasi kakiku. Sepertinya aku lupa jika besok mungkin saja kakiku akan terasa sakit karena hal itu.
...***...
Semua itu terjadi karena aku masih memikirkan kejadian sebelum kami kembali ke vila.
Bukan memikirkan adegan saling tonjok antara dua sepupu yang sebelumnya terkenal sangat dekat.
Tapi aku memikirkan kejadian saat aku, Gibran, dan juga Pasha harus terima ‘disidang’ oleh Tuan Nadim, ayah Gibran selaku kakak tertua di keluarga El-Fatih.
“Apa-apaan kalian berdua?” Tanya Tuan Nadim dengan suara yang meninggi.
Nyonya Gia sampai harus mengelus punggung suaminya agar bisa lebih tenang.
“Apa kalian bertiga memang sudah merencanakan ini semua untuk mengacaukan acara itu?” tuduhnya.
Tuan Nadim menatap putranya Gibran, Pasha, lalu beralih ke Rafie secara bergantian.
Rafie yang terakhir mendapat tatapan setajam belati dari pamannya mengangkat kedua tangannya.
Mana mungkin dia berniat mengacaukan pesta peresmian butik maminya.
“Maaf Paman, tapi kali ini aku tak tahu apa pun. Aku bahkan telat melihat pertunjukan Gibran dan Pasha,” celetuk Rafie membela diri.
Aku melihat Tuan Nadim mendelik pada Rafie, dan fokusnya kembali pada dua pria pemeran utama ‘pertunjukan’ yang dimaksud Rafie.
“Lalu siapa di antara kalian yang mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya!” titahnya.
“Aku tak tahu apa masalahnya paman, putra paman datang begitu saja dan langsung menyerangku,” jelas Pasha memilih lebih dulu berargumen.
Sepertinya dia benar-benar marah pada Gibran. Bahkan saat tadi memberi penjelasannya, tak ada sekalipun ia mengucapkan nama sepupunya. Batinku.
“Benar begitu Gibran?”
Gibran yang sejak tadi tampak lebih tenang... Tidak! yang benar adalah kekasihku ini sepertinya lebih diam dan lebih dingin sejak sidang dadakan ini dimulai.
“Gibran!” Pekik Tuan Nadim yang merasa telah diacuhkan oleh putranya.
Aku segera menggerak-gerakkan tanganku yang terus berada dalam genggaman Gibran, hingga pria itu akhirnya menoleh pada Ayahnya.
“Apa benar kau sudah bertingkah bodoh dengan menyerang Pasha secara tiba-tiba?” Tanya Tuan Nadim dengan tegas sekali lagi.
“Apa Ayah juga berpikir aku mungkin melakukan hal bodoh seperti itu?” Jawab Gibran dengan tenang.
__ADS_1
Aku kembali menggerakkan pergelangan tanganku yang masih berada dalam genggaman Gibran.
Kuharap ia mengerti jika aku ingin dia bisa berbicara lebih sopan pada Ayahnya. Batinku.
Gibran menghela napasnya sambil menatapku, syukurlah dia mengerti maksudku.
“Aku hanya melindungi milikku,” imbuhnya kemudian.
Kini semua tatapan mengarah pada kami, tepatnya pada Gibran. Aku pun begitu, menatapnya penuh tanda tanya.
Apa milik Gibran yang telah diusik oleh sepupunya sendiri? Tanyaku dalam hati.
“Saat aku hendak menemui Sherina, aku melihat seorang pria hendak memeluknya dari belakang.”
Gibran menyeringai pada Pasha, “Pria mana yang terima saat kekasihnya hendak dipeluk pria lain.”
Kini semua tatapan yang tadinya tertuju pada Gibran, beralih menatapku dan Pasha bergantian.
Gila! Pikirku.
Mengapa tiba-tiba aku jadi terlibat? Dan dipeluk? Sejak kapan Pasha ingin memelukku? Gibran telah salah paham atau aku yang terlalu bodoh hingga tak menyadari apa yang dilakukan Pasha? Pikirku dalam diam.
Baru saja aku ingin menyuarakan pikiranku, Pasha lebih dulu menyela.
Tawanya menggema, memecah keheningan yang sempat terjadi selama beberapa detik.
“Gue lupa jika lu punya masalah dengan emosi lu yang meledak-ledak,” sindir Pasha.
Kurasakan genggaman tangan Gibran menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Bukannya aku tak tahu masalah ini, meski belum tahu lebih rinci namun masalah emosi Gibran yang sulit dikendalikan memang benar.
Aku pun dulu sering menjadi tempat pelampiasan amarahnya.
Apa maksud Pasha mengatakan hal seperti itu? Apa dia sengaja ingin memancing emosi Gibran lagi.
Tangan yang semula menggenggam tanganku, kini sudah berpindah merangkul pinggangku posesif.
Hal itu sontak mengundang tatapan tajam dari Nyonya Gia padaku.
“Ya, apa lagi jika menyangkut wanita yang kucintai. Aku tak akan segan-segan untuk membalas jika ada yang hendak mengusik hubungan kami.” Ujar Gibran yang terdengar sebagai peringatan, atau mungkin saja berupa ancaman.
“Sorry, tadi gue gak tahu kalau pria yang mendekati Sherina itu adalah lu,” lanjut Gibran.
“Gue pikir lu itu adalah pria yang sengaja ingin mendekati Sherina.”
Seringai tampak di wajah tampan Gibran, dan hal itu berhasil ditangkap oleh netraku.
Setelah keduanya memberi penjelasan, akhirnya masalah malam ini selesai dan dianggap hanya sebuah kesalahpahaman belaka.
Lalu seperti tak ingin berlama-lama lagi di tempat itu, Gibran pamit kepada kedua orang tuanya, juga kepada kedua paman dan bibinya agar kami bisa kembali ke vila lebih dulu.
Aku segera menyetujui usulan Gibran. Apalagi setelah kedatangan Soraya dan orang tuanya.
Wanita itu dengan lancangnya hendak menyentuh sudut bibir kekasihku yang masih ada bekas darah di sana. Beruntung Gibran segera menepis tangan Soraya dan kami pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
...***...
Gibran meringis, memegangi pipinya yang tampak ada lebam di sana. Jangan lupakan sedikit darah yang telah mengering ikut menghiasi wajah tampan kekasihku.
“Astaga, maafkan aku Gibran...” ucapku penuh penyesalan saat menyadari tatapan Gibran.
Aku pun bergegas keluar kamar guna mencari kotak P3K untuk mengobati luka di sudut bibirnya.
Aku mencari-cari keberadaan pelayan di vila mewah ini.
Sebenarnya aku sudah coba mencarinya sendiri, namun keberadaan kotak P3K tak kutemukan di laci mana pun.
Ke mana semua pelayan di vila ini? Pikirku.
__ADS_1
“Giliran aku mencari mereka, tak ada satu pun yang berkeliaran. Jika tidak mencarinya, para pelayan itu bisa kutemui di mana-mana,” gumamku.
Kuputuskan untuk mencari mereka di halaman belakang vila, dan benar saja mereka ada di sana. Saling mengobrol dan tertawa menikmati waktu santai mereka saat seluruh penghuni vila tak berada di tempat itu.
Setelah kotak P3K kutemukan atas bantuan salah seorang pelayan, aku bergegas kembali ke kamar untuk menemui Gibran.
Kulihat ia sedang menghubungi seseorang.
“Kabari aku secepatnya,” ucap Gibran mengakhiri sambungan telepon.
Aku mengambil posisi duduk di sampingnya yang masih bungkam.
Ia hanya meringis sesekali saat kubersihkan luka di sudut bibirnya dan kuoleskan salep.
“Bagaimana? Apa sudah lebih baik sekarang?” tanyaku berusaha terdengar riang.
“Hemm....” Jawabnya.
Jawaban apa itu? Pikirku.
Apa salahku? Memangnya aku yang memukulnya! Gerutuku yang hanya bisa kulakukan dalam hati.
Ingin memperbaiki suasana hati Gibran, kucoba untuk memberanikan diri mengusap sudut bibirnya dengan jemariku.
“Apa sangat sakit sayang? Sejak tadi kamu terus mendiamiku,” ucapku lirih.
Akh... tak kuduga jika aku juga bisa bersikap selayaknya kekasih yang perhatian, batinku.
Gibran mengubah posisinya menjadi berbaring, menjadikan pahaku sebagai pengganti bantalnya.
Baru saja kedua netranya terpejam, getaran ponsel di sakunya berhasil mengusik ketenangan kami.
“Telepon dari Rey,” ujarnya. Mungkin agar aku tak harus bertanya lagi siapa yang menghubunginya.
Masih dengan posisi yang sama, Gibran menjawab panggilan Rey.
“Apa tidak ada yang lebih awal lagi?” tanyanya.
Entah apa yang keduanya bahas, aku tak peduli. Aku bukan tipe kekasih yang ingin tahu segala urusan prianya.
Kruuk.. Kruuk...
Suara gemuruh yang memalukan itu berasal dari perutku yang meminta di isi.
Kuyakini kini wajahku sudah merah merona karena malu.
Gibran menahan tawanya dengan pandangan yang tak lepas dari wajahku.
“Baiklah, aku pilih yang itu saja.” Ucap Gibran lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
“Berkemaslah, lalu kita akan pulang.”
“Apa? Pulang? Sekarang? ” tanyaku tak percaya.
Keningku mengernyit, kupikir ini saat yang tepat untuk bertanya. "Sebenarnya apa yang terjadi? Masalah dengan Pasha aku yakin bukan hanya kesalahpahaman saja ‘kan?”
Akhirnya pertanyaan itu terucap juga, aku kini merasa lebih lega.
“Berkemaslah sayang,” pintanya kini berubah lembut.
“Aku janji akan jelaskan semuanya nanti.”
“Janji?” aku memicingkan mata.
“Ya, setelah kita mengatasi masalah perut seorang yang sudah keroncongan.”
Ucapnya lalu bangkit dan mencuri satu kecupan pada bibirku.
...***...
__ADS_1